Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

6 menit baca
Eli Rusli
Ditulis oleh Eli Rusli diterbitkan
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)

Di mulut Terminal Cicaheum, di sebelah barat seperti yang ditulis di bagian pertama, penumpang yang keluar dari terminal akan disambut puluhan angkot berwarna hijau. Warna hijau polet hitam adalah trayek Cicaheum-Ledeng, hijau polet kuning trayek Cicaheum-Abdul Muis/Kebon Kalapa via Binong, hijau polet merah hati trayek Cicaheum-Abdul Muis/Kebon Kalapa via Jalan Aceh, dan hijau polet merah trayek Cicaheum-Ciroyom.

Karena penulis hendak menuju IKIP Bandung (UPI sekarang), penulis naik angkot dengan trayek Cicaheum-Ledeng. Ongkos pada saat itu (Cicaheum-Ledeng) adalah tiga ratus rupiah, sepuluh persennya ongkos dari Ciamis-Bandung sebesar tiga ribu rupiah. Tidak perlu lama menunggu angkot ngetem karena penumpang yang turun dari bus antarkota banyak.

Dari Terminal Cicaheum angkot melaju ke Jalan Suci/PHH. Mustopa. Jalan Suci/PHH Mustopa tidak selebar sekarang. Apabila angkot berpapasan dengan angkot dari arah sebaliknya, semua penumpang akan terlihat karena jaraknya sangat dekat. Lampu lalu lintas di perempatan Jalan Padasuka dan Jalan Cimuncang belum ada karena lalu lintas tidak sepadat sekarang.

Sepanjang Jalan Suci/PPH Mustopa, Jalan Pahlawan, Jalam Katamso, Jalan Supratman, Jalan Dipenogoro hingga Gedung Sate belum banyak warung-warung makan atau restoran sekarang. Lebar jalan belum seperti sekarang. Pada saat itu rumah-rumah di sekitar jalanan tersebut masih digunakan tempat tinggal. Yang mencolok pada saat itu terdapat rumah-rumah atau bangunan yang digunakan untuk bimbingan belajar (bimbel).

Sekedar informasi, pada era UMPTN di kota-kota besar tidak terkecuali di Bandung menjamur bimbingan belajar seperti Sonny Sugema, Primagama, Ganesha Operation (GO), dan lain-lain. Bimbel-bimbel tersebut menawarkan jaminan akan diterima di berbagai perguruan tinggi negeri yang dituju peserta. Dulu selepas EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) banyak dari rekan-rekan penulis yang hendak meneruskan kuliah di perguruan tinggi negeri mengikuti bimbel di kota-kota besar tersebut. Kegiatan bimbel ini dimulai kurang lebih dua atau satu bulan sebelum pelaksanaan UMPTN. Materi yang diajarkan adalah bagaimana cara cepat dan benar mengerjakan soal-soal UMPTN.

Pada tahun 95-an pula, yang mencolok yang sering penulis sering baca saat berada di angkot adalah tulisan rumah Harry Roesli di Jalan Supratman. PUSDAI (Pusat Dakwah Islam) saat itu masih dalam pembangunan. Dan jika malam hari, jalan-jalan tersebut tidak seramai sekarang. Apalagi jika hujan, kita tidak akan menemukan kemacetan. Yang ada adalah kesunyian. Suara mesin angkot terdengar tajam membelah malam. Bayangan pepohonan sepanjang jalan terlihat jelas dibawah lampu-lampu jalanan. Pedagang kaki lima seperti tukang nasi goreng, sate, soto, dan martabak jaraknya sangat berjauhan. 

Setelah melewati Jalan Sulanjana yang pada pertengahan tahun 90-an tidak seramai sekarang, angkot akan berhenti di pertigaan ujung Jalan Tamansari, di depan Baltos (Balubur Town Square) sekarang karena banyak mahasiswa dan orang-orang yang turun di Pasar Balubur. Dulu orang-orang mengenalnya Pasar Balubur bukan Baltos. Di kawasan ini, meski terlihat kumuh banyak kos-kosan mahasiswa. Banyak toko-toko yang berjualan alat tulis kantor dan fotocopyan.

Selepas Pasar Balubur, di kanan jalan, sebrang Koramil 1812 Bandung Wetan banyak pedagang mebel yang menjual lemari kecil, meja belajar, dan kursi dengan harga miring. Mereka berjualan di bawah pohon-pohon nan rimbun.

Dekat pertemuan Jalan Tamansari dan Jalan Ganesha, penumpang akan menghirup bau sampah dari Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) yang tidak jauh dari pintu Kebun Binatang Bandung, yang pada waktu itu masih di sebrang Jalan Ganesha. Di depan Jalan Ganesha, jika siang hari, apalagi jika hari libur akan dipenuhi kuda-kuda tunggangan yang disewakan kepada para pengunjung kebun binatang. Aroma kotoran kuda akan menusuk memasuki jendela angkot.

Jalan Tamansari yang terjepit di antara Kebun Binatang Bandung dan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), saat itu di kanan kirinya dipagari pohon-pohon besar nan lebat. Jika musim hujan atau pagi hari kadang-kadang terlihat kabut memenuhi jalan. Suara-suara binatang, terutama burung jelas terdengar. Jika melewati jalan tersebut malam hari, akan terasa melewati hutan. Meski ada penerangan dari lampu jalan yang tidak terlalu terang melewati Jalan Tamansari auranya sedikit keueung alias seram.

Di ujung utara Jalan Tamansari, pertemuan dengan Jalan Siliwangi, depan Babakan Siliwangi angkot trayek Cicaheum-Ledeng dan Cicaheum-Ciroyom suka berhenti sebentar guna mencari penumpang jika penumpangnya sedikit. Sepanjang jalan ini relatif sepi. Antrian kendaraan hanya terjadi apabila lampu di pertigaan Gandok, pertemuan antara Jalan Siliwangi, Jalan Ciumbuleuit, dan Jalan Cihampelas berwarna merah. Teras Cikapundung pertengahan 90-an masih berupa sawah. Di pinggir di Jalan Siliwangi banyas gundukan-gundukan batu kali dan pasir yang sudah dikarungi. Di seberang gundukan-gundukan batu itu berdiri Radio Ganesha, radio yang senantiasa membahas berita-berita hangat dari koran-koran yang terbit pagi itu.

Dulu di depan Hotel Nalendra sekarang, lalu lintas sering tersendat karena ramai. Banyak angkot yang berhenti di depan hotel karena dulu bangunan yang berdiri sebagai Hotel Nalendra sekarang adalah sebuah mall alias pusat perbelanjaan, yang selain tempat belanja juga digunakan sebagai tempat nongkrong.

Setelah melewati Jalan Lamping, angkot akan berbelok ke Jalan Cipaganti yang sekarang dirubah menjadi Jalan R.A.A. Wiranatakusumah. Jadi dulu itu, kendaraan yang mau menuju arah Jalan Setiabudhi bisa melewati Jalan Cipaganti, kalau sekarang kebalikannya. Yang penulis ingat dari Jalan Cipaganti saat itu adalah penjual koran koran yang tidak jauh dari pom bensin, penjual pisang Lembang, Mesjid Cipaganti yang arsitekturnya khas, dan ayam Goreng Suharti yang billboard jelas terbaca bagi siapapun yang melewati Jalan Cipaganti. Di sepanjang Jalan Cipaganti berjajar pohon-pohon besar di depan rumah-rumah berukuran besar pada saat itu.

Setelah melewati Jalan Setiabudhi angkot ke berbelok ke kiri, ke Jalan Sukawangi atau Jalan Sukaasih menuju Jalan Sukajadi. Di halteu Karangsetra yang termasuk ke Jalan Sukajadi saat itu ada penjual koran dan majalah, yang korannya itu digantung di dinding halteu dan di atas tali yang sengaja dibentangkan. Segala macam koran dan majalah tersedia di sana.

Angkot akan kembali ke Jalan Setiabudhi dan berhenti agak lama sebelum lampu lalu lintas di ujung Jalan Gegerkalong Hilir karena biasanya banyak penumpang yang turun dan akan melanjutkan perjalanan ke daerah Sarijadi, KPAD Gegerkalong, Ciwaruga, Cihanjuang hingga Cimahi. Di wilayah-wilayah tersebut dulu tersebar kos-kosan mahasiswa yang kuliah terutama di IKIP Bandung (UPI), Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung (Politeknik Pariwisata), Politeknik ITB (Politeknik Negeri Bandung), dan lain-lain. Dan dulu ada angkot jurusan Ciwaruga warna kuning, dan angkot trayek Ledeng-Cimahi warna abu. Hanya angkot Ledeng-Cimahi itu tidak pernah sampai ke Terminal Ledeng. Penulis tidak mengetahui alasannya mengapa. Ini sama dengan angkot jurusan Cicaheum-Cibaduyut yang dulu berwarna merah dan angkot jurusan Cicaheum-Ciwastra, angkot warna coklat. Kedua angkot ini sama tidak pernah sampai ke Terminal Cicaheum karena ngetemnya yang satu di pertemuan antara Jalan Jakarta dan Jalan Kiaracondong, yang satu lagi hanya sampai Pasar Cihaurgeulis, Jalan Suci.

Baca Juga: Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Satu)

Satu lagi tempat pemberhentian angkot di Jalan Setiabudhi adalah di ujung Jalan Gegerkalong Girang, di depan Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan (FPTK). Dulu ada markah jalan setinggi kurang lebih dua puluh sentimeter. Tidak hanya angkot kadang bus kota (Damri) juga sering menurunkan penumpang di sini. Sesekali terlihat angkot trayek Stasiun Hall-Lembang dan Ciroyom-Lembang ngetem di sini. Yang tidak kalah menarik, dulu ada gerobak tukang koran yang senantiasa memberikan informasi berita pagi itu.

Angkot akhirnya akan berhenti di depan gerbang IKIP Bandung, dulu gerbangnya itu di atas, sekarang di sebrang Hotel Ponty. Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang, di depan pagar kampus, tidak jauh dari Gedung Isola dan perumahan dosen IKIP, di bawah pohon-pohon rindang sedangkan yang di seberang FPTK itu banyak penjual nanas dari Subang.

Bersambung …

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Eli Rusli
Tentang Eli Rusli
Menulis cerita pendek dan opini dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)