Dari Kaki Gunung Wayang ke Ruang Sidang Doktoral: Saatnya Pendidikan Belajar Mengenali Keunikan

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Desentralisasi pendidikan bukan sekadar memindahkan kewenangan administratif dari pusat ke daerah.

  • Sekolah perlu memperoleh ruang yang jauh lebih luas untuk menentukan cara terbaik mendidik anak-anaknya.

Pada 13 Agustus 2026, Luthfi Audia Pribadi berdiri di ruang sidang terbuka doktoral. Ia datang membawa disertasi berjudul “Model Manajemen Layanan Pembelajaran Berbasis Uniqcall Education untuk Meningkatkan Self-Esteem Siswa Madrasah Aliyah di Kabupaten Bandung.”

Setelah melalui proses pengujian, Luthfi dinyatakan lulus dengan yudisium 3,97 dan predikat Sangat Memuaskan. Ia tercatat sebagai doktor ke-352 sekaligus doktor Administrasi Pendidikan ke-75.

Namun angka-angka tersebut bukan bagian paling menarik dari perjalanan itu.

Ada jarak yang ditempuh Luthfi sebelum sampai ke ruang sidang tersebut. Ia berasal dari Kertasari, kawasan di kaki Gunung Wayang, Kabupaten Bandung. Dari lingkungan pedesaan itu, perjalanan pendidikannya berlanjut hingga mencapai jenjang doktoral.

Perjalanan tersebut mengingatkan kita bahwa tempat seseorang berasal tidak semestinya menjadi batas bagi cita-cita. Tetapi ada hal lain yang juga menarik dari penelitian yang dibawanya ke ruang sidang: gagasan tentang bagaimana pendidikan seharusnya melihat peserta didik.

Ketika setiap anak tidak bisa diperlakukan sama

Uniqcall Education yang dikembangkan dalam penelitian Luthfi berangkat dari sebuah kenyataan sederhana: setiap siswa memiliki karakter, pengalaman, kebutuhan, dan kekuatan yang berbeda.

Karena itu, layanan pendidikan tidak selalu dapat diberikan dengan pendekatan yang sama kepada semua siswa.

Ada siswa yang menonjol secara akademik. Ada yang menemukan kekuatannya melalui kreativitas. Ada yang membutuhkan pendampingan lebih dekat. Ada pula yang potensinya baru muncul ketika mendapatkan kesempatan dan lingkungan yang sesuai.

Dalam model yang ditelitinya, siswa tidak berdiri sendiri. Guru, guru bimbingan dan konseling, kepala madrasah, administrator, hingga orang tua ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem layanan pembelajaran yang saling terhubung.

Teknologi pun tidak ditempatkan sebagai tujuan. Ia digunakan untuk membantu manajemen pendidikan menjadi lebih terhubung, transparan, efisien, dan berbasis data.

Yang menarik, tujuan akhirnya bukan semata-mata efisiensi pengelolaan pendidikan. Penelitian tersebut juga memberi perhatian pada self-esteem siswa: apakah seorang anak merasa dirinya memiliki kemampuan, kekuatan, dan kesempatan untuk berkembang?

Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih besar.

Jika setiap anak memiliki keunikan, mengapa sistem pendidikan kita sering memperlakukan sekolah seolah-olah semuanya berada dalam keadaan yang sama?

Sekolah bukan pabrik

Selama bertahun-tahun, perdebatan pendidikan di Indonesia kerap berputar pada kurikulum. Kurikulum berganti, istilah berubah, pendekatan diperbarui. Namun persoalan mendasarnya barangkali tidak hanya terletak pada apa yang harus diajarkan, melainkan pada seberapa besar ruang yang diberikan kepada sekolah untuk menentukan bagaimana pendidikan seharusnya dijalankan.

Sekolah di Kertasari tentu memiliki lingkungan sosial dan persoalan yang berbeda dengan sekolah di pusat Kota Bandung. Sekolah di kawasan pesisir menghadapi realitas yang berbeda dengan sekolah di wilayah pertanian. Demikian pula sekolah di kawasan industri akan berhadapan dengan kebutuhan peserta didik yang berbeda dengan sekolah di daerah pegunungan.

Lalu mengapa semuanya harus selalu diterjemahkan melalui pendekatan yang seragam?

Bukan berarti negara harus melepaskan tanggung jawabnya. Standar nasional tetap diperlukan untuk memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan yang layak. Negara tetap harus menjamin mutu guru, kompetensi dasar, perlindungan peserta didik, serta pemerataan sumber daya.

Tetapi di atas standar tersebut, barangkali sekolah perlu memperoleh ruang yang jauh lebih luas untuk menentukan cara terbaik mendidik anak-anaknya.

Satu tujuan nasional tidak harus ditempuh melalui satu jalan yang sama.

Guru seharusnya memiliki ruang untuk menjadi perancang pembelajaran. Kepala sekolah tidak semata-mata menjadi pengelola administrasi, tetapi pemimpin pendidikan. Orang tua dan masyarakat dapat menjadi bagian dari ekosistem sekolah. Dan sekolah dapat mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan karakter peserta didiknya.

Dengan demikian, desentralisasi pendidikan bukan sekadar memindahkan kewenangan administratif dari pusat ke daerah. Ia harus berarti kepercayaan kepada sekolah untuk mengenali kekuatan dan persoalannya sendiri.

Dari Kertasari, sebuah pertanyaan untuk Indonesia

Di sinilah kisah Luthfi menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang anak dari kaki Gunung Wayang yang berhasil meraih gelar doktor.

Penelitian yang dibawanya ke ruang sidang berbicara tentang personalisasi pendidikan: bagaimana sistem pembelajaran dapat mengenali bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan kekuatan yang berbeda.

Gagasan itu, menurut saya, layak diperluas.

Bukan hanya siswa yang unik. Sekolah pun unik.

Maka mungkin yang perlu kita bangun bukan sistem pendidikan yang memaksa seluruh sekolah menjadi sama, melainkan sistem yang memberikan kesempatan kepada setiap sekolah untuk menemukan keunggulannya masing-masing.

Negara memberikan arah dan standar. Sekolah menemukan cara. Guru menerjemahkan kebutuhan peserta didik. Masyarakat ikut menjaga ekosistemnya.

Jika pendidikan mampu bergerak ke arah itu, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk mengejar negara maju dengan meniru seluruh sistem mereka. Kita justru dapat mulai membangun sistem pendidikan yang berangkat dari kenyataan kita sendiri.

Sebab kemajuan pendidikan tidak selalu lahir dari keseragaman.

Kadang ia justru tumbuh ketika kita berani mengakui bahwa setiap anak berbeda, setiap sekolah berbeda, dan karena itu setiap tempat membutuhkan cara untuk menemukan kekuatannya sendiri.

Pada 13 Agustus 2026, Luthfi Audia Pribadi menutup satu tahap perjalanan akademiknya dengan yudisium 3,97 dan predikat Sangat Memuaskan.

Perjalanan dari Kertasari menuju ruang sidang doktoral itu selesai.

Tetapi gagasan yang dibawanya mungkin baru saja memulai perjalanan yang lebih panjang: bagaimana pendidikan Indonesia belajar mempercayai keunikan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Agu 2026, 21:58

Dari Kaki Gunung Wayang ke Ruang Sidang Doktoral: Saatnya Pendidikan Belajar Mengenali Keunikan

Jika setiap anak berbeda, mengapa sistem pendidikan kita masih begitu gemar menyeragamkan? Kisah Luthfi dari Kertasari membuka pertanyaan itu.

Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 18:15

Efektivitas Perusahaan Listrik sebagai Perusahaan Monopoli?

Ada berbagai bentuk pasar dalam perekonomian. Apakah perusahaan listrik sebagai perusahaan monopoli efektif?

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 17:06

Urgensi Literasi Pajak pada Generasi Muda Sebelum Terjun ke Dunia Kerja

Kurangnya literasi perpajakan pada generasi muda mengakibatkan terhambatnya kesiapan finansial dan ketidakpatuhan hukum yang pada akhirnya menyebabkan kerugian finansial.

Ilustrasi pajak. (Sumber: ikpi.or.id)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 12:14

Musuh Tersembunyi: Mikroplastik dalam Makanan Dapur

Penjelasan pendek tentang mikroplastik dan bagaimana mikroplastik memengaruhi hidup kita

Ilustrasi sayuran berbungkus plastik. (Sumber: Pexels | Foto: Deon Black)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 10:15

7 Gunung Tertinggi di Bandung: Antara Legenda dan Jalur Pendakian

Tujuh gunung tertinggi di Bandung bukan sekadar destinasi pendakian. Di balik jalur, ketinggian, dan panorama alamnya, tersimpan legenda, sejarah, serta cerita masyarakat.

Foto Pemandangan Gunung Puntang diambil dari Gunung Batu Lemabang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 09:27

Derajat Manusia Sama dan Setara

Perempuan sudah lama dianggap sebagai beban dalam kehidupan rumah tangga jika dilihat dari kacamata budaya patriarki.

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Agu 2026, 13:59

Media Lokal Dorong Ekosistem Berkelanjutan, Google Buka Ruang Kolaborasi

Media lokal dan Google membahas tantangan era AI, strategi keberlanjutan bisnis, pertumbuhan audiens, serta peluang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem berita di Indonesia.

Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono mengingatkan bahwa media dan jurnalis yang menolak beradaptasi dengan AI dan menganggapnya sebagai musuh akan tertinggal serta terancam gulung tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 14 Agu 2026, 20:59

Peringati HUT Kemerdekaan, PLN Nusantara Power UP Cirata Kumpulkan 59 Kg Sampah Anorganik

PLN Nusantara Power UP Cirata rayakan HUT RI ke-81 lewat Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperingati HUT ke-81 RI melalui Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 20:29

Kemudahan Transaksi Nontunai Menjadi Ancaman Munculnya Bias Hyperbolic Discounting

Kemudahan transaksi nontunai tanpa disadari menghilangkan rasa sakit saat mengeluarkan uang.

Transaksi Nontunai. (Sumber: Foto oleh cottonbro studio dari Pexels)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 18:01

Lomba Agustusan Bukan Soal Menang-Kalah, tapi tentang Kebersamaan dan Kebahagiaan

Dari balap karung hingga lomba daster, Agustusan selalu menjadi ajang kebersamaan warga. Namun, kemeriahan perayaan kemerdekaan tak lepas dari persoalan klasik soal penggalangan dana.

 Perlombaan Agustusan sangat beragam, bahkan dari tahun terus bertambah dan semakin lucu (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 15:05

Saat Game Masuk Kelas: Benarkah Game Edukasi Bisa Bikin Belajar Lebih Efektif?

Benarkah game edukasi mampu mengubah kelas yang membosankan menjadi pembelajaran interaktif? Simak manfaat, tantangan, dan solusi penerapannya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pembelajaran interaktif anak-anak usia dini menggunakan Papan Interaktif Digital melalui platfrom Game Edukasi Paudpedia. (Sumber: Dokumentasi kemdikbud.go.id  | Foto: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 14:46

Aktif Berorganisasi, Benarkah Membantu Mahasiswa Siap Hadapi Dunia Kerja?

Banyak lulusan kesulitan bersaing di dunia kerja. Organisasi mahasiswa ternyata menjadi tempat lahirnya employability skills yang dicari perusahaan. Mengapa bisa demikian?

Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 11:38

81 Tahun Merdeka, Jejak Belanda Masih Terasa Lewat Perkedel hingga Semur

Indonesia telah 81 tahun merdeka, tetapi jejak Belanda masih terasa di meja makan. Perkedel, semur, kroket hingga lapis legit menjadi bukti warisan kuliner kolonial yang beradaptasi.

Jejak kuliner Belanda masih dapat ditemukan dalam berbagai makanan yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. (Sumber: magnific.com | Foto: stockking)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 08:34

KDM Punya 35 Juta Pemilih di Jabar, Cukupkah untuk Menuju 2029? 

Kalau memang suratan tangan menetapkan KDM maju ke pentas politik nasional di tahun 2029 dan berhasil, tentu itu akan menjadi sejarah politik nan penting.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 13 Agu 2026, 19:19

Semangat Integritas Digitalisasi Wisata Kota Bandung, Dari Transportasi Publik hingga Perlindungan Transaksi

Kota Bandung, yang secara konsisten menjadi salah satu magnet utama pariwisata nasional, kini berada di tengah transformasi penting menuju ekosistem smart tourism.

Kota Bandung, yang secara konsisten menjadi salah satu magnet utama pariwisata nasional, kini berada di tengah transformasi penting menuju ekosistem smart tourism. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 19:09

Cibeulah, Rekahan Tanah Akibat Gempa Bumi yang Menyimpan Cerita

Cibeulah berarti tanah belah dalam bahasa Sunda dan Banten. Toponim ini menyimpan jejak gempa bumi, rekahan tanah, serta pengetahuan leluhur tentang ancaman bencana dan pentingnya mitigasi.

Rumah warga yang terdampak gempabumi dengan kekuatan (M) 6,7 pada tanggal 14 Januari 2022, di Kabupaten Pandeglang, Banten. (Sumber: BNPB)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:45

Touring Tidak Selalu tentang Healing, tetapi Juga Ruang Sosial dan Psikologis

Touring bukan sekadar hobi berkendara atau perjalanan untuk healing. Di balik perjalanan dan biaya yang dikeluarkan, touring menjadi ruang untuk menjaga kesehatan sosial dan psikologis.

Touring bukanlah sekadar hobi berkendara yang menguras materi, melainkan ruang sosial dan psikologis. (Sumber: magnific.com | Foto: bublikhaus)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:21

Melawan Greenwashing untuk Mendorong Sikap Kritis terhadap Klaim Ramah Lingkungan

Greenwashing mengancam kepercayaan konsumen dan investor serta mengganggu alokasi modal. Transparansi, audit ESG, dan sikap kritis pasar menjadi kunci membangun bisnis berkelanjutan di masa depan.

Fenomena greenwashing didefinisikan sebagai persilangan antara kinerja lingkungan yang buruk dengan komunikasi positif yang menyesatkan. (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:43

Mengenang Majalah Hai, Ikon Remaja di Era 80–90an

Mengenang Majalah Hai, teman generasi 1980-an dan 1990-an yang tak hanya menghadirkan musik, komik, dan cerita, tetapi juga memperluas wawasan serta membentuk selera dan imajinasi anak muda Indonesia.

Majalah Remaja Hai era 1980–1990-an Majalah Hai era 1980–1990-an, bacaan populer yang lekat dengan kehidupan remaja dan menjadi bagian dari kenangan sebuah generasi.
Beranda 13 Agu 2026, 10:32

Pohon di Kota Bandung Ditebang Ilegal, Tapi Anggaran Beli Lahan RTH 2026 Malah Tak Ada

Puluhan pohon di Kota Bandung ditebang liar, giliran anggaran beli lahan RTH 2026 malah nihil. Kini janji ruang hijau kota terancam cuma angan-angan di atas kertas.

Sisa pohon yang ditebang di Jalan LLRE Martadinata (Jalan Riau), Kota Bandung, Selasa 4 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)