El Bahar dan Sang Merah Putih Menjelang Hari Kemerdekaan

9 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • El Bahar edisi 15 Agustus 1969 mengajak pembaca mengenang kembali sejarah Proklamasi, perjuangan pemuda, KNIP, dan makna Sang Merah-Putih.

  • Bendera Pusaka bukan sekadar simbol kemerdekaan, tetapi menyimpan kisah perjuangan, pengorbanan, hingga penyelamatannya pada masa revolusi.

  • Kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan, tetapi perlu dipahami dan dirawat melalui ingatan sejarah tentang perjuangan bangsa.

Membuka kembali surat kabar lama terkadang seperti membuka pintu sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkan. Aroma kertas tuanya membawa kita pada suasana zaman, sementara tulisan, foto, dan judul-judul yang tercetak di atasnya perlahan menghidupkan kembali cerita yang pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa.

Begitulah kesan ketika membuka kembali lembaran surat kabar El Bahar, edisi Jumat, 15 Agustus 1969.

Koran yang usianya kini telah mencapai 57 tahun itu hadir hanya dua hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbeda dengan media masa kini yang menjelang 17 Agustus dipenuhi iklan ucapan, slogan dan berbagai pernak-pernik perayaan, El Bahar justru mengajak pembacanya menoleh ke belakang.

Tentang Proklamasi, tentang perjuangan,

tentang pemuda dan mahasiswa.

Tentang awal kehidupan demokrasi Republik.

Dan, yang paling menarik, tentang Sang Merah-Putih.

Di halaman mukanya terpampang judul besar:

“Bendera Pusaka Sang ‘Merah-Putih’ Arti dan riwayatnja bagi Perdjoangan Bangsa Indonesia.”

Judul itu terasa kuat, bukan hanya karena ejaan lamanya, tetapi karena pada masa itu Merah-Putih bukan sekadar simbol yang dikibarkan setiap bulan Agustus. Bagi generasi yang mengalami langsung revolusi kemerdekaan, dua warna tersebut menyimpan kisah tentang Proklamasi, pengorbanan, pertempuran, pengungsian, kehilangan, dan harapan terhadap sebuah negeri yang baru saja lahir.

Namun, untuk memahami mengapa El Bahar memberi perhatian begitu besar kepada sejarah Sang Merah-Putih, kita perlu melihat terlebih dahulu siapa sebenarnya surat kabar ini.

El Bahar, suara yang berbeda di tengah perubahan zaman.

El Bahar lahir di Jakarta pada September 1966, pada masa ketika Indonesia sedang berada dalam perubahan politik yang sangat tajam. Orde Baru mulai mengonsolidasikan kekuasaan, sementara suara-suara yang dianggap dekat dengan Presiden Sukarno semakin terdesak.

Di tengah situasi tersebut, El Bahar tampil dengan warna yang berbeda.

Surat kabar ini dipimpin Komodor Angkatan Laut Raden Soejoso Poegoeh, tokoh militer yang memiliki hubungan keluarga dengan Bung Karno. Poegoeh merupakan putra Sukarmini, kakak kandung Presiden Sukarno, dan Poegoeh Wardojo.

Kariernya di lingkungan TNI Angkatan Laut cukup menonjol. Ia pernah menjabat Sekretaris Angkatan Laut dan menjadi Ketua Komisi C DPR-GR. Latar belakang tersebut ikut memberi warna pada karakter El Bahar yang kemudian dikenal sebagai salah satu media yang mempertahankan suara pro-Sukarno di tengah arus politik baru.

Bermarkas di Jalan Prapatan 38, Jakarta, El Bahar menjadi ruang bagi sejumlah wartawan, perwira dan tokoh yang sebelumnya berada di lingkungan pers pro-Sukarno, termasuk mereka yang pernah berkaitan dengan Suluh Indonesia.

Ketika media-media mahasiswa seperti Harian KAMI dan Mahasiswa Indonesia tampil sebagai bagian penting dari lanskap pers Orde Baru, El Bahar justru mengambil jalur berbeda.

Komentar politik yang pro-Sukarno menjadi ciri khasnya.

El Bahar dikenal sebagai surat kabar yang tidak terlalu banyak menyajikan berita, tetapi menarik perhatian justru karena sikap pro-Sukarno yang begitu kuat.

Di halaman-

halamannya juga muncul karikatur satir. Salah satu kontributornya adalah Dono, yang kelak dikenal sebagai salah satu anggota kelompok lawak Warkop.

Perjalanan El Bahar pun tidak selalu mulus. Pada awal 1967, surat kabar ini sempat diberedel. Namun karena ketentuan hukum pers ketika itu belum memungkinkan pemberedelan dilakukan secara sepihak, El Bahar kemudian kembali terbit. Tekanan terus berlangsung.

Pada 1969, ketika Komodor Poegoeh mendapat penugasan sebagai Atase Militer di India, arah surat kabar tersebut mulai berubah. Kepemimpinan kemudian beralih kepada Laksamana Pertama TNI Abdul Rachman, dan warna kritis serta keberpihakan politik El Bahar perlahan meredup. Surat kabar itu akhirnya berhenti terbit pada 1972.

Tetapi sebelum benar-benar menghilang, El Bahar sempat meninggalkan sebuah jejak menarik melalui edisi 15 Agustus 1969.

Jejak itu adalah cara sebuah surat kabar yang berada di tengah tekanan politik memandang kembali sejarah bangsanya.

Ketika Sang Merah-Putih menjadi cerita utama.

Pada Agustus 1969, El Bahar memberi tempat istimewa bagi Bendera Pusaka.

Ada alasan sejarah yang membuat tulisan itu terasa semakin penting.

Bendera Pusaka yang dijahit tangan oleh Fatmawati menjelang Proklamasi dikibarkan untuk pertama kalinya pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Sejak saat itu, bendera tersebut menjadi saksi perjalanan Republik.

Ia bukan hanya berkibar dalam suasana upacara. Pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, Sang Merah-Putih ikut mengalami masa-masa genting.

Ketika Yogyakarta diduduki Belanda pada Desember 1948, Bendera Pusaka harus diselamatkan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Dalam kisah penyelamatan tersebut, nama Husein Mutahar tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarahnya.

Bendera itu bahkan dipisahkan antara bagian merah dan putih agar lebih mudah disembunyikan. Setelah keadaan memungkinkan, kedua bagian tersebut disatukan kembali.

Sebuah tindakan sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam.

Menyelamatkan Bendera Pusaka berarti menyelamatkan salah satu simbol keberadaan Republik Indonesia.

Bendera tersebut kemudian kembali berkibar dalam berbagai upacara kenegaraan setelah revolusi berakhir.

Namun usia membuat kain pusaka itu semakin rapuh.

Pada 17 Agustus 1968, Bendera Pusaka terakhir kali dikibarkan dalam upacara resmi di Istana Merdeka. Setelah itu, demi menjaga kelestariannya, bendera bersejarah tersebut tidak lagi digunakan sebagai bendera upacara dan disimpan sebagai benda pusaka.

Karena itu, ketika El Bahar menulis panjang lebar mengenai arti dan riwayat Sang Merah-Putih pada Agustus 1969, tulisan tersebut seakan menjadi penghormatan terhadap sebuah benda yang telah menemani perjalanan Republik sejak hari kelahirannya.

Sang Pusaka mungkin tidak lagi berkibar di tiang upacara.

Tetapi kisahnya tetap berkibar dalam ingatan. Dan El Bahar menyimpannya melalui tinta di atas kertas.

Di halaman yang sama terdapat tulisan lain dengan judul:

“Warna² pada bendera”

disertai subjudul:

“Banjak jang sama tapi punja arti berbeda-beda.”

Ejaan lama itu kini terasa asing, tetapi justru menjadi daya tarik tersendiri ketika dibaca kembali.

Tulisan tersebut memperlihatkan bahwa El Bahar tidak sekadar ingin mengingat bentuk Bendera Pusaka, tetapi juga mengajak pembacanya memahami makna yang melekat pada warna merah dan putih.

Hari ini Merah-Putih begitu mudah kita jumpai.

Berkibar di depan rumah, sekolah, kantor, jalan raya, lapangan, bahkan gang-gang kecil di kampung.

Namun bagi generasi 1945, merah dan putih bukan sekadar warna. Keduanya adalah bagian dari pengalaman hidup.

Merah dan putih menyatu dengan ingatan tentang keberanian, pengorbanan, darah perjuangan, kesucian cita-cita, dan lahirnya sebuah negara.

Maka, ketika sebuah surat kabar pada 1969 merasa perlu menjelaskan kembali arti Sang Merah-Putih, sesungguhnya ia sedang mengajak masyarakat agar kemerdekaan tidak berhenti sebagai seremoni.

Kemerdekaan perlu dipahami.

Dan kemerdekaan perlu dirawat.

Dari mahasiswa menuju Proklamasi

Perhatian El Bahar terhadap sejarah kemerdekaan juga tampak dari tulisan mengenai “Peranan Mahasiswa Indonesia menjelang Proklamasi.”

Tulisan tersebut membawa pembaca kembali ke masa ketika Jepang masih berkuasa dan tekanan terhadap masyarakat Indonesia semakin berat.

Suratkabar El Bahar edisi 15 Agustus 1969, terbit dua hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-24. (Sumber: Foto & Koleksi Kin Sanubary)
Suratkabar El Bahar edisi 15 Agustus 1969, terbit dua hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-24. (Sumber: Foto & Koleksi Kin Sanubary)

Di tengah situasi itu, kaum muda dan mahasiswa bergerak.

Organisasi-organisasi pergerakan tumbuh, sebagian bergerak secara sembunyi-sembunyi. Nama-nama seperti IPI, Angkatan Baru, Sumpah Sang Saka, hingga Organisasi Indonesia Merdeka menjadi bagian dari cerita mengenai pergerakan kaum muda menjelang lahirnya Republik.

Semangat yang muncul dari berbagai kelompok itu pada akhirnya mengarah pada satu cita-cita: kemerdekaan Indonesia.

Di halaman El Bahar bahkan terpampang seruan:

“Rebut Kemerdekaan penuh 100%.”

Pilihan kata tersebut memperlihatkan semangat zaman.

Bagi generasi muda menjelang Proklamasi, kemerdekaan bukan sesuatu yang boleh ditunggu terlalu lama. Ia harus diperjuangkan.

Membaca kembali tulisan tersebut lebih dari setengah abad kemudian, kita seperti diajak kembali ke masa ketika usia muda bukan alasan untuk berdiam diri.

KNIP dan republik yang harus belajar berdiri. El Bahar juga membawa pembacanya pada sejarah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Republik Indonesia adalah sebuah negara baru yang belum memiliki perangkat ketatanegaraan seperti yang kita kenal sekarang.

KNIP dibentuk pada 29 Agustus 1945.

Dalam perjalanan awal Republik, lembaga ini memainkan peran penting dalam kehidupan ketatanegaraan dan menjadi bagian dari proses berkembangnya sistem perwakilan serta demokrasi Indonesia.

Melalui KNIP, berbagai keputusan dan perubahan penting dalam kehidupan politik awal Republik berlangsung.

Sidangnya pun mengikuti perjalanan pemerintahan Republik yang harus berpindah-pindah dalam suasana revolusi.

Dari Jakarta, kemudian ke sejumlah kota hingga Yogyakarta, lembaga ini terus menjalankan perannya.

Dengan mengangkat kembali sejarah KNIP pada halaman menjelang 17 Agustus 1969, El Bahar seperti hendak mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya perkara mengibarkan bendera.

Setelah Proklamasi, ada negara yang harus dibangun.

Ada pemerintahan yang harus dijalankan.

Ada demokrasi yang harus dirintis.

Dan ada rakyat yang harus belajar mengisi kemerdekaan.

Jika seluruh halaman El Bahar edisi 15 Agustus 1969 tersebut disusun kembali sebagai sebuah cerita, tampak sebuah rangkaian yang menarik:

Bendera Pusaka, perjuangan mahasiswa, Proklamasi, KNIP, pendidikan kemerdekaan.

Semuanya bermuara pada satu kesadaran: Indonesia tidak lahir begitu saja.

Ia dibentuk oleh banyak tangan, banyak pikiran dan banyak keberanian.

Sebuah suara kecil di tengah zaman yang keras.

Di sinilah El Bahar menjadi lebih menarik daripada sekadar surat kabar lama.

Ia bukan hanya benda cetak yang kebetulan tersimpan selama puluhan tahun.

Ia adalah bagian dari sejarah pers Indonesia.

Pada masa ketika ruang politik dan pers sedang mengalami penyeragaman, El Bahar pernah memilih untuk mempertahankan suara yang berbeda. Suaranya mungkin tidak selalu keras. Bahkan mungkin sering dianggap kecil dan kurang penting dibandingkan media-media besar pada zamannya.

Tetapi sejarah tidak selalu ditentukan oleh suara yang paling keras.

Kadang-kadang, suara yang kecil justru penting karena ia menyimpan sesuatu yang tidak ingin dilupakan.

Surat kabar El Bahar memang akhirnya berhenti terbit.

Namun halaman-halamannya masih berbicara.

Bahkan 57 tahun kemudian.

Dari selembar koran, kita belajar membaca kemerdekaan.

Kini, setiap Agustus, Merah-Putih kembali memenuhi ruang publik. Bendera dipasang di halaman rumah. Umbul-umbul menghiasi jalan.

Upacara digelar.

Lagu-lagu perjuangan terdengar.

Ucapan Dirgahayu Republik Indonesia memenuhi berbagai ruang.

Semua itu adalah bagian dari perayaan.

Namun mungkin ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar merayakan: mengingat dari mana kemerdekaan itu berasal.

Lembaran El Bahar 15 Agustus 1969 mengajarkan hal sederhana tersebut.

Lima puluh tujuh tahun lalu, sebuah surat kabar mengajak pembacanya mengingat kembali Bendera Pusaka, perjuangan mahasiswa, sejarah KNIP dan pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa.

Hari ini, ketika kita membuka kembali koran itu, justru kita yang diajak untuk mengingat.

Kita diingatkan bahwa di balik sehelai Merah-Putih yang berkibar terdapat perjalanan panjang.

Mereka hidup pada zamannya.

Kita hidup pada zaman kita. Dan koran tua menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya. Merah-Putih bukan sekadar dua warna

Pada akhirnya, mungkin inilah pesan paling kuat yang dapat kita tangkap dari El Bahar.

Kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang melalui tanggal. Ia perlu dibaca melalui sejarah. Tidak cukup hanya dirayakan melalui upacara.

Ia perlu dipahami melalui perjuangan. Tidak cukup hanya mengibarkan bendera.

Sang Merah-Putih adalah simbol sebuah bangsa yang pernah berjuang untuk berdiri sendiri.

El Bahar adalah salah satu lembar kecil dari perjalanan panjang itu, sebuah surat kabar yang pernah memilih suara berbeda, kemudian menyimpan kembali cerita tentang Bendera Pusaka, pemuda, KNIP dan perjuangan kebangsaan di tengah zaman yang penuh tekanan.

Kemerdekaan yang lestari bukan hanya kemerdekaan yang dirayakan, melainkan kemerdekaan yang terus dijaga, dipahami, dan diperjuangkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Agu 2026, 16:20

El Bahar dan Sang Merah Putih Menjelang Hari Kemerdekaan

Koran yang usianya kini telah mencapai 57 tahun itu hadir hanya dua hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 15:00

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’, dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 1)

Mengulas sejarah fotografi di Indonesia, perannya sebagai sumber sejarah visual, serta persoalan pelestarian arsip foto dalam merekam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 13:02

Refleksi Indonesia Merdeka

Dalam refleksi Indonesia merdeka adalah Indonesia harus terus belajar menjadi Indonesia yang adil, berdaulat, beradab dan manusiawi, itulah kemerdekaan sesungguhnya.

Acara pengibaran bendera Merah Putih berukuran 10×18 meter di Tebing Hawu, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 11:26

Bendera Berkibar Janji Ditebar

81 tahun kemerdekaan bukan semata-mata untuk kepentingan negara yang punya hajat. Tetapi masyarakat yang memiliki harapan untuk merdeka. Hidup di negeri ini dengan jutaan cita-cita.

Warga membentangkan bendera Merah Putih raksasa berukuran 10x18 meter sebagai persiapan pengibaran pada 17 Agustus 2026 di Tebing Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 10:05

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Taman Bincarung: Trek Pendakian, Lokasi, dan Harga Tiket

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung, informasi trek pendakian, lokasi gunung, dan harga tiket yang perlu diketahui sebelum melakukan pendakian.

Peta Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 09:22

Ketimpangan Terselubung di Balik Pilihan Kos Mahasiswa

Ketimpangan dalam soal pilihan tempat kos mungkin tidak selalu kentara, tetapi dampaknya nyata dan berlapis.

Mahasiswa baru salah satu PTN mengikuti Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 21:58

Dari Kaki Gunung Wayang ke Ruang Sidang Doktoral: Saatnya Pendidikan Belajar Mengenali Keunikan

Jika setiap anak berbeda, mengapa sistem pendidikan kita masih begitu gemar menyeragamkan? Kisah Luthfi dari Kertasari membuka pertanyaan itu.

Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 18:15

Efektivitas Perusahaan Listrik sebagai Perusahaan Monopoli?

Ada berbagai bentuk pasar dalam perekonomian. Apakah perusahaan listrik sebagai perusahaan monopoli efektif?

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 17:06

Urgensi Literasi Pajak pada Generasi Muda Sebelum Terjun ke Dunia Kerja

Kurangnya literasi perpajakan pada generasi muda mengakibatkan terhambatnya kesiapan finansial dan ketidakpatuhan hukum yang pada akhirnya menyebabkan kerugian finansial.

Ilustrasi pajak. (Sumber: ikpi.or.id)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 12:14

Musuh Tersembunyi: Mikroplastik dalam Makanan Dapur

Penjelasan pendek tentang mikroplastik dan bagaimana mikroplastik memengaruhi hidup kita

Ilustrasi sayuran berbungkus plastik. (Sumber: Pexels | Foto: Deon Black)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 10:15

7 Gunung Tertinggi di Bandung: Antara Legenda dan Jalur Pendakian

Tujuh gunung tertinggi di Bandung bukan sekadar destinasi pendakian. Di balik jalur, ketinggian, dan panorama alamnya, tersimpan legenda, sejarah, serta cerita masyarakat.

Foto Pemandangan Gunung Puntang diambil dari Gunung Batu Lemabang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 09:27

Derajat Manusia Sama dan Setara

Perempuan sudah lama dianggap sebagai beban dalam kehidupan rumah tangga jika dilihat dari kacamata budaya patriarki.

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Agu 2026, 13:59

Media Lokal Dorong Ekosistem Berkelanjutan, Google Buka Ruang Kolaborasi

Media lokal dan Google membahas tantangan era AI, strategi keberlanjutan bisnis, pertumbuhan audiens, serta peluang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem berita di Indonesia.

Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono mengingatkan bahwa media dan jurnalis yang menolak beradaptasi dengan AI dan menganggapnya sebagai musuh akan tertinggal serta terancam gulung tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 14 Agu 2026, 20:59

Peringati HUT Kemerdekaan, PLN Nusantara Power UP Cirata Kumpulkan 59 Kg Sampah Anorganik

PLN Nusantara Power UP Cirata rayakan HUT RI ke-81 lewat Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperingati HUT ke-81 RI melalui Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 20:29

Kemudahan Transaksi Nontunai Menjadi Ancaman Munculnya Bias Hyperbolic Discounting

Kemudahan transaksi nontunai tanpa disadari menghilangkan rasa sakit saat mengeluarkan uang.

Transaksi Nontunai. (Sumber: Foto oleh cottonbro studio dari Pexels)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 18:01

Lomba Agustusan Bukan Soal Menang-Kalah, tapi tentang Kebersamaan dan Kebahagiaan

Dari balap karung hingga lomba daster, Agustusan selalu menjadi ajang kebersamaan warga. Namun, kemeriahan perayaan kemerdekaan tak lepas dari persoalan klasik soal penggalangan dana.

 Perlombaan Agustusan sangat beragam, bahkan dari tahun terus bertambah dan semakin lucu (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 15:05

Saat Game Masuk Kelas: Benarkah Game Edukasi Bisa Bikin Belajar Lebih Efektif?

Benarkah game edukasi mampu mengubah kelas yang membosankan menjadi pembelajaran interaktif? Simak manfaat, tantangan, dan solusi penerapannya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pembelajaran interaktif anak-anak usia dini menggunakan Papan Interaktif Digital melalui platfrom Game Edukasi Paudpedia. (Sumber: Dokumentasi kemdikbud.go.id  | Foto: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 14:46

Aktif Berorganisasi, Benarkah Membantu Mahasiswa Siap Hadapi Dunia Kerja?

Banyak lulusan kesulitan bersaing di dunia kerja. Organisasi mahasiswa ternyata menjadi tempat lahirnya employability skills yang dicari perusahaan. Mengapa bisa demikian?

Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 11:38

81 Tahun Merdeka, Jejak Belanda Masih Terasa Lewat Perkedel hingga Semur

Indonesia telah 81 tahun merdeka, tetapi jejak Belanda masih terasa di meja makan. Perkedel, semur, kroket hingga lapis legit menjadi bukti warisan kuliner kolonial yang beradaptasi.

Jejak kuliner Belanda masih dapat ditemukan dalam berbagai makanan yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. (Sumber: magnific.com | Foto: stockking)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 08:34

KDM Punya 35 Juta Pemilih di Jabar, Cukupkah untuk Menuju 2029? 

Kalau memang suratan tangan menetapkan KDM maju ke pentas politik nasional di tahun 2029 dan berhasil, tentu itu akan menjadi sejarah politik nan penting.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)