Kisah Kaum Urban 'Hikayat Urang Pasar' (Bagian 1)

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Bibilintik Tut Saeutik
(Hemat Cermat Sedikit-Sedikit Jadi Bukit)

Geus Gede Ngan Kari Make
(Sudah Terkumpul Banyak, Tinggal Pakai)

Bapak Tani Sugih Mukti
(Bapak Tani Jadi Sejahtera)

Nu Dagang Ngan Kari Senang
(Yang Dagang Memetik Keuntungan)

Saudagar Tambah Kaya
(Saudagar Tambah Kaya)

Cekek Gawe Tibra Hate
(Hati Tentram Punya Pekerjaan)

***

Kata-kata di atas adalah moto dari salah satu pentolan keluarga besar Pasar Baru Bandung atau Urang Pasar yang bernama Masdoeki, pada peringatan 30 tahun berdirinya Bank Himpunan Saudara, sebuah bank pribumi pertama di Bandung yang didirikan pada 1906.

Tulisan ini berdasarkan kisah lisan dari kakek dan keluarga di Gang Apandi dan telah saya kroscek kepada anggota keluarga besar Pasar Baru lainnya. Keterangan-keterangan ini pun telah sesuai dengan buku peringatan 30 tahun dan 100 tahun berdirinya Bank Himpunan Saudara (Bank Woori Saudara, sekarang).

Sebuah keajaiban terjadi di Bandung. Di masa kolonial mencengkram negeri ini, kaum pribumi di Bandung telah menjadi pemain penting dalam perdagangan. Tentu saja hal ini sangat mengagetkan. Pasalnya, dalam strata politik Hindia Belanda, untuk hampir semua urusan, kaum pribumi berada di urutan paling bawah. Di Pasar Baru, Bandung keajaiban terjadi. Mereka yang sering disebut Urang Pasar, mampu menunjukkan diri mereka sebagai “Saudagar Bandung”.

Siapakah sebenarnya orang-orang perkasa ini? Banyak cerita yang akan menjelaskan siapa mereka, dari mana asal usulnya, dan mereka adalah bagian dari kaum urban yang datang ke Bandung pada masa kolonial.

Umumnya mereka berasal dari kerajaan Demak. Karena terdesak, mereka pun mengungsi ke Cirebon. Dan mereka adalah bekas-bekas petinggi dari prajurit-prajurit Diponegoro yang kalah perang dan beralih profesi menjadi pedagang handal. Keterangan ini didapatkan dari Ahmad Sjafei, usia 88 tahun ketika ia memberikan keterangan ini, dan ia adalah bagian dari keturunan Urang Pasar yang lahir di Bandung.

Menurut beliau, karena pada saat itu Cirebon mengalami masa paceklik, maka para prajurit perdagangan ini lantas mengadu nasib terus ke arah barat menuju keresidenan Priangan dan bermukim di kawasan Babakan Soeniaradja hingga kawasan Pasar Baru, dan warga asli Bandung menyebut mereka dengan Urang Pasar.

Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Salah satu narasumber yaitu Dadang Dachmir, yang juga anggota keluarga besar Pasar Baru menyebutkan leluhur dari para Urang Pasar adalah para senopati kesultanan Demak. Lantas, mereka menyebar ke beberapa wilayah di Jawa Tengah untuk berdagang kain batik, dan berlabuhlah di Cirebon untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya mereka semua memutuskan untuk hijrah ke Bandung.

Saat para senopati itu semua tahu bahwa Diponegoro ditangkap, mereka menanggalkan kesenopatian mereka dan akhirnya berdagang hingga tiba di barat Jawa. Hal itu setidaknya semakin menguatkan bahwa ada pertalian darah antara para saudagar Bandung itu dengan keluarga Kesultanan Demak, kerajaan di Jawa Tengah dan kesultanan di Cirebon.

Pak Haryoto Kunto, sang kuncen Bandung mengungkapkan hal lain. Menurut dia, justru keturunan senopati ini merahasiakan jati diri mereka. Ada sebab tentunya, rahasia silsilah mereka telah masuk catatan Politike Inlichtinge Dienst atau polisi keamanan Hindia Belanda, yang apabila terbuka sangat berbahaya bagi para keturunan Urang Pasar.
Apalagi ketika itu pada 1915 pemerintah kolonial tengah giat-giatnya mengawasi Serikat Islam. Komunitas Urang Pasar memiliki persamaan pergerakan dengan organisasi SI ini. Selain itu dari ciri-ciri fisik, mereka memiliki persamaan dengan para kaum Abangan di Jawa, termasuk para pengikut Diponegoro. Para perintis saudagar Bandung datang pada pertengahan abad ke-19, dan mereka kemudian melahirkan para saudagar Bandung lainnya yang cukup sukses di awal abad ke-20.

Kiprah mereka semakin tak tertahankan pada 1920, usaha grosiran batik di Bandung dikuasai para bumiputra, dan hal ini membuat pemerintah kolonial kurang berkenan. Alasan untuk mengekang mereka memang cukup kuat. Sebagai mata rantai pemasaran, pedagang perantara/agen/grosir memegang mekanisme harga sehingga ikut mempengaruhi harga sandang-pangan. Pemerintah kolonial lantas membentuk instansi pengendalian harga pada 1921, dengan alasan untuk melindungi konsumen terutama konsumen Eropa.

Pada 1 Januari 1920, berdasarkan ketentuan pasal 109 Regeringsreglement, penggolongan penduduk di Hindia Belanda dibagi menjadi tiga. Etnis Tionghoa yang masuk menjadi kelompok kedua pun akhirnya ikut terlibat dalam penjualan kain batik. Yang paling terkenal adalah Babah Go Kang Ho di Pasar Baru dan Babah Tan Djin Gie di kawasan Suniaraja, mereka adalah keturunan Tionghoa yang juga meramaikan perdagangan batik di Bandung.

Ada sebuah toko yang sering diceritakan kakek, yaitu toko yang masih sangat eksis hingga tahun 70-an dalam penjualan grosir batik Urang Pasar, yaitu toko Taman Batik Halim yang terletak di jalan Belakang Pasar No. 16, yang hampir tidak pernah sepi. Pemilik toko itu adalah M. Halim yang merupakan kakek dari pengusaha Arifin Panigoro. Tak hanya kain batik, toko ini pun menjual aneka kopiah, dan Bung Karno adalah salah satu pelanggannya.

Namun, masa-masa kelam di 1965 membuat bisnis dan roda pergerakan Urang Pasar agak tersendat, bahkan banyak dari para anak turunnya yang memilih untuk menutup usaha puluhan tahunnya dan bekerja di pemerintahan atau swasta. Hikayat Urang Pasar pun harus lekang oleh waktu akibat pergolakan politik negeri ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)