Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Satu)

5 menit baca
Eli Rusli
Ditulis oleh Eli Rusli diterbitkan
Villa Isola. (Sumber: Dok. UPI Bandung)
Villa Isola. (Sumber: Dok. UPI Bandung)

Hari Sabtu tanggal 29 Juli 1995, untuk pertama kalinya nama penulis tercetak di Harian Umum Pikiran Rakyat bersama ribuan peserta Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) 1995 yang keterima di beberapa perguruan tinggi negeri (PTN).

Nomor peserta UMPTN, nama penulis, dan kode jurusan tercetak dengan tinta hitam di halaman tengah di antara ribuan peserta yang lulus. Hari ini tentu saja menjadi hari bersejarah dan membahagiakan karena dari 412.638 jumlah peserta UMPTN 1995 hanya 62.158 yang lolos dan ditampung PTN yang tersedia. Penulis tercatat diterima di IKIP Bandung, Jurusan Pendidikan Ekonomi (Pekon), Fakultas Pedidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS).

Hati semakin cerah karena hari ini, di koran yang sama berita kemenangan Persib Bandung atas Barito Putra 1-0 melalui gol Kekey Zakaria mengantarkan Persib menuju ke final Kompetisi Liga Indonesia I yang saat itu populer dengan Liga Dunhill 1994/1995 menjadi berita utama. Klop sudah kebahagian hari ini.

Di awal Agustus 1995, penulis harus melakukan daftar ulang di IKIP Bandung (UPI sekarang). Jika sampai tanggal yang ditentukan tidak mendaftar ulang maka akan dinyatakan gugur sebagai calon mahasiswa.

Dari Kabupaten Ciamis, tempat penulis menetap, banyak opsi menggunakan alat transportasi menuju Kota Bandung. Yang pertama naik minibus alias elf. Karena ongkos elf terbilang murah, maklum bisa ditawar dan lebih cepat dibanding bus ekonomi, angkutan ini menjadi sarana transportasi favorit pada pertengahan tahun 80-an hingga awal 90-an. Nama Andalas dan Setia Raharja dengan trayek Kawali-Bandung paling menonjol di antara puluhan elf masa itu.

Transportasi yang kedua adalah bus patas, bus yang mulai digemari kawula muda yang sebagian besar mahasiswa. Pada era itu, terdapat dua PO Bus besar yang bersaing, yaitu PO Budiman dan PO Saribakti Utama. Trayek yang ditawarkan yaitu Pangandaran-Bandung dan Kawali-Bandung, khusus PO Saribakti Utama. Karena semakin banyak pengguna bus yang berasal dari Tasikmalaya, akhirnya PO Budiman membuka trayek Tasikmalaya-Bandung yang berangkat dari Terminal Cilembang dan pool bus Budiman saat itu.   

Transportasi yang ketiga adalah naik kereta api dari Stasiun Ciamis. Namun tahun ini sepertinya warga Tatar Galuh yang hendak menuju ke Kota Bandung lebih banyak yang menggunakan elf atau bus. Pelayanan kereta api belum seperti sekarang. Tiket masih menggunakan karcis seperti kartu domino yang akan dibolongin di tengah jalan oleh kondektur. Tempat duduk tidak sesuai nomor. Pengamen, tukang sapu, dan pedagang lalu lalang dengan bebas di antara kursi penumpang.

Bagi yang berkantong tebal, dari Ciamis ke Bandung lebih nyaman menggunakan travel 4848 yang kantornya berada di Jalan Jenderal Sudirman Ciamis, sebrang alun-alun Kota Ciamis sebelah Utara. Angkutan sejenis ini akan berkeliling mengantarkan penumpang hingga di depan rumah yang dituju. Atau setidaknya mendekati, tidak terlalu jauh dari tujuan.

Pada pertengahan tahun 90-an, bus-bus non patas atau ekonomi kurang diminati oleh penumpang yang tujuannya langsung ke Kota Bandung karena bus akan berhenti di terminal-terminal dan harus menaikkan penumpang di tengah jalan sehingga jarak tempuh dari Ciamis-Bandung memerlukan waktu yang lebih lama dibanding bus-bus patas.

Jarak tempuh Ciamis-Bandung bisa ditempuh tidak lebih dari empat jam, seandainya berangkat dari Ciamis jam 05.30, jam 09.00 semua penumpang sudah menghirup udara di Terminal Cicaheum Bandung. Namun riak-riak kemacetan pada tahun ini perlahan-lahan tumbuh ke permukaan, terutama jika berangkat dari Ciamis kesorean.

Titik-titik kemacetan yang timbul ke permukaan pertengahan tahun 90-an terutama di akhir pekan, mulai terasa di tanjakan Gentong, apalagi jika terjebak hujan. Truk-truk pasir yang melambat di tanjakan Gentong menyebabkan antrian kendaraan hingga ke pertigaan Pamoyanan. Paling jauh, seandainya ada truk mogok atau kecelakaan, ujung kendaraan akan terlihat jelas di sepanjang jalan Ciawi.

Villa Isola di Universitas Pendidikan Indonesia, Kota Bandung. (Sumber: Pemkot Bandung)
Villa Isola di Universitas Pendidikan Indonesia, Kota Bandung. (Sumber: Pemkot Bandung)

Titik macet berikutnya, sebelum kendaraan mencapai Pasar Limbangan laju kendaran mulai tersendat-sendat. Jika di akhir tahun 80-an kemacetan sebelum Pasar Limbangan tidak terlalu panjang. Mulai pertengahan tahun 90-an panjang kemacetan kendaraan sedikit bertambah panjang. Namun kendaraan masih bisa bergerak meski pelan-pelan.

Berlanjut ke kawasan Nagreg. Sebelum Jalan Lingkar Nagreg dinikmati seperti sekarang, kemacetan kerap terjadi di Jalan Nagreg yang merupakan pertemuan dua arus lalu lintas dari arah Garut dan Limbangan. Kemacetan sering terjadi akibat truk dan bus yang mogok atau terjadi kecelakaan. Kendaraan roda dua belum sepadat seperti sekarang. Saat terjadi kepadatan lalu lintas di tanjakan Nagreg, warga sekitar memanfaatkannya dengan memberikan jasa ganjal ban. Walau sepintas terlihat membahayakan, jasa ganjal ban ini banyak membantu kendaraan yang mogok karena tidak kuat menapaki jalan yang nanjak.

Kemacetan berikutnya akan terjadi sebelum memasuki Kecamatan Cicalengka, terlebih apabila pintu lintasan kereta api ditutup karena kereta api yang lewat. Sama seperti di Terminal Cilembang, Ciawi, Limbangan, dan Cileunyi, di Cicalengka pun semua kendaraan umum yang lewat meski tidak masuk ke dalam terminal harus membayar retribusi kepada petugas DLLAJ yang bertugas di pinggir jalan. Petugas yang duduk di bawah payung besar akan mencegat kendaraan yang melaju mendekatinya.

Pertengahan tahun 90-an, Jalan Raya Rancaekek masih satu jalur sehingga apabila memasuki jam pulang karyawan khususnya depan PT Kahatex akan terjadi kemacetan parah. Pejalan kaki, pesepeda, angkutan kota, dan pedagang kaki lima tumpah ruah di sepanjang jalan. Jalan mulai terasa normal apabila sudah melewati Dangdeur atau Al Masoem. Bagi penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke Sumedang akan turun sebelum pintu tol Cileunyi.

Bus patas tidak masuk ke terminal Cileunyi tetapi tetap membayar retribusi kepada petugas DLLAJ yang berjaga di pinggir jalan sedangkan elf dan bus non patas akan terlihat melintasi terminal yang berdempetan dengan Pasar Cileunyi yang apabila hujan akan terlihat genangan air dan lumpur hitam yang baunya akan tercium oleh para penumpang.

Apabila sudah melewati daerah Cileunyi, biasanya perjalanan akan terasa lancar hingga Terminal Cicaheum. Paling sedikit tersendat hanya di daerah seputaran Cibiru dan Pasar Ujungberung.

Tiba di Terminal Cicaheum, bus akan berhenti di antara puluhan bus antarkota antar provinsi yang menuju ke arah timur, mau pun antarkota dalam provinsi, dan bus dalam kota, Damri. Bus-bus yang trayeknya ke Cirebon, Majalengka, Cikijing, Indramayu, Sumedang, Majalaya, Ciamis, Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran akan berderet di sebelah selatan terminal. Sedangkan bus jurusan Semarang, Surabaya, Purwokerto, Yogyakarta, Tegal, dan lain-lain akan berderet di tengah sampai utara. Paling utara, bus Damri yang berangkat dari Terminal Cicaheum akan mengular dengan bunyi mesin dan asap knalpot yang khas.

Keluar dari Terminal Cicaheum, para penumpang yang baru turun dari bus antarkota akan disambut puluhan angkot berwarna hijau tidak jauh dari mulut terminal. Teriakan calo angkot seperti di sinetron Preman Pensiun akan terdengar bersahut-sahutan di antara lautan manusia dan suara bising mesin bus. Terminal Cicaheum saat itu tidak jauh beda dengan pasar malam yang didatangi ribuan pengunjung. Keadaan ini sangat kontras dengan situasi dan kondisi Terminal Cicaheum sekarang yang jauh dari hiruk pikuk penumpang.  (*)

Bersambung ...

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Eli Rusli
Tentang Eli Rusli
Menulis cerita pendek dan opini dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)