Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Jejak Kampung Dobi Ciguriang, Sentra Kuli Cuci Era Kolonial

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 20 Jun 2025, 11:00 WIB
Kondisi mata air Ciguriang kini dijadikan kolam pemancingan oleh warga. (Sumber: Ayobandung)

Kondisi mata air Ciguriang kini dijadikan kolam pemancingan oleh warga. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Ciguriang, yang dulu dikenal sebagai kampung para dobi alias kuli cuci, kini tak lebih dari sepetak area kumuh di belakang GOR Padjadjaran, Kota Bandung. Hanya ada etalase sampah dan alat pancing yang mengapung di genangan air mata air. Tak ada sabun, tak ada tepung kanji, apalagi suara ketukan kain di atas batu nisan. Tempat ini kini jadi kolam pancingan warga, bukan lagi arena kerja para binatu pria yang bekerja semalaman.

Tak banyak warga Bandung modern yang tahu, kawasan Kebon Kawung dulunya punya reputasi sekelas “dhobi ghat” di Mumbai. “Dulu para binatu seantero Kota Bandung kalau mencuci di Kampung Dobi di Ciguriang,” ujar Irfan Teguh dari Komunitas Aleut.

Seperti pasar malam yang hanya buka semalam suntuk, aktivitas dobi di Ciguriang ramai justru ketika kota lain tertidur. Para lelaki menyambut malam dengan membawa timba dan sabun batang, membawa cucian dari warga Belanda dan pejabat bumiputra.

Tak biasa binatu diisi laki-laki. Tapi masuk akal kalau melihat metode mencuci kala itu: pakaian dibanting ke batu nisan bekas kuburan Eropa, yang kala itu banyak berserakan karena kompleks pemakaman Kristen Kebon Jahe mulai dipindah ke Jalan Pandu. Tapi, kuli cuci perempuan juga ada banyak.

Batu nisan itu keras, rata, dan cukup besar untuk dijadikan alas cucian. Salah satunya bertuliskan nama Elisabeth Adriana Hinse Rieman, lahir di Amsterdam tahun 1859 dan wafat di Bandoeng tahun 1903. Diduga, ia istri arsitek Lawang Sewu. Nasib nisannya tak lebih baik dari Ciguriang itu sendiri. Pindah ke Kantor Kelurahan Pasirkaliki dan ditemukan terbelah tahun 2015.

Dulu, para dobi biasa menyanyikan lagu dalam bahasa Sunda sambil membanting cucian. Ketukan dan nyanyian mereka bersahutan seperti paduan suara kampung. “Puluhan binatu membanting cucian sehingga membentuk irama musik,” kata Irfan. Musik itu bukan dari alat, tapi dari bebatuan dan cucian yang ditumbuk, mirip petani menumbuk padi. Dari tengah malam hingga subuh, musik dobi mengalun di jantung Bandung.

Untuk mencuci, cukup bayar satu sen. Sabun yang digunakan bukan deterjen, tapi sabun mandi berbentuk batang. Setelah itu, pakaian dikeringkan, ditabur tepung kanji agar mengilat, lalu disetrika dengan arang dan daun pisang untuk memberi harum khas. Seperti ritual membersihkan, para dobi tak sekadar mencuci, tapi juga menyiapkan wibawa pelanggan mereka lewat lipatan rapi dan aroma daun.

Pesanan datang bukan hanya dari Kebon Kawung. Bahkan Soreang pun mengirim cucian ke Ciguriang. “Pesanan banyak datang dari berbagai daerah,” kata Sarlan, warga asli Ciguriang kelahiran 1956.

Baca Juga: Hikayat Pasar Baru Bandung, Bermula dari Kerusuhan Ciguriang 1842

Kini, ia duduk menatap kolam pancingan di bekas mata air. Tak ada lagi tepung kanji atau nyanyian dini hari. “Kegiatan mencuci berhenti sekitar tahun 1970 ketika saluran terbagi dengan sumur warga dan kebutuhan di GOR Padjadjaran.”

Sekarang, air Ciguriang tidak sejernih dulu. Alirannya menyusut, direbut sumur artesis dan pipa-pipa GOR. Dari pusat kegiatan ekonomi mikro berbasis air, Ciguriang jadi genangan kecil tempat kail digantung, bukan sabun dibasuh.

Ciguriang hanyalah satu dari banyak kampung dobi di Nusantara. Di Padang, ada kawasan dengan nama sama. Bahkan di Johor, Malaysia, kampung binatu masih dikenal dengan nama Kampung Dobi. Kata dobi sendiri berasal dari India, merujuk pada pekerjaan mencuci di tepi sungai yang biasa dilakukan kasta rendah di Mumbai.

Bollywood pernah mengangkatnya jadi film, dan dari sanalah J.K. Rowling mungkin mendapat inspirasi menamai Dobby—peri rumah tangga kurus kering yang setia dan pekerja keras.

Potret suasana saat sekumpulan lelaki dan perempuan sedang mencuci di Batavia. (Sumber: KITLV)
Potret suasana saat sekumpulan lelaki dan perempuan sedang mencuci di Batavia. (Sumber: KITLV)

Sisa-sisa sejarah itu pernah coba digali Komunitas Aleut. Mereka menemukan batu nisan Elisabeth dan membawanya ke kelurahan. Tapi alih-alih dijaga, nisan itu retak dan nyaris dilupakan. “Jadi serba salah ketika kita menemukan sesuatu yang memiliki nilai sejarah lalu dipublikasikan, namun ketika diamankan pemerintah justru tidak terawat,” kata Irfan. Ia separuh kesal, separuh menyesal.

Dulu, mungkin lebih baik saat batu nisan itu digunakan warga buat mencuci. Ia berguna, dikenang, dan diraba setiap malam. Sekarang, hanya jadi reruntuhan di kantor kelurahan, menunggu waktu untuk benar-benar hilang.

Begitu juga dengan Ciguriang. Di atas kertas, ia adalah kampung dobi tertua di Bandung. Tapi tanpa upaya pelestarian atau sekadar papan informasi, ia hanya tinggal kenangan yang tenggelam di antara kail, limbah, dan kenangan yang tak selesai dibasuh.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)