Membaca Bahasa Kekuasaan di Balik Fenomena Pemasangan Pagar Mal Agustus 2026

3 menit baca
Elvira Turnip
Ditulis oleh Elvira Turnip diterbitkan
Ilustrasi pagar di mal. (Sumber: Pexels | Foto: Thiago Calamita)
Ilustrasi pagar di mal. (Sumber: Pexels | Foto: Thiago Calamita)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Sejumlah pagar mendadak di pasang oleh beberapa mal besar di berbagai kota.

  • Pengelola mal menyebutnya penataan akses. Asosiasi pengelola pusat perbelanjaan menyebutnya langkah kehati-hatian rutin, bukan respons atas ancaman spesifik.

  • Kepolisian di dua kota menyatakan hal yang sama: situasi kondusif, tidak ada bukti resmi apa pun tentang rencana kerusuhan.

Akhir Juli, seseorang berjalan kaki di Jalan Raya Casablanca mendapati pemandangan yang tidak pernah ada di sana sebelumnya: pagar besi abu-abu setinggi dua setengah meter, membentang seratus meter, mengurung sisi depan Mal Kota Kasablanka. Beberapa hari kemudian, pemandangan serupa muncul di Surabaya, lalu di Yogyakarta. Warganet merekamnya, membagikannya, memberinya judul. Dalam hitungan hari, sebuah pagar berubah menjadi tanda baca di tengah kalimat yang belum selesai ditulis: apakah Agustus ini akan rusuh?

Yang menarik bukan pagarnya. Yang menarik adalah betapa cepat semua pihak berlomba membantahnya.

Pengelola mal menyebutnya penataan akses. Asosiasi pengelola pusat perbelanjaan menyebutnya langkah kehati-hatian rutin, bukan respons atas ancaman spesifik. Pakuwon Mall Jogja menjelaskan pagar sudah direncanakan sejak Juli, tertunda karena menunggu musim kemarau agar pengecatan bisa berjalan. Pakuwon Group di Surabaya bahkan menautkannya pada pembukaan jalan baru dan korosi material lama, sembari menyebut pagar serupa telah lebih dulu berdiri di Blok M Plaza Jakarta selama puluhan tahun. Menteri Koordinator Politik dan Keamanan turun tangan, memastikan pemasangan pagar sama sekali tidak berkaitan dengan isu keamanan. Gubernur Jakarta menyatakan optimismenya bahwa ibu kota aman, sembari tetap meminta pagar-pagar itu dilepas begitu situasi terkendali, karena sebuah kota yang dipagari, katanya, memberi kesan tertutup dan tidak aman.

Kepolisian di dua kota menyatakan hal yang sama: situasi kondusif, tidak ada bukti resmi apa pun tentang rencana kerusuhan.

Perhatikan yang terjadi di sini. Setiap pihak, tanpa dikoordinasikan, merasa perlu menjelaskan sebuah pagar. Bukan satu dua kalimat sambil lalu, melainkan penjelasan berlapis, lengkap dengan alasan teknis, sejarah bangunan, bahkan jadwal cuaca. Ketika penjelasan menjadi seramai itu, ia berhenti menjadi jawaban dan mulai menjadi gejala. Orang yang benar-benar yakin tidak ada apa-apa biasanya tidak perlu menjelaskan sebanyak itu.

Di sinilah pagar-pagar itu berbicara lebih jujur daripada mikrofon pejabat mana pun. Sebuah pagar tidak bisa berbohong tentang apa yang ia lindungi, karena ia dibangun sebelum ada narasi yang menyertainya. Ia adalah keputusan yang diambil oleh seseorang, di suatu ruang rapat, dengan alasan yang barangkali masuk akal secara bisnis, namun lahir dari kalkulasi risiko yang sama: ada kemungkinan, sekecil apa pun, bahwa Agustus tidak akan tenang-tenang saja. Kalkulasi itulah yang lebih bermakna daripada seratus bantahan resmi, sebab kalkulasi tidak butuh disetujui publik untuk dijalankan.

Ini bukan tentang siapa yang berbohong. Boleh jadi semua pihak berkata benar sesuai versi masing-masing: pagar memang untuk penataan akses, pengecatan memang menunggu kemarau, korosi memang nyata. Tetapi kebenaran teknis dan kebenaran psikologis adalah dua hal berbeda. Sebuah keputusan bisa sepenuhnya rasional secara administratif dan pada saat yang sama menjadi pengakuan diam-diam bahwa kepercayaan terhadap ketertiban sosial sedang menipis. Orang tidak memagari sesuatu yang mereka yakini seratus persen aman. Mereka memagarinya justru karena keyakinan itu sudah retak, sekalipun retaknya belum cukup besar untuk diucapkan.

Yang paling mencemaskan dari fenomena ini bukan potensi kerusuhannya, yang sampai hari ini tidak pernah dibuktikan siapa pun. Yang mencemaskan adalah betapa mudahnya sebuah bangsa membaca kecemasannya sendiri lewat benda-benda: pagar, gerbang, portal, kawat berduri di sekeliling pusat perbelanjaan yang dulunya bangga menjual gagasan tentang keterbukaan dan kemewahan tanpa batas. Ruang publik yang dulu dirancang untuk terasa tanpa tepi kini diberi tepi, dan tepi itu jujur menceritakan sesuatu yang tidak ingin diceritakan siapa pun secara terbuka.

Barangkali pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi apakah Agustus akan rusuh. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: sejak kapan kita menjadi bangsa yang lebih percaya pada pagar daripada pada kata-kata orang yang berkuasa? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Elvira Turnip
Tentang Elvira Turnip
Elvira Turnip, mahasiswa Akuntansi yang mencintai dunia sastra dan jurnalistik. Menulis sebagai cara merangkai gagasan, rasa, dan cerita.
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)