Membuktikan Kesetaraan Gender: Mochamad El Fattih, Penerus Jaipong dari UPI Bandung

Gisca Laudya Pramesti
Ditulis oleh Gisca Laudya Pramesti diterbitkan Rabu 26 Nov 2025, 19:49 WIB
Dalam balutan hitam putih, Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria terpana di tengah gerak dinamis tari Jaipong, menangkap esensi budaya Sunda. (14/06/2025) (Sumber: Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria)

Dalam balutan hitam putih, Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria terpana di tengah gerak dinamis tari Jaipong, menangkap esensi budaya Sunda. (14/06/2025) (Sumber: Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria)

Sejak kecil, irama ketuk tilu telah menjadi melodi pengantar tidur, sebuah takdir yang diwariskan langsung dari neneknya. Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria, lelaki berdarah seni ini, telah menemukan takdirnya di setiap liukan dinamis seni tari Jaipong.

Kisah perjalanannya ini disampaikan saat berada di Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Dr. Setiabudi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Minggu (7/11/2025).

Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria, penari sekaligus koreografer muda yang juga merupakan mahasiswa Seni Tari UPI, meyakini bahwa seni itu luas dan tidak semestinya dibatasi oleh stereotip apapun.

"Seni itu luas dan nggak ada batasannya, siapapun bisa berkecimpung dalam seni. Tari juga bukan hanya soal gerakan, tapi ekspresi, pesan, budaya, dan kreativitas," ujar El Fattih.

Cintanya pada kekayaan budaya Sunda tidak berhenti di panggung pertunjukan, ia bertekad melanjutkan pendidikan di Seni Tari di UPI untuk melanjutkan darah seni dari keluarganya. Tumbuh di tengah lingkungan seni membuat bakatnya semakin terasah hingga membawa El Fattih dikenal sebagai penari muda profesional dengan segudang prestasi.

El Fattih menegaskan bahwa tari Jaipong baginya bukan hanya sekadar pertunjukan lincah, tapi juga sebuah pesan dan warisan yang mengandung nilai budaya tinggi. Inilah yang menjadi landasan utama baginya untuk serius mendalami, meneruskan darah seninya, dan mewariskan kesenian tradisional dari tanah kelahirannya, Karawang.

Perjalanannya di dunia seni adalah bukti dari tradisi yang turun temurun. Berawal dari kebiasaannya melihat tantenya, Bunda Irma, yang memang seorang penari sekaligus pelatih, menari di rumah. Dari situlah ia mulai mempelajari tari Jaipong hingga akhirnya mampu mengembangkan gaya tarinya sendiri.

Dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang juga berprofesi sebagai seniman menjadi salah satu pondasi kuat akan bakat menarinya. Kini, El Fattih tidak hanya tampil di atas panggung, ia juga mewariskan bakatnya sebagai pelatih dan koreografer di sanggar tari keluarganya, Surya Medal.

Potret Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria, tersenyum bangga usai dinobatkan sebagai Juara 2 kategori
Jawara di ajang Jaipong Ambassador 2.0. (24/08/2025) (Sumber: Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria)
Potret Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria, tersenyum bangga usai dinobatkan sebagai Juara 2 kategori Jawara di ajang Jaipong Ambassador 2.0. (24/08/2025) (Sumber: Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria)

Sebagai seorang koreografer muda, El Fattih telah menghasilkan kurang lebih 30 karya tari yang berhasil ditampilkan di berbagai ajang perlombaan bergengsi di Indonesia. Karya dan bakatnya ini diakui, ditandai dengan kemenangan karya Kala Ider yang dibawakan oleh grup tari bernama Gumeulis. Karya tersebut berhasil meraih juara satu tingkat provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Prestasinya tidak berhenti di nasional. Ia juga pernah mewakili Indonesia, khususnya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), untuk tampil dalam pertunjukan seni pada acara Layar Seni Bitara 2025 Vol. 3 di Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia. Pencapaian ini semakin diperkuat dengan dinobatkannya El Fattih sebagai Juara 2 dalam ajang tari bergengsi Jaipong Ambassador 2.0.

Meskipun memiliki banyak prestasi, El Fattih menyadari masih banyak tantangan yang menguji untuk sampai ke semua pencapaiannya. Ia harus menghadapi stereotip yang masih memandang sebelah mata seni tari, serta pandangan negatif lainnya yang meremehkan seniman tari. Ia juga menyoroti minimnya minat dan gengsi anak-anak jaman sekarang terhadap budaya tradisional.

El Fattih menekankan bahwa dengan seni, terutama seni tari, dapat menjadi jalan bagi siapa pun untuk meraih banyak prestasi, memberikan pesan bermakna, serta menunjukkan pentingnya budaya tradisional.

“Aku harap anak-anak jaman sekarang masih mau melestarikan budaya tradisional, salah satunya tari Jaipong biar terus berkembang,” ujar El Fattih menutup percakapan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gisca Laudya Pramesti
Mahasiswi Digital Public Relations Telkom University

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:47 WIB

‘Kojo’ Persib Beckham Putra Kembali jadi Pahlawan dan Ulangi Selebrasi ‘Ngahodhod Katirisan’

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23.
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:06 WIB

Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan menyimpang.
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 13:28 WIB

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Kebutuhan akan algoritma adalah keniscayaan dengan literasi numerasi sebagai fondasinya untuk memaknai angka di balik fenomena sosial
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Beranda 12 Jan 2026, 12:30 WIB

Setelah Sukses di Bandung, ISMN Sambangi Semarang Perkuat Jejaring dengan 50 Media Sosial Lokal

Sebelumnya, sekitar 50 pengelola akun informasi lokal, kreator digital, influencer, dan praktisi media berkumpul dalam ISMN Meet Up Bandung 2025 di Nara Park, Kota Bandung, Selasa, 2 Desember 2025.
Indonesia Social Media Network (ISMN) Meet Up 2026 di Semarang digelar Selasa, 13 Januari 2026.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 11:49 WIB

Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat.
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)