Bukan Sekadar Macet, Ada Risiko Besar di Lampu Merah Keluar Tol Pasteur

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Lampu merah menyala di simpang keluar Tol Pasteur, salah satu gerbang utama menuju Kota Bandung. Deretan mobil pribadi, kendaraan travel, dan bus berhenti membentuk antrean panjang. Di sela-sela kendaraan yang menunggu giliran melaju, pengemis dan pengamen berjalan dari kaca ke kaca, sementara pedagang asongan menawarkan minuman dan makanan ringan. Bagi banyak orang, pemandangan ini terasa biasa—bahkan nyaris dianggap bagian dari keseharian jalanan kota. Namun, justru karena terlalu sering terlihat, bahayanya kerap luput disadari.

Selama ini, persoalan di lampu merah keluar Tol Pasteur lebih sering dibaca sebagai masalah kemacetan. Padahal, ada persoalan lain yang tidak kalah penting dan kerap terabaikan yaitu keselamatan. Keberadaan aktivitas non-lalu lintas di ruang jalan bukan sekadar mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga meningkatkan risiko konflik dan potensi kecelakaan.

Gerbang Masuk Bandung yang Sarat Konflik Lalu Lintas

Simpang keluar Tol Pasteur memiliki karakter yang berbeda dibanding banyak persimpangan lain di Kota Bandung. Lokasi ini bukan sekadar lampu merah biasa, melainkan titik transisi antara lingkungan jalan tol dan lalu lintas perkotaan.

Kendaraan yang keluar dari gerbang tol baru saja melaju pada koridor berkecepatan tinggi dengan pola pergerakan yang relatif stabil. Sesaat setelah keluar, pengemudi harus segera beradaptasi dengan kondisi kota yang jauh lebih kompleks seperti arus kendaraan padat, manuver yang beragam, ruang gerak yang terbatas, serta potensi gangguan dari berbagai arah.

Dalam hitungan detik, perhatian pengemudi dituntut berubah total. Fokus yang sebelumnya tertuju pada kelancaran arus kini harus terbagi untuk membaca lingkungan yang lebih dinamis. Pada fase transisi seperti ini, ruang jalan idealnya steril dari aktivitas yang tidak berkaitan dengan mobilitas.

Di sinilah persoalan muncul. Kehadiran aktivitas informal di ruang jalan menambah elemen interaksi yang tidak dirancang dalam sistem lalu lintas. Pengemudi tidak hanya perlu mengantisipasi kendaraan lain, tetapi juga pergerakan orang yang berjalan di antara kendaraan dengan jarak yang sangat sempit. Ketika ruang mobilitas berubah menjadi ruang ekonomi informal, risiko keselamatan ikut meningkat.

Saat Lampu Merah Menjadi Titik Bahaya

Persimpangan merupakan salah satu titik paling rawan pada jaringan jalan karena menjadi lokasi bertemunya berbagai arus pergerakan. Setiap tambahan interaksi akan meningkatkan peluang terjadinya konflik.

Aktivitas informal di lampu merah pada dasarnya menciptakan titik konflik tambahan yang sebenarnya tidak perlu ada. Risiko tidak lagi hanya terjadi antar kendaraan, tetapi juga antara kendaraan dan pejalan kaki yang bergerak di area dengan ruang sangat terbatas.

Bahaya di simpang keluar Tol Pasteur tidak hanya muncul dari interaksi fisik tersebut, tetapi juga dari tekanan psikologis yang dialami pengemudi. Dalam sejumlah laporan media, aksi pengamen maupun oknum yang melakukan intimidasi di lampu merah keluar Gerbang Tol Pasteur disebut tidak selalu berlangsung pasif. Pelaku dilaporkan meminta uang secara memaksa, bahkan tidak segan mengetuk atau memukul bodi kendaraan ketika pengendara menolak memberi uang.

Insiden pemukulan mobil oleh seorang pengamen berbaju merah di simpang keluar Tol Pasteur, Kota Bandung, pada Jumat (26/6/2026) sore. (Sumber: Instagram/@putrie___mh)
Insiden pemukulan mobil oleh seorang pengamen berbaju merah di simpang keluar Tol Pasteur, Kota Bandung, pada Jumat (26/6/2026) sore. (Sumber: Instagram/@putrie___mh)

Situasi semacam ini meningkatkan distraksi pengemudi secara signifikan. Pengemudi yang seharusnya fokus pada perubahan fase lampu lalu lintas, pergerakan kendaraan di depan, dan kondisi sekitar, justru harus menghadapi gangguan mendadak yang dapat memicu respons spontan. Ketukan keras pada bodi kendaraan mungkin terlihat sepele, tetapi dalam perspektif keselamatan jalan, kejutan semacam itu dapat memicu pengereman mendadak, keterlambatan bereaksi, atau pergerakan kendaraan yang tidak terkendali.

Bahaya semakin besar ketika lampu lalu lintas berubah hijau. Dalam kondisi normal, kendaraan pada barisan depan akan segera bergerak agar antrean cepat terurai. Namun ketika masih ada orang di badan jalan, pengemudi cenderung menunda pergerakan demi menghindari tabrakan.

Keterlambatan beberapa detik pada kendaraan terdepan mungkin terdengar sepele. Namun dalam sistem lalu lintas, keterlambatan kecil dapat menimbulkan efek berantai. Antrean menjadi lebih panjang, pelepasan kendaraan menurun, dan kapasitas simpang ikut berkurang.

Risiko terbesar bukan hanya kemacetan yang bertambah, melainkan kemungkinan terjadinya insiden. Pengereman mendadak, kendaraan yang bergerak tidak serempak, atau pejalan kaki yang terlambat menyingkir dapat memicu tabrak belakang maupun konflik samping. Banyak kejadian mungkin berakhir sebagai nyaris celaka, tetapi frekuensi near miss yang berulang justru menunjukkan adanya bahaya yang nyata.

Masalahnya, bahaya yang terus berulang sering kali mengalami normalisasi. Karena kecelakaan besar belum terjadi atau jarang terdengar, situasi berisiko perlahan dianggap wajar. Padahal, sesuatu yang terlihat biasa belum tentu aman.

Bukan Hanya Penertiban, Perlu Solusi Menyeluruh

Menyelesaikan persoalan ini tidak cukup dengan penertiban sesaat. Razia atau pengusiran mungkin dapat mengurangi aktivitas di lapangan untuk sementara, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan.

Secara regulatif, aktivitas mengamen, berdagang, atau meminta-minta di badan jalan pada prinsipnya bertentangan dengan fungsi jalan sebagai ruang untuk lalu lintas yang aman, tertib, dan lancar. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menegaskan bahwa jalan diperuntukkan bagi pergerakan orang dan barang secara selamat. Dalam konteks Kota Bandung, ketentuan dan mekanisme penegakan sanksinya juga diatur melalui Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 9 Tahun 2019 tentang Ketertiban Umum, Ketentraman dan Perlindungan Masyarakat, yang melarang penggunaan fasilitas umum untuk aktivitas yang mengganggu ketertiban dan keselamatan publik.

Karena itu, penyelesaian persoalan ini tidak dapat dibebankan pada satu institusi saja. Dinas Perhubungan Kota Bandung bertanggung jawab pada aspek manajemen dan rekayasa lalu lintas agar simpang beroperasi secara aman. Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja berperan dalam penegakan aturan serta penertiban aktivitas yang melanggar. Namun, karena akar persoalan kerap berkaitan dengan tekanan sosial-ekonomi, Dinas Sosial juga harus terlibat agar penanganan tidak berhenti pada pengusiran semata, melainkan juga mencakup pembinaan dan pemberdayaan.

Inilah kompleksitas persoalan kota modern. Jalan bukan hanya ruang fisik tempat kendaraan bergerak, tetapi juga ruang yang mempertemukan mobilitas, ekonomi, dan realitas sosial secara bersamaan.

Karena itu, melihat lampu merah keluar Tol Pasteur hanya sebagai titik kemacetan adalah cara pandang yang terlalu sempit. Kemacetan memang yang paling mudah terlihat, tetapi ancaman keselamatan justru sering hadir diam-diam dan perlahan dinormalisasi.

Kota yang baik bukan hanya kota yang mampu membuat kendaraan bergerak lebih lancar. Kota yang baik adalah kota yang memastikan ruang jalannya aman bagi semua. Sebab pada akhirnya, persoalan di simpang keluar Tol Pasteur bukan sekadar soal antrean kendaraan, melainkan soal pilihan: Apakah keselamatan benar-benar kita tempatkan sebagai prioritas, atau terus kita abaikan sampai kecelakaan besar terjadi? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)