Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

2 menit baca
Nazla Nurnaimah Bilqis
Ditulis oleh Nazla Nurnaimah Bilqis diterbitkan
Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)

Kemacetan Kopo sudah tidak terdengar aneh di kalangan semua orang. Siapa yang tidak tahu kemacetan yang tiada habisnya itu, semua orang pasti tahu.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan daerah Kopo mengalami kemacetan yang parah sekali?

Menurut Jejen Jaelani, seorang Pemerhati Budaya Urban, melalui Pikiran Rakyat

ia menjelaskan kemacetan Kopo disebabkan karena jalan Kopo merupakan jalan arteri, yaitu jalan yang menghubungkan dari Kota Bandung ke Kabupaten Bandung. Jadi, memang banyak yang mengakses jalan.

Selain dari itu, di daerah sekitar seperti Cibaduyut dan Sayati mengalami pertambahan penduduk yang masif dan menghasilkan banyaknya perkampungan di daerah sekitar. Pemukiman semakin padat, penggunaan kendaraan pribadi juga semakin meningkat.

Dari penyebab yang sudah disebutkan, memang benar adanya dan saya juga mengalaminya sendiri.

Di daerah Cibaduyut, karena menjadi salah satu jalan yang sering digunakan oleh para pengendara motor dan mobil, sering mengalami kemacetan. Juga karena pemukimannya yang padat, jalan yang sempit, pengendara lawan arah, pengendara yang tidak sabaran, kemacetan itu semakin parah.

Khususnya pada pukul 07.00 WIB, para pekerja, anak-anak sekolah, mahasiswa, ojek, sampai kendaraan umum bersamaan menggunakan jalan tersebut.

Seringkali para pengendara motor yang tidak sabar untuk menunggu juga menjadi penyebab kemacetan yang baru karena saya sendiri sering melihat mereka mengambil jalan yang seharusnya untuk para pengendara motor dari berlawanan arah.

Dari situ, kemacetan makin parah, dan biasanya hingga akses untuk pejalan kaki menyeberang pun tidak lagi tersedia. Bahkan trotoar pun bisa dijadikan alternatif.

Lalu apakah kemacetan ini akan tetap berlangsung dan dibiarkan untuk mengganggu keberlangsungan rutinitas yang ada? Tentu tidak.

Kemacetan Kopo ini memang perlu intervensi dari pihak pemerintah, setidaknya penindakan tegas para pelanggar lalu lintas agar jera. Namun, perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil oleh kita sendiri.

Sebagai langkah awal, mari kita mulai untuk bersabar dan tidak menyerobot jalur orang lain, tidak melawan arus, dan tidak mengambil hak para pejalan kaki yang seringkali terabaikan. Jika memungkinkan, gunakan fasilitas dan kendaraan umum yang ada agar mengurangi kepadatan para penggunan kendaraan pribadi.

Kendati demikian, harus diakui bahwa mengandalkan kesadaran individu saja tidak akan cukup efektif untuk meredam kemacetan ini. Pemasangan pembatas jalan (barrier) di titik-titik rawan rasanya akan jauh lebih efektif untuk mencegah aksi penyerobotan jalur.

Kemacetan di kawasan Kopo. (Sumber: Twitter @yudyud70)
Kemacetan di kawasan Kopo. (Sumber: Twitter @yudyud70)

Dengan digunakannya pembatas jalan seperti water barrier di sepanjang jalan, para pengendara dipaksa untuk tidak bisa sembarangan melawan arus.

Diharapkan dengan pembatas fisik pada jalan tersebut, kesadaran berlalu lintas akan terbentuk secara paksa sehingga setiap orang kembali menggunakan lajur yang memang menjadi haknya masing-masing.

Terlebih jika hal ini didukung dengan patrolu berkala dari aparat berwenang demi keselamatan bersama baik itu para pengendara, maupun lingkungan sekitar jalan yang digunakan.

Semua ini  tentu bisa dihindari jika para pengendara kendaraan pribadi, kendaraan umum, ojek, dan kendaraan lainnya bersama-sama memulai untuk tidak melanggar aturan dan tidak egois di jalan.

Jika tidak pernah dimulai dari diri kita sendiri dan didukung dengan ketegasan infrastruktur, kemacetan ini tidak akan ada habisnya—justru akan semakin parah dan dapat merugikan pengendara lain yang sudah taat aturan, para pejalan kaki yang terampas haknya, bahkan merugikan diri kita sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)