El Bahar dan Sang Merah Putih Menjelang Hari Kemerdekaan

9 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • El Bahar edisi 15 Agustus 1969 mengajak pembaca mengenang kembali sejarah Proklamasi, perjuangan pemuda, KNIP, dan makna Sang Merah-Putih.

  • Bendera Pusaka bukan sekadar simbol kemerdekaan, tetapi menyimpan kisah perjuangan, pengorbanan, hingga penyelamatannya pada masa revolusi.

  • Kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan, tetapi perlu dipahami dan dirawat melalui ingatan sejarah tentang perjuangan bangsa.

Membuka kembali surat kabar lama terkadang seperti membuka pintu sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkan. Aroma kertas tuanya membawa kita pada suasana zaman, sementara tulisan, foto, dan judul-judul yang tercetak di atasnya perlahan menghidupkan kembali cerita yang pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa.

Begitulah kesan ketika membuka kembali lembaran surat kabar El Bahar, edisi Jumat, 15 Agustus 1969.

Koran yang usianya kini telah mencapai 57 tahun itu hadir hanya dua hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbeda dengan media masa kini yang menjelang 17 Agustus dipenuhi iklan ucapan, slogan dan berbagai pernak-pernik perayaan, El Bahar justru mengajak pembacanya menoleh ke belakang.

Tentang Proklamasi, tentang perjuangan,

tentang pemuda dan mahasiswa.

Tentang awal kehidupan demokrasi Republik.

Dan, yang paling menarik, tentang Sang Merah-Putih.

Di halaman mukanya terpampang judul besar:

“Bendera Pusaka Sang ‘Merah-Putih’ Arti dan riwayatnja bagi Perdjoangan Bangsa Indonesia.”

Judul itu terasa kuat, bukan hanya karena ejaan lamanya, tetapi karena pada masa itu Merah-Putih bukan sekadar simbol yang dikibarkan setiap bulan Agustus. Bagi generasi yang mengalami langsung revolusi kemerdekaan, dua warna tersebut menyimpan kisah tentang Proklamasi, pengorbanan, pertempuran, pengungsian, kehilangan, dan harapan terhadap sebuah negeri yang baru saja lahir.

Namun, untuk memahami mengapa El Bahar memberi perhatian begitu besar kepada sejarah Sang Merah-Putih, kita perlu melihat terlebih dahulu siapa sebenarnya surat kabar ini.

El Bahar, suara yang berbeda di tengah perubahan zaman.

El Bahar lahir di Jakarta pada September 1966, pada masa ketika Indonesia sedang berada dalam perubahan politik yang sangat tajam. Orde Baru mulai mengonsolidasikan kekuasaan, sementara suara-suara yang dianggap dekat dengan Presiden Sukarno semakin terdesak.

Di tengah situasi tersebut, El Bahar tampil dengan warna yang berbeda.

Surat kabar ini dipimpin Komodor Angkatan Laut Raden Soejoso Poegoeh, tokoh militer yang memiliki hubungan keluarga dengan Bung Karno. Poegoeh merupakan putra Sukarmini, kakak kandung Presiden Sukarno, dan Poegoeh Wardojo.

Kariernya di lingkungan TNI Angkatan Laut cukup menonjol. Ia pernah menjabat Sekretaris Angkatan Laut dan menjadi Ketua Komisi C DPR-GR. Latar belakang tersebut ikut memberi warna pada karakter El Bahar yang kemudian dikenal sebagai salah satu media yang mempertahankan suara pro-Sukarno di tengah arus politik baru.

Bermarkas di Jalan Prapatan 38, Jakarta, El Bahar menjadi ruang bagi sejumlah wartawan, perwira dan tokoh yang sebelumnya berada di lingkungan pers pro-Sukarno, termasuk mereka yang pernah berkaitan dengan Suluh Indonesia.

Ketika media-media mahasiswa seperti Harian KAMI dan Mahasiswa Indonesia tampil sebagai bagian penting dari lanskap pers Orde Baru, El Bahar justru mengambil jalur berbeda.

Komentar politik yang pro-Sukarno menjadi ciri khasnya.

El Bahar dikenal sebagai surat kabar yang tidak terlalu banyak menyajikan berita, tetapi menarik perhatian justru karena sikap pro-Sukarno yang begitu kuat.

Di halaman-

halamannya juga muncul karikatur satir. Salah satu kontributornya adalah Dono, yang kelak dikenal sebagai salah satu anggota kelompok lawak Warkop.

Perjalanan El Bahar pun tidak selalu mulus. Pada awal 1967, surat kabar ini sempat diberedel. Namun karena ketentuan hukum pers ketika itu belum memungkinkan pemberedelan dilakukan secara sepihak, El Bahar kemudian kembali terbit. Tekanan terus berlangsung.

Pada 1969, ketika Komodor Poegoeh mendapat penugasan sebagai Atase Militer di India, arah surat kabar tersebut mulai berubah. Kepemimpinan kemudian beralih kepada Laksamana Pertama TNI Abdul Rachman, dan warna kritis serta keberpihakan politik El Bahar perlahan meredup. Surat kabar itu akhirnya berhenti terbit pada 1972.

Tetapi sebelum benar-benar menghilang, El Bahar sempat meninggalkan sebuah jejak menarik melalui edisi 15 Agustus 1969.

Jejak itu adalah cara sebuah surat kabar yang berada di tengah tekanan politik memandang kembali sejarah bangsanya.

Ketika Sang Merah-Putih menjadi cerita utama.

Pada Agustus 1969, El Bahar memberi tempat istimewa bagi Bendera Pusaka.

Ada alasan sejarah yang membuat tulisan itu terasa semakin penting.

Bendera Pusaka yang dijahit tangan oleh Fatmawati menjelang Proklamasi dikibarkan untuk pertama kalinya pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Sejak saat itu, bendera tersebut menjadi saksi perjalanan Republik.

Ia bukan hanya berkibar dalam suasana upacara. Pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, Sang Merah-Putih ikut mengalami masa-masa genting.

Ketika Yogyakarta diduduki Belanda pada Desember 1948, Bendera Pusaka harus diselamatkan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Dalam kisah penyelamatan tersebut, nama Husein Mutahar tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarahnya.

Bendera itu bahkan dipisahkan antara bagian merah dan putih agar lebih mudah disembunyikan. Setelah keadaan memungkinkan, kedua bagian tersebut disatukan kembali.

Sebuah tindakan sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam.

Menyelamatkan Bendera Pusaka berarti menyelamatkan salah satu simbol keberadaan Republik Indonesia.

Bendera tersebut kemudian kembali berkibar dalam berbagai upacara kenegaraan setelah revolusi berakhir.

Namun usia membuat kain pusaka itu semakin rapuh.

Pada 17 Agustus 1968, Bendera Pusaka terakhir kali dikibarkan dalam upacara resmi di Istana Merdeka. Setelah itu, demi menjaga kelestariannya, bendera bersejarah tersebut tidak lagi digunakan sebagai bendera upacara dan disimpan sebagai benda pusaka.

Karena itu, ketika El Bahar menulis panjang lebar mengenai arti dan riwayat Sang Merah-Putih pada Agustus 1969, tulisan tersebut seakan menjadi penghormatan terhadap sebuah benda yang telah menemani perjalanan Republik sejak hari kelahirannya.

Sang Pusaka mungkin tidak lagi berkibar di tiang upacara.

Tetapi kisahnya tetap berkibar dalam ingatan. Dan El Bahar menyimpannya melalui tinta di atas kertas.

Di halaman yang sama terdapat tulisan lain dengan judul:

“Warna² pada bendera”

disertai subjudul:

“Banjak jang sama tapi punja arti berbeda-beda.”

Ejaan lama itu kini terasa asing, tetapi justru menjadi daya tarik tersendiri ketika dibaca kembali.

Tulisan tersebut memperlihatkan bahwa El Bahar tidak sekadar ingin mengingat bentuk Bendera Pusaka, tetapi juga mengajak pembacanya memahami makna yang melekat pada warna merah dan putih.

Hari ini Merah-Putih begitu mudah kita jumpai.

Berkibar di depan rumah, sekolah, kantor, jalan raya, lapangan, bahkan gang-gang kecil di kampung.

Namun bagi generasi 1945, merah dan putih bukan sekadar warna. Keduanya adalah bagian dari pengalaman hidup.

Merah dan putih menyatu dengan ingatan tentang keberanian, pengorbanan, darah perjuangan, kesucian cita-cita, dan lahirnya sebuah negara.

Maka, ketika sebuah surat kabar pada 1969 merasa perlu menjelaskan kembali arti Sang Merah-Putih, sesungguhnya ia sedang mengajak masyarakat agar kemerdekaan tidak berhenti sebagai seremoni.

Kemerdekaan perlu dipahami.

Dan kemerdekaan perlu dirawat.

Dari mahasiswa menuju Proklamasi

Perhatian El Bahar terhadap sejarah kemerdekaan juga tampak dari tulisan mengenai “Peranan Mahasiswa Indonesia menjelang Proklamasi.”

Tulisan tersebut membawa pembaca kembali ke masa ketika Jepang masih berkuasa dan tekanan terhadap masyarakat Indonesia semakin berat.

Suratkabar El Bahar edisi 15 Agustus 1969, terbit dua hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-24. (Sumber: Foto & Koleksi Kin Sanubary)
Suratkabar El Bahar edisi 15 Agustus 1969, terbit dua hari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-24. (Sumber: Foto & Koleksi Kin Sanubary)

Di tengah situasi itu, kaum muda dan mahasiswa bergerak.

Organisasi-organisasi pergerakan tumbuh, sebagian bergerak secara sembunyi-sembunyi. Nama-nama seperti IPI, Angkatan Baru, Sumpah Sang Saka, hingga Organisasi Indonesia Merdeka menjadi bagian dari cerita mengenai pergerakan kaum muda menjelang lahirnya Republik.

Semangat yang muncul dari berbagai kelompok itu pada akhirnya mengarah pada satu cita-cita: kemerdekaan Indonesia.

Di halaman El Bahar bahkan terpampang seruan:

“Rebut Kemerdekaan penuh 100%.”

Pilihan kata tersebut memperlihatkan semangat zaman.

Bagi generasi muda menjelang Proklamasi, kemerdekaan bukan sesuatu yang boleh ditunggu terlalu lama. Ia harus diperjuangkan.

Membaca kembali tulisan tersebut lebih dari setengah abad kemudian, kita seperti diajak kembali ke masa ketika usia muda bukan alasan untuk berdiam diri.

KNIP dan republik yang harus belajar berdiri. El Bahar juga membawa pembacanya pada sejarah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Republik Indonesia adalah sebuah negara baru yang belum memiliki perangkat ketatanegaraan seperti yang kita kenal sekarang.

KNIP dibentuk pada 29 Agustus 1945.

Dalam perjalanan awal Republik, lembaga ini memainkan peran penting dalam kehidupan ketatanegaraan dan menjadi bagian dari proses berkembangnya sistem perwakilan serta demokrasi Indonesia.

Melalui KNIP, berbagai keputusan dan perubahan penting dalam kehidupan politik awal Republik berlangsung.

Sidangnya pun mengikuti perjalanan pemerintahan Republik yang harus berpindah-pindah dalam suasana revolusi.

Dari Jakarta, kemudian ke sejumlah kota hingga Yogyakarta, lembaga ini terus menjalankan perannya.

Dengan mengangkat kembali sejarah KNIP pada halaman menjelang 17 Agustus 1969, El Bahar seperti hendak mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya perkara mengibarkan bendera.

Setelah Proklamasi, ada negara yang harus dibangun.

Ada pemerintahan yang harus dijalankan.

Ada demokrasi yang harus dirintis.

Dan ada rakyat yang harus belajar mengisi kemerdekaan.

Jika seluruh halaman El Bahar edisi 15 Agustus 1969 tersebut disusun kembali sebagai sebuah cerita, tampak sebuah rangkaian yang menarik:

Bendera Pusaka, perjuangan mahasiswa, Proklamasi, KNIP, pendidikan kemerdekaan.

Semuanya bermuara pada satu kesadaran: Indonesia tidak lahir begitu saja.

Ia dibentuk oleh banyak tangan, banyak pikiran dan banyak keberanian.

Sebuah suara kecil di tengah zaman yang keras.

Di sinilah El Bahar menjadi lebih menarik daripada sekadar surat kabar lama.

Ia bukan hanya benda cetak yang kebetulan tersimpan selama puluhan tahun.

Ia adalah bagian dari sejarah pers Indonesia.

Pada masa ketika ruang politik dan pers sedang mengalami penyeragaman, El Bahar pernah memilih untuk mempertahankan suara yang berbeda. Suaranya mungkin tidak selalu keras. Bahkan mungkin sering dianggap kecil dan kurang penting dibandingkan media-media besar pada zamannya.

Tetapi sejarah tidak selalu ditentukan oleh suara yang paling keras.

Kadang-kadang, suara yang kecil justru penting karena ia menyimpan sesuatu yang tidak ingin dilupakan.

Surat kabar El Bahar memang akhirnya berhenti terbit.

Namun halaman-halamannya masih berbicara.

Bahkan 57 tahun kemudian.

Dari selembar koran, kita belajar membaca kemerdekaan.

Kini, setiap Agustus, Merah-Putih kembali memenuhi ruang publik. Bendera dipasang di halaman rumah. Umbul-umbul menghiasi jalan.

Upacara digelar.

Lagu-lagu perjuangan terdengar.

Ucapan Dirgahayu Republik Indonesia memenuhi berbagai ruang.

Semua itu adalah bagian dari perayaan.

Namun mungkin ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar merayakan: mengingat dari mana kemerdekaan itu berasal.

Lembaran El Bahar 15 Agustus 1969 mengajarkan hal sederhana tersebut.

Lima puluh tujuh tahun lalu, sebuah surat kabar mengajak pembacanya mengingat kembali Bendera Pusaka, perjuangan mahasiswa, sejarah KNIP dan pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa.

Hari ini, ketika kita membuka kembali koran itu, justru kita yang diajak untuk mengingat.

Kita diingatkan bahwa di balik sehelai Merah-Putih yang berkibar terdapat perjalanan panjang.

Mereka hidup pada zamannya.

Kita hidup pada zaman kita. Dan koran tua menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya. Merah-Putih bukan sekadar dua warna

Pada akhirnya, mungkin inilah pesan paling kuat yang dapat kita tangkap dari El Bahar.

Kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang melalui tanggal. Ia perlu dibaca melalui sejarah. Tidak cukup hanya dirayakan melalui upacara.

Ia perlu dipahami melalui perjuangan. Tidak cukup hanya mengibarkan bendera.

Sang Merah-Putih adalah simbol sebuah bangsa yang pernah berjuang untuk berdiri sendiri.

El Bahar adalah salah satu lembar kecil dari perjalanan panjang itu, sebuah surat kabar yang pernah memilih suara berbeda, kemudian menyimpan kembali cerita tentang Bendera Pusaka, pemuda, KNIP dan perjuangan kebangsaan di tengah zaman yang penuh tekanan.

Kemerdekaan yang lestari bukan hanya kemerdekaan yang dirayakan, melainkan kemerdekaan yang terus dijaga, dipahami, dan diperjuangkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)