Membudayakan Berwisata ke Museum

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)

Mengenalkan museum ke generasi Z dan Alpha merupakan kewajiban kita agar generasi selanjutnya memahami tentang pentingnya museum bagi keberlangsungan kehidupan. Mutlak museum harus dijadikan ruang belajar dan ruang reaktualisasi kehidupan di masa mendatang. Museum bukan sekadar tempat kosong. Museum sebagai tempat beraktivitas mendalami segala hal tentang sejarah, budaya, ilmu pengetahuan dan prinsip hidup berkelanjutan.

Hadirnya museum bagi manusia, hakikatnya memberikan kita kesadaran bahwa sejarah hidup bukan untuk dilupakan melainkan dijadikan pedoman yang abadi untuk masa depan.

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia? Maka sudah sewajibnya museum diprioritaskan menjadi ruang yang dapat melekat di hati kita semua.

Tidak ada kehidupan yang tidak dapat kita telusuri selain kita pergi ke museum. KBBI menyebut bahwa museum berarti gedung tempat pameran tetap benda-benda bersejarah, seni, ilmu, atau penyimpanan barang kuno.

Indonesia memiliki total 506 museum. Berdasarkan data dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di tahun 2026 bahwa museum yang teregistrasi sebanyak 373 museum atau sekitar 72.3 persen. Museum yang terstandarisasi sebanyak 234 museum atau sekitar 45.3 persen.

Sebaran dari jumlah museum tersebut, berpusat di provinsi di pulau Jawa. Yaitu Jawa Tengah memiliki 63 museum, DKI Jakarta memiliki 63 museum, Jawa Timur memiliki 62 museum, Jawa Barat memiliki 39 museum, DI Yogyakarta memiliki 35 museum, Bali memiliki 34 museum, Sumatera Utara memiliki 21 museum, Sulawesi Selatan memiliki 17 museum, Sumatera Barat memiliki 12 museum, dan terakhir Aceh memiliki 9 museum.

Jumlah museum tersebut sangat berguna bagi kita. Secara keseluruhan, kita dibawa ke suatu tempat, kita akan mengetahui banyak hal dan kita akan menyadari satu hal. Dan aspek kehidupan yang sesungguhnya dapat kita temukan dan kita pelajari melalui hadir ke museum. Lantas siapkah kita ke museum?

Mengapa Kita ke Museum?

Wajib hadir ke museum untuk mengenalkan kembali sejarah kehidupan. Kita tidak bisa melepaskan diri dari sekadar menjalani kehidupan, melainkan kita tahu bahwa kehidupan masa lalu merupakan tonggak sejarah yang wajib dipahami dan direfleksi, agar kita menyadari bentuk kehidupan mesti selaras dan dapat kita jalankan dengan sebaik-baiknya.

Jika kita tidak tahu museum, dan kita tidak pernah sama sekali ke museum. Maka menjadi pertanyaannya, sejarah yang kita kenal seperti apa?

Terdapat museum umum yang mengoleksi dan memamerkan berbagai bukti material manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu, dan teknologi. Seperti, Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) di Jakarta dan Museum Sri Baduga di Bandung.

Juga museum khusus, museum yang koleksinya hanya berfokus pada satu cabang seni, satu cabang ilmu, satu peristiwa sejarah, atau riwayat hidup tokoh tertentu. Seperti, museum seni di Bali yaitu Galeri Nasional Indonesia dan The Blanco Renaissance Museum, museum iptek dan sains seperti Museum Geologi dan Museum Zoologi ITB, lalu museum militer seperti, Museum Mandala Wangsit Siliwangi dan Museum Kavaleri.

Terdapat pula museum biografi seperti Museum Bung Karno di Blitar dan Museum Nike Ardila. Lanjut juga museum khusus seperti, Museum Pos Indonesia dan Museum Tsunami Aceh.

Penting kita ketahui jika museum pada dasarnya memiliki fungsi utama, yang disebut oleh Nursaid (2023) menyebut fungsi utama museum adalah menyimpan, merawat,  mengamankan, dan memanfaatkan koleksi museum berupa benda cagar budaya. Dengan demikian, museum memiliki fungsi besar yaitu sebagai tempat pelestarian. Secara lebih rinci fungsi museum mencakup kegiatan penyimpanan, perawatan, dan pengamanan.

Sehingga kita sewajibnya menyadari seksama, kita ke museum untuk mengenali secara mendalam tentang kehidupan. Kita menelusuri jejak-jejak sejarah besar yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.

Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Wisata ke Museum

Tidak ada salahnya, kita menggunakan museum sebagai bagian dari prioritas liburan kita. Kita memaksimalkan kesempatan kita berkunjung dan mengenali lebih mendalam tentang museum. Bahkan kita dapat menjadikan museum untuk merekatkan kekeluargaan. Dibanding kita menghabiskan waktu yang tidak produktif. Maka museumlah yang menjadi tempat terbaik sebagai pilihan keluarga.

Berwisata ke museum bukanlah hal yang dihindari. Justru sebaliknya, kita membudayakan wisata yang unik dan representatif bagi semua kalangan. Di sinilah letak kehadiran pemerintah untuk menyiapkan secara tepat guna adanya museum.

Pemerintah memaksimalkan fasilitas bagi masyarakat agar masyarakat dapat berwisata ke museum dengan program yang menyenangkan dan mengedukasi masyarakat semakin mengenali dan mencintai sejarah negeri kita.

Keunikan dan nilai-nilai sejarah yang filosofis tentu memberikan makna kepada kita. Sebab dari museum pula, kita akan meyakini bahwa kekayaan nilai sejarah di Indonesia tak tertandingi.

Upaya mengenalkan dan menggagas tentang berwisata ke museum patut diselaraskan tidak sekadar program tahunan, melainkan memrakarsai terwujudnya kecintaan masyarakat kepada museum-museum yang ada di Indonesia.

Pada akhirnya, peradaban manusia akan selalu terkenang, sejarah demi sejarah akan tercetak dan tersusun rapi menjadi ruang berpikir bagi manusia lainnya.

Hadirnya museum, akan mengajak kita berwisata menelusuri jejak-jejak sejarah, jejak yang mengantarkan kita kepada pembelajaran, berkontemplasi betapa sejarah akan menjadikan kita memahami betul-betul merawat ingatan, membawa suasana ke kehidupan sebelum pada penutup, kita kenal sejarah, maka dari itu kita mencintai negeri, dengan adagiumnya gemah ripah repeh rapih loh jinawi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 16:36

Mitigasi Perundungan di Ruang Pendidikan

520 laporan perundungan di perguruan tinggi menjadi tolok ukur bahwa perundungan di perguruan tinggi pun memberikan gambaran bahwa ruang pendidikan aman belum bisa diciptakan.

Ilustrasi perundungan. (Sumber: Pexels/Nothing Ahead)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:42

Kelas Menengan Pilih Sekolah Negeri atau Swasta?

Refleksi terhadap dunia pendidikan Indonesia hari ini

Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta atau Negeri? (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:10

Bunderan Cibiru Belum Bebas Macet, Apa yang Perlu Dibenahi?

Kemacetan Bunderan Cibiru bukan sekadar soal padatnya kendaraan. Penyempitan jalan dan aktivitas di tepi jalan turut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 13:49

Anak Muda Sunda Harus Bisa Bahasa Jepang, tetapi Masih Bisakah Berbahasa Sunda?

Bahasa Jepang mempunyai nilai ekonomi yang mudah terlihat. Bahasa Sunda tidak selalu menawarkan imbalan material yang langsung terasa. Lalu, untuk apa mempelajari bahasa Sunda?

Ilustrasi anak muda Sunda yang bekerja di Jepang. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 11:47

Pembinaan Akar Rumput dan Stadion Masa Depan di Bandung

Sepak bola Bandung tidak hanya hidup pada hari pertandingan Persib. Ia juga hidup di lapangan sekolah, permukiman, klub kecil, dan tempat anak-anak belajar menendang bola.

Ilustrasi pembinaan sepak bola dari akar rumput (Sumber: Bandung.go.id)