Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)

Menelusuri kembali halaman muka surat kabar Swadesi, yang mengusung Sport, Film & Budaya terbitan 20 Oktober 1973 dengan harga eceran Rp 20,-

Membuka kembali halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, terbitan 53 tahun silam, kita seolah diajak kembali ke suasana pemberitaan Indonesia lebih dari setengah abad silam. Lembar koran ini bukan sekadar kumpulan berita, melainkan dokumen sejarah yang merekam denyut kehidupan masyarakat, dunia olahraga, hiburan, film, dan budaya pada masanya.

Dengan tata letak khas pers cetak era 1970-an, Swadesi menampilkan judul-judul berita berhuruf besar, foto hitam putih, serta kolom-kolom tulisan yang padat. Setiap sudut halaman menyimpan cerita, memperlihatkan bagaimana surat kabar menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat sebelum hadirnya televisi dan media digital seperti sekarang.

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Muhammad Ali Datang untuk Bertanding dan Bertemu Ulama Indonesia

Judul utama yang tercetak pada halaman muka Swadesi berbunyi:

“Moh. Ali Datang Untuk Bertanding & Bertemu Dgn Ulama Indonesia.”

Berita tersebut juga menyebutkan rencana pertandingan melawan lima penantang. Judul ini memperlihatkan betapa besar perhatian redaksi terhadap kedatangan sang petinju, yang namanya ketika itu telah dikenal luas di berbagai belahan dunia.

Kehadiran Muhammad Ali di Indonesia bukanlah kunjungan biasa. Ia merupakan salah satu tokoh olahraga paling populer pada zamannya. Sosoknya dikenal bukan hanya karena kehebatan bertinju, tetapi juga karena kepribadiannya yang penuh percaya diri, kepiawaiannya berbicara di depan publik, serta sikapnya yang berani menyuarakan keyakinan dan pendirian.

Pemberitaan mengenai rencana pertemuannya dengan ulama Indonesia pun memberikan dimensi tersendiri. Ali bukan sekadar atlet yang datang untuk bertanding, melainkan figur internasional yang memiliki daya tarik sosial dan keagamaan. Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, kehadirannya tentu memiliki makna khusus.

Mengenal Muhammad Ali, Sang The Greatest

Muhammad Ali lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. pada 17 Januari 1942 di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Ia mulai berlatih tinju sejak usia 12 tahun dan memperlihatkan bakat luar biasa sejak masa mudanya.

Namanya mulai mendunia setelah meraih medali emas kelas berat ringan pada Olimpiade Roma 1960. Seusai Olimpiade, ia menekuni tinju profesional dan terus menanjak hingga mencapai puncak prestasi.

Pada 25 Februari 1964, Ali mengalahkan Sonny Liston dan merebut gelar juara dunia kelas berat. Kemenangan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya. Pada tahun yang sama, ia mengumumkan nama Muhammad Ali, menggantikan nama Cassius Clay yang sebelumnya digunakannya.

Julukan The Greatest kemudian melekat kuat pada dirinya. Ali dikenal memiliki kecepatan kaki, kelincahan, refleks, serta kemampuan menghindar yang luar biasa untuk seorang petinju kelas berat. Gaya bertinjunya berbeda dari kebanyakan petinju pada masanya: ia tidak hanya mengandalkan pukulan keras, tetapi juga gerakan tubuh, kecerdikan taktik, dan permainan psikologis terhadap lawan.

Surat kabar Swadesi, yang terbit pada era 1970-an, menyajikan beragam informasi seputar olahraga, film, dan kebudayaan. Pada masa itu, koran ini dijual dengan harga eceran Rp20,-. (Sumber: Kin Sanubary)
Surat kabar Swadesi, yang terbit pada era 1970-an, menyajikan beragam informasi seputar olahraga, film, dan kebudayaan. Pada masa itu, koran ini dijual dengan harga eceran Rp20,-. (Sumber: Kin Sanubary)

Dalam perjalanan kariernya, Ali menghadapi sejumlah petinju besar, antara lain Sonny Liston, Joe Frazier, dan George Foreman. Pertarungannya melawan Frazier dan Foreman menjadi bagian penting dalam sejarah tinju dunia.

Namun, kehebatan Ali tidak berhenti di atas ring. Pada 1967, ia menolak wajib militer Amerika Serikat karena keyakinan agama dan keberatannya terhadap Perang Vietnam. Sikap tersebut membuatnya kehilangan gelar dan tidak dapat bertanding selama beberapa tahun. Pada 1971, Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan putusan bersalah dalam perkara penolakan wajib militernya.

Keputusan itu memperlihatkan sisi lain Ali sebagai seorang atlet yang berani mempertaruhkan karier demi prinsip yang diyakininya.

Dari Ring Tinju ke Indonesia

Pada 20 Oktober 1973, Muhammad Ali benar-benar naik ring di Jakarta untuk menghadapi petinju Belanda, Rudi Lubbers. Pertandingan berlangsung di Stadion Senayan, yang kini menjadi bagian dari kompleks Gelora Bung Karno.

Pertarungan tersebut berlangsung selama 12 ronde dan dimenangkan Ali melalui keputusan angka mutlak. Meski tidak berakhir dengan kemenangan KO, laga itu menjadi peristiwa penting dalam sejarah olahraga Indonesia karena menghadirkan langsung salah satu bintang tinju terbesar dunia di Tanah Air. Sejumlah catatan sejarah menyebut ribuan penonton memenuhi arena untuk menyaksikan pertandingan tersebut.

Kunjungan ini berlangsung ketika Ali sedang menjalani masa kebangkitan kariernya setelah kembali bertinju pada 1970. Pertandingan melawan Lubbers juga menjadi bagian dari persiapannya menghadapi pertandingan ulang melawan Joe Frazier pada Januari 1974.

Kehadiran Ali menarik perhatian bukan hanya karena kualitasnya sebagai petinju, tetapi juga karena statusnya sebagai tokoh Muslim yang dikenal secara internasional. Sejak memeluk Islam dan menggunakan nama Muhammad Ali, ia menjadi figur yang memiliki arti khusus bagi banyak umat Islam, termasuk di Indonesia.

Dengan demikian, kedatangannya mempertemukan dua hal yang sama-sama menarik perhatian masyarakat, olahraga kelas dunia dan sosok publik yang memiliki identitas serta keyakinan yang kuat.

Ada satu hal menarik ketika kita membandingkan judul utama Swadesi dengan catatan sejarah pertandingan.

Ragam Berita, Cermin Kehidupan Masyarakat

Di luar berita utama mengenai Muhammad Ali, halaman muka Swadesi juga menyajikan berbagai informasi lain. Judul seperti “Gigitan Ular”, “Wajah Minggu Ini”, serta berita tentang kegiatan musik memperlihatkan beragam perhatian redaksi terhadap kehidupan masyarakat.

Dunia hiburan, film, musik, figur publik, dan peristiwa sehari-hari hadir berdampingan dengan berita olahraga. Susunan semacam ini menunjukkan bahwa surat kabar tidak hanya bertugas menyampaikan informasi penting, tetapi juga memenuhi kebutuhan pembaca akan hiburan dan kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan mereka.

Nama Swadesi dengan keterangan Sport, Film & Budaya turut menegaskan karakter penerbitannya. Olahraga, film, dan budaya menjadi bagian dari dunia pemberitaan populer yang memiliki pembaca tersendiri.

Bagi pembaca masa kini, halaman seperti ini memberikan kesempatan untuk melihat kembali selera masyarakat, cara redaksi memilih berita, serta bagaimana tokoh-tokoh terkenal ditempatkan dalam ruang publik Indonesia pada awal 1970-an.

Baca Juga: Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Surat Kabar Lama, Jejak Sejarah yang Tak Tergantikan

Halaman muka Swadesi edisi 20 Oktober 1973 memiliki nilai lebih daripada sekadar kenangan akan kedatangan Muhammad Ali. Ia merupakan rekaman visual mengenai cara pers Indonesia mengabadikan sebuah peristiwa olahraga internasional.

Dari judul besar, foto hitam putih, hingga susunan kolom yang rapat, kita dapat mengamati karakter jurnalistik dan desain surat kabar pada masa itu. Berita tentang Ali menjadi pintu masuk untuk menelusuri hubungan antara olahraga, kehidupan sosial, agama, dan budaya populer.

Bagi penggemar tinju, lembar ini mengingatkan kita pada salah satu momen bersejarah ketika The Greatest bertanding di Jakarta. Bagi pencinta sejarah pers, halaman tersebut merupakan bahan dokumentasi yang berharga. Sementara bagi mereka yang gemar mengoleksi koran lama, setiap judul dan foto menghadirkan kembali suasana zaman yang telah berlalu.

Sebagai kenangan indah, halaman muka Swadesi ini membawa kita kembali ke 20 Oktober 1973, ketika nama Muhammad Ali menghiasi pemberitaan di Indonesia. Lebih dari setengah abad kemudian, lembar koran itu tetap menyimpan daya tariknya yakni menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghadirkan kembali kisah seorang legenda, sekaligus mengingatkan kita bahwa surat kabar lama merupakan bagian penting dari ingatan kolektif bangsa.

Kertas boleh menguning, tinta boleh memudar, tetapi cerita yang tersimpan di dalamnya tetap hidup dan layak diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 16:36

Mitigasi Perundungan di Ruang Pendidikan

520 laporan perundungan di perguruan tinggi menjadi tolok ukur bahwa perundungan di perguruan tinggi pun memberikan gambaran bahwa ruang pendidikan aman belum bisa diciptakan.

Ilustrasi perundungan. (Sumber: Pexels/Nothing Ahead)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:42

Kelas Menengan Pilih Sekolah Negeri atau Swasta?

Refleksi terhadap dunia pendidikan Indonesia hari ini

Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta atau Negeri? (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:10

Bunderan Cibiru Belum Bebas Macet, Apa yang Perlu Dibenahi?

Kemacetan Bunderan Cibiru bukan sekadar soal padatnya kendaraan. Penyempitan jalan dan aktivitas di tepi jalan turut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 13:49

Anak Muda Sunda Harus Bisa Bahasa Jepang, tetapi Masih Bisakah Berbahasa Sunda?

Bahasa Jepang mempunyai nilai ekonomi yang mudah terlihat. Bahasa Sunda tidak selalu menawarkan imbalan material yang langsung terasa. Lalu, untuk apa mempelajari bahasa Sunda?

Ilustrasi anak muda Sunda yang bekerja di Jepang. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 11:47

Pembinaan Akar Rumput dan Stadion Masa Depan di Bandung

Sepak bola Bandung tidak hanya hidup pada hari pertandingan Persib. Ia juga hidup di lapangan sekolah, permukiman, klub kecil, dan tempat anak-anak belajar menendang bola.

Ilustrasi pembinaan sepak bola dari akar rumput (Sumber: Bandung.go.id)