Membuktikan Kesetaraan Gender: Mochamad El Fattih, Penerus Jaipong dari UPI Bandung

3 menit baca
Gisca Laudya Pramesti
Ditulis oleh Gisca Laudya Pramesti diterbitkan
Dalam balutan hitam putih, Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria terpana di tengah gerak dinamis tari Jaipong, menangkap esensi budaya Sunda. (14/06/2025) (Sumber: Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria)
Dalam balutan hitam putih, Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria terpana di tengah gerak dinamis tari Jaipong, menangkap esensi budaya Sunda. (14/06/2025) (Sumber: Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria)

Sejak kecil, irama ketuk tilu telah menjadi melodi pengantar tidur, sebuah takdir yang diwariskan langsung dari neneknya. Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria, lelaki berdarah seni ini, telah menemukan takdirnya di setiap liukan dinamis seni tari Jaipong.

Kisah perjalanannya ini disampaikan saat berada di Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Dr. Setiabudi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Minggu (7/11/2025).

Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria, penari sekaligus koreografer muda yang juga merupakan mahasiswa Seni Tari UPI, meyakini bahwa seni itu luas dan tidak semestinya dibatasi oleh stereotip apapun.

"Seni itu luas dan nggak ada batasannya, siapapun bisa berkecimpung dalam seni. Tari juga bukan hanya soal gerakan, tapi ekspresi, pesan, budaya, dan kreativitas," ujar El Fattih.

Cintanya pada kekayaan budaya Sunda tidak berhenti di panggung pertunjukan, ia bertekad melanjutkan pendidikan di Seni Tari di UPI untuk melanjutkan darah seni dari keluarganya. Tumbuh di tengah lingkungan seni membuat bakatnya semakin terasah hingga membawa El Fattih dikenal sebagai penari muda profesional dengan segudang prestasi.

El Fattih menegaskan bahwa tari Jaipong baginya bukan hanya sekadar pertunjukan lincah, tapi juga sebuah pesan dan warisan yang mengandung nilai budaya tinggi. Inilah yang menjadi landasan utama baginya untuk serius mendalami, meneruskan darah seninya, dan mewariskan kesenian tradisional dari tanah kelahirannya, Karawang.

Perjalanannya di dunia seni adalah bukti dari tradisi yang turun temurun. Berawal dari kebiasaannya melihat tantenya, Bunda Irma, yang memang seorang penari sekaligus pelatih, menari di rumah. Dari situlah ia mulai mempelajari tari Jaipong hingga akhirnya mampu mengembangkan gaya tarinya sendiri.

Dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang juga berprofesi sebagai seniman menjadi salah satu pondasi kuat akan bakat menarinya. Kini, El Fattih tidak hanya tampil di atas panggung, ia juga mewariskan bakatnya sebagai pelatih dan koreografer di sanggar tari keluarganya, Surya Medal.

Potret Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria, tersenyum bangga usai dinobatkan sebagai Juara 2 kategori
Jawara di ajang Jaipong Ambassador 2.0. (24/08/2025) (Sumber: Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria)
Potret Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria, tersenyum bangga usai dinobatkan sebagai Juara 2 kategori Jawara di ajang Jaipong Ambassador 2.0. (24/08/2025) (Sumber: Mochamad El Fattih Kaafighanny Alria)

Sebagai seorang koreografer muda, El Fattih telah menghasilkan kurang lebih 30 karya tari yang berhasil ditampilkan di berbagai ajang perlombaan bergengsi di Indonesia. Karya dan bakatnya ini diakui, ditandai dengan kemenangan karya Kala Ider yang dibawakan oleh grup tari bernama Gumeulis. Karya tersebut berhasil meraih juara satu tingkat provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Prestasinya tidak berhenti di nasional. Ia juga pernah mewakili Indonesia, khususnya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), untuk tampil dalam pertunjukan seni pada acara Layar Seni Bitara 2025 Vol. 3 di Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia. Pencapaian ini semakin diperkuat dengan dinobatkannya El Fattih sebagai Juara 2 dalam ajang tari bergengsi Jaipong Ambassador 2.0.

Meskipun memiliki banyak prestasi, El Fattih menyadari masih banyak tantangan yang menguji untuk sampai ke semua pencapaiannya. Ia harus menghadapi stereotip yang masih memandang sebelah mata seni tari, serta pandangan negatif lainnya yang meremehkan seniman tari. Ia juga menyoroti minimnya minat dan gengsi anak-anak jaman sekarang terhadap budaya tradisional.

El Fattih menekankan bahwa dengan seni, terutama seni tari, dapat menjadi jalan bagi siapa pun untuk meraih banyak prestasi, memberikan pesan bermakna, serta menunjukkan pentingnya budaya tradisional.

“Aku harap anak-anak jaman sekarang masih mau melestarikan budaya tradisional, salah satunya tari Jaipong biar terus berkembang,” ujar El Fattih menutup percakapan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)