Pertempuran Ciseupan Subang 1949, Pasukan Siliwangi di Lembah Dua Sungai

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Pertempuran Ciseupan Subang 1949. (Sumber: Wikimedia)
Pertempuran Ciseupan Subang 1949. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Ciseupan di kaki Subang dulu bukan nama yang membuat Belanda bergidik. Ia hanya kampung kecil di lembah, tempat dua sungai bertemu jadi Cipunagara, dikelilingi bukit hijau yang lebih cocok untuk mendengar kicau burung ketimbang dentuman mortir. Tapi sejarah punya cara aneh mengubah kampung sunyi jadi panggung perang. Pada awal Februari 1949, di situlah ratusan prajurit Divisi Siliwangi yang baru pulang dari “hijrah Renville” beristirahat, tanpa tahu mereka bakal kedatangan tamu tak diundang: serdadu kolonial yang masih ngotot menegakkan harga diri kerajaan.

Batalion 3001 di bawah Mayor Engkong Darsono berjumlah sekitar 1.500 prajurit. Mereka bagian dari Divisi Siliwangi yang pulang dari hijrah Renville, melakukan long march dari Yogyakarta menuju Jawa Barat. Jalur yang mereka tempuh bukan jalur parade, tapi jalur gerilya: melintasi hutan, menyeberangi sungai, menghindari patroli Belanda, dan terkadang berhadapan dengan gangguan DI/TII.

Setelah melewati daerah Sumedang, pasukan bergerak ke barat. Mereka tiba di Ciseupan—sebuah kampung di Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang—dan memutuskan bermalam. Medannya strategis untuk istirahat: air melimpah, lahan cukup luas untuk menampung pasukan, dan pepohonan lebat untuk kamuflase.

Sumber yang banyak dirujuk menyebutkan kisahnya bermula pada Kamis, 4 Februari 1949, ketika sekitar 1.500 prajurit Batalyon 3001 Prabu Kiansantang yang dipimpin Mayor Engkong Darsono tiba di Desa Rancamanggung. Mereka datang setelah long march melelahkan dari Yogyakarta ke Jawa Barat, sebagai bagian dari kembalinya Divisi Siliwangi akibat pecahnya Perjanjian Renville.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Perlintasan Ciater Subang, Gerbang Terakhir Pertahanan Sekutu di Bandung

Demi menghindari bentrokan, pimpinan batalion mengirim surat kepada Markas Besar Belanda di Cidongkol, Subang, meminta izin untuk tinggal sementara di Ciseupan dan Pasirsereh, serta meminta bantuan keamanan agar perjalanan ke Bandung tidak terganggu. Belanda menyetujui, tapi dengan syarat semua senjata diikat dan diamankan.

Tapi, pada Jumat pagi pukul 04.00, pasukan Belanda dari arah Bolang tiba-tiba mendatangi Ciseupan 1. Mereka mengumpulkan pemuda setempat, menuntut agar ditunjukkan lokasi pimpinan TNI. Seorang warga, Sanusi, yang sedang pulang usai salat Subuh, dipanggil tentara Belanda. Diduga ia tidak mengerti atau tidak mendengar. Ia terus berjalan, dan begitu sampai di pintu rumahnya, peluru menembus tubuhnya. Sanusi tewas seketika—menjadi korban sipil pertama dalam insiden ini.

Belanda lalu bergerak menyerang Pasirsereh, tempat pasukan TNI beristirahat. Karena serangan mendadak, TNI mundur ke Rancamanggung, meninggalkan sebagian senjata yang dirampas Belanda. Tak puas, Belanda kembali ke Ciseupan 2.

Di sinilah Mayor Engkong Darsono, yang berada di Rancamanggung, menerima laporan tentang pergerakan Belanda. Seluruh pasukan TNI segera dimobilisasi. Pukul 08.00 mereka tiba di Ciseupan, menembaki pasukan Belanda dari posisi lebih tinggi. Pertempuran berlangsung sengit, dan akhirnya Belanda mundur ke sawah lalu kembali ke Ciseupan 1.

Versi lain datang dari catatan dalam buku Monumen Peljuangan di Jawa Barat (1987). Versi ini tidak menyebut adanya surat izin atau persetujuan, melainkan menekankan bahwa Belanda menyerang karena memperoleh laporan mata-mata.

Tanggal 3 Februari 1949, Batalyon 3001 tiba di Ciseupan dari arah timur melalui Sumedang. Kampung Ciseupan yang terletak di lembah, dikelilingi bukit rimbun, menjadi tempat beristirahat pasukan yang lelah. Di situlah mereka berhenti, tanpa menyangka Belanda sedang mengintai.

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Di Cisalak, markas Belanda yang hanya berjarak sekitar 8 km segera mengirim pasukan untuk melakukan serangan fajar pada 5 Februari 1949 pukul 04.00. Dari bukit barat daya, rentetan tembakan dilepaskan.

Tapi pasukan Siliwangi bukan pasukan biasa. Meski diserang mendadak, mereka segera bangkit. Dalam hitungan jam, Ciseupan berubah jadi medan laga. Pertempuran berlangsung sengit, peluru bersahutan, dan pasukan Republik melawan dengan keberanian khas Macan Siliwangi.

Belanda yang awalnya percaya diri akhirnya mundur berantakan. Menurut catatan resmi, korban Belanda sangat besar: 1 perwira mayor, 5 letnan, dan 35 prajurit tewas. Senjata-senjata modern—termasuk 3 brengun MK II, 2 mortir, dan 48 senapan—berhasil direbut TNI.

Di pihak TNI, korban lebih sedikit: lima prajurit gugur dan tiga luka. Rasio kerugian ini jarang terjadi di Perang Kemerdekaan. Biasanya, Belanda yang unggul persenjataan mampu memaksa pasukan republik mundur. Tapi di Ciseupan, sebaliknya—pasukan koloniallah yang terpaksa menarik diri untuk menyelamatkan nyawa dan sisa persenjataannya.

Perbedaan utama kedua versi terletak pada latar sebelum pertempuran—apakah terjadi serangan sepihak yang dipatahkan TNI, atau dimulai dari situasi “izin tinggal” yang kemudian berubah menjadi baku tembak. Namun, keduanya sepakat bahwa pagi itu di Ciseupan, pasukan Divisi Siliwangi membuat Belanda mundur dari medan, meninggalkan jejak sejarah di lembah dua sungai itu.

Terdapat banyak bukti luas bahwa operasi Belanda termasuk tindakan keras terhadap penduduk desa (penangkapan, intimidasi, bahkan pembunuhan dalam beberapa operasi kontra-gerilya). Ini membuat skenario penembakan seorang sipil (Sanusi) plausibel secara historis. Kasus-kasus kekerasan ekstralagal dan operasi kontroversial merupakan bagian dokumenter dari periode Agresi Militer Belanda.

Dalam Pembantaian Rawagede tahun 1947 misalnya, Belanda menggunakan kekerasan ekstrem dan membantai sipil karena menolak memberikan informasi.

Operasi malam, pengepungan desa, seleksi dan eksekusi saat fajar juga terjadi saat operasi Unit Depot Speciale Troepen (DST) dibawah pimpinan Raymond Westerling di Sulawesi Selatan dan Bandung pada 1946-1947 dan 1950. Unit DST di bawah Westerling melakukan operasi kontra-gerilya dengan memasuki desa pada malam, mengumpulkan penduduk, memisahkan laki-laki, lalu mengeksekusi mereka berdasarkan intelijen lokal di Sulsel.

Baca Juga: Jejak Kampung Dobi Ciguriang, Sentra Kuli Cuci Era Kolonial

Pada 1950, Westerling memimpin DST di sekitar Bandung, Cimahi, dan daerah pegunungan sekitarnya. Metodenya serupa: patroli kilat, penyergapan kampung pada malam atau dini hari, mengumpulkan warga, lalu mengeksekusi yang diduga anggota laskar/gerilya.

Siliwangi yang kembali ke Jawa Barat setelah Operation Kraai memang terdiri dari batalion-batalion yang lelah namun disiplin; mereka sering beroperasi gerilya dan mampu melakukan reaksi cepat/desain serangan balasan ketika mendapat laporan musuh.

Di sisi lain, gaya operasi Belanda berupa serangan cepat dengan unsur kejutan juga muncul. Pembantaian Rengat (Januari 1949) dilakukan lewat operasi berupa serangan cepat, brutal, dan menarget militan dan sipil — mencerminkan operasi “patroli serang mendadak” serupa di Ciseupan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)