Kenapa Kekerasan Masih Terjadi di Sekolah

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi kekerasan di sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ivonne Vallejos)
Ilustrasi kekerasan di sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ivonne Vallejos)

Sungguh miris ketika kita melihat berita tentang kisah pilu seorang anak kecil yang meninggal akibat adanya penganiayaan di lingkungan sekolah. Dan yang membuat kita sangat prihatin, kejadian itu dilakukan oleh kakak kelas yang seharusnya mereka menjadi panutan bagi adik kelas.

Kekerasan masih terjadi di sekolah karena persoalan ini tidak semata-mata berkaitan dengan perilaku buruk seorang siswa, melainkan juga menyangkut budaya pendidikan, pola asuh keluarga, relasi kekuasaan, kesehatan sosial-emosional, dan lemahnya sistem perlindungan anak.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk menumbuhkan pengetahuan dan karakter terkadang justru menjadi tempat reproduksi kekerasan yang diwariskan dari lingkungan di luar sekolah.

Ada satu persoalan mendasar yang perlu kita renungkan: mengapa lembaga pendidikan yang mengajarkan nilai kemanusiaan masih kesulitan membebaskan dirinya dari perilaku yang merendahkan martabat manusia?

Ada beberapa hal yang menjadi alasan untuk memperbaiki tata kelola sekolah terkait kedisiplinan.

Pertama, kekerasan masih dianggap sebagai cara mendisiplinkan. Dalam sebagian lingkungan pendidikan, bentakan, penghinaan, hukuman fisik, atau mempermalukan siswa di depan teman-temannya masih dipandang sebagai metode untuk membentuk karakter. Padahal, disiplin dan kekerasan adalah dua hal berbeda. Disiplin membantu anak memahami tanggung jawab, sedangkan kekerasan membuat anak patuh karena takut.

Ketika rasa takut menjadi instrumen pendidikan, siswa mungkin belajar menaati perintah, tetapi belum tentu memahami nilai moral di balik perintah tersebut.

Kedua, budaya senioritas dan ketimpangan kekuasaan. Relasi antara guru dan siswa, kakak kelas dan adik kelas, atau kelompok dominan dan siswa yang dianggap berbeda dapat menjadi ruang penyalahgunaan kekuasaan. Kekerasan kemudian dipakai untuk mempertahankan status, menunjukkan dominasi, atau memaksakan kepatuhan.

Masalahnya semakin serius ketika tindakan tersebut dianggap sebagai tradisi, candaan, atau bagian dari proses pendewasaan.

Ketiga, kekerasan yang dipelajari dari lingkungan. Anak dapat meniru perilaku yang mereka lihat di rumah, lingkungan pergaulan, media sosial, maupun masyarakat. Ketika agresi menjadi cara untuk menyelesaikan konflik, anak berisiko menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar.

Namun, pengalaman hidup tidak menentukan perilaku anak secara mutlak. Lingkungan yang mendukung, pendidikan sosial-emosional, dan pendampingan yang tepat dapat membantu anak membangun cara berinteraksi yang lebih sehat.

Keempat, lemahnya keberanian untuk melaporkan. Korban sering memilih diam karena takut mendapat ancaman, dikucilkan, disalahkan, atau dianggap tidak mampu menghadapi masalahnya sendiri. Sementara itu, saksi mungkin enggan berbicara karena khawatir menjadi sasaran berikutnya.

Jika laporan tidak ditangani secara serius, pelaku dapat merasa tindakannya tidak memiliki konsekuensi. Dalam situasi seperti ini, diam bukan berarti kekerasan tidak terjadi; bisa jadi, lingkungan sekolah belum menyediakan ruang aman untuk mengungkapkannya.

Kelima, pendidikan karakter belum selalu menjadi budaya hidup. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui slogan tentang sopan santun, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut harus terlihat dalam cara guru memperlakukan siswa, cara siswa menghargai perbedaan, dan cara sekolah menyelesaikan konflik.

UNESCO menekankan bahwa pencegahan kekerasan membutuhkan pendekatan menyeluruh yang melibatkan kebijakan, guru, siswa, orang tua, lingkungan sekolah, dan mekanisme pelaporan yang aman.

Keenam, sekolah lebih berorientasi pada prestasi akademik daripada keamanan psikologis. Ketika keberhasilan pendidikan terutama diukur melalui nilai ujian, peringkat, dan kelulusan, persoalan relasi sosial serta kesehatan emosional siswa berisiko kurang mendapatkan perhatian. Padahal, anak yang takut, tertekan, atau mengalami perundungan akan kesulitan belajar secara optimal.

Sekolah tidak cukup menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik. Sekolah juga harus membantu mereka menjadi manusia yang mampu mengendalikan diri, menghargai orang lain, dan menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan.

Pertanyaannya, apa dampak kekerasan terhadap masa depan anak? Kekerasan di sekolah bukan sekadar peristiwa sesaat. Dampaknya dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan anak.

Secara psikologis: korban dapat mengalami kecemasan, rasa malu, kehilangan kepercayaan diri, dan tekanan emosional.

Secara akademik: konsentrasi belajar menurun, siswa enggan masuk sekolah, bahkan berisiko menarik diri dari pendidikan.

Secara sosial: anak dapat kehilangan kepercayaan terhadap teman, guru, dan lingkungan yang seharusnya melindunginya.

Dalam perkembangan karakter: tanpa penanganan yang tepat, kekerasan berisiko dinormalisasi sebagai cara menyelesaikan konflik.

Lantas, bagaimana cara menghentikan kekerasan di sekolah? Sekolah harus memiliki prosedur pelaporan yang mudah diakses, menjaga kerahasiaan korban, melindungi saksi dari intimidasi, dan memastikan setiap laporan diperiksa secara adil. Aturan tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif.

Guru perlu mengutamakan ketegasan tanpa penghinaan, dialog, konsekuensi yang mendidik, dan pemulihan hubungan jika memungkinkan. Korban tetap harus dilindungi; mediasi tidak boleh dipaksakan ketika terdapat ancaman atau ketimpangan kekuasaan.

Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, memberi teladan penyelesaian konflik tanpa kekerasan, serta bekerja sama dengan sekolah. Siswa juga harus dilibatkan untuk membentuk budaya saling menghormati. Dalam konteks ini, perlu melibatkan keluarga dan masyarakat.

Anak perlu belajar mengenali emosi, mengelola kemarahan, berempati, menghormati perbedaan, dan menyelesaikan konflik. Siswa yang melakukan kekerasan juga perlu mendapatkan penanganan dan pertanggungjawaban yang sesuai, bukan hanya hukuman tanpa pembinaan.

Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan enam bentuk kekerasan dalam lingkungan satuan pendidikan melalui Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023, termasuk kekerasan fisik, psikis, perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi dan intoleransi, serta kebijakan yang mengandung kekerasan. Keberadaan aturan ini perlu disertai pelaksanaan yang konsisten, pengawasan, dan evaluasi terhadap keamanan siswa.

Kekerasan yang terus berulang mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya persoalan kurikulum, kompetensi guru, fasilitas, atau kecerdasan intelektual. Pendidikan juga merupakan proses membangun kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang tidak boleh direndahkan.

Anak yang memukul temannya perlu dimintai pertanggungjawaban. Namun, kita juga perlu memahami faktor yang mendorong perilakunya. Guru yang melakukan kekerasan harus diperiksa secara adil. Sekolah yang mengabaikan laporan harus dievaluasi. Sementara korban harus mendapatkan perlindungan dan pemulihan tanpa dibebani tanggung jawab untuk menghentikan kekerasan seorang diri.

Baca Juga: Paylater di Kalangan Gen Z Bandung: Kemudahan Transaksi atau Risiko Finansial?

Intinya, kekerasan di sekolah tetap terjadi ketika nilai kemanusiaan lebih sering diajarkan sebagai pengetahuan daripada diterapkan sebagai kebiasaan.

Sekolah yang aman bukanlah sekolah yang tidak pernah mengalami konflik. Sekolah yang aman adalah sekolah yang berani mengakui masalah, melindungi mereka yang rentan, menindak pelanggaran secara adil, dan mengubah konflik menjadi kesempatan untuk belajar menghormati sesama.

Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari seberapa tinggi nilai yang diperoleh seorang anak, tetapi juga dari kemampuannya menjaga martabat manusia lain ketika ia memiliki kesempatan untuk menyakiti. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 16:51

Membuka Monitor Oktober 1983: Saat Si Unyil, Gombloh, dan Bintang Idola Menemani Hari-Hari Kita

Majalah Monitor edisi Oktober 1983 mengajak kita pulang sejenak ke masa ketika hiburan tak datang setiap saat dalam genggaman, tetapi justru dinanti dengan penuh antusias.

Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 15:42

Tahun Berulang, MAMPUS Berulang Tahun

Ejaan setiap pemilihan diksi sangat relevan, sehingga menciptakan makna, bahkan pembacaan yang multitafsir sering disebut sebagai perspektif.

Berulang Tahun MAMPUS (Malam Minggu Puisi) (Foto: Ayu Maimun)
Seni Budaya 12 Okt 2026, 14:41

Mengubah Gerakan Erotis Tari-tarian Kerakyatan Melalui Tari Lidah Agni

Tari kerakyatan tradisional sunda, memang kerap mendapat stigma terdapat unsur erotis. Akan tetapi, para peneliti ISBI Bandung mengubahnya menjadi gerakan tari lidah agni.

Salah satu gerakan Tari Lidah Agni  yang dipentaskan oleh Sanggar Putri Ayu Bandung (Foto: mildan)
Beranda 12 Okt 2026, 14:18

Menari dan Berbagi untuk Sesama Lewat Bhakti Nṛtya Pertiwi

Lebih dari sekadar pertunjukan, Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi ruang perjumpaan untuk merayakan keberagaman budaya.

Pertunjukan tari Kalimantan dalam Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi bagian dari perayaan keberagaman budaya Nusantara sekaligus ajakan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 14:01

Semrawut Parkir Liar Pasar Ujungberung: Jalan Sempit, Pejalan Kaki Terpaksa 'Nyempil' di Antara Kendaraan

Parkir liar di bahu jalan dan trotoar depan Pasar Ujungberung bikin ruas jalan menyempit. Pejalan kaki terpaksa nyempil di antara kendaraan

Kondisi parkir liar sepeda motor di bahu jalan depan Pasar Ujungberung yang menyebabkan penyempitan jalan. (Foto: Rahayu)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 13:22

Aksa Cafe Cirebon tempat Nongkrong Cozy di Cirebon

Aksa Cafe Cirebon menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda yang punya tempat yang nyaman dan rasa makanan yang enak

Menu Aksa Cafe Cirebon (11/10/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 09:41

Kenapa Kekerasan Masih Terjadi di Sekolah

Kita miris melihat masih terjadinya kekerasan di sekolah, yang mengakibatkan seorang anak meninggal dunia. Ada yang harus dibenahi secara serius tentang tata kelola sekolah. Disiplin bukan hukuman.

Ilustrasi kekerasan di sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ivonne Vallejos)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 08:31

Paylater di Kalangan Gen Z Bandung: Kemudahan Transaksi atau Risiko Finansial?

Paylater menawarkan kemudahan transaksi bagi Gen Z, tetapi juga menyimpan risiko finansial. Kenali dampaknyadan pentingnya mengelola keuangan secara bijak agar tidak terjerat utang.

Ilustrasi AI penggunaan paylater di kalangan Gen Z dan risiko finansial yang perlu diwaspadai. (Sumber: OpenAI (AI-generated) | Foto: AI-generated image)
Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)