Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

10 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)

Berawal dari ketertarikan terhadap filsafat Jawa dan Sunda di dalam lingkungan keluarga, kemudian beberapa kali mengikuti seminar hasil penelitian ilmiah, khususnya Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia (1995-2002) dan mendengarkan kajian ilmiah Filsafat Jawa Franz Magnis-Suseno, S.J. dengan nama lahir Maria Franz Ferdinand Graf von Magnis .

Ia dikenal sebagai Romo Magnis; lahir 26 Mei 1936, adalah seorang imam Katolik, filsuf, pengajar filsafat dan juga penulis. Magnis merupakan anggota Serikat Yesus. Ia mulai berkarya di Indonesia sejak 1961 sebagai seorang misionaris. Penulis juga mendengarkan kajian ilmiah Filsafat Jawa pada Pupuh Jawa pada sebuah radio swasta di Jakarta oleh Prof. Dr. Damardjati Supadjar pada tahun 1999-2002

Prof. Dr. Damardjati Supadjar (30 Maret 1940 – 17 Februari 2014) adalah seorang ilmuwan dan guru besar di Universitas Gadjah Mada. Ia merupakan penasihat spiritual Kraton Kasultanan Yogyakarta. Ilmunya banyak dituangkan dalam tulisan-tulisan di berbagai media massa, dalam bentuk tafsir filsafat kejawen, ketuhanan dan Pancasila.

Damardjati juga sering diundang bicara dalam forum-forum seminar kebudayaan. Ia adalah pendiri Pusat Studi Pancasila UGM. Damardjati Supadjar merupakan peletak dasar filsafat Jawa yang berkembang sampai saat ini. Hingga akhir hayatnya, ia masih setia menulis sebagai bentuk pengabdian bagi umat manusia.

Pupuh merupakan warisan sastra lisan Nusantara berbentuk puisi tradisional yang terikat oleh aturan baku, seperti guru wilangan, guru lagu dan guru gatra. Lebih dari sekadar susunan kata berirama, seni suara ini merangkum nilai budaya luhur. Di dalamnya terkandung pandangan hidup mendalam yang mencerminkan makna filosofis masyarakat pemiliknya dalam menyikapi kehidupan duniawi.

Tradisi lisan ini berkembang luas di wilayah Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak. Keberadaan seni sastra di kelima wilayah ini memunculkan persamaan yang kuat, terutama pada struktur konvensi metrum dan watak tembang. Ikatan kultural masa lampau, khususnya pengaruh kerajaan besar, menjadi benang merah yang menyatukan estetika puitis antardaerah tersebut.

Namun, variasi geografis dan evolusi budaya lokal juga melahirkan perbedaan ekspresi yang unik pada tiap daerah. Perbedaan ini terlihat jelas pada karakter vokal, dialek penuturan, instrumen musik pengiring, hingga kedalaman makna spritualnya. Artikel ini akan mengulas tuntas bagaimana kelima entitas budaya tersebut merawat identitas puitis mereka masing-masing.

Makna Filosofis Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Pupuh atau seni tembang macapat merupakan salah satu warisan sastra lisan yang tersebar di wilayah Nusantara. Struktur puisi tradisional ini terikat oleh aturan (paugeran), seperti guru wilangan. guru lagu dan guru gatra.

Meskipun memiliki aturan struktur yang mirip akibat keterikatan sejarah, setiap daerah menyerap dan mengembangkannya dengan makna filosofis dan watak yang unik sesuai dengan pandangan hidup masyarakat setempat. Berikut adalah rincian makna filosofis dari variasi pupuh dan tembang di berbagai daerah:

Pupuh Sunda: Harmoni Watak Manusia

Dalam kebudayaan Sunda, pupuh diartikan sebagai puisi yang memadukan sastra dan lagu. Filosofi utama dari pupuh Sunda adalah refleksi emosi, rasa dan etika hidup (watek) yang membentuk keharmonisan psikologis manusia. Tradisi Sunda membagi 17 pupuh yang ada ke dalam dua kelompok besar berdasarkan struktur dan melodi lagunya:.

Varian Pupuh Sunda

Sekar Ageung (4 jenis), memiliki variasi melodi lagu yang kaya dan kompleks serta sering dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra utama.

  • Kinanti, menggambarkan perasaan menanti, kekhawatiran atau kasih sayang mendalam.

  • Sinom, menggambarkan rasa senang, kegembiraan atau keramahan.

  • Asmarandana, menggambarkan rasa cinta, birahi atau kesedihan akibat asmara.

  • Dangdanggula, menggambarkan keindahan, ketenteraman, keagungan dan kebahagiaan hidup.

Sekar Alit (13 jenis), hanya memiliki satu jenis melodi lagu baku yang cenderung lebih pendek dan lugas.

  • Balakbak, Durma, Gambuh, Gurisa, Jurudemung, Ladrang, Lambang, Magatru, Maskumambang, Mijil, Pangkur, Pucung dan Wirangrong.
  • Setiap jenis Sekar Alit mewakili satu emosi spesifik manusia, misalnya Pucung melambangkan rasa kesal/marah pada diri sendiri atau Wirangrong yang melambangkan rasa malu atas perilaku pribadi.

Macapat Jawa: Siklus Sangkan Paraning Dumadi

Dalam budaya Jawa, 11 metrum tembang macapat secara berurutan merupakan alegori perjalanan spiritual dan fase hidup manusia sejak berada di alam ruh, lahir ke dunia, hingga kembali menghadap Sang Pencipta (Sangkan Paraning Dumadi).

  • Maskumambang, menggambarkan fase janin yang masih mengambang di dalam rahim ibu (guwa garba). Berwatak sedih dan prihatin.
  • Mijil, fase kelahiran bayi ke dunia nyata. Melambangkan awal mula kehidupan baru dan kesucian.
  • Sinom, menggambarkan masa muda atau remaja yang mulai bersemi, mencari jati diri dan menuntut ilmu.
  • Kinanthi, masa ketika anak membutuhkan bimbingan, tuntunan dan teladan dari orang tua untuk berjalan di jalan yang benar.
  • Asmaradana, fase kedewasaan saat manusia mulai mengenal cinta, asmara dan gejolak nafsu cinta kasih.
  • Gambuh, melambangkan pernikahan dan komitmen hidup bersama dalam kecocokan, toleransi serta kebijaksanaan keluarga.
  • Dhandhanggula, menggambarkan puncak kesuksesan hidup, kemapanan fisik, materi serta manisnya buah dari perjuangan hidup.
  • Durma, fase ketika manusia harus mendarmakan harta dan jiwanya melalui kegiatan sosial atau kemanusiaan, sekaligus pengendalian diri dari amarah.
  • Pangkur, singkatan dari mungkur (mundur/meninggalkan), melambangkan usia senja saat manusia mulai menarik diri dari keduniawian (uzlah).
  • Megatruh, fase kematian, yakni putusnya (pegatnya) ruh dari raga jasmani manusia.
  • Pucung, fase akhir ketika jasad manusia dibungkus kain kafan (pocong) dan siap dikebumikan, melambangkan kebebasan jiwa kembali ke asal.

Pupuh Madura: Ekspresi Ketegasan dan Nilai Moral

Tradisi pupuh di Madura (sering disebut Maca Pat) diserap dari kebudayaan Jawa namun disesuaikan dengan karakteristik sosiologis masyarakat Madura yang ekspresif, tegas dan religius.

  • Makna filosofis pupuh Madura condong pada transmisi nilai moral praktis (tatakrama), pendidikan syariat Islam serta penghormatan kepada orang tua dan leluhur.
  • Metrum-metrum seperti Pangkur atau Durma dibawakan dengan cengkok suara yang tinggi dan tegas, mencerminkan watak masyarakat Madura yang berani, memegang teguh harga diri (martabat), namun tetap tunduk pada aturan agama dan nasihat tetua.

Pupuh Bali: Penegakan Jalan Dharma

Masyarakat Bali menggolongkan pupuh ke dalam Sekar Alit atau Macepat yang digunakan untuk menyusun Geguritan (puisi naratif). Makna filosofis pupuh Bali berakar kuat pada nilai-nilai Agama Hindu dan konsep keseimbangan dunia (Rwa Bhineda) serta digunakan sebagai media untuk merenungi spiritualitas dan penegakan kebaikan (Dharma).

  • Setiap metrum seperti Pupuh Pucung, Sinom dan Semarandana digunakan bukan sekadar menyanyikan bait cerita, melainkan menuntun jiwa pembacanya agar pandai menggunakan akal budi demi kesucian diri.
  • Contohnya pada Pupuh Pucung, diselipkan pesan filosofis bahwa hidup adalah proses membersihkan diri (mandi suci) dengan kedisiplinan ilmu pengetahuan dan keteguhan iman agar bisa menyatu kembali dengan asal mula kehidupan (Purwaning Dumadi).

Tembang Sasak Lombok: Jalan Spiritual Tarekat dan Tasawuf

Di Lombok, tembang Sasak diadopsi menjadi bagian penting dari tradisi tulisan di atas daun lontar (Takepan) dan dibacakan dalam ritual Pepaosan. Makna filosofis tembang Sasak sangat kental dengan dimensi tasawuf Islam dan ajaran tarekat.

  • Tembang digunakan sebagai metafora pengalaman batiniah seorang hamba untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Syair-syairnya menggunakan simbol alam, buah dan hewan untuk menggambarkan sifat zuhud, tobat, kemiskinan spiritual (faqr), kesabaran serta kerinduan ilahi.
  • Melalui gaya metrum seperti Asmarandana, para wali Sasak zaman dahulu menyampaikan dakwah Islam dengan menuntun umat agar lurus jiwanya (filosofi kata Lombok/Lumbu' yang berarti lurus atau as-Shirath al-Mustaqim).

Persamaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Tembang Sunda Cianjuran. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Arif Budiman, M.Sn)
Tembang Sunda Cianjuran. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Arif Budiman, M.Sn)

Persamaan tradisi pupuh di berbagai daerah Indonesia mencerminkan akar budaya Nusantara yang saling bertautan erat. Seni sastra lisan ini mengikat tradisi Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak dalam satu sistem struktural puitis yang serupa. Fenomena budaya ini membuktikan adanya asimilasi historis, terutama melalui pengaruh kekuasaan kerajaan masa lampau yang menyebarkan pengaruh sastra lintas pulau.

Setiap daerah menerapkan aturan baku yang sama dalam penulisan pupuh, yaitu guru wilangan. guru lagu dan guru gatra. Pengertiannya sebagai berikut:

  • guru wilangan, mengatur jumlah suku kata (wanda atau kecap) dalam setiap satu baris secara konsisten.

  • guru lagu, menentukan jatuhnya tempo suara vokal (a, i, u, e, o) pada suku kata terakhir di setiap baris atau kalimat.

  • guru gatra, jumlah baris atau larik (gatra) dalam setiap bait (pada). 

Aturan ketat ini menjaga ritme dan estetika teks saat dilantunkan dalam berbagai bahasa daerah. Selain struktur formal, rumpun pupuh ini berbagi kesamaan mendasar dalam metode pelantunan dan pembagian watak karakter tembang. Di seluruh wilayah tersebut, pupuh dinyanyikan menggunakan teknik vokal tradisional seperti macapat atau maca. Setiap jenis pupuh juga membawa muatan emosi serupa, mulai dari kesedihan, petuah bijak hingga nuansa humor yang mendalam.

Pupuh Sunda dan Jawa memiliki akar sejarah yang sangat erat, namun keduanya berkembang dengan karakter yang berbeda. Pupuh Sunda cenderung mengekspresikan watak yang lebih ceria, romantis dan dinamis, mencerminkan sifat masyarakat Sunda yang riang. Sebaliknya, pupuh Jawa sering kali tampil lebih sakral, filosofis dan meditatif dengan tembang yang sarat makna spiritual tinggi.

Pupuh Madura dan Bali menyerap pengaruh Jawa kuno tetapi melahirkannya kembali dalam nuansa budaya lokal yang unik. Pupuh Madura dikenal lewat penekanan vokal yang tegas dan cengkok yang lebih ekspresif serta spontan. Sementara itu, pupuh Bali sangat terikat dengan upacara keagamaan Hindu, di mana pelantunannya berpadu indah bersama iringan gamelan tradisional.

Pupuh Sasak yang berkembang di Pulau Lombok menampilkan adaptasi sastra yang kaya akan nilai moral dan historis Islam. Meskipun aturan metrumnya mirip dengan pupuh Jawa, cengkok vokal Sasak memiliki melodi meliuk yang khas khas pesisir. Perbedaan estetika di kelima daerah ini membuktikan kekayaan seni sastra Nusantara yang tiada banding.

Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak memiliki perbedaan mendasar pada sistem aturan, bahasa dan cengkok lagu yang digunakan. Meskipun sama-sama terikat aturan guru lagu (jatuhnya vokal akhir) dan guru wilangan (jumlah suku kata), pembagian jenis pupuh di setiap daerah berbeda. Sastra Jawa mengenal 17 pupuh, sedangkan daerah lain menyesuaikannya dengan bahasa lokal.

Perbedaan paling mencolok terlihat pada karakter penyampaian dan instrumen pengiringnya. Pupuh Sunda cenderung melodis dengan iringan kecapi suling, sementara tembang macapat Jawa dan Madura terasa lebih sakral dengan iringan gamelan. Di Bali dan Sasak (Lombok), pupuh sering dibacakan dalam tradisi mabasan atau pepaosan menggunakan naskah lontar beraksara kuno.

Secara filosofis, perbedaan ini mencerminkan karakter budaya dan ekspresi emosional masyarakat setempat. Pupuh Sunda kaya akan nuansa kesedihan atau kegembiraan yang dinamis. Di sisi lain, pupuh di Bali dan Sasak lebih kental dengan nuansa ritual, nilai spiritual serta pelestarian sejarah kerajaan yang disampaikan secara turun-temurun melalui sastra tutur.

Pupuh Sunda

  1. Asmarandana
  2. Balakbak
  3. Dangdanggula
  4. Durma
  5. Gambuh
  6. Gurisa
  7. Jurudemung
  8. Kinanti
  9. Ladrang
  10. Lambang
  11. Magatru
  12. Maskumambang
  13. Mijil
  14. Pangkur
  15. Pucung
  16. Sinom
  17. Wirangrong

 Varian Pupuh Sunda 

  1. Anjasmara
  2. Banjaran
  3. Gantang
  4. Gondang
  5. Katumbiri
  6. Kawih Langen Sekar
  7. Kembang Kapas
  8. Kembang Ros
  9. Manda
  10. Pamapag
  11. Panglipur
  12. Pawitran
  13. Rajapanganten
  14. Salisir
  15. Sampak
  16. Sanghyang
  17. Sulanjana

Macapat Jawa

  1. Asmarandana
  2. Balabak
  3. Dhandhanggula
  4. Durma
  5. Gambuh
  6. Girisa
  7. Jurudhemung
  8. Kinanthi
  9. Lamba
  10. Marasila
  11. Maskumambang
  12. Megatruh
  13. Mijil
  14. Pangkur
  15. Pucung
  16. Sambang Dalu
  17. Sambang Rogo
  18. Sinom
  19. Tirtamulya
  20. Wargasari
  21. Wirama Duratma
  22. Wirangrong

Pupuh Madura          

  1. Asmarandana
  2. Dhandhanggula
  3. Durma
  4. Gambuh
  5. Kinanthi
  6. Maskumambang
  7. Megatruh
  8. Mijil
  9. Pangkur
  10. Pucung
  11. Sinom

Pupuh Bali     

  1. Asmarandana
  2. Balakbak
  3. Bapang
  4. Basanta
  5. Dandang Gula
  6. Duracaraka
  7. Duratma
  8. Durma
  9. Gambuh
  10. Geguritan Anyar
  11. Geronggang
  12. Ginada
  13. Juru Kaplong
  14. Jurudemung
  15. Kinanti
  16. Ladrang
  17. Lelagonan
  18. Maskumambang
  19. Megatruh
  20. Mijil
  21. Pangkur
  22. Prajapati
  23. Pucung
  24. Rajapati
  25. Semarandana
  26. Sinom
  27. Wirangrong

Tembang Sasak Lombok       

  1. Tembang Angguk
  2. Tembang Beleq
  3. Tembang Gula Ganti
  4. Tembang Jenaka (Lawak)
  5. Tembang Kasmaran
  6. Tembang Kidung
  7. Tembang Kidung Rejang
  8. Tembang Lingsar
  9. Tembang Mace
  10. Tembang Mirah
  11. Tembang Nandung
  12. Tembang Ngero
  13. Tembang Pepali
  14. Tembang Petuq
  15. Tembang Pewayangan
  16. Tembang Pupujian
  17. Tembang Rantok
  18. Tembang Sejati
  19. Tembang Seloka
  20. Tembang Wetu Telu

Tembang Sasak Lombok       

  1. Asmarandana
  2. Dangdang
  3. Durma
  4. Maskumambang
  5. Pangkur
  6. Sinom

Sebagai kesimpulan, meskipun memiliki akar historis yang serupa dalam tradisi sastra nusantara, pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak menunjukkan kekayaan ekspresi yang luar biasa unik. Perbedaan aturan metrum, pilihan bahasa serta cengkok vokal yang khas mencerminkan bagaimana setiap suku mampu mengadaptasi budaya luar secara kreatif sesuai identitas lokal mereka.

Memahami karakteristik masing-masing pupuh bukan sekadar mengenali perbedaan teknis dalam karya sastra tradisional belaka. Jauh di balik struktur bait dan lagunya, tersimpan falsafah hidup, nilai moral serta rekaman sejarah perjalanan masyarakat pendukungnya. Warisan luhur ini menjadi bukti nyata atas keagungan corak kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, upaya pelestarian seni pupuh lintas daerah ini harus terus digalakkan bagi generasi muda masa depan. Menjaga eksistensi tembang tradisional ini sama artinya dengan merawat kekayaan khazanah budaya nasional Indonesia agar tidak punah ditelan zaman. Mari terus mengapresiasi keindahan sastra lisan ini sebagai identitas pemersatu bangsa kita. (*)

Catatan: Jika ada kelemahan, kekurangan atau kesalahan pada artikel ini, maka dapat disampaikan pada kolom komentar. Terimakasih.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)