Di Bandung, Kuliah Tamat Jodoh Dapat

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Villa Isola Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Sumber: Twitter/@wawan_purnama)
Villa Isola Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Sumber: Twitter/@wawan_purnama)

Hasil kelulusan Sipenmaru atau Seleksi Penerimaaan Mahasiswa Baru tahun 1988 adalah jembatan bagi mereka yang berasal dari berbagai daerah seperti Subang, Purwakarta, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cianjur, Sukabumi, Depok, Jakarta dan Cilacap bahkan dari Padang untuk menjadi mahasiswa-mahasiswi jurusan Pendidikan Sejarah, program Diploma 3 IKIP Bandung kala itu.

Kumpulan itu diantaranya terdiri nama-nama Agus, Asep, Dedi, Edi, Emi, Ene'ng, Enis, Eris, Esti, Evy, Ferry, Hadi, Keuis, Kurnia, Kustarya, Linda, Mei, M Yusup, Nina, Ori, Rida, Sri, Tedi dan Tita. Dari sini terbentuk ikatan awal persahabatan yang kelak akan dikenang puluhan tahun kemudian. Mereka datang dari latar belakang berbeda, dialek berbeda, dan pengalaman hidup beragam namun dipersatukan menjadi mahasiswa jurusan Sejarah, yang kelak akan menceritakan masa lalu, sambil membangun masa depan mereka sendiri.

Hari-hari terakhir di kampung sebelum berangkat ke kampus IKIP Bandung, mereka membayangkan bagaimana hidup di Kota Bandung atau tinggal dikostan yang jauh dari orang tua apalagi yang tidak punya saudara di Bandung. Kemudian serunya masa Opspek, sambil mengikuti Penataran P-4 atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila juga kuliah melintas dibayangan kami.

Waktu beranjak meninggalkan kampung halaman untuk masa tiga tahun ke depan mulai menggelinding, maka dengan menggunakan kendaraan diantaranya bus, mereka calon mahasiswa-mahasiswi baru menuju tempat kost di sekitar bumi Isola atau rumah saudara yang tersebar di berbagai sudut Kota Bandung.

Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)

Tiba saatnya pula para orang mereka memberikan wejangan atau pesan-pesan yang intinya agar selalu bisa menjaga diri, bersikap sopan dan baik, hidup hemat, serta jangan tergoda oleh hal-hal yang membuat kuliah kami hancur bahkan sampai drop out dari kampus.

Tidak ada para orang yang mengucapkan semoga dapat jodoh atau pasangan yang baik di sana, orang tua justru lebih sering berpesan hal-hal yang jauh lebih mendasar dan bermakna, seperti pesan kata-kata di atas. Mengapa demikian kata-kata tadi tidak diucapkan oleh orang tua kepada anaknya ?

Karena orang tua berharap penuh, keberangkatan anak ke luar kota bukan tentang mencari pasangan hidup, melainkan tentang membangun masa depan. Mendapatkan titel pendidikan adalah prioritas. Mereka tahu bahwa fase kuliah adalah masa penguatan karakter dewasa, penguatan ilmu, dan penentuan arah hidup.

Jodoh, bagi mereka, adalah urusan yang akan datang pada waktunya bukan sesuatu yang harus dikejar dalam perjalanan menuntut ilmu. Harapan orang tua mereka sederhana, yaitu anaknya kuliah dan belajar dengan sungguh-sungguh, fokus menuntut ilmu, dan kelak pulang membawa masa depan yang lebih baik. Tidak sedikit orang tua yang bahkan berpesan senantiasa kuliah yang benar dulu, jangan mikirkan jodoh.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Dunia perkuliahan sering dianggap sebagai masa penentuan arah hidup. Fokus yang terpecah, apalagi karena urusan bunga asmara, dikhawatirkan akan mengganggu tujuan utama yaitu meraih titel pendidikan. Orang tua ingin anaknya kuat, mandiri, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan besar sebelum waktunya.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia. Di tengah kesibukan kuliah, tugas yang menumpuk, diskusi panjang, dan kegiatan organisasi, terkadang hadir seseorang yang tak terduga. Awalnya hanya teman belajar, rekan satu kelompok, atau sekadar kenalan di kampus. Tapi seiring waktu, tumbuh rasa yang lebih dalam. Tanpa direncanakan, tanpa dicari, jodoh seakan menemukan jalannya sendiri.

Dalam satu peribahasa ada istilah asam di gunung, garam di laut bertemu dalam satu belanga yang artinya jodoh seseorang bisa saja berasal dari tempat yang jauh, tetapi bertemu juga. datang dari berbagai daerah yang jauh namun bertemu dalam kisah sejuta cinta di kampus Bumi Siliwangi bahkan terus sampai menjadi pasangan suami istri, beranak pinak sampai saat ini.

Kampus IKIP Bandung berada di Utara Bandung nan hijau telah memberi ruang bagi sisi lain kehidupan mahasiswa-mahasiswinya untuk mengungkapkan segenap perasaannya selain mendapatkan titel pendidikan.

Kota Bandung selalu punya cara untuk membuat siapa pun jatuh hati. Kota yang pernah dijuluki "Paris van Java" ini bukan hanya dikenal sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan berbagai kisah hidup dari para pendatang.

Setiap tahun, ribuan mahasiswa-mahasiswi dari berbagai daerah di Jawa Barat datang ke Bandung dengan satu tujuan utama menuntut ilmu dan menyabet titel pendidikan. Namun, ada hal yang tidak terkira ternyata di balik jadwal kuliah yang padat, buku-buku babon tebal, tumpukan tugas, dan bulak-balik ke perpustakaan, ternyata bersemi dan berkembang kisah-kisah romantis yang naik sampai ke pelaminan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)