Berawal dari ketertarikan terhadap filsafat Jawa dan Sunda di dalam lingkungan keluarga, kemudian beberapa kali mengikuti seminar hasil penelitian ilmiah, khususnya Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia (1995-2002) dan mendengarkan kajian ilmiah Filsafat Jawa Franz Magnis-Suseno, S.J. dengan nama lahir Maria Franz Ferdinand Graf von Magnis .
Ia dikenal sebagai Romo Magnis; lahir 26 Mei 1936, adalah seorang imam Katolik, filsuf, pengajar filsafat dan juga penulis. Magnis merupakan anggota Serikat Yesus. Ia mulai berkarya di Indonesia sejak 1961 sebagai seorang misionaris. Penulis juga mendengarkan kajian ilmiah Filsafat Jawa pada Pupuh Jawa pada sebuah radio swasta di Jakarta oleh Prof. Dr. Damardjati Supadjar pada tahun 1999-2002
Prof. Dr. Damardjati Supadjar (30 Maret 1940 – 17 Februari 2014) adalah seorang ilmuwan dan guru besar di Universitas Gadjah Mada. Ia merupakan penasihat spiritual Kraton Kasultanan Yogyakarta. Ilmunya banyak dituangkan dalam tulisan-tulisan di berbagai media massa, dalam bentuk tafsir filsafat kejawen, ketuhanan dan Pancasila.
Damardjati juga sering diundang bicara dalam forum-forum seminar kebudayaan. Ia adalah pendiri Pusat Studi Pancasila UGM. Damardjati Supadjar merupakan peletak dasar filsafat Jawa yang berkembang sampai saat ini. Hingga akhir hayatnya, ia masih setia menulis sebagai bentuk pengabdian bagi umat manusia.
Pupuh merupakan warisan sastra lisan Nusantara berbentuk puisi tradisional yang terikat oleh aturan baku, seperti guru wilangan, guru lagu dan guru gatra. Lebih dari sekadar susunan kata berirama, seni suara ini merangkum nilai budaya luhur. Di dalamnya terkandung pandangan hidup mendalam yang mencerminkan makna filosofis masyarakat pemiliknya dalam menyikapi kehidupan duniawi.
Tradisi lisan ini berkembang luas di wilayah Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak. Keberadaan seni sastra di kelima wilayah ini memunculkan persamaan yang kuat, terutama pada struktur konvensi metrum dan watak tembang. Ikatan kultural masa lampau, khususnya pengaruh kerajaan besar, menjadi benang merah yang menyatukan estetika puitis antardaerah tersebut.
Namun, variasi geografis dan evolusi budaya lokal juga melahirkan perbedaan ekspresi yang unik pada tiap daerah. Perbedaan ini terlihat jelas pada karakter vokal, dialek penuturan, instrumen musik pengiring, hingga kedalaman makna spritualnya. Artikel ini akan mengulas tuntas bagaimana kelima entitas budaya tersebut merawat identitas puitis mereka masing-masing.
Makna Filosofis Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak
Pupuh atau seni tembang macapat merupakan salah satu warisan sastra lisan yang tersebar di wilayah Nusantara. Struktur puisi tradisional ini terikat oleh aturan (paugeran), seperti guru wilangan. guru lagu dan guru gatra.
Meskipun memiliki aturan struktur yang mirip akibat keterikatan sejarah, setiap daerah menyerap dan mengembangkannya dengan makna filosofis dan watak yang unik sesuai dengan pandangan hidup masyarakat setempat. Berikut adalah rincian makna filosofis dari variasi pupuh dan tembang di berbagai daerah:
Pupuh Sunda: Harmoni Watak Manusia
Dalam kebudayaan Sunda, pupuh diartikan sebagai puisi yang memadukan sastra dan lagu. Filosofi utama dari pupuh Sunda adalah refleksi emosi, rasa dan etika hidup (watek) yang membentuk keharmonisan psikologis manusia. Tradisi Sunda membagi 17 pupuh yang ada ke dalam dua kelompok besar berdasarkan struktur dan melodi lagunya:.
Varian Pupuh Sunda
Sekar Ageung (4 jenis), memiliki variasi melodi lagu yang kaya dan kompleks serta sering dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra utama.
Kinanti, menggambarkan perasaan menanti, kekhawatiran atau kasih sayang mendalam.
Sinom, menggambarkan rasa senang, kegembiraan atau keramahan.
Asmarandana, menggambarkan rasa cinta, birahi atau kesedihan akibat asmara.
Dangdanggula, menggambarkan keindahan, ketenteraman, keagungan dan kebahagiaan hidup.
Sekar Alit (13 jenis), hanya memiliki satu jenis melodi lagu baku yang cenderung lebih pendek dan lugas.
- Balakbak, Durma, Gambuh, Gurisa, Jurudemung, Ladrang, Lambang, Magatru, Maskumambang, Mijil, Pangkur, Pucung dan Wirangrong.
- Setiap jenis Sekar Alit mewakili satu emosi spesifik manusia, misalnya Pucung melambangkan rasa kesal/marah pada diri sendiri atau Wirangrong yang melambangkan rasa malu atas perilaku pribadi.
Macapat Jawa: Siklus Sangkan Paraning Dumadi
Dalam budaya Jawa, 11 metrum tembang macapat secara berurutan merupakan alegori perjalanan spiritual dan fase hidup manusia sejak berada di alam ruh, lahir ke dunia, hingga kembali menghadap Sang Pencipta (Sangkan Paraning Dumadi).
- Maskumambang, menggambarkan fase janin yang masih mengambang di dalam rahim ibu (guwa garba). Berwatak sedih dan prihatin.
- Mijil, fase kelahiran bayi ke dunia nyata. Melambangkan awal mula kehidupan baru dan kesucian.
- Sinom, menggambarkan masa muda atau remaja yang mulai bersemi, mencari jati diri dan menuntut ilmu.
- Kinanthi, masa ketika anak membutuhkan bimbingan, tuntunan dan teladan dari orang tua untuk berjalan di jalan yang benar.
- Asmaradana, fase kedewasaan saat manusia mulai mengenal cinta, asmara dan gejolak nafsu cinta kasih.
- Gambuh, melambangkan pernikahan dan komitmen hidup bersama dalam kecocokan, toleransi serta kebijaksanaan keluarga.
- Dhandhanggula, menggambarkan puncak kesuksesan hidup, kemapanan fisik, materi serta manisnya buah dari perjuangan hidup.
- Durma, fase ketika manusia harus mendarmakan harta dan jiwanya melalui kegiatan sosial atau kemanusiaan, sekaligus pengendalian diri dari amarah.
- Pangkur, singkatan dari mungkur (mundur/meninggalkan), melambangkan usia senja saat manusia mulai menarik diri dari keduniawian (uzlah).
- Megatruh, fase kematian, yakni putusnya (pegatnya) ruh dari raga jasmani manusia.
- Pucung, fase akhir ketika jasad manusia dibungkus kain kafan (pocong) dan siap dikebumikan, melambangkan kebebasan jiwa kembali ke asal.
Pupuh Madura: Ekspresi Ketegasan dan Nilai Moral
Tradisi pupuh di Madura (sering disebut Maca Pat) diserap dari kebudayaan Jawa namun disesuaikan dengan karakteristik sosiologis masyarakat Madura yang ekspresif, tegas dan religius.
- Makna filosofis pupuh Madura condong pada transmisi nilai moral praktis (tatakrama), pendidikan syariat Islam serta penghormatan kepada orang tua dan leluhur.
- Metrum-metrum seperti Pangkur atau Durma dibawakan dengan cengkok suara yang tinggi dan tegas, mencerminkan watak masyarakat Madura yang berani, memegang teguh harga diri (martabat), namun tetap tunduk pada aturan agama dan nasihat tetua.
Pupuh Bali: Penegakan Jalan Dharma
Masyarakat Bali menggolongkan pupuh ke dalam Sekar Alit atau Macepat yang digunakan untuk menyusun Geguritan (puisi naratif). Makna filosofis pupuh Bali berakar kuat pada nilai-nilai Agama Hindu dan konsep keseimbangan dunia (Rwa Bhineda) serta digunakan sebagai media untuk merenungi spiritualitas dan penegakan kebaikan (Dharma).
- Setiap metrum seperti Pupuh Pucung, Sinom dan Semarandana digunakan bukan sekadar menyanyikan bait cerita, melainkan menuntun jiwa pembacanya agar pandai menggunakan akal budi demi kesucian diri.
- Contohnya pada Pupuh Pucung, diselipkan pesan filosofis bahwa hidup adalah proses membersihkan diri (mandi suci) dengan kedisiplinan ilmu pengetahuan dan keteguhan iman agar bisa menyatu kembali dengan asal mula kehidupan (Purwaning Dumadi).
Tembang Sasak Lombok: Jalan Spiritual Tarekat dan Tasawuf
Di Lombok, tembang Sasak diadopsi menjadi bagian penting dari tradisi tulisan di atas daun lontar (Takepan) dan dibacakan dalam ritual Pepaosan. Makna filosofis tembang Sasak sangat kental dengan dimensi tasawuf Islam dan ajaran tarekat.
- Tembang digunakan sebagai metafora pengalaman batiniah seorang hamba untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Syair-syairnya menggunakan simbol alam, buah dan hewan untuk menggambarkan sifat zuhud, tobat, kemiskinan spiritual (faqr), kesabaran serta kerinduan ilahi.
- Melalui gaya metrum seperti Asmarandana, para wali Sasak zaman dahulu menyampaikan dakwah Islam dengan menuntun umat agar lurus jiwanya (filosofi kata Lombok/Lumbu' yang berarti lurus atau as-Shirath al-Mustaqim).
Persamaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Persamaan tradisi pupuh di berbagai daerah Indonesia mencerminkan akar budaya Nusantara yang saling bertautan erat. Seni sastra lisan ini mengikat tradisi Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak dalam satu sistem struktural puitis yang serupa. Fenomena budaya ini membuktikan adanya asimilasi historis, terutama melalui pengaruh kekuasaan kerajaan masa lampau yang menyebarkan pengaruh sastra lintas pulau.
Setiap daerah menerapkan aturan baku yang sama dalam penulisan pupuh, yaitu guru wilangan. guru lagu dan guru gatra. Pengertiannya sebagai berikut:
guru wilangan, mengatur jumlah suku kata (wanda atau kecap) dalam setiap satu baris secara konsisten.
guru lagu, menentukan jatuhnya tempo suara vokal (a, i, u, e, o) pada suku kata terakhir di setiap baris atau kalimat.
guru gatra, jumlah baris atau larik (gatra) dalam setiap bait (pada).
Aturan ketat ini menjaga ritme dan estetika teks saat dilantunkan dalam berbagai bahasa daerah. Selain struktur formal, rumpun pupuh ini berbagi kesamaan mendasar dalam metode pelantunan dan pembagian watak karakter tembang. Di seluruh wilayah tersebut, pupuh dinyanyikan menggunakan teknik vokal tradisional seperti macapat atau maca. Setiap jenis pupuh juga membawa muatan emosi serupa, mulai dari kesedihan, petuah bijak hingga nuansa humor yang mendalam.
Pupuh Sunda dan Jawa memiliki akar sejarah yang sangat erat, namun keduanya berkembang dengan karakter yang berbeda. Pupuh Sunda cenderung mengekspresikan watak yang lebih ceria, romantis dan dinamis, mencerminkan sifat masyarakat Sunda yang riang. Sebaliknya, pupuh Jawa sering kali tampil lebih sakral, filosofis dan meditatif dengan tembang yang sarat makna spiritual tinggi.
Pupuh Madura dan Bali menyerap pengaruh Jawa kuno tetapi melahirkannya kembali dalam nuansa budaya lokal yang unik. Pupuh Madura dikenal lewat penekanan vokal yang tegas dan cengkok yang lebih ekspresif serta spontan. Sementara itu, pupuh Bali sangat terikat dengan upacara keagamaan Hindu, di mana pelantunannya berpadu indah bersama iringan gamelan tradisional.
Pupuh Sasak yang berkembang di Pulau Lombok menampilkan adaptasi sastra yang kaya akan nilai moral dan historis Islam. Meskipun aturan metrumnya mirip dengan pupuh Jawa, cengkok vokal Sasak memiliki melodi meliuk yang khas khas pesisir. Perbedaan estetika di kelima daerah ini membuktikan kekayaan seni sastra Nusantara yang tiada banding.
Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak
Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak memiliki perbedaan mendasar pada sistem aturan, bahasa dan cengkok lagu yang digunakan. Meskipun sama-sama terikat aturan guru lagu (jatuhnya vokal akhir) dan guru wilangan (jumlah suku kata), pembagian jenis pupuh di setiap daerah berbeda. Sastra Jawa mengenal 17 pupuh, sedangkan daerah lain menyesuaikannya dengan bahasa lokal.
Perbedaan paling mencolok terlihat pada karakter penyampaian dan instrumen pengiringnya. Pupuh Sunda cenderung melodis dengan iringan kecapi suling, sementara tembang macapat Jawa dan Madura terasa lebih sakral dengan iringan gamelan. Di Bali dan Sasak (Lombok), pupuh sering dibacakan dalam tradisi mabasan atau pepaosan menggunakan naskah lontar beraksara kuno.
Secara filosofis, perbedaan ini mencerminkan karakter budaya dan ekspresi emosional masyarakat setempat. Pupuh Sunda kaya akan nuansa kesedihan atau kegembiraan yang dinamis. Di sisi lain, pupuh di Bali dan Sasak lebih kental dengan nuansa ritual, nilai spiritual serta pelestarian sejarah kerajaan yang disampaikan secara turun-temurun melalui sastra tutur.
Pupuh Sunda
- Asmarandana
- Balakbak
- Dangdanggula
- Durma
- Gambuh
- Gurisa
- Jurudemung
- Kinanti
- Ladrang
- Lambang
- Magatru
- Maskumambang
- Mijil
- Pangkur
- Pucung
- Sinom
- Wirangrong
Varian Pupuh Sunda
- Anjasmara
- Banjaran
- Gantang
- Gondang
- Katumbiri
- Kawih Langen Sekar
- Kembang Kapas
- Kembang Ros
- Manda
- Pamapag
- Panglipur
- Pawitran
- Rajapanganten
- Salisir
- Sampak
- Sanghyang
- Sulanjana
Macapat Jawa
- Asmarandana
- Balabak
- Dhandhanggula
- Durma
- Gambuh
- Girisa
- Jurudhemung
- Kinanthi
- Lamba
- Marasila
- Maskumambang
- Megatruh
- Mijil
- Pangkur
- Pucung
- Sambang Dalu
- Sambang Rogo
- Sinom
- Tirtamulya
- Wargasari
- Wirama Duratma
- Wirangrong
Pupuh Madura
- Asmarandana
- Dhandhanggula
- Durma
- Gambuh
- Kinanthi
- Maskumambang
- Megatruh
- Mijil
- Pangkur
- Pucung
- Sinom
Pupuh Bali
- Asmarandana
- Balakbak
- Bapang
- Basanta
- Dandang Gula
- Duracaraka
- Duratma
- Durma
- Gambuh
- Geguritan Anyar
- Geronggang
- Ginada
- Juru Kaplong
- Jurudemung
- Kinanti
- Ladrang
- Lelagonan
- Maskumambang
- Megatruh
- Mijil
- Pangkur
- Prajapati
- Pucung
- Rajapati
- Semarandana
- Sinom
- Wirangrong
Tembang Sasak Lombok
- Tembang Angguk
- Tembang Beleq
- Tembang Gula Ganti
- Tembang Jenaka (Lawak)
- Tembang Kasmaran
- Tembang Kidung
- Tembang Kidung Rejang
- Tembang Lingsar
- Tembang Mace
- Tembang Mirah
- Tembang Nandung
- Tembang Ngero
- Tembang Pepali
- Tembang Petuq
- Tembang Pewayangan
- Tembang Pupujian
- Tembang Rantok
- Tembang Sejati
- Tembang Seloka
- Tembang Wetu Telu
Tembang Sasak Lombok
- Asmarandana
- Dangdang
- Durma
- Maskumambang
- Pangkur
- Sinom
Sebagai kesimpulan, meskipun memiliki akar historis yang serupa dalam tradisi sastra nusantara, pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak menunjukkan kekayaan ekspresi yang luar biasa unik. Perbedaan aturan metrum, pilihan bahasa serta cengkok vokal yang khas mencerminkan bagaimana setiap suku mampu mengadaptasi budaya luar secara kreatif sesuai identitas lokal mereka.
Memahami karakteristik masing-masing pupuh bukan sekadar mengenali perbedaan teknis dalam karya sastra tradisional belaka. Jauh di balik struktur bait dan lagunya, tersimpan falsafah hidup, nilai moral serta rekaman sejarah perjalanan masyarakat pendukungnya. Warisan luhur ini menjadi bukti nyata atas keagungan corak kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, upaya pelestarian seni pupuh lintas daerah ini harus terus digalakkan bagi generasi muda masa depan. Menjaga eksistensi tembang tradisional ini sama artinya dengan merawat kekayaan khazanah budaya nasional Indonesia agar tidak punah ditelan zaman. Mari terus mengapresiasi keindahan sastra lisan ini sebagai identitas pemersatu bangsa kita. (*)
Catatan: Jika ada kelemahan, kekurangan atau kesalahan pada artikel ini, maka dapat disampaikan pada kolom komentar. Terimakasih.