Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

4 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)

Kota Bandung sedang berbenah menghadapi banjir dan genangan. Pembenahan drainase dilakukan di sejumlah wilayah. Pembangunan kolam retensi, rumah pompa dan sumur imbuhan juga terus dilakukan.

Namun, pembenahan drainase tidak cukup hanya dengan membangun saluran baru. Kota yang semakin padat membutuhkan sistem pengendalian air yang lebih terpadu.

Terutama di kawasan yang memiliki kontur rendah. Kawasan seperti ini lebih mudah menjadi tempat berkumpulnya limpasan air hujan.

Drainase Tidak Cukup

Drainase tetap menjadi infrastruktur penting. Saluran yang dangkal, menyempit atau tersumbat tentu akan menghambat aliran air.

Normalisasi saluran juga terus dilakukan Pemkot Bandung. Pada 2026, pembenahan drainase dilakukan di sejumlah kawasan. Pekerjaan tersebut mencakup pengerukan sedimentasi dan perbaikan saluran.

Namun, banjir perkotaan tidak selalu selesai hanya dengan memperbaiki drainase. Hujan dengan intensitas tinggi dapat menghasilkan limpasan dalam jumlah besar. Air membutuhkan tempat untuk ditahan sementara. Di sinilah kolam retensi dan sistem pompanisasi menjadi penting.

Eksistensi 16 Kolam Retensi

Kota Bandung tidak memulai dari nol. Hingga 2026, sedikitnya terdapat 16 kolam retensi di berbagai wilayah. Kolam retensi berfungsi menampung air sementara. Tujuannya mengurangi beban saluran dan sungai saat hujan deras.

Salah satu contohnya adalah Kolam Retensi Pasar Gedebage. Kolam ini memiliki luas sekitar 1.749 meter persegi. Kapasitas tampungnya sekitar 7.515 meter kubik. Kolam tersebut juga dilengkapi dua pompa. Total kapasitasnya mencapai 300 liter per detik.

Data ini menunjukkan bahwa kolam retensi dan pompa sudah menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir Bandung.Tantangannya sekarang adalah memastikan seluruh sistem tersebut bekerja secara terpadu.

Fungsi utamanya adalah menampung air saat hujan deras. Karena itu, kapasitasnya harus dijaga. Pendangkalan harus dicegah. Sampah juga harus dibersihkan secara rutin. Perubahan fungsi lahan di sekitar kolam harus diawasi. Jangan sampai ruang yang seharusnya menahan air justru kehilangan fungsinya.

Lokasi kolam juga harus ditentukan berdasarkan kajian topografi dan hidrologi. Air mesti  bisa mengalir menuju kolam secara efektif. Setelah kondisi memungkinkan, air dapat dialirkan kembali melalui saluran atau pompa.  Dengan demikian, kolam retensi merupakan bagian dari jaringan pengendalian air kota.

Pompa Saat Air Menggenang

Ada kawasan yang tidak mudah mengalirkan air secara gravitasi. Kondisi ini banyak ditemukan pada kawasan rendah atau berbentuk cekungan. Pompa diperlukan untuk memindahkan air ke saluran atau sungai.

Pompa banjir dapat ditempatkan di rumah pompa permanen. Pemkot juga perlu menyiapkan pompa mobile untuk keadaan darurat. Namun, kapasitas pompa tidak boleh ditentukan secara sembarangan.

Perhitungannya harus berdasarkan luas daerah layanan. Intensitas hujan juga harus diperhitungkan. Begitu pula dengan elevasi, debit limpasan dan kapasitas saluran. Pemilihan jenis pompa juga harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pompa aksial dapat digunakan untuk kondisi tertentu. Terutama ketika dibutuhkan pemindahan air dalam volume besar dengan tekanan relatif rendah.

Jadi, bukan sekadar memasang pompa dengan kapasitas besar. Pompa mobile diperlukan untuk menghadapi kondisi darurat. Peralatan ini dapat dipindahkan ke lokasi yang mengalami genangan. Misalnya jalan utama, permukiman dan kawasan perdagangan.

Namun, pompa mobile bukan pengganti infrastruktur permanen. Pompa mobile merupakan bagian dari sistem tanggap darurat. Pemkot perlu memiliki peta lokasi rawan genangan. Lokasi pompa mobile juga harus sudah ditentukan sebelumnya. Dengan begitu, petugas tidak perlu mencari lokasi saat banjir sudah terjadi.

Data Menentukan Lokasi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat. Sistem Informasi Geografis atau SIG dapat membantu melihat kondisi tersebut.

Data kontur tanah sangat penting. Begitu pula data tutupan lahan dan jaringan drainase. Titik genangan lama juga harus dimasukkan ke dalam peta.

Data curah hujan dan kondisi sungai juga perlu diperbarui secara berkala. Dengan data tersebut, pemerintah dapat menentukan lokasi kolam retensi dan rumah pompa secara lebih tepat. Bahkan sistem peringatan dini dapat dikembangkan. Data curah hujan dapat dihubungkan dengan tinggi muka air dan kondisi saluran. Dengan demikian, potensi genangan dapat diketahui lebih cepat.

Jangan Lupakan Sampah

Ada persoalan lain yang sering memperparah banjir. Masalah itu adalah sampah. Pada April 2026, Pemkot Bandung menyebut sampah yang menyumbat sungai dan saluran menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir.

Dalam satu hari, petugas bahkan mengangkut hampir 300 meter kubik sampah dari sungai. Fakta tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur yang baik tetap membutuhkan pemeliharaan. Drainase yang baru dibangun tidak akan maksimal jika dipenuhi sampah. Karena itu, normalisasi saluran harus berjalan bersama pengendalian sampah. Pembersihan rutin juga harus menjadi agenda tetap.

Pembangunan drainase merupakan langkah penting. Tetapi drainase hanya satu bagian dari sistem. Sebagian air hujan perlu diresapkan. Sebagian lainnya harus dipompa menuju badan air penerima.

Karena itu, drainase perlu terhubung dengan kolam retensi. Sistem pompa juga harus terintegrasi. Begitu pula dengan sumur imbuhan dan ruang terbuka hijau.

Perkembangan 2026 menunjukkan arah tersebut mulai dibangun. Pemkot Bandung terus melakukan normalisasi drainase. Kolam retensi dan infrastruktur pompa juga dikembangkan. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan semuanya bekerja sebagai satu sistem.

Bandung tidak cukup hanya memiliki drainase baru. Bandung membutuhkan sistem pengendalian air yang bekerja ketika hujan datang. Sebab, banjir bukan hanya persoalan banyaknya air yang turun dari langit.

Banjir juga merupakan persoalan bagaimana sebuah kota mengelola air setelah menyentuh tanah. (TS)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)