Jejak Kampung Dobi Ciguriang, Sentra Kuli Cuci Era Kolonial

3 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kondisi mata air Ciguriang kini dijadikan kolam pemancingan oleh warga. (Sumber: Ayobandung)
Kondisi mata air Ciguriang kini dijadikan kolam pemancingan oleh warga. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Ciguriang, yang dulu dikenal sebagai kampung para dobi alias kuli cuci, kini tak lebih dari sepetak area kumuh di belakang GOR Padjadjaran, Kota Bandung. Hanya ada etalase sampah dan alat pancing yang mengapung di genangan air mata air. Tak ada sabun, tak ada tepung kanji, apalagi suara ketukan kain di atas batu nisan. Tempat ini kini jadi kolam pancingan warga, bukan lagi arena kerja para binatu pria yang bekerja semalaman.

Tak banyak warga Bandung modern yang tahu, kawasan Kebon Kawung dulunya punya reputasi sekelas “dhobi ghat” di Mumbai. “Dulu para binatu seantero Kota Bandung kalau mencuci di Kampung Dobi di Ciguriang,” ujar Irfan Teguh dari Komunitas Aleut.

Seperti pasar malam yang hanya buka semalam suntuk, aktivitas dobi di Ciguriang ramai justru ketika kota lain tertidur. Para lelaki menyambut malam dengan membawa timba dan sabun batang, membawa cucian dari warga Belanda dan pejabat bumiputra.

Tak biasa binatu diisi laki-laki. Tapi masuk akal kalau melihat metode mencuci kala itu: pakaian dibanting ke batu nisan bekas kuburan Eropa, yang kala itu banyak berserakan karena kompleks pemakaman Kristen Kebon Jahe mulai dipindah ke Jalan Pandu. Tapi, kuli cuci perempuan juga ada banyak.

Batu nisan itu keras, rata, dan cukup besar untuk dijadikan alas cucian. Salah satunya bertuliskan nama Elisabeth Adriana Hinse Rieman, lahir di Amsterdam tahun 1859 dan wafat di Bandoeng tahun 1903. Diduga, ia istri arsitek Lawang Sewu. Nasib nisannya tak lebih baik dari Ciguriang itu sendiri. Pindah ke Kantor Kelurahan Pasirkaliki dan ditemukan terbelah tahun 2015.

Dulu, para dobi biasa menyanyikan lagu dalam bahasa Sunda sambil membanting cucian. Ketukan dan nyanyian mereka bersahutan seperti paduan suara kampung. “Puluhan binatu membanting cucian sehingga membentuk irama musik,” kata Irfan. Musik itu bukan dari alat, tapi dari bebatuan dan cucian yang ditumbuk, mirip petani menumbuk padi. Dari tengah malam hingga subuh, musik dobi mengalun di jantung Bandung.

Untuk mencuci, cukup bayar satu sen. Sabun yang digunakan bukan deterjen, tapi sabun mandi berbentuk batang. Setelah itu, pakaian dikeringkan, ditabur tepung kanji agar mengilat, lalu disetrika dengan arang dan daun pisang untuk memberi harum khas. Seperti ritual membersihkan, para dobi tak sekadar mencuci, tapi juga menyiapkan wibawa pelanggan mereka lewat lipatan rapi dan aroma daun.

Pesanan datang bukan hanya dari Kebon Kawung. Bahkan Soreang pun mengirim cucian ke Ciguriang. “Pesanan banyak datang dari berbagai daerah,” kata Sarlan, warga asli Ciguriang kelahiran 1956.

Baca Juga: Hikayat Pasar Baru Bandung, Bermula dari Kerusuhan Ciguriang 1842

Kini, ia duduk menatap kolam pancingan di bekas mata air. Tak ada lagi tepung kanji atau nyanyian dini hari. “Kegiatan mencuci berhenti sekitar tahun 1970 ketika saluran terbagi dengan sumur warga dan kebutuhan di GOR Padjadjaran.”

Sekarang, air Ciguriang tidak sejernih dulu. Alirannya menyusut, direbut sumur artesis dan pipa-pipa GOR. Dari pusat kegiatan ekonomi mikro berbasis air, Ciguriang jadi genangan kecil tempat kail digantung, bukan sabun dibasuh.

Ciguriang hanyalah satu dari banyak kampung dobi di Nusantara. Di Padang, ada kawasan dengan nama sama. Bahkan di Johor, Malaysia, kampung binatu masih dikenal dengan nama Kampung Dobi. Kata dobi sendiri berasal dari India, merujuk pada pekerjaan mencuci di tepi sungai yang biasa dilakukan kasta rendah di Mumbai.

Bollywood pernah mengangkatnya jadi film, dan dari sanalah J.K. Rowling mungkin mendapat inspirasi menamai Dobby—peri rumah tangga kurus kering yang setia dan pekerja keras.

Potret suasana saat sekumpulan lelaki dan perempuan sedang mencuci di Batavia. (Sumber: KITLV)
Potret suasana saat sekumpulan lelaki dan perempuan sedang mencuci di Batavia. (Sumber: KITLV)

Sisa-sisa sejarah itu pernah coba digali Komunitas Aleut. Mereka menemukan batu nisan Elisabeth dan membawanya ke kelurahan. Tapi alih-alih dijaga, nisan itu retak dan nyaris dilupakan. “Jadi serba salah ketika kita menemukan sesuatu yang memiliki nilai sejarah lalu dipublikasikan, namun ketika diamankan pemerintah justru tidak terawat,” kata Irfan. Ia separuh kesal, separuh menyesal.

Dulu, mungkin lebih baik saat batu nisan itu digunakan warga buat mencuci. Ia berguna, dikenang, dan diraba setiap malam. Sekarang, hanya jadi reruntuhan di kantor kelurahan, menunggu waktu untuk benar-benar hilang.

Begitu juga dengan Ciguriang. Di atas kertas, ia adalah kampung dobi tertua di Bandung. Tapi tanpa upaya pelestarian atau sekadar papan informasi, ia hanya tinggal kenangan yang tenggelam di antara kail, limbah, dan kenangan yang tak selesai dibasuh.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)