Kota Bandung sedang berbenah menghadapi banjir dan genangan. Pembenahan drainase dilakukan di sejumlah wilayah. Pembangunan kolam retensi, rumah pompa dan sumur imbuhan juga terus dilakukan.
Namun, pembenahan drainase tidak cukup hanya dengan membangun saluran baru. Kota yang semakin padat membutuhkan sistem pengendalian air yang lebih terpadu.
Terutama di kawasan yang memiliki kontur rendah. Kawasan seperti ini lebih mudah menjadi tempat berkumpulnya limpasan air hujan.
Drainase Tidak Cukup
Drainase tetap menjadi infrastruktur penting. Saluran yang dangkal, menyempit atau tersumbat tentu akan menghambat aliran air.
Normalisasi saluran juga terus dilakukan Pemkot Bandung. Pada 2026, pembenahan drainase dilakukan di sejumlah kawasan. Pekerjaan tersebut mencakup pengerukan sedimentasi dan perbaikan saluran.
Namun, banjir perkotaan tidak selalu selesai hanya dengan memperbaiki drainase. Hujan dengan intensitas tinggi dapat menghasilkan limpasan dalam jumlah besar. Air membutuhkan tempat untuk ditahan sementara. Di sinilah kolam retensi dan sistem pompanisasi menjadi penting.
Eksistensi 16 Kolam Retensi
Kota Bandung tidak memulai dari nol. Hingga 2026, sedikitnya terdapat 16 kolam retensi di berbagai wilayah. Kolam retensi berfungsi menampung air sementara. Tujuannya mengurangi beban saluran dan sungai saat hujan deras.
Salah satu contohnya adalah Kolam Retensi Pasar Gedebage. Kolam ini memiliki luas sekitar 1.749 meter persegi. Kapasitas tampungnya sekitar 7.515 meter kubik. Kolam tersebut juga dilengkapi dua pompa. Total kapasitasnya mencapai 300 liter per detik.
Data ini menunjukkan bahwa kolam retensi dan pompa sudah menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir Bandung.Tantangannya sekarang adalah memastikan seluruh sistem tersebut bekerja secara terpadu.
Fungsi utamanya adalah menampung air saat hujan deras. Karena itu, kapasitasnya harus dijaga. Pendangkalan harus dicegah. Sampah juga harus dibersihkan secara rutin. Perubahan fungsi lahan di sekitar kolam harus diawasi. Jangan sampai ruang yang seharusnya menahan air justru kehilangan fungsinya.
Lokasi kolam juga harus ditentukan berdasarkan kajian topografi dan hidrologi. Air mesti bisa mengalir menuju kolam secara efektif. Setelah kondisi memungkinkan, air dapat dialirkan kembali melalui saluran atau pompa. Dengan demikian, kolam retensi merupakan bagian dari jaringan pengendalian air kota.
Pompa Saat Air Menggenang
Ada kawasan yang tidak mudah mengalirkan air secara gravitasi. Kondisi ini banyak ditemukan pada kawasan rendah atau berbentuk cekungan. Pompa diperlukan untuk memindahkan air ke saluran atau sungai.
Pompa banjir dapat ditempatkan di rumah pompa permanen. Pemkot juga perlu menyiapkan pompa mobile untuk keadaan darurat. Namun, kapasitas pompa tidak boleh ditentukan secara sembarangan.
Perhitungannya harus berdasarkan luas daerah layanan. Intensitas hujan juga harus diperhitungkan. Begitu pula dengan elevasi, debit limpasan dan kapasitas saluran. Pemilihan jenis pompa juga harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pompa aksial dapat digunakan untuk kondisi tertentu. Terutama ketika dibutuhkan pemindahan air dalam volume besar dengan tekanan relatif rendah.
Jadi, bukan sekadar memasang pompa dengan kapasitas besar. Pompa mobile diperlukan untuk menghadapi kondisi darurat. Peralatan ini dapat dipindahkan ke lokasi yang mengalami genangan. Misalnya jalan utama, permukiman dan kawasan perdagangan.
Namun, pompa mobile bukan pengganti infrastruktur permanen. Pompa mobile merupakan bagian dari sistem tanggap darurat. Pemkot perlu memiliki peta lokasi rawan genangan. Lokasi pompa mobile juga harus sudah ditentukan sebelumnya. Dengan begitu, petugas tidak perlu mencari lokasi saat banjir sudah terjadi.
Data Menentukan Lokasi
Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat. Sistem Informasi Geografis atau SIG dapat membantu melihat kondisi tersebut.
Data kontur tanah sangat penting. Begitu pula data tutupan lahan dan jaringan drainase. Titik genangan lama juga harus dimasukkan ke dalam peta.
Data curah hujan dan kondisi sungai juga perlu diperbarui secara berkala. Dengan data tersebut, pemerintah dapat menentukan lokasi kolam retensi dan rumah pompa secara lebih tepat. Bahkan sistem peringatan dini dapat dikembangkan. Data curah hujan dapat dihubungkan dengan tinggi muka air dan kondisi saluran. Dengan demikian, potensi genangan dapat diketahui lebih cepat.
Jangan Lupakan Sampah
Ada persoalan lain yang sering memperparah banjir. Masalah itu adalah sampah. Pada April 2026, Pemkot Bandung menyebut sampah yang menyumbat sungai dan saluran menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir.
Dalam satu hari, petugas bahkan mengangkut hampir 300 meter kubik sampah dari sungai. Fakta tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur yang baik tetap membutuhkan pemeliharaan. Drainase yang baru dibangun tidak akan maksimal jika dipenuhi sampah. Karena itu, normalisasi saluran harus berjalan bersama pengendalian sampah. Pembersihan rutin juga harus menjadi agenda tetap.
Pembangunan drainase merupakan langkah penting. Tetapi drainase hanya satu bagian dari sistem. Sebagian air hujan perlu diresapkan. Sebagian lainnya harus dipompa menuju badan air penerima.
Karena itu, drainase perlu terhubung dengan kolam retensi. Sistem pompa juga harus terintegrasi. Begitu pula dengan sumur imbuhan dan ruang terbuka hijau.
Perkembangan 2026 menunjukkan arah tersebut mulai dibangun. Pemkot Bandung terus melakukan normalisasi drainase. Kolam retensi dan infrastruktur pompa juga dikembangkan. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan semuanya bekerja sebagai satu sistem.
Bandung tidak cukup hanya memiliki drainase baru. Bandung membutuhkan sistem pengendalian air yang bekerja ketika hujan datang. Sebab, banjir bukan hanya persoalan banyaknya air yang turun dari langit.
Banjir juga merupakan persoalan bagaimana sebuah kota mengelola air setelah menyentuh tanah. (TS)