Musuh Tersembunyi: Mikroplastik dalam Makanan Dapur

6 menit baca
Carel Ahmad Riaqi
Ditulis oleh Carel Ahmad Riaqi diterbitkan
Ilustrasi sayuran berbungkus plastik. (Sumber: Pexels | Foto: Deon Black)
Ilustrasi sayuran berbungkus plastik. (Sumber: Pexels | Foto: Deon Black)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Paparan mikroplastik melalui makanan yang kita konsumsi sehari-hari yang berpotensi untuk berdampak buruk pada kesehatan kita. 

  • Menurut sebuah buku dari hasil penelitian pada tahun 2018, Indonesia merupakan pelaku pembuang plastik ke laut terbesar di dunia setelah Cina, dengan besaran 0,48 – 1,29 juta metrik ton plastik/tahun.

Kita semua pasti punya talenan plastik yang kita pakai untuk memotong daging atau sayuran saat kita ingin memasak sesuatu di dapur rumah kita. Mungkin kita tidak terlalu memikirkan atau peduli terhadap dampak dari memotong daging atau sayuran kita di atas talenan plastik tersebut.

Ternyata, menurut penelitian dari National Library of Medicine pada tahun 2023 menunjukkan bahwa talenan plastik yang kita pakai untuk wadah memotong makanan kita adalah sumber mikroplastik yang berpotensi signifikan dalam makanan manusia. Memotong di atas talenan polietilena (bahan dari talenan plastik umum) dikaitkan dengan pelepasan mikroplastik yang lebih banyak saat memotong sayuran (misalnya, wortel) dibandingkan saat memotong tanpa wortel.

Lalu, menurut penelitian Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics pada tahun  (2025) menyebutkan bahwa partikel plastik semakin sering terdeteksi pada makanan. Hal tersebut tentunya menimbulkan kekhawatiran mengenai paparan mikroplastik melalui makanan yang kita konsumsi sehari-hari yang berpotensi untuk berdampak buruk pada kesehatan kita. 

Apa itu Mikroplastik? Dimana Mikroplastik Bisa Kita Temukan Sehari-hari?

Tetapi, sebelum kita mendalami tentang mikroplastik lebih lanjut, kita harus mengerti apa itu mikroplastik sebelumnya. Mikroplastik secara umum, adalah partikel plastik yang berukuran tidak lebih dari 5 milimeter. Karena ukurannya yang sangat kecil, bahkan terkadang tidak terlihat kasat mata sehingga kita seringkali mengabaikannya.

Kita bisa menemukan mikroplastik dari serat mikro dari pakaian berbahan sintetis (polyester, nylon atau acrylic), kantong plastik yang sering rumah tangga pakai dan bahkan botol air dan kemasan makan. Tetapi untuk saat ini, kita akan berfokus kepada mikroplastik yang ditemukan dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi di dalam keseharian kita.

Menurut sebuah buku dari hasil penelitian pada tahun 2018, Indonesia merupakan pelaku pembuang plastik ke laut terbesar di dunia setelah Cina, dengan besaran 0,48 – 1,29 juta metrik ton plastik/tahun. Sampah yang dibuang ke laut tersebut bukan hanya memengaruhi kehidupan di dalam laut, tetapi juga kehidupan yang memanfaatkan kehidupan lautan tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Ministry of Food and Drug Safety di tahun 2020, menunjukkan bahwa akumulasi mikroplastik terjadi di pantai, lautan, tanah dan sedimen, serta sistem perairan tawar. Bahkan, tanpa pencemaran juga, kita masih bisa terpapar mikroplastik dari peralatan dapur yang kita pakai yang berbahan dari plastik. Seperti, talenan plastik yang sudah disebutkan sebelumnya, teflon anti-lengket, wadah dan peralatan makanan yang kita bawa ke sekolah atau tempat kerja, dan bahkan kantong teh yang kita seduh yang berpotensi untuk melepaskan mikroplastik polipropilena.

Semua yang sudah disebutkan merupakan sumber pelepasan mikroplastik yang banyak orang masih abaikan dan bahkan tidak tahu tentang paparan nya. Sebuah buku yang berjudul ‘Journal of Hazardous Material Letters’ yang diunggah pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kita sebagai manusia, mengonsumsi sekitar 0,1 sampai dengan 5 gram plastik tiap minggunya.  

Pada umumnya, mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia melalui 3 jalur utama, yaitu ingesti (melalui makanan dan air), inhalasi (udara dalam dan luar ruangan), serta kontak kulit (melalui produk perawatan diri, debu, dan tekstil pakaian). Paparan Mikroplastik pada tubuh manusia terutama terjadi melalui ingesti makanan dan minuman, termasuk bahan pangan pokok seperti ikan, buah-buahan dan sayuran, daging, serealia dan kacang-kacangan, serta air. Mikroplastik berpotensi untuk menyebabkan dampak buruk pada kesehatan kita, dimulai dari peradangan di dalam tubuh manusia. Beberapa jenis partikel polistirena bisa menyebabkan peradangan pada sel paru-paru manusia.

Ilustrasi sampah botol plastik. (Sumber: Unsplash | Foto: Engin Akyurt)
Ilustrasi sampah botol plastik. (Sumber: Unsplash | Foto: Engin Akyurt)

Selain itu, mikroplastik bisa menyebabkan meningkatnya stres oksidatif. Stres oksidatif merupakan suatu kondisi dimana jumlah radikal bebas meningkat di dalam tubuh, sehingga mengganggu sistem kekebalan tubuh. Pada beberapa jenis sel, paparan mikroplastik bahkan dapat mengganggu fungsi organel dan menyebabkan kematian sel terprogram yang biasanya disebut ‘apoptosis’. Metabolisme tubuh juga tentunya bisa terganggu, misalnya nanopartikel polistirena dapat mengganggu fungsi sel pernapasan dan mengganggu saluran ion yang mengatur pergerakan mineral dan cairan di dalam sel. 

Strategi yang Bisa Coba di Implementasi Untuk Meminimalisasi Konsumsi Mikroplastik

Sesudah kita memahami dari pengertian mikroplastik, sumbernya, caranya masuk ke dalam tubuh kita, sampai dengan dampaknya ke kehidupan sehari-hari kita, kita juga tentu memikirkan bagaimana cara meminimalisasi konsumsi mikroplastik. Dari pihak penelitian Department of Environmental Science, The University of Arizona pada tahun 2025, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan mikroplastik melalui makanan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan peralatan makan dan memasak berbahan plastik, terutama peralatan yang sering mengalami gesekan atau terkena panas. Talenan plastik, misalnya, dapat mengalami pengikisan ketika digunakan berulang kali untuk memotong makanan. Kondisi tersebut dapat membuat partikel plastik terlepas dan kemudian bercampur dengan makanan. Mengganti talenan plastik dengan talenan berbahan kayu atau bahan lain yang lebih tahan terhadap gesekan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi sumber mikroplastik secara langsung di dapur.

Selain mengganti peralatan dapur, cara penyimpanan dan pemanasan makanan juga perlu diperhatikan. Makanan atau minuman yang masih panas sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke dalam wadah plastik, terutama jika wadah tersebut tidak dirancang untuk penggunaan pada suhu tinggi. Panas dapat memengaruhi struktur beberapa jenis plastik dan meningkatkan kemungkinan pelepasan partikel ke dalam makanan atau minuman.

Penggunaan wadah berbahan kaca atau stainless steel dapat menjadi alternatif untuk menyimpan makanan dan minuman, terutama ketika makanan masih dalam keadaan panas. Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi kontak langsung antara makanan dengan material plastik dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan botol air minum yang dapat digunakan kembali juga dapat menjadi salah satu pilihan.

Namun, jenis material dan kondisi botol tetap perlu diperhatikan, karena botol plastik yang sudah tergores, rusak, atau digunakan dalam waktu yang sangat lama berpotensi mengalami pelepasan partikel akibat penggunaan berulang. Karena itu, memilih wadah yang sesuai dan menggantinya ketika kondisinya sudah rusak dapat membantu mengurangi potensi paparan. Hal yang sama juga berlaku pada kemasan makanan sekali pakai. Mengurangi penggunaan wadah plastik sekali pakai dapat mengurangi jumlah plastik yang bersentuhan langsung dengan makanan sekaligus mengurangi jumlah limbah plastik yang berpotensi menjadi mikroplastik di lingkungan.

Langkah lain yang tidak kalah penting adalah mengurangi penggunaan produk plastik sekali pakai. Kantong plastik, sedotan, gelas plastik, dan berbagai kemasan sekali pakai sering digunakan hanya dalam waktu singkat, tetapi limbahnya dapat bertahan jauh lebih lama di lingkungan.

Menurut Prata dkk. (2019), pengendalian pencemaran plastik perlu dilakukan sejak sumbernya. Pengurangan penggunaan plastik, penggunaan kembali produk, serta peningkatan daur ulang dapat membantu mengurangi jumlah plastik yang berakhir sebagai limbah. Ketika jumlah plastik yang masuk ke lingkungan dapat dikurangi, peluang plastik tersebut mengalami kerusakan dan berubah menjadi mikroplastik juga dapat ditekan. Upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Produsen dan pemerintah juga memiliki peran penting dalam mengurangi paparan mikroplastik. Produsen dapat mengembangkan produk dengan material yang lebih aman dan mengurangi penggunaan plastik yang tidak diperlukan. Pemerintah dapat membuat kebijakan yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai sekaligus memperbaiki sistem pengelolaan sampah.

Sementara itu, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui perubahan kebiasaan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik, menggunakan kembali barang yang masih layak, memilah sampah, dan memilih produk dengan kemasan yang lebih sedikit. 

Pada akhirnya, kita memang belum dapat sepenuhnya menghindari mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari karena partikel tersebut sudah ditemukan di berbagai lingkungan dan sumber makanan sehingga paparan dapat terjadi tanpa kita sadari. Namun, hal tersebut tidak berarti kita tidak dapat melakukan apa pun. Memerhatikan peralatan yang digunakan untuk mengolah makanan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih wadah penyimpanan yang sesuai, serta mengelola sampah dengan baik merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan mulai dari rumah.

Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat membantu mengurangi salah satu sumber paparan mikroplastik yang berasal dari aktivitas sehari-hari. Ketika semakin banyak orang memahami sumber dan risiko mikroplastik, keputusan kecil dalam memilih, menggunakan, dan membuang produk plastik dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk mengurangi paparan mikroplastik dalam kehidupan manusia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Carel Ahmad Riaqi
Menulis artikel untuk tugas mata kuliah Bahasa Indonesia

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Agu 2026, 12:14

Musuh Tersembunyi: Mikroplastik dalam Makanan Dapur

Penjelasan pendek tentang mikroplastik dan bagaimana mikroplastik memengaruhi hidup kita

Ilustrasi sayuran berbungkus plastik. (Sumber: Pexels | Foto: Deon Black)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 10:15

7 Gunung Tertinggi di Bandung: Antara Legenda dan Jalur Pendakian

Tujuh gunung tertinggi di Bandung bukan sekadar destinasi pendakian. Di balik jalur, ketinggian, dan panorama alamnya, tersimpan legenda, sejarah, serta cerita masyarakat.

Foto Pemandangan Gunung Puntang diambil dari Gunung Batu Lemabang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 09:27

Derajat Manusia Sama dan Setara

Perempuan sudah lama dianggap sebagai beban dalam kehidupan rumah tangga jika dilihat dari kacamata budaya patriarki.

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Agu 2026, 13:59

Media Lokal Dorong Ekosistem Berkelanjutan, Google Buka Ruang Kolaborasi

Media lokal dan Google membahas tantangan era AI, strategi keberlanjutan bisnis, pertumbuhan audiens, serta peluang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem berita di Indonesia.

Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono mengingatkan bahwa media dan jurnalis yang menolak beradaptasi dengan AI dan menganggapnya sebagai musuh akan tertinggal serta terancam gulung tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 14 Agu 2026, 20:59

Peringati HUT Kemerdekaan, PLN Nusantara Power UP Cirata Kumpulkan 59 Kg Sampah Anorganik

PLN Nusantara Power UP Cirata rayakan HUT RI ke-81 lewat Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperingati HUT ke-81 RI melalui Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 20:29

Kemudahan Transaksi Nontunai Menjadi Ancaman Munculnya Bias Hyperbolic Discounting

Kemudahan transaksi nontunai tanpa disadari menghilangkan rasa sakit saat mengeluarkan uang.

Transaksi Nontunai. (Sumber: Foto oleh cottonbro studio dari Pexels)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 18:01

Lomba Agustusan Bukan Soal Menang-Kalah, tapi tentang Kebersamaan dan Kebahagiaan

Dari balap karung hingga lomba daster, Agustusan selalu menjadi ajang kebersamaan warga. Namun, kemeriahan perayaan kemerdekaan tak lepas dari persoalan klasik soal penggalangan dana.

 Perlombaan Agustusan sangat beragam, bahkan dari tahun terus bertambah dan semakin lucu (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 15:05

Saat Game Masuk Kelas: Benarkah Game Edukasi Bisa Bikin Belajar Lebih Efektif?

Benarkah game edukasi mampu mengubah kelas yang membosankan menjadi pembelajaran interaktif? Simak manfaat, tantangan, dan solusi penerapannya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pembelajaran interaktif anak-anak usia dini menggunakan Papan Interaktif Digital melalui platfrom Game Edukasi Paudpedia. (Sumber: Dokumentasi kemdikbud.go.id  | Foto: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 14:46

Aktif Berorganisasi, Benarkah Membantu Mahasiswa Siap Hadapi Dunia Kerja?

Banyak lulusan kesulitan bersaing di dunia kerja. Organisasi mahasiswa ternyata menjadi tempat lahirnya employability skills yang dicari perusahaan. Mengapa bisa demikian?

Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 11:38

81 Tahun Merdeka, Jejak Belanda Masih Terasa Lewat Perkedel hingga Semur

Indonesia telah 81 tahun merdeka, tetapi jejak Belanda masih terasa di meja makan. Perkedel, semur, kroket hingga lapis legit menjadi bukti warisan kuliner kolonial yang beradaptasi.

Jejak kuliner Belanda masih dapat ditemukan dalam berbagai makanan yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. (Sumber: magnific.com | Foto: stockking)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 08:34

KDM Punya 35 Juta Pemilih di Jabar, Cukupkah untuk Menuju 2029? 

Kalau memang suratan tangan menetapkan KDM maju ke pentas politik nasional di tahun 2029 dan berhasil, tentu itu akan menjadi sejarah politik nan penting.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 13 Agu 2026, 19:19

Semangat Integritas Digitalisasi Wisata Kota Bandung, Dari Transportasi Publik hingga Perlindungan Transaksi

Kota Bandung, yang secara konsisten menjadi salah satu magnet utama pariwisata nasional, kini berada di tengah transformasi penting menuju ekosistem smart tourism.

Kota Bandung, yang secara konsisten menjadi salah satu magnet utama pariwisata nasional, kini berada di tengah transformasi penting menuju ekosistem smart tourism. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 19:09

Cibeulah, Rekahan Tanah Akibat Gempa Bumi yang Menyimpan Cerita

Cibeulah berarti tanah belah dalam bahasa Sunda dan Banten. Toponim ini menyimpan jejak gempa bumi, rekahan tanah, serta pengetahuan leluhur tentang ancaman bencana dan pentingnya mitigasi.

Rumah warga yang terdampak gempabumi dengan kekuatan (M) 6,7 pada tanggal 14 Januari 2022, di Kabupaten Pandeglang, Banten. (Sumber: BNPB)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:45

Touring Tidak Selalu tentang Healing, tetapi Juga Ruang Sosial dan Psikologis

Touring bukan sekadar hobi berkendara atau perjalanan untuk healing. Di balik perjalanan dan biaya yang dikeluarkan, touring menjadi ruang untuk menjaga kesehatan sosial dan psikologis.

Touring bukanlah sekadar hobi berkendara yang menguras materi, melainkan ruang sosial dan psikologis. (Sumber: magnific.com | Foto: bublikhaus)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:21

Melawan Greenwashing untuk Mendorong Sikap Kritis terhadap Klaim Ramah Lingkungan

Greenwashing mengancam kepercayaan konsumen dan investor serta mengganggu alokasi modal. Transparansi, audit ESG, dan sikap kritis pasar menjadi kunci membangun bisnis berkelanjutan di masa depan.

Fenomena greenwashing didefinisikan sebagai persilangan antara kinerja lingkungan yang buruk dengan komunikasi positif yang menyesatkan. (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:43

Mengenang Majalah Hai, Ikon Remaja di Era 80–90an

Mengenang Majalah Hai, teman generasi 1980-an dan 1990-an yang tak hanya menghadirkan musik, komik, dan cerita, tetapi juga memperluas wawasan serta membentuk selera dan imajinasi anak muda Indonesia.

Majalah Remaja Hai era 1980–1990-an Majalah Hai era 1980–1990-an, bacaan populer yang lekat dengan kehidupan remaja dan menjadi bagian dari kenangan sebuah generasi.
Beranda 13 Agu 2026, 10:32

Pohon di Kota Bandung Ditebang Ilegal, Tapi Anggaran Beli Lahan RTH 2026 Malah Tak Ada

Puluhan pohon di Kota Bandung ditebang liar, giliran anggaran beli lahan RTH 2026 malah nihil. Kini janji ruang hijau kota terancam cuma angan-angan di atas kertas.

Sisa pohon yang ditebang di Jalan LLRE Martadinata (Jalan Riau), Kota Bandung, Selasa 4 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:03

Pohon, Bisnis, dan Kehidupan

Saat pohon tumbang, yang jatuh bukan hanya batang, dahan, daun, justru yang ikut runtuh sederetan cerita, petuah, pamali, ingatan, hingga khazanah lokal.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 19:54

Mengapa Bahasa Merek Berubah Saat Pindah ke Instagram?

Membahas bagaimana satu merek menyesuaikan gaya bahasa di website dan Instagram saat menyampaikan pesan Ramadhan, tanpa kehilangan pesan utama kepada publik.

Ilustrasi masakan. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 17:20

Aku, ‘Preman Pensiun’, dan Terminal Cicaheum

Mengajak pembaca menyusuri kenangan personal di Terminal Cicaheum, dari masa kecil hingga era Preman Pensiun.

Suasana Terminal Cicaheum pada pagi hari, Kota Bandung, Rabu 24 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)