Hikayat Long March Siliwangi, Jalan Kaki Terpanjang dalam Revolusi Indonesia

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 21 Jan 2026, 16:13 WIB
Dokumentasi long march Siliwangi.

Dokumentasi long march Siliwangi.

AYOBANDUNG.ID - Dalam sejarah Revolusi Indonesia, ada banyak peristiwa heroik yang mudah dijual sebagai poster. Pertempuran kota, pidato berapi api, atau foto tentara dengan senapan terangkat. Namun ada satu kisah yang kurang ramah kamera, tapi sangat bersahabat dengan kaki kapalan dan perut kosong. Ia adalah long march pasukan Siliwangi pada 1948–1949.

Ini bukan long march ala parade mahasiswa dengan spanduk dan toa. Ini long march betulan, lintas gunung, sungai, hutan, dan desa yang namanya sering lebih sulit dihafal daripada nama jenderal. Pasukan Siliwangi berjalan ratusan kilometer dari Jawa Tengah kembali ke Jawa Barat, kampung halaman mereka, setelah Agresi Militer Belanda Kedua. Mereka berjalan bukan karena hobi mendaki, melainkan karena negara memanggil dan Belanda datang membawa senjata.

Pada Desember 1948, Belanda melancarkan agresi kedua. Yogyakarta diserbu, para pemimpin republik ditangkap, dan republik seolah kembali ke posisi jongkok. Dalam situasi itu, pasukan Siliwangi yang sebelumnya hijrah ke Jawa Tengah akibat Perjanjian Renville menerima perintah untuk pulang ke Jawa Barat dan menghidupkan kembali perang gerilya di wilayah asal.

Baca Juga: Sejarah Panjang Hotel Preanger Bandung, Saksi Bisu Perubahan Zaman di Jatung Kota

Perintah itu datang dengan sandi yang terdengar santai, hampir seperti salam pantai. ALOHA. Bukan singkatan minuman atau klub dansa, melainkan kode operasi untuk bergerak kembali ke Jawa Barat dengan berjalan kaki dan bergerilya.

Berdasarkan risalah Histografi Perjuangan Pasukan Siliwangi Pada Masa Revolusi Tahun 1945–1949 yang dimuat dalam Jurnal Jawi, perintah tersebut disampaikan oleh Panglima TNI Letkol Daan Jahja melalui jaringan telepon dan diterima Letnan I Wahyu Hagono di Kleco, Surakarta, pada pagi hari 19 Desember 1948. Pada hari yang sama, Jenderal Soedirman menegaskan perintah itu lewat siaran Radio Republik Indonesia Yogyakarta. Republik boleh diserbu, tetapi perang tidak boleh berhenti.

Delegasi Indonesia dalam Perjanjian Renville 17 Januari 1948 (Sumber: Wikimedia)
Delegasi Indonesia dalam Perjanjian Renville 17 Januari 1948 (Sumber: Wikimedia)

ALOHA dan Jalan Panjang Pulang Kampung

Bagi Pasukan Siliwangi, pulang ke Jawa Barat bukan sekadar kembali ke rumah lama. Itu adalah kembali ke wilayah yang sudah dipenuhi patroli Belanda, garis Van Mook, dan mata mata bersenjata. Maka long march ini bukan barisan lurus seperti pawai, melainkan gerakan senyap yang terpecah dalam brigade dan batalyon, menyusup dari berbagai arah.

Brigade XII mendapat tugas menuju wilayah Priangan Barat. Jalurnya mencakup Bandung, Cianjur, Sukabumi, Bogor, hingga daerah di sekitar Garut bagian barat dan timur. Wilayah ini bukan sekadar peta, melainkan bentang alam yang naik turun seperti grafik ekonomi republik saat itu. Gunung, lembah, sungai, dan jalan setapak menjadi menu harian pasukan.

Baca Juga: Pertempuran Ciseupan Subang 1949, Pasukan Siliwangi di Lembah Dua Sungai

Brigade XIII bergerak ke Jawa Barat bagian utara. Wilayah sasarannya mencakup daerah perbatasan Jawa Tengah, Kabupaten Jakarta Barat, hingga wilayah Sumedang, Subang, dan Purwakarta. Sementara Brigade XIV menyasar Priangan Timur, khususnya Garut dan Tasikmalaya, daerah yang kelak dikenal sebagai basis gerilya yang keras kepala dan sulit ditundukkan.

Staf Divisi Siliwangi, Batalyon Kotroep, dan Pengawal SDS ikut bergerak bersama Batalyon III Brigade Siluman Merah XII yang dipimpin Achmad Wiranatakusumah. Mereka berangkat malam hari dari sekitar Stasiun Balapan, Surakarta. Bukan naik kereta wisata, melainkan berjalan kaki dengan disiplin sunyi. Mereka hanya sampai Prambanan, lalu berbelok menyusuri jalur utara Ngemplak, Pakem, Sreumbung, dan memotong jalan raya Yogyakarta Magelang di Tegalsari. Dari situ, rombongan menyeberang menuju Jawa Barat bersama Batalyon IV Brigade Guntur XII.

Sementara itu, Tentara Pelajar Siliwangi di bawah Kapten Solihin Gautama Purwanegara menjalani long march dengan cara yang lebih kreatif. Mereka berpindah pindah, kadang menyusuri rel kereta api dari Yogyakarta ke arah barat hingga Stasiun Rewulu. Dari sana, mereka singgah di Pabrik Gula Rewulu dan bergabung dengan Batalyon Guntur XII pimpinan Mayor Daeng Muhammad, lalu bergerak bersama Batalyon Petir menuju Jawa Barat. Revolusi memang penuh improvisasi. Kadang rel kereta pun bisa jadi jalan pulang.

Batalyon Tajimalela Brigade XIII memilih jalur yang tidak kalah melelahkan. Mereka bersiaga di Gunung Alang, lalu bergerak ke barat melewati Gunung Slamet, Sungai Serayu, Purworejo, Cilacap, sebelum berbelok ke Gunung Ciremai. Menggunakan peta cetak biru, mereka menyusup hingga bertemu Batalyon Rukman yang lebih dulu masuk Jawa Barat, lalu bergerak ke Sumedang, Subang, dan Purwakarta.

Batalyon II Tarumanagara Brigade XIII yang bermarkas di Wonosobo menerima perintah lewat radio pada pagi hari. Beberapa jam kemudian, mereka sudah bergerak meninggalkan kota. Pada malam hari, mereka bahkan mengawal Panglima Brigade XII Letkol Sadikin beserta staf dan keluarga. Rutenya panjang dan berliku, dari Wonosobo ke Bumiayu, Guci, Gunung Slamet, Purwokerto, Cirebon, hingga akhirnya bergerilya di Sumedang dan Majalengka. Dalam long march ini, perang dan urusan keluarga sering berjalan beriringan.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Gedung Sate, 4 Jam Jahanam di Jantung Bandung

Brigade XIV di bawah Mayor Nasuhi juga tidak kalah sibuk. Begitu mengetahui agresi Belanda di Yogyakarta, Mayor Nasuhi segera bergerak ke Temanggung dan memerintahkan pasukannya menuju Wonosobo. Batalyon Tengkorak tiba pada 20 Desember 1948, lalu melanjutkan perjalanan melalui Banjarnegara, Gunung Slamet bagian utara, Bumiayu, Purwokerto, Tegal, hingga menyusuri wilayah selatan menuju Ciamis Utara. Nama batalyonnya memang Tengkorak, tapi yang diuji justru tulang kaki.

Selain itu, berbagai batalyon lain seperti Kiansantang, Suryakencana, Pemuda, Garuda Hitam, dan Imam Bonjol juga melakukan infiltrasi dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Mereka menempuh jalur masing masing dengan kondisi relatif utuh. Ini bukan keajaiban, melainkan hasil disiplin, dukungan rakyat, dan kemampuan bergerak senyap yang sudah diasah sejak awal revolusi.

Jelang akhir Desember 1948, seluruh pasukan Siliwangi yang terlibat dalam Aksi Sayap dan Gerakan Infiltrasi berhasil melewati garis Van Mook. Garis imajiner yang dibuat Belanda itu terbukti tidak mampu menghentikan tentara yang lebih akrab dengan peta alam daripada meja perundingan.

Pada Februari 1949, seluruh Brigade Siliwangi telah tiba di wilayah operasi masing masing di Jawa Barat. Fase long march dinyatakan selesai, tetapi fase perang gerilya baru saja dimulai. Pasukan Siliwangi kembali menyatu dengan rakyat, bersembunyi di hutan, desa, dan pegunungan, sambil terus mengganggu posisi Belanda hingga meja diplomasi kembali terbuka.

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)