81 Tahun Merdeka, Untuk Siapa Kemerdekaan Bekerja?

6 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Pada sebuah acara peringatan Hari Kemerdekaan di Gedung Indonesia Menggugat. (Foto: Dokumen pribadi)
Pada sebuah acara peringatan Hari Kemerdekaan di Gedung Indonesia Menggugat. (Foto: Dokumen pribadi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan bangsa lain, melainkan proses panjang untuk memastikan manusia dapat hidup merdeka.

  • Pendidikan semestinya menjadi jalan mobilitas sosial, bukan ruang yang justru memperlebar jarak antara mereka yang mampu dan mereka yang tidak mampu.

Kemanusiaan tidak mengenal batas negara. Darah yang tumpah di tanah mana pun tetaplah darah manusia, dan penderitaan siapa pun tetap layak mengetuk nurani kita. Kita tentu tidak sedang diajak menutup mata terhadap penderitaan manusia di belahan dunia lain.

Namun, di tengah derasnya arus informasi dan perhatian kita kepada berbagai persoalan dunia, barangkali ada sesuatu yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri: apakah kita masih cukup peka melihat persoalan-persoalan fundamental yang berlangsung begitu dekat dengan kehidupan kita sendiri?

Tanah yang diperebutkan, ruang hidup yang menyempit, hutan yang kehilangan tutupan, laut yang tercemar, petani yang kehilangan lahan, buruh yang terdesak, kampung yang perlahan tersisih oleh kenaikan nilai tanah, mahasiswa yang terpaksa menanggalkan impian pendidikannya karena persoalan biaya, hingga generasi muda yang masih harus bertanya di mana mereka akan bekerja dan bagaimana masa depannya—semuanya berlangsung di sekitar kita.

Persoalan-persoalan itu tidak selalu hadir sebagai tragedi besar yang memenuhi layar gawai. Ia berlangsung perlahan, sering kali tanpa suara. Tetapi justru karena berlangsung perlahan, kita mungkin tidak menyadari bahwa sesuatu yang sangat fundamental sedang bergeser: kedaulatan rakyat atas ruang hidupnya.

Barangkali dari sanalah pertanyaan tentang makna kemerdekaan kembali muncul.

Kita sering menganggap kemerdekaan selesai pada 17 Agustus 1945. Seolah-olah setelah penjajahan berakhir dan bangsa sendiri mengambil alih kekuasaan, seluruh pekerjaan kemerdekaan telah selesai.

Padahal, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan bangsa lain. Ia adalah proses panjang untuk memastikan manusia dapat hidup merdeka, bermartabat, sejahtera, memperoleh pendidikan, memiliki kesempatan menentukan masa depan, dan berdaulat atas ruang hidupnya.

Sutan Sjahrir dan Tan Malaka, jauh sebelum kita hari ini memperdebatkan makna kemerdekaan, telah melihat persoalan tersebut dari jalan pemikiran yang berbeda.

Bagi Sjahrir, kemerdekaan berkaitan dengan kebebasan manusia, demokrasi, keadilan dan kemanusiaan. Kemerdekaan tidak berarti banyak apabila manusia hanya berpindah dari satu bentuk penindasan kepada bentuk penindasan lainnya.

Tan Malaka melihat persoalan itu dari sisi yang lebih radikal. Kemerdekaan politik tidak dapat dipisahkan dari kedaulatan ekonomi. Rakyat harus memiliki kuasa atas sumber-sumber kehidupan yang menentukan masa depannya.

Keduanya berbeda dalam pemikiran dan jalan perjuangan. Tetapi ada satu titik yang terasa tetap relevan: kemerdekaan tidak berhenti pada pergantian siapa yang berkuasa. Kemerdekaan harus sampai kepada kehidupan rakyat.

Dan di sinilah pendidikan menjadi bagian penting dari makna kemerdekaan.

Pembukaan UUD 1945 menempatkan “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai salah satu tujuan negara. Pendidikan bukan sekadar jalan untuk memperoleh pekerjaan. Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk membentuk manusia yang mampu berpikir, memahami zamannya, dan menentukan masa depannya.

Namun, yang membuat miris, masih ada mahasiswa yang harus menanggalkan impiannya melanjutkan pendidikan karena tidak mampu membayar UKT.

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemerdekaan jika untuk menggapai pendidikan saja sebagian anak bangsa harus menyerah karena keterbatasan ekonomi?

Pendidikan semestinya menjadi jalan mobilitas sosial, bukan ruang yang justru memperlebar jarak antara mereka yang mampu dan mereka yang tidak mampu.

Demikian pula dengan lapangan kerja.

Janji tentang penciptaan lapangan kerja hampir selalu hadir dalam setiap siklus politik. Tetapi bagi anak muda yang telah menyelesaikan pendidikan dan masih kesulitan memperoleh pekerjaan layak, janji itu bukan sekadar angka dalam pidato pembangunan. Di baliknya ada harapan untuk mandiri, membantu keluarga, membangun rumah tangga, dan menentukan masa depan.

Apa arti kemerdekaan bagi generasi yang bahkan masih harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak?

Mungkin karena itu kita tidak perlu tergesa-gesa menyebut generasi muda kehilangan nasionalisme. Bisa jadi mereka sedang berhadapan dengan jarak yang semakin lebar antara janji kemerdekaan dan kenyataan kehidupan.

Dan kondisi yang kita lihat hari ini tidak lahir begitu saja.

Kota Bandung, misalnya, menghadapi persoalan yang merupakan bagian dari persoalan lebih besar: sulitnya lapangan kerja, mahalnya tanah dan hunian, menyempitnya ruang publik, tekanan terhadap lingkungan, ketimpangan, hingga semakin kuatnya kepentingan ekonomi dalam menentukan arah perkembangan kota.

Semua itu terlalu sederhana jika hanya dibebankan kepada satu pemerintahan kota. Bandung hari ini merupakan akumulasi panjang dari arah kebijakan pembangunan republik yang dalam banyak hal telah berjalan menjauh dari cita-cita awal kemerdekaan.

Pembangunan terlalu sering diukur melalui pertumbuhan ekonomi, investasi dan nilai transaksi, sementara keberhasilan menghadirkan kehidupan yang layak bagi rakyat seakan dianggap akan datang dengan sendirinya.

Akibatnya, tanah semakin mudah dilihat sebagai komoditas, kota sebagai ruang investasi, pendidikan sebagai jalan menuju pasar kerja, dan manusia sebagai sumber daya ekonomi.

Dari sinilah berbagai persoalan yang kita lihat di Bandung menemukan keterhubungannya.

Ketika harga tanah meningkat jauh lebih cepat daripada kemampuan pendapatan, warga lama semakin sulit bertahan di kota tempat mereka dilahirkan. Ketika kawasan strategis semakin menarik bagi modal, gentrifikasi perlahan mengubah wajah kota.

Gentrifikasi tidak selalu datang dalam bentuk penggusuran yang kasatmata. Ia bisa berlangsung perlahan: nilai tanah meningkat, biaya hidup naik, fungsi ruang berubah, dan pada akhirnya warga lama tersingkir oleh keadaan.

Ada penggusuran yang tidak selalu membutuhkan penggusuran.

Maka pertanyaannya bukan hanya: Bandung hendak dibangun menjadi kota seperti apa?

Tetapi: Bandung dibangun untuk siapa?

Pertanyaan itu sesungguhnya dapat kita tarik lebih jauh: Indonesia dibangun untuk siapa?

Tentu kita tidak sedang mengatakan bahwa pembangunan atau investasi adalah sesuatu yang salah. Kota harus tumbuh dan ekonomi harus bergerak. Tetapi pembangunan yang kehilangan keberpihakan kepada manusia dapat membuat rakyat semakin jauh dari ruang hidupnya sendiri.

Di berbagai tempat, rakyat masih harus mempertahankan tanahnya. Petani kehilangan lahan. Hutan dan gunung terus berada dalam tekanan. Laut tercemar. Bahkan ada rakyat yang harus meneteskan darah dan kehilangan nyawa untuk mempertahankan ruang hidup yang sesungguhnya merupakan haknya.

Lalu, di manakah kemerdekaan dalam semua itu?

81 tahun merdeka sesungguhnya adalah usia yang cukup dewasa bagi sebuah bangsa untuk belajar memilih para pemimpin dan wakil rakyat yang benar-benar memahami ke mana republik ini harus dibawa.

Bukan sekadar mereka yang pandai menjual janji ketika pemilihan, tetapi mereka yang memahami amanat Pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kemerdekaan memberi kita hak untuk memilih. Tetapi kemerdekaan juga menuntut kita tahu siapa yang layak dipilih.

Sebab kemerdekaan bukan hanya persoalan siapa yang memerintah. Ia juga persoalan bagaimana kekuasaan digunakan dan untuk kepentingan siapa.

Jika setelah 81 tahun merdeka kita masih menyaksikan pendidikan yang sulit dijangkau, lapangan kerja yang tidak memadai, tanah yang semakin mahal, ruang hidup yang menyempit, dan ketimpangan yang terus melebar, maka pertanyaan tentang arah kemerdekaan tidak bisa lagi kita hindari.

Kita mungkin telah merdeka sebagai bangsa.

Tetapi apakah rakyat telah benar-benar merdeka sebagai manusia?

Merdeka untuk hidup bermartabat.

Merdeka untuk berpikir.

Merdeka untuk memperoleh pendidikan yang mencerdaskan.

Merdeka untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak.

Merdeka untuk menentukan masa depan.

Merdeka untuk mempertahankan tanah dan ruang hidupnya.

Dan merdeka untuk memastikan bahwa kekayaan negeri ini tidak hanya menghasilkan kemakmuran bagi segelintir orang.

Mungkin kemerdekaan tidak bersemayam pada tiang bendera, bukan pula pada riuhnya perayaan. Ia bersemayam pada keberanian rakyat mempertahankan martabat, tanah, dan ruang hidupnya. (*)

Karena itu, menjelang 17 Agustus, barangkali kita tidak perlu hanya bertanya apakah Indonesia sudah merdeka.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Untuk siapa kemerdekaan itu bekerja?

Dan setelah 81 tahun kita mengibarkan bendera merah putih, mungkin pertanyaan itu masih layak kita simpan dalam-dalam:

Dimanakah makna kemerdekaan itu bersemayam?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)