Pemborosan Pangan dalam Lingkungan Rumah serta Dampaknya Terhadap Lingkungan

7 menit baca
Nathanael El Roi
Ditulis oleh Nathanael El Roi diterbitkan
Ilustrasi sampah makanan. (Sumber: Pexels | Foto: Sarah Chai)
Ilustrasi sampah makanan. (Sumber: Pexels | Foto: Sarah Chai)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Pemborosan pangan rumah tangga di Indonesia mencapai sekitar 20,9 juta ton per tahun, menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang food waste terbesar di Asia Tenggara.

  • Food waste berdampak pada ekonomi, lingkungan, dan sosial, dengan kerugian ekonomi hingga Rp551 triliun per tahun serta kontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca.

  • Pengalaman Korea Selatan dapat menjadi referensi bagi Indonesia, melalui kebijakan berbasis jumlah sampah, pemilahan, serta pemanfaatan food waste menjadi kompos, pakan ternak, dan biogas.

Sandang, pangan, dan papan merupakan tiga kebutuhan pokok yang harus dipenuhi sebagai dasar keberlangsungan hidup manusia. Di antara ketiga kebutuhan tersebut, pangan merupakan kebutuhan dasar yang paling utama karena berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan yang menyatakan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. 

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki sumber daya alam melimpah, pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri masih memiliki berbagai tantangan. Salah satu isu yang terus menjadi perhatian adalah tingginya ketergantungan terhadap impor. Menurut Fitrawaty et al. (2025) beberapa komoditas pangan yang diimpor yaitu gandum, kedelai, dan gula. Hal tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti alih fungsi lahan pertanian, degradasi lingkungan, rendahnya produktivitas pertanian, serta perubahan iklim. 

Namun, tingginya impor pangan di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh keterbatasan produksi dalam negeri, tetapi juga pemanfaatan pangan yang belum efisien. Salah satu permasalahan yang masih sering terjadi adalah pemborosan pangan. Ketika pangan yang telah diproduksi maupun diimpor tidak dimanfaatkan secara optimal dan justru berakhir menjadi limbah, maka kebutuhan akan penyediaan pangan baru akan terus meningkat. Pemborosan pangan paling banyak terjadi pada tahap konsumsi, terutama di lingkungan rumah tangga. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Food Waste Index Report 2021, Indonesia menghasilkan sekitar 77 kg sampah makanan per kapita per tahun dari sektor rumah tangga, atau setara dengan sekitar 20,9 juta ton makanan terbuang setiap tahunnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa rumah tangga menjadi salah satu penyumbang terbesar pemborosan pangan di Asia Tenggara. 

Dampak Pemborosan Pangan 

Menurut Nisaputra dalam Infobanknews 2023, dampak pemborosan pangan dapat dibagi menjadi tiga aspek, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial. Dari aspek ekonomi, pemborosan pangan dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar. Di Indonesia, kerugian ekonomi akibat pemborosan pangan diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun. Ironisnya, makanan yang terbuang tersebut sebenarnya masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Apabila dikelola dengan baik, makanan yang terbuang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan pangan sekitar 30–40% penduduk Indonesia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemborosan pangan tidak hanya menyebabkan hilangnya nilai ekonomi, tetapi juga menghambat upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Dari aspek lingkungan, pemborosan pangan juga memberikan dampak yang signifikan. Pemborosan pangan di Indonesia telah menghasilkan sekitar 1.702,9 megaton CO₂ ekuivalen, atau sekitar 7,29% dari rata-rata emisi gas rumah kaca tahunan. Secara global, pemborosan pangan menyumbang sekitar 8% emisi gas rumah kaca, sehingga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Selain itu, sampah organik atau makanan yang menumpuk di tempat pembuangan akhir dapat menghasilkan gas metana, yaitu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO₂). 

Sementara itu, dari aspek sosial, pemborosan pangan juga menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan ketimpangan pemanfaatan dan distribusi pangan. Meskipun Indonesia menghasilkan jutaan ton makanan yang terbuang setiap tahunnya, masih terdapat sekitar 8,34% penduduk Indonesia yang mengalami kekurangan pangan dan malnutrisi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam pemanfaatan dan distribusi pangan, karena makanan yang masih layak konsumsi justru berakhir menjadi limbah, padahal berpotensi dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Dengan demikian, pemborosan pangan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan dan ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan permasalahan sosial serta upaya mewujudkan ketahanan pangan. 

Pengelolaan sampah di pasar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengelolaan sampah di pasar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Strategi Korea Selatan Menghadapi Pemborosan Pangan 

Pengelolaan food waste merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan sistem pangan yang berkelanjutan. Lee et al dalam The Management of Food Waste Recycling for a Sustainable Future: A Case Study on South Korea 2024, menjelaskan bahwa Korea Selatan telah mengembangkan sistem pengelolaan food waste melalui berbagai kebijakan dan program yang bertujuan untuk mengurangi jumlah food waste yang dihasilkan serta meningkatkan food waste recycling. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah Volume-Based Waste Fee yang mulai diberlakukan pada tahun 1995, kemudian diperkuat dengan penerapan Weight-Based Food Waste Fee (WBFWF) secara nasional pada tahun 2013. Sistem tersebut mendorong masyarakat untuk mengurangi produksi food waste karena biaya yang harus dibayarkan berkaitan dengan jumlah atau berat sampah yang dihasilkan. Selain itu, kebijakan pelarangan pembuangan langsung food waste ke tempat pembuangan akhir juga mendorong penerapan food waste separation dan pengolahan food waste secara lebih sistematis.

Upaya food waste recycling di Korea Selatan juga diarahkan pada pemanfaatan food waste sebagai sumber daya melalui berbagai metode pengolahan, seperti produksi kompos, pakan ternak, dan biogas. Pengelolaan tersebut menunjukkan adanya perubahan pendekatan dari food waste disposal menuju pemanfaatan kembali sumber daya yang terkandung dalam food waste. Menurut Lee et al dalam The Management of Food Waste Recycling for a Sustainable Future: A Case Study on South Korea 2024, penerapan sistem tersebut sejalan dengan konsep circular economy, karena food waste yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diolah dan dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan produk atau sumber daya yang memiliki nilai guna. Dengan demikian, pengurangan food waste dan peningkatan food waste recycling tidak hanya dapat mengurangi beban terhadap lingkungan, tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan pembangunan sistem pengelolaan pangan yang berkelanjutan.

Strategi Mengatasi Pemborosan Makanan sebagai Negara Agraris

Menurut Cattaneo et al dalam The Environmental Impact of Reducing Food Loss and Waste: A Critical Assessment 2021, pengurangan pemborosan pangan merupakan langkah penting dalam mendukung keberlanjutan kehidupan manusia dan kelestarian lingkungan. Upaya tersebut dapat berkontribusi dalam menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan melalui berbagai manfaat, seperti meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi dampak perubahan iklim, menghemat sumber daya keuangan, menjaga keanekaragaman hayati, serta mengurangi tekanan terhadap penggunaan dan pengelolaan sumber daya lahan dan air. 

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki sektor pertanian yang berperan penting dalam menyediakan kebutuhan pangan masyarakat dan mendukung perekonomian nasional. Namun, besarnya produksi pangan juga perlu diimbangi dengan pengelolaan pangan yang baik agar tidak terjadi pemborosan pada setiap tahapan rantai pangan. Oleh karena itu, strategi pengurangan pemborosan pangan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari tahap produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Menurut Ariani et al dalam Pengembangan Inovasi Teknologi Pengolahan Pangan untuk Mengurangi Food Waste dan Meningkatkan Ketahanan Pangan 2021, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat mengenai pentingnya menghargai pangan melalui pendidikan, sosialisasi, dan advokasi. Dalam konteks negara agraris, upaya tersebut penting karena pangan yang terbuang tidak hanya berarti hilangnya makanan, tetapi juga pemborosan terhadap sumber daya pertanian yang telah digunakan untuk menghasilkan pangan, seperti lahan, air, tenaga kerja, energi, dan biaya produksi. 

Selain perubahan perilaku, strategi pengurangan pemborosan pangan di negara agraris juga dapat dilakukan melalui pemanfaatan kembali pangan yang tidak terserap oleh pasar atau konsumen. Menurut Ariani et al. (2021), pangan yang masih layak konsumsi dapat dikumpulkan, dipilah, dan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan, sedangkan limbah pangan yang sudah tidak layak konsumsi dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik, pakan ternak, atau membuat biopori. Strategi ini memiliki keterkaitan erat dengan sektor pertanian karena hasil samping dari konsumsi pangan dapat dikembalikan ke dalam sistem produksi pertanian. Pemanfaatan limbah pangan sebagai pupuk organik, misalnya, dapat mendukung pengelolaan lahan dan mengurangi ketergantungan terhadap input eksternal. Sehingga pengurangan pemborosan pangan tidak hanya bertujuan mengurangi jumlah pangan yang menjadi limbah, tetapi juga mendukung terciptanya sistem pangan yang lebih efisien, berkelanjutan, dan sesuai dengan karakteristik Indonesia sebagai negara agraris. 

Pemborosan pangan merupakan salah satu permasalahan yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Tingginya jumlah pangan yang terbuang tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, tetapi juga memberikan dampak terhadap lingkungan dan sosial. Pangan yang terbuang berarti sumber daya seperti lahan, air, energi, tenaga kerja, dan biaya produksi yang digunakan dalam menghasilkan pangan juga ikut terbuang. Di sisi lain, masih adanya masyarakat yang mengalami kekurangan pangan menunjukkan bahwa persoalan pemborosan pangan berkaitan dengan ketidakefisienan dalam pemanfaatan dan distribusi pangan. 

Pengalaman Korea Selatan menunjukkan bahwa pemborosan pangan dapat dikurangi melalui kebijakan yang mendorong masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap jumlah sampah yang dihasilkan serta melalui sistem pemilahan dan daur ulang food waste. Pemanfaatan food waste menjadi kompos, pakan ternak, dan biogas juga menunjukkan penerapan konsep circular economy yang dapat meningkatkan nilai guna limbah pangan. Strategi tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi Indonesia dengan menyesuaikannya terhadap kondisi dan karakteristik masyarakat serta sektor pertanian nasional.

Selain melalui kebijakan dan sistem pengelolaan, diperlukan pula peningkatan kesadaran masyarakat, perencanaan konsumsi, distribusi pangan yang lebih efektif, serta pemanfaatan kembali pangan dan limbah pangan. Dengan menerapkan strategi tersebut secara terpadu dari tahap produksi hingga konsumsi, Indonesia dapat mengurangi pemborosan pangan, meningkatkan efisiensi sumber daya pertanian, serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)