Kelas Menengan Pilih Sekolah Negeri atau Swasta?

5 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta atau Negeri? (Sumber: GeminiAI)
Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta atau Negeri? (Sumber: GeminiAI)

Di Awal tahun pelajaran tahun ini (2026-2027) mengemukakan fenomena sekolah negeri yang minim siswa—bahkan beberapa di antaranya menyebut sekolah yang hanya mendapatkan 1–5 siwa. Masalah ini paling nyata terlihat pada jenjang Sekolah Dasar (SD) Negeri. Tentu saja, hal ini mesti menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan.

Jika ditelusuri, penyebab fenomena adalah karena perubahan demografi  dan penurunan angka kelahiran. Penurutan itu tentu saja sejalan dengan jumlah anak usia sekolah. Laju pertumbuhan penduduk di sejumlah daerah melambat dibanding beberapa dekade sebelumnya. Di kawasan pemukiman tua atau desa-desa tertentu, mayoritas penduduknya sudah berusia lanjut dan anak-anak muda berpindah (urbanisasi). Akibatnya, pasokan calon siswa baru di lingkungan sekitar sekolah makin menipis.

Pada masa lalu, pembangunan sekolah dilakukan secara masif di hampir tiap desa/kelurahan. Dalam satu wilayah kecil atau kelurahan, bisa terdapat 2 hingga 4 SD Negeri yang jaraknya sangat berdekatan, sementara jumlah calon muridnya terus berkurang.

Selain faktor-faktor tersebut, tingginya daya tarik sekolah swasta/berbasis agama. Banyak orang tua kini lebih memilih sekolah swasta, sekolah islam terpadu (IT), atau sekolah berbasis keagamaan lain yang menawarkan fasilitas lebih lengkap, jam belajar full-day, kurikulum keagamaan/karakter, dan fasilitas ekstrakurikuler yang bervariasi.

Faktor lain yang tidak bisa diabaikan adalah dampak sistem penerimaan murid baru yang konon bertujuan memeratakan akses pendidikan. Ironisnya, pada wilayah yang minim populasi anak usia sekolah, sekolah negeri di lokasi tersebut tidak mendapat pendaftar yang cukup.

Puncaknya, label "Sekolah Gratis" pada sekolah negeri tampaknya tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan orang tua dalam memilih sekolah. Faktor ketersediaan fasilitas dan mutu pengajaran dinilai kompetitif dibanding swasta. 

Yang mungkin dilakukan untuk mengatasi persoalan ini adalah Regrouping / Merger untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas dan anggaran. Redistribusi juga perlu dilakukan dengan melakukan pemetaan (mapping) ulang persebaran sekolah agar disesuaikan dengan pola pemukiman warga saat ini. Dan, paling penting dari itu semua adalah mendorong sekolah negeri untuk membenahi kualitas pengajaran, sarana, serta program unggulan agar tidak kalah bersaing dengan sekolah swasta.

Jika membaca data dengan berasumsi matematika ekonomi, orang tua yang mungkin mengakses pendidikan di sekolah swasta yang menjanjikan lengkapnya fasilitas adalah mereka yang berasal dari kelas ekonomi menengah. Di Indonesia, definisi kelas menengah umumnya diukur berdasarkan acuan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia (World Bank), yang diklasifikasikan berdasar pada tingkat pengeluaran per kapita per bulan (bukan sekadar total pendapatan kotor).

BPS dan Bank Dunia mengelompokkan masyarakat kelas menengah dengan kriteria berikut ke dalam 5 tingkatan ekonomi berdasarkan kelipatan dari Garis Kemiskinan (GK).

Kelompok Ekonomi

Kriteria Pengeluaran (Kelipatan Garis Kemiskinan)

Batas Pengeluaran/Orang/Bulan (Estimasi)

1. Miskin

Di bawah Garis Kemiskinan (< 1x GK)

< Rp582.000

2. Rentan Miskin

1x hingga 1,5x GK

Rp582.000 – Rp874.000

3. Menuju Kelas Menengah (Aspiring Middle Class)

1,5x hingga 3,5x GK

Rp874.000 – Rp2.040.000

4. KELAS MENENGAH (Middle Class)

3,5x hingga 17x GK

Rp2.040.000 – Rp9.900.000

5. Kelas Atas (Upper Class)

Lebih dari 17x GK

> Rp9.900.000


Di Indonesia, mereka yang termasuk dalam kelas menengah memiliki karakteristik sosial-ekonomi yang khas. Pertama, keamanan finansial untuk  memenuhi kebutuhan pokok (makanan, tempat tinggal) tanpa kesulitan dan memiliki sisa dana untuk tabungan, investasi, atau hiburan. Kedua, pengeluaran tidak lagi didominasi oleh makanan, melainkan  hiburan, kendaraan, dan hiburan/liburan lebih dominan). Ketiga, kelas menengah mengalokasikan porsi anggaran signifikan untuk pendidikan berkualitas bagi anak-anak serta asuransi/layanan kesehatan, dan terakhir, ketersediaan akses ke fasilitas perbankan.

Sebagian besar masyarakat Indonesia sebenarnya berada di kategori Menuju Kelas Menengah (Aspiring Middle Class). Kelompok ini sudah lepas dari batas kemiskinan, namun kondisinya belum sepenuhnya stabil. Jika terjadi guncangan ekonomi (seperti PHK, inflasi tinggi, atau sakit parah), kelompok ini sangat rentan bergeser turun ke kategori rentan miskin.

Terdapat kaitan yang sangat erat antara status ekonomi kelas menengah dengan keputusan memilih sekolah negeri atau swasta untuk anak-anak mereka. Namun, perilaku kelas menengah di Indonesia tidak bersifat tunggal. Keputusan ini sangat dipengaruhi oleh segmentasi lapisan kelas menengah, jenjang pendidikan, serta kebijakan sistem pendaftaran sekolah.

Mereka, dari kelimpok kelas menengah bawah akan cenderung memprioritaskan sekolah negeri. Tentu saja alasanya terkait dengan biaya operasional sekolah negeri relatif gratis atau jauh lebih terjangkau. Kelompok ini masih rentan terhadap gejolak ekonomi, sehingga anggaran rumah tangga lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan pokok, transportasi, dan tabungan ketimbang membayar SPP bulanan sekolah swasta.

Sementara, bagi kelas menengah atas dapat mendominasi tren migrasi ke sekolah swasta (khususnya swasta menengah atas, Sekolah Islam Terpadu/SIT, atau sekolah berkurikulum internasional). Argumentasinya adalah pendidikan dipandang sebagai investasi sosial dan ekonomi jangka panjang. Selain itu, kelompok ini memiliki fleksibilitas finansial untuk membayar uang pangkal dan SPP bulanan demi mendapatkan mutu layanan tertentu.

Kelompok kelas menengah yang secara sadar menghindari atau tidak memilih sekolah negeri, faktor pendorong utamanya meliputi efek sistem Pemenrimaan Murid Baru yang tidak akomodatif. Kebutuhan akan Full-Day School dan Akses Pengawasan. Mayoritas pasangan suami-istri di kelas menengah adalah pekerja penuh waktu (double-income household). Sekolah swasta berbasis full-day menyediakan jam pulang yang selaras dengan jam kerja orang tua, sehingga anak tetap dalam pengawasan aman selama seharian. 

Baca Juga: Bunderan Cibiru Belum Bebas Macet, Apa yang Perlu Dibenahi?

Penguatan nilai keagamaan dan karakter. Peningkatan permintaan terhadap sekolah keagamaan swasta didorong oleh keinginan orang tua agar anak mendapatkan fondasi moral, ibadah harian, dan pembentukan karakter yang intensif. Berikutnya, fasilitas dan rasio guru-siswa; sekolah swasta favorit menawarkan fasilitas yang memadai (AC, laboratorium komputer, sarana olahraga, ekstrakurikuler beragam) serta jumlah murid per kelas yang lebih sedikit (15–25 siswa), sehingga perhatian guru lebih terfokus.

Pola pilihan kelas menengah juga bervariasi tergantung tingkatan sekolah. Pada tingkat SD  dan SMP, tren masuk sekolah swasta jauh lebih tinggi. Pada usia dini, orang tua kelas menengah menekankan pembentukan karakter, pengawasan, dan kenyamanan lingkungan belajar. Sementara, untuk tingkat SMA, sekolah negeri unggulan/favorit tetap menjadi perebutan utama. Hal ini disebabkan oleh persepsi bahwa SMA negeri bereputasi tinggi memiliki kuota jalur undangan (SNBP) yang lebih menjanjikan untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana sekolah-sekolah swasta membaca fenomena ini sebagai peluang/tantangan untuk terus berkembang? Bukankah sebelum hari ini kita dikejutkan fenomena sekolah negeri yang dimerger atau sekolah negeri yang kekurangan siswa, kita sudah jauh lebih akrab dengan kabar sekolah swasta yang dulu memiliki siswa banyak, sekarang hidup tak mau matipun segan. Kita juga tak kekurangan contoh, sekolah swasta yang pernah eksis pada masa lalu, tetapi sekarang tinggal nama saja. Pada akhirnya, penentu kelas menengah memilih sekolah untuk anak-anak mereka adalah faktor ideal, bukan sebaliknya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 16:36

Mitigasi Perundungan di Ruang Pendidikan

520 laporan perundungan di perguruan tinggi menjadi tolok ukur bahwa perundungan di perguruan tinggi pun memberikan gambaran bahwa ruang pendidikan aman belum bisa diciptakan.

Ilustrasi perundungan. (Sumber: Pexels/Nothing Ahead)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:42

Kelas Menengan Pilih Sekolah Negeri atau Swasta?

Refleksi terhadap dunia pendidikan Indonesia hari ini

Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta atau Negeri? (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:10

Bunderan Cibiru Belum Bebas Macet, Apa yang Perlu Dibenahi?

Kemacetan Bunderan Cibiru bukan sekadar soal padatnya kendaraan. Penyempitan jalan dan aktivitas di tepi jalan turut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 13:49

Anak Muda Sunda Harus Bisa Bahasa Jepang, tetapi Masih Bisakah Berbahasa Sunda?

Bahasa Jepang mempunyai nilai ekonomi yang mudah terlihat. Bahasa Sunda tidak selalu menawarkan imbalan material yang langsung terasa. Lalu, untuk apa mempelajari bahasa Sunda?

Ilustrasi anak muda Sunda yang bekerja di Jepang. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 11:47

Pembinaan Akar Rumput dan Stadion Masa Depan di Bandung

Sepak bola Bandung tidak hanya hidup pada hari pertandingan Persib. Ia juga hidup di lapangan sekolah, permukiman, klub kecil, dan tempat anak-anak belajar menendang bola.

Ilustrasi pembinaan sepak bola dari akar rumput (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 10:02

Kehilangan Adik: Ketika Uang lebih Berkuasa dibandingkan Keselamatan

Pihak berwajib yang seharusnya menjadi penolong dan pengayom masyarakat justru seringkali terus meminta yang bukan menjadi haknya.

Orang Hilang (Karimah Az-Zahra) (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 20:14

Pengalaman Memandu SMP Athirah Makassar (Bagian #2)

Ketika berkeliling istana, saya seperti memasuki dimensi abad ke-19. Pilar-pilar besar seperti mengucapkan selamat datang kepada kami.

Para pemandu CV Shakha Pesona dalam pemanduan SMP Athirah Makassar. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 18:15

Zona Merah, Konflik yang Tak Kunjung Usai: Ojol dan Opang Butuh Aturan yang Adil

Konflik ojol dan opang di Bandung menunjukkan pentingnya aturan zona merah yang jelas dan adil. Mediasi saja tidak cukup; keselamatan dan kepastian akses harus dijamin bagi semua pihak.

Ilustrasi pangkalan ojek konvensional di kawasan Bandung. (Sumber: Google Maps (Street View). | Foto: Google Street View)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 17:07

Mewujudkan RTH Pasirwangi yang Berkelanjutan

Merawat RTH Pasirwangi sebagai investasi jangka panjang.

Walikota Bandung M Farhan saat meresmikan RTH Pasirwangi. (Sumber: Bandung.go.id)
Seni Budaya 19 Okt 2026, 16:20

Yamko Rambe Yamko dan Teka-Teki Identitas Papua

Yamko Rambe Yamko dikenal sebagai lagu daerah Papua. Namun, sejumlah seniman Papua mempertanyakan bahasa, asal-usul, dan sejarah di balik lagu populer ini.

Tarian Yamko Rambe Yamko (Sumber: Enhanced from Indonesia Kaya)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 16:08

Mitigasi Banjir Cibiru Tak Cukup Diatasi dengan Drainase

Mitigasi banjir Cibiru mesti disesuaikan dengan persoalan tata ruang, ekologi, infrastruktur, dan koordinasi antar pemda.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau tiga titik rawan banjir di Kecamatan Cibiru pada Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Humas Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 15:37

Iklan Pengobatan Tradisional di Kota Bandung Era 1980–1990-an

Pada era 1980–1990-an, koran-koran yang terbit di Bandung, seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mandala, dan Gala, cukup sering memuat iklan pengobatan tradisional.

Iklan ikonik era 1990-an yang menawarkan Firdaus Oil, minyak penyubur kumis, jambang, dan janggut. Produk ini dikenal hanya bisa diperoleh di tempat praktik tabib atau toko obat tertentu. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 13:58

Kemacetan di Jalan Cimincrang Akibat Perlintasan Kereta Api dan Aktivitas Kawasan Gedebage, Apa Solusinya?

Artikel ini membahas kemacetan di Jalan Cimincrang. Hal ini dikarenakan banyak faktor seperti perlintasan kereta api dan tingginya aktivitas di kawasan Gedebage. Kemudian, bagaimana solusinya?

Kemacetan pada waktu rush hour di Jalan Cimincrang. (Foto: Rahma Rumaisha Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 12:43

Kemacetan Paskal Tiada Henti: Sampai Kapan Pengendara Harus Saling Serobot?

Kemacetan di Jalan Pasirkaliki (Paskal) Bandung makin parah akibat kebiasaan saling serobot dan parkir sembarangan. Akses pejalan kaki pun ikut terkunci total.

Kondisi arus lalu lintas di kawasan Jalan Pasirkaliki (Paskal), Kota Bandung, yang mengalami kepadatan dan antrean panjang kendaraan. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Rahma Tsania Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 09:26

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar - Bagian 1

Pada saat kondisi ekonomi yang tidak menentu, apakah PHK karyawan menjadi solusi terbaik? Kenapa Jawa Barat sebagai pusat industri manufaktur bisa mengalami pengurangan tenaga kerja terbesar?

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 08:59

Keliling Kota Indonesia: Menjumpai Klub Baca di Cirebon x Gramedia Grage Mall

Keliling Kota Indonesia menjumpai para pegiat literasi menjadi rencana ekspedisi versi saya untuk mendapat pengalaman yang bermakna dalam hidup.

Kegiatan Klub Baca Cirebon di Grage Mall Cirebon. (Sumber: Klub Baca Cirebon)