Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Eli Rusli
Ditulis oleh Eli Rusli diterbitkan Selasa 13 Jan 2026, 09:34 WIB
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)

Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)

Di mulut Terminal Cicaheum, di sebelah barat seperti yang ditulis di bagian pertama, penumpang yang keluar dari terminal akan disambut puluhan angkot berwarna hijau. Warna hijau polet hitam adalah trayek Cicaheum-Ledeng, hijau polet kuning trayek Cicaheum-Abdul Muis/Kebon Kalapa via Binong, hijau polet merah hati trayek Cicaheum-Abdul Muis/Kebon Kalapa via Jalan Aceh, dan hijau polet merah trayek Cicaheum-Ciroyom.

Karena penulis hendak menuju IKIP Bandung (UPI sekarang), penulis naik angkot dengan trayek Cicaheum-Ledeng. Ongkos pada saat itu (Cicaheum-Ledeng) adalah tiga ratus rupiah, sepuluh persennya ongkos dari Ciamis-Bandung sebesar tiga ribu rupiah. Tidak perlu lama menunggu angkot ngetem karena penumpang yang turun dari bus antarkota banyak.

Dari Terminal Cicaheum angkot melaju ke Jalan Suci/PHH. Mustopa. Jalan Suci/PHH Mustopa tidak selebar sekarang. Apabila angkot berpapasan dengan angkot dari arah sebaliknya, semua penumpang akan terlihat karena jaraknya sangat dekat. Lampu lalu lintas di perempatan Jalan Padasuka dan Jalan Cimuncang belum ada karena lalu lintas tidak sepadat sekarang.

Sepanjang Jalan Suci/PPH Mustopa, Jalan Pahlawan, Jalam Katamso, Jalan Supratman, Jalan Dipenogoro hingga Gedung Sate belum banyak warung-warung makan atau restoran sekarang. Lebar jalan belum seperti sekarang. Pada saat itu rumah-rumah di sekitar jalanan tersebut masih digunakan tempat tinggal. Yang mencolok pada saat itu terdapat rumah-rumah atau bangunan yang digunakan untuk bimbingan belajar (bimbel).

Sekedar informasi, pada era UMPTN di kota-kota besar tidak terkecuali di Bandung menjamur bimbingan belajar seperti Sonny Sugema, Primagama, Ganesha Operation (GO), dan lain-lain. Bimbel-bimbel tersebut menawarkan jaminan akan diterima di berbagai perguruan tinggi negeri yang dituju peserta. Dulu selepas EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) banyak dari rekan-rekan penulis yang hendak meneruskan kuliah di perguruan tinggi negeri mengikuti bimbel di kota-kota besar tersebut. Kegiatan bimbel ini dimulai kurang lebih dua atau satu bulan sebelum pelaksanaan UMPTN. Materi yang diajarkan adalah bagaimana cara cepat dan benar mengerjakan soal-soal UMPTN.

Pada tahun 95-an pula, yang mencolok yang sering penulis sering baca saat berada di angkot adalah tulisan rumah Harry Roesli di Jalan Supratman. PUSDAI (Pusat Dakwah Islam) saat itu masih dalam pembangunan. Dan jika malam hari, jalan-jalan tersebut tidak seramai sekarang. Apalagi jika hujan, kita tidak akan menemukan kemacetan. Yang ada adalah kesunyian. Suara mesin angkot terdengar tajam membelah malam. Bayangan pepohonan sepanjang jalan terlihat jelas dibawah lampu-lampu jalanan. Pedagang kaki lima seperti tukang nasi goreng, sate, soto, dan martabak jaraknya sangat berjauhan. 

Setelah melewati Jalan Sulanjana yang pada pertengahan tahun 90-an tidak seramai sekarang, angkot akan berhenti di pertigaan ujung Jalan Tamansari, di depan Baltos (Balubur Town Square) sekarang karena banyak mahasiswa dan orang-orang yang turun di Pasar Balubur. Dulu orang-orang mengenalnya Pasar Balubur bukan Baltos. Di kawasan ini, meski terlihat kumuh banyak kos-kosan mahasiswa. Banyak toko-toko yang berjualan alat tulis kantor dan fotocopyan.

Selepas Pasar Balubur, di kanan jalan, sebrang Koramil 1812 Bandung Wetan banyak pedagang mebel yang menjual lemari kecil, meja belajar, dan kursi dengan harga miring. Mereka berjualan di bawah pohon-pohon nan rimbun.

Dekat pertemuan Jalan Tamansari dan Jalan Ganesha, penumpang akan menghirup bau sampah dari Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) yang tidak jauh dari pintu Kebun Binatang Bandung, yang pada waktu itu masih di sebrang Jalan Ganesha. Di depan Jalan Ganesha, jika siang hari, apalagi jika hari libur akan dipenuhi kuda-kuda tunggangan yang disewakan kepada para pengunjung kebun binatang. Aroma kotoran kuda akan menusuk memasuki jendela angkot.

Jalan Tamansari yang terjepit di antara Kebun Binatang Bandung dan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), saat itu di kanan kirinya dipagari pohon-pohon besar nan lebat. Jika musim hujan atau pagi hari kadang-kadang terlihat kabut memenuhi jalan. Suara-suara binatang, terutama burung jelas terdengar. Jika melewati jalan tersebut malam hari, akan terasa melewati hutan. Meski ada penerangan dari lampu jalan yang tidak terlalu terang melewati Jalan Tamansari auranya sedikit keueung alias seram.

Di ujung utara Jalan Tamansari, pertemuan dengan Jalan Siliwangi, depan Babakan Siliwangi angkot trayek Cicaheum-Ledeng dan Cicaheum-Ciroyom suka berhenti sebentar guna mencari penumpang jika penumpangnya sedikit. Sepanjang jalan ini relatif sepi. Antrian kendaraan hanya terjadi apabila lampu di pertigaan Gandok, pertemuan antara Jalan Siliwangi, Jalan Ciumbuleuit, dan Jalan Cihampelas berwarna merah. Teras Cikapundung pertengahan 90-an masih berupa sawah. Di pinggir di Jalan Siliwangi banyas gundukan-gundukan batu kali dan pasir yang sudah dikarungi. Di seberang gundukan-gundukan batu itu berdiri Radio Ganesha, radio yang senantiasa membahas berita-berita hangat dari koran-koran yang terbit pagi itu.

Dulu di depan Hotel Nalendra sekarang, lalu lintas sering tersendat karena ramai. Banyak angkot yang berhenti di depan hotel karena dulu bangunan yang berdiri sebagai Hotel Nalendra sekarang adalah sebuah mall alias pusat perbelanjaan, yang selain tempat belanja juga digunakan sebagai tempat nongkrong.

Setelah melewati Jalan Lamping, angkot akan berbelok ke Jalan Cipaganti yang sekarang dirubah menjadi Jalan R.A.A. Wiranatakusumah. Jadi dulu itu, kendaraan yang mau menuju arah Jalan Setiabudhi bisa melewati Jalan Cipaganti, kalau sekarang kebalikannya. Yang penulis ingat dari Jalan Cipaganti saat itu adalah penjual koran koran yang tidak jauh dari pom bensin, penjual pisang Lembang, Mesjid Cipaganti yang arsitekturnya khas, dan ayam Goreng Suharti yang billboard jelas terbaca bagi siapapun yang melewati Jalan Cipaganti. Di sepanjang Jalan Cipaganti berjajar pohon-pohon besar di depan rumah-rumah berukuran besar pada saat itu.

Setelah melewati Jalan Setiabudhi angkot ke berbelok ke kiri, ke Jalan Sukawangi atau Jalan Sukaasih menuju Jalan Sukajadi. Di halteu Karangsetra yang termasuk ke Jalan Sukajadi saat itu ada penjual koran dan majalah, yang korannya itu digantung di dinding halteu dan di atas tali yang sengaja dibentangkan. Segala macam koran dan majalah tersedia di sana.

Angkot akan kembali ke Jalan Setiabudhi dan berhenti agak lama sebelum lampu lalu lintas di ujung Jalan Gegerkalong Hilir karena biasanya banyak penumpang yang turun dan akan melanjutkan perjalanan ke daerah Sarijadi, KPAD Gegerkalong, Ciwaruga, Cihanjuang hingga Cimahi. Di wilayah-wilayah tersebut dulu tersebar kos-kosan mahasiswa yang kuliah terutama di IKIP Bandung (UPI), Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung (Politeknik Pariwisata), Politeknik ITB (Politeknik Negeri Bandung), dan lain-lain. Dan dulu ada angkot jurusan Ciwaruga warna kuning, dan angkot trayek Ledeng-Cimahi warna abu. Hanya angkot Ledeng-Cimahi itu tidak pernah sampai ke Terminal Ledeng. Penulis tidak mengetahui alasannya mengapa. Ini sama dengan angkot jurusan Cicaheum-Cibaduyut yang dulu berwarna merah dan angkot jurusan Cicaheum-Ciwastra, angkot warna coklat. Kedua angkot ini sama tidak pernah sampai ke Terminal Cicaheum karena ngetemnya yang satu di pertemuan antara Jalan Jakarta dan Jalan Kiaracondong, yang satu lagi hanya sampai Pasar Cihaurgeulis, Jalan Suci.

Baca Juga: Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Satu)

Satu lagi tempat pemberhentian angkot di Jalan Setiabudhi adalah di ujung Jalan Gegerkalong Girang, di depan Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan (FPTK). Dulu ada markah jalan setinggi kurang lebih dua puluh sentimeter. Tidak hanya angkot kadang bus kota (Damri) juga sering menurunkan penumpang di sini. Sesekali terlihat angkot trayek Stasiun Hall-Lembang dan Ciroyom-Lembang ngetem di sini. Yang tidak kalah menarik, dulu ada gerobak tukang koran yang senantiasa memberikan informasi berita pagi itu.

Angkot akhirnya akan berhenti di depan gerbang IKIP Bandung, dulu gerbangnya itu di atas, sekarang di sebrang Hotel Ponty. Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang, di depan pagar kampus, tidak jauh dari Gedung Isola dan perumahan dosen IKIP, di bawah pohon-pohon rindang sedangkan yang di seberang FPTK itu banyak penjual nanas dari Subang.

Bersambung …

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Eli Rusli
Tentang Eli Rusli
Menulis cerita pendek dan opini dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:47 WIB

‘Kojo’ Persib Beckham Putra Kembali jadi Pahlawan dan Ulangi Selebrasi ‘Ngahodhod Katirisan’

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23.
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:06 WIB

Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan menyimpang.
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 13:28 WIB

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Kebutuhan akan algoritma adalah keniscayaan dengan literasi numerasi sebagai fondasinya untuk memaknai angka di balik fenomena sosial
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Beranda 12 Jan 2026, 12:30 WIB

Setelah Sukses di Bandung, ISMN Sambangi Semarang Perkuat Jejaring dengan 50 Media Sosial Lokal

Sebelumnya, sekitar 50 pengelola akun informasi lokal, kreator digital, influencer, dan praktisi media berkumpul dalam ISMN Meet Up Bandung 2025 di Nara Park, Kota Bandung, Selasa, 2 Desember 2025.
Indonesia Social Media Network (ISMN) Meet Up 2026 di Semarang digelar Selasa, 13 Januari 2026.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 11:49 WIB

Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat.
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 10:36 WIB

Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

Liputan pameran “Selepas Reda” menyoroti karya seniman muda UPI yang membaca ulang Bandung melalui dialektika alter ego, menghadirkan refleksi tentang kota, identitas, dan realitas sosialnya.
Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)