Hasil kelulusan Sipenmaru atau Seleksi Penerimaaan Mahasiswa Baru tahun 1988 adalah jembatan bagi mereka yang berasal dari berbagai daerah seperti Subang, Purwakarta, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cianjur, Sukabumi, Depok, Jakarta dan Cilacap bahkan dari Padang untuk menjadi mahasiswa-mahasiswi jurusan Pendidikan Sejarah, program Diploma 3 IKIP Bandung kala itu.
Kumpulan itu diantaranya terdiri nama-nama Agus, Asep, Dedi, Edi, Emi, Ene'ng, Enis, Eris, Esti, Evy, Ferry, Hadi, Keuis, Kurnia, Kustarya, Linda, Mei, M Yusup, Nina, Ori, Rida, Sri, Tedi dan Tita. Dari sini terbentuk ikatan awal persahabatan yang kelak akan dikenang puluhan tahun kemudian. Mereka datang dari latar belakang berbeda, dialek berbeda, dan pengalaman hidup beragam namun dipersatukan menjadi mahasiswa jurusan Sejarah, yang kelak akan menceritakan masa lalu, sambil membangun masa depan mereka sendiri.
Hari-hari terakhir di kampung sebelum berangkat ke kampus IKIP Bandung, mereka membayangkan bagaimana hidup di Kota Bandung atau tinggal dikostan yang jauh dari orang tua apalagi yang tidak punya saudara di Bandung. Kemudian serunya masa Opspek, sambil mengikuti Penataran P-4 atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila juga kuliah melintas dibayangan kami.
Waktu beranjak meninggalkan kampung halaman untuk masa tiga tahun ke depan mulai menggelinding, maka dengan menggunakan kendaraan diantaranya bus, mereka calon mahasiswa-mahasiswi baru menuju tempat kost di sekitar bumi Isola atau rumah saudara yang tersebar di berbagai sudut Kota Bandung.

Tiba saatnya pula para orang mereka memberikan wejangan atau pesan-pesan yang intinya agar selalu bisa menjaga diri, bersikap sopan dan baik, hidup hemat, serta jangan tergoda oleh hal-hal yang membuat kuliah kami hancur bahkan sampai drop out dari kampus.
Tidak ada para orang yang mengucapkan semoga dapat jodoh atau pasangan yang baik di sana, orang tua justru lebih sering berpesan hal-hal yang jauh lebih mendasar dan bermakna, seperti pesan kata-kata di atas. Mengapa demikian kata-kata tadi tidak diucapkan oleh orang tua kepada anaknya ?
Karena orang tua berharap penuh, keberangkatan anak ke luar kota bukan tentang mencari pasangan hidup, melainkan tentang membangun masa depan. Mendapatkan titel pendidikan adalah prioritas. Mereka tahu bahwa fase kuliah adalah masa penguatan karakter dewasa, penguatan ilmu, dan penentuan arah hidup.
Jodoh, bagi mereka, adalah urusan yang akan datang pada waktunya bukan sesuatu yang harus dikejar dalam perjalanan menuntut ilmu. Harapan orang tua mereka sederhana, yaitu anaknya kuliah dan belajar dengan sungguh-sungguh, fokus menuntut ilmu, dan kelak pulang membawa masa depan yang lebih baik. Tidak sedikit orang tua yang bahkan berpesan senantiasa kuliah yang benar dulu, jangan mikirkan jodoh.
Pesan itu bukan tanpa alasan. Dunia perkuliahan sering dianggap sebagai masa penentuan arah hidup. Fokus yang terpecah, apalagi karena urusan bunga asmara, dikhawatirkan akan mengganggu tujuan utama yaitu meraih titel pendidikan. Orang tua ingin anaknya kuat, mandiri, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan besar sebelum waktunya.
Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia. Di tengah kesibukan kuliah, tugas yang menumpuk, diskusi panjang, dan kegiatan organisasi, terkadang hadir seseorang yang tak terduga. Awalnya hanya teman belajar, rekan satu kelompok, atau sekadar kenalan di kampus. Tapi seiring waktu, tumbuh rasa yang lebih dalam. Tanpa direncanakan, tanpa dicari, jodoh seakan menemukan jalannya sendiri.
Dalam satu peribahasa ada istilah asam di gunung, garam di laut bertemu dalam satu belanga yang artinya jodoh seseorang bisa saja berasal dari tempat yang jauh, tetapi bertemu juga. datang dari berbagai daerah yang jauh namun bertemu dalam kisah sejuta cinta di kampus Bumi Siliwangi bahkan terus sampai menjadi pasangan suami istri, beranak pinak sampai saat ini.

Kampus IKIP Bandung berada di Utara Bandung nan hijau telah memberi ruang bagi sisi lain kehidupan mahasiswa-mahasiswinya untuk mengungkapkan segenap perasaannya selain mendapatkan titel pendidikan.
Kota Bandung selalu punya cara untuk membuat siapa pun jatuh hati. Kota yang pernah dijuluki "Paris van Java" ini bukan hanya dikenal sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan berbagai kisah hidup dari para pendatang.
Setiap tahun, ribuan mahasiswa-mahasiswi dari berbagai daerah di Jawa Barat datang ke Bandung dengan satu tujuan utama menuntut ilmu dan menyabet titel pendidikan. Namun, ada hal yang tidak terkira ternyata di balik jadwal kuliah yang padat, buku-buku babon tebal, tumpukan tugas, dan bulak-balik ke perpustakaan, ternyata bersemi dan berkembang kisah-kisah romantis yang naik sampai ke pelaminan. (*)
