Hikayat Long March Siliwangi, Jalan Kaki Terpanjang dalam Revolusi Indonesia

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Dokumentasi long march Siliwangi.
Dokumentasi long march Siliwangi.

AYOBANDUNG.ID - Dalam sejarah Revolusi Indonesia, ada banyak peristiwa heroik yang mudah dijual sebagai poster. Pertempuran kota, pidato berapi api, atau foto tentara dengan senapan terangkat. Namun ada satu kisah yang kurang ramah kamera, tapi sangat bersahabat dengan kaki kapalan dan perut kosong. Ia adalah long march pasukan Siliwangi pada 1948–1949.

Ini bukan long march ala parade mahasiswa dengan spanduk dan toa. Ini long march betulan, lintas gunung, sungai, hutan, dan desa yang namanya sering lebih sulit dihafal daripada nama jenderal. Pasukan Siliwangi berjalan ratusan kilometer dari Jawa Tengah kembali ke Jawa Barat, kampung halaman mereka, setelah Agresi Militer Belanda Kedua. Mereka berjalan bukan karena hobi mendaki, melainkan karena negara memanggil dan Belanda datang membawa senjata.

Pada Desember 1948, Belanda melancarkan agresi kedua. Yogyakarta diserbu, para pemimpin republik ditangkap, dan republik seolah kembali ke posisi jongkok. Dalam situasi itu, pasukan Siliwangi yang sebelumnya hijrah ke Jawa Tengah akibat Perjanjian Renville menerima perintah untuk pulang ke Jawa Barat dan menghidupkan kembali perang gerilya di wilayah asal.

Baca Juga: Sejarah Panjang Hotel Preanger Bandung, Saksi Bisu Perubahan Zaman di Jatung Kota

Perintah itu datang dengan sandi yang terdengar santai, hampir seperti salam pantai. ALOHA. Bukan singkatan minuman atau klub dansa, melainkan kode operasi untuk bergerak kembali ke Jawa Barat dengan berjalan kaki dan bergerilya.

Berdasarkan risalah Histografi Perjuangan Pasukan Siliwangi Pada Masa Revolusi Tahun 1945–1949 yang dimuat dalam Jurnal Jawi, perintah tersebut disampaikan oleh Panglima TNI Letkol Daan Jahja melalui jaringan telepon dan diterima Letnan I Wahyu Hagono di Kleco, Surakarta, pada pagi hari 19 Desember 1948. Pada hari yang sama, Jenderal Soedirman menegaskan perintah itu lewat siaran Radio Republik Indonesia Yogyakarta. Republik boleh diserbu, tetapi perang tidak boleh berhenti.

Delegasi Indonesia dalam Perjanjian Renville 17 Januari 1948 (Sumber: Wikimedia)
Delegasi Indonesia dalam Perjanjian Renville 17 Januari 1948 (Sumber: Wikimedia)

ALOHA dan Jalan Panjang Pulang Kampung

Bagi Pasukan Siliwangi, pulang ke Jawa Barat bukan sekadar kembali ke rumah lama. Itu adalah kembali ke wilayah yang sudah dipenuhi patroli Belanda, garis Van Mook, dan mata mata bersenjata. Maka long march ini bukan barisan lurus seperti pawai, melainkan gerakan senyap yang terpecah dalam brigade dan batalyon, menyusup dari berbagai arah.

Brigade XII mendapat tugas menuju wilayah Priangan Barat. Jalurnya mencakup Bandung, Cianjur, Sukabumi, Bogor, hingga daerah di sekitar Garut bagian barat dan timur. Wilayah ini bukan sekadar peta, melainkan bentang alam yang naik turun seperti grafik ekonomi republik saat itu. Gunung, lembah, sungai, dan jalan setapak menjadi menu harian pasukan.

Baca Juga: Pertempuran Ciseupan Subang 1949, Pasukan Siliwangi di Lembah Dua Sungai

Brigade XIII bergerak ke Jawa Barat bagian utara. Wilayah sasarannya mencakup daerah perbatasan Jawa Tengah, Kabupaten Jakarta Barat, hingga wilayah Sumedang, Subang, dan Purwakarta. Sementara Brigade XIV menyasar Priangan Timur, khususnya Garut dan Tasikmalaya, daerah yang kelak dikenal sebagai basis gerilya yang keras kepala dan sulit ditundukkan.

Staf Divisi Siliwangi, Batalyon Kotroep, dan Pengawal SDS ikut bergerak bersama Batalyon III Brigade Siluman Merah XII yang dipimpin Achmad Wiranatakusumah. Mereka berangkat malam hari dari sekitar Stasiun Balapan, Surakarta. Bukan naik kereta wisata, melainkan berjalan kaki dengan disiplin sunyi. Mereka hanya sampai Prambanan, lalu berbelok menyusuri jalur utara Ngemplak, Pakem, Sreumbung, dan memotong jalan raya Yogyakarta Magelang di Tegalsari. Dari situ, rombongan menyeberang menuju Jawa Barat bersama Batalyon IV Brigade Guntur XII.

Sementara itu, Tentara Pelajar Siliwangi di bawah Kapten Solihin Gautama Purwanegara menjalani long march dengan cara yang lebih kreatif. Mereka berpindah pindah, kadang menyusuri rel kereta api dari Yogyakarta ke arah barat hingga Stasiun Rewulu. Dari sana, mereka singgah di Pabrik Gula Rewulu dan bergabung dengan Batalyon Guntur XII pimpinan Mayor Daeng Muhammad, lalu bergerak bersama Batalyon Petir menuju Jawa Barat. Revolusi memang penuh improvisasi. Kadang rel kereta pun bisa jadi jalan pulang.

Batalyon Tajimalela Brigade XIII memilih jalur yang tidak kalah melelahkan. Mereka bersiaga di Gunung Alang, lalu bergerak ke barat melewati Gunung Slamet, Sungai Serayu, Purworejo, Cilacap, sebelum berbelok ke Gunung Ciremai. Menggunakan peta cetak biru, mereka menyusup hingga bertemu Batalyon Rukman yang lebih dulu masuk Jawa Barat, lalu bergerak ke Sumedang, Subang, dan Purwakarta.

Batalyon II Tarumanagara Brigade XIII yang bermarkas di Wonosobo menerima perintah lewat radio pada pagi hari. Beberapa jam kemudian, mereka sudah bergerak meninggalkan kota. Pada malam hari, mereka bahkan mengawal Panglima Brigade XII Letkol Sadikin beserta staf dan keluarga. Rutenya panjang dan berliku, dari Wonosobo ke Bumiayu, Guci, Gunung Slamet, Purwokerto, Cirebon, hingga akhirnya bergerilya di Sumedang dan Majalengka. Dalam long march ini, perang dan urusan keluarga sering berjalan beriringan.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Gedung Sate, 4 Jam Jahanam di Jantung Bandung

Brigade XIV di bawah Mayor Nasuhi juga tidak kalah sibuk. Begitu mengetahui agresi Belanda di Yogyakarta, Mayor Nasuhi segera bergerak ke Temanggung dan memerintahkan pasukannya menuju Wonosobo. Batalyon Tengkorak tiba pada 20 Desember 1948, lalu melanjutkan perjalanan melalui Banjarnegara, Gunung Slamet bagian utara, Bumiayu, Purwokerto, Tegal, hingga menyusuri wilayah selatan menuju Ciamis Utara. Nama batalyonnya memang Tengkorak, tapi yang diuji justru tulang kaki.

Selain itu, berbagai batalyon lain seperti Kiansantang, Suryakencana, Pemuda, Garuda Hitam, dan Imam Bonjol juga melakukan infiltrasi dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Mereka menempuh jalur masing masing dengan kondisi relatif utuh. Ini bukan keajaiban, melainkan hasil disiplin, dukungan rakyat, dan kemampuan bergerak senyap yang sudah diasah sejak awal revolusi.

Jelang akhir Desember 1948, seluruh pasukan Siliwangi yang terlibat dalam Aksi Sayap dan Gerakan Infiltrasi berhasil melewati garis Van Mook. Garis imajiner yang dibuat Belanda itu terbukti tidak mampu menghentikan tentara yang lebih akrab dengan peta alam daripada meja perundingan.

Pada Februari 1949, seluruh Brigade Siliwangi telah tiba di wilayah operasi masing masing di Jawa Barat. Fase long march dinyatakan selesai, tetapi fase perang gerilya baru saja dimulai. Pasukan Siliwangi kembali menyatu dengan rakyat, bersembunyi di hutan, desa, dan pegunungan, sambil terus mengganggu posisi Belanda hingga meja diplomasi kembali terbuka.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)