Sejarah Pertempuran Perlintasan Ciater Subang, Gerbang Terakhir Pertahanan Sekutu di Bandung

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Pertempuran Perlintasan Ciater atau Tjiaterstelling berlangsung dari 5 - 7 Maret 1942 antara pasukan Sekutu terutama Belanda melawan tentara Jepang. (Sumber: Wikimedia)
Pertempuran Perlintasan Ciater atau Tjiaterstelling berlangsung dari 5 - 7 Maret 1942 antara pasukan Sekutu terutama Belanda melawan tentara Jepang. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Pada awal Maret 1942, langit Jawa Barat dipenuhi suara raungan mesin pesawat dan dentuman meriam. Di lereng utara Gunung Tangkuban Perahu, sebuah jalur berliku yang disebut Perlintasan Tjiater—kini Ciater, Kabupaten Subang—menjadi panggung salah satu pertempuran paling menentukan pada masa pendudukan Jepang. Bagi Belanda dan pasukan Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), mempertahankan celah sempit ini berarti memberi Bandung kesempatan bertahan sedikit lebih lama. Bagi Jepang, merebutnya berarti membuka pintu terakhir menuju jantung pertahanan lawan.

Tiga hari—5 hingga 7 Maret 1942—cukup untuk mengubah peta perang di Jawa Barat. Di medan yang sempit, dengan jurang di satu sisi dan dinding hutan di sisi lain, ribuan prajurit berhadapan dalam pertempuran yang menggabungkan tembakan artileri, serangan udara, tank ringan, dan perlawanan putus asa. Setiap jamnya adalah perebutan nyawa dan posisi.

Kisahnya pertempuran Ciater dimulai beberapa hari sebelumnya. Laporan monograf Divisi Angkatan Darat Kedelapan Amerika Serikat (AS) mencatat setelah kemenangan telak di Laut Jawa pada akhir Februari 1942, Jepang mengatur pendaratan di tiga titik Pulau Jawa. Salah satu yang paling krusial adalah di pantai Eretan Wetan, Indramayu, pada pagi 1 Maret. Detasemen yang dipimpin Kolonel Toshinari Shōji mendarat dengan cepat, membentuk posisi, dan pada hari yang sama berhasil merebut pangkalan udara Kalijati. Pangkalan ini bukan sekadar lapangan terbang—ia adalah mata dan telinga di langit Jawa Barat.

Kejatuhan Kalijati membuat pesawat-pesawat udara Jepang bisa bergerak bebas menguasai udara dan mendukung operasi darat pasukan Nippon, demikian catatan The Invasion of the Dutch East Indies. Kalijati merupakan titik strategis yang memungkinkan Jepang menguasai jalur komunikasi antara Bandung dan Batavia. Dari sini, jalan menuju Bandung terbuka, meskipun tidak sepenuhnya tanpa perlawanan.

Baca Juga: Pemberontakan APRA Westerling di Bandung, Kudeta yang Percepat Keruntuhan RIS

Secara geografis, ada dua jalur utama dari Kalijati menuju dataran tinggi Bandung. Pertama, lewat Purwakarta yang jalannya relatif baik. Kedua, lewat Perlintasan Tjiater, jalur sempit yang membelah lereng Tangkuban Perahu, menanjak tajam, berliku, dan berbahaya. Jalur ini bukan favorit pasukan besar—terlalu sempit untuk manuver besar-besaran, terlalu berisiko jika diserang dari ketinggian.

Tapi, Shōji justru melihat jalur ini sebagai kesempatan. Pertahanan di Tjiater tidak sekuat yang seharusnya. Benteng Tjiater, atau Tjiaterstelling, memang dirancang untuk satu resimen infanteri penuh. Garis pertahanan pertama membentang dua kilometer, dilengkapi parit, kawat berduri, dan bunker beton. Di belakangnya, garis kedua berada di ujung selatan celah, meski belum selesai dibangun. Tapi kenyataannya, hanya satu batalion infanteri plus dua peleton tambahan yang menempati benteng itu.

Catatan P.C. Boer, Associate Professor di Akademi Pertahanan Belanda dalam The Loss of Java yang dirujuk Wikipedia menyebut pasukan Belanda dalam pertemputan itu dipimpin Mayor Jenderal Jacob Pesman dengan kekuatan sekitar 9.000 prajurit. Setengah dari jumlah itu sudah letih setelah gagal merebut kembali Kalijati pada 2–3 Maret. Dukungan udara KNIL tersisa 27 pesawat—12 pembom, 11 pesawat tempur, dan 4 pengintai.

Sementara bala bantuan dari "West Group" (pasukan KNIL dan Blackforce Australia) diperkirakan baru tiba 6 atau 7 Maret, dan belum siap bertempur hingga 10 Maret. Artinya, Pesman harus menahan pintu masuk ke Bandung sendirian selama beberapa hari krusial.

Tiga Hari di Tjiaterstelling

Seturut kronik The Loss of Java, pertempuran perlintasan Kalijati yang merupakan bagian dari letupan proxy Perang Dunia II di Indonesia ini meletus selama tiga hari. Hari pertama perang terjadi pada 5 Maret 1942. Pagi itu, kedua pihak mengawali hari dengan serangan udara. Pesawat Belanda dan Royal Air Force (RAF) Inggris mencoba mengebom Kalijati dan posisi Jepang. Jepang membalas dengan menghantam pangkalan Andir di Bandung dan pos-pos KNIL di garis depan. Serangan udara Jepang lebih terkoordinasi, menghantam sasaran-sasaran vital dan memutus komunikasi.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Peta pergerakan Detasemen Shoji dari Eretan Wetan menuju ke arah Bandung (Sumber: Wikimedia)
Peta pergerakan Detasemen Shoji dari Eretan Wetan menuju ke arah Bandung (Sumber: Wikimedia)

Sekitar tengah hari, tank-tank ringan Jepang mulai merayap di jalan sempit menuju garis pertama benteng. Di sisi jurang, bunker-bunker KNIL melepaskan tembakan meriam dan sempat menahan laju musuh. Tapi pepohonan lebat menghalangi pandangan, mengurangi efektivitas tembakan.

Dalam tiga jam pertempuran, infanteri Jepang berhasil menemukan celah di sektor yang tak dijaga rapat. Mereka menyusup, mencoba mengepung kompi di garis pertama. Meriam Belanda hancur, jembatan di atas jurang diledakkan untuk menghambat, tapi Jepang tetap menekan. Sekitar 50 prajurit Belanda terpaksa mundur ke garis kedua sejauh 500 meter.

Pesman mengirim bala bantuan, tapi kemacetan di jalan membuat mereka tiba terlambat. Menjelang malam, Jepang sudah menguasai lima bunker di garis pertama. Pertahanan kini bergantung pada 950 prajurit di garis kedua, sementara di belakangnya hanya ada 400 orang tak berpengalaman.

Jepang semula mengira ada 3.000 prajurit di garis kedua. Setelah interogasi tawanan, mereka tahu jumlahnya jauh lebih kecil. Hari kedua, 6 Maret, sekitar pukul 05.30, serangan udara Jepang besar-besaran menghujani posisi Belanda. Ratusan bom dijatuhkan, menghancurkan kendaraan dan memukul mental para pembela.

Serangan darat pertama dan kedua di pagi hari berhasil dipukul mundur. Tapi serangan ketiga—dengan tiga tank dan mortir—memecah sektor barat. Kabut tebal membantu Jepang mendekat tanpa terlihat. Antara 30–50 prajurit Belanda tewas di tempat, sementara 75 yang tertangkap dibantai, menyisakan hanya enam orang selamat. Laporan lain memperkirakan korban dua kompi itu mencapai 120 orang.

Sore harinya, patroli Jepang bentrok dengan tentara di benteng yang belum selesai dibangun. Kolonel W.J. de Veer, komandan pertahanan Belanda, gugur di pertempuran itu. Menjelang malam, pasukan yang tersisa mundur ke Lembang, meninggalkan celah di tangan Jepang.

Hari terakhir di Tjiater lebih mirip operasi pembersihan. Pada 7 Maret 1942 Jepang menyingkirkan unit-unit KNIL yang masih bertahan di punggung bukit. Menjelang malam, Lembang jatuh. Sekitar pukul 19.30, utusan Belanda datang membawa bendera putih. Mereka berniat membicarakan penyerahan terbatas untuk wilayah Bandung, tapi Letnan Jenderal Hitoshi Imamura menuntut penyerahan total seluruh pasukan Sekutu di Hindia Belanda.

Perundingan dilakukan keesokan harinya di Kalijati. Pesman, yang baru beberapa hari memimpin perlawanan terakhir di Tjiater, tidak lagi punya ruang untuk bergerak.

Baca Juga: Sejarah Vila Isola Bandung, Istana Kolonial Basis Pasukan Sekutu hingga jadi Gedung Rektorat UPI

Setelah pertempuran, pasukan bantuan Sekutu dari satuan Blackforce Australia tiba di Bandung. Namun kehadiran mereka tak banyak mengubah keadaan. Pemimpin pasukan Sekutu sempat memikirkan ide untuk melakukan perang gerilya kala itu. Namun kondisinya tidak memungkinkan: logistik minim, pasukan lelah, dan Bandung penuh pengungsi.

Pada 9 Maret siang, Belanda menyiarkan penyerahan umum. Kurang dari tiga jam kemudian, dokumen penyerahan ditandatangani. Hindia Belanda resmi jatuh ke tangan Jepang.

Pertempuran Perlintasan Tjiater adalah satu dari sedikit perlawanan sengit di detik-detik terakhir kekuasaan Belanda dan Sekutu di Jawa Barat. Medannya sempit, waktu terbatas, dan jumlah pasukan tak seimbang. Namun, bagi mereka yang bertempur di sana, tiga hari itu adalah pertarungan hidup-mati untuk mempertahankan kota terakhir.

Kini, Ciater lebih dikenal karena pemandian air panasnya dan udara sejuk pegunungan. Tapi di balik itu, jalan berliku yang menghubungkan Subang dan Lembang pernah menjadi medan yang dipenuhi asap mesiu, teriakan komando, dan dentuman artileri—tempat di mana nasib Bandung ditentukan hanya dalam tiga hari.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)