Street Spydrs: Merayakan Jejak Panjang Skateboard Bandung lewat Buku dan Pameran

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Buku karya Reka Nugara, Street Spydrs Empat Dekade Berseluncur, yang merekam perjalanan, dinamika, serta jejak Street Spydrs dalam perkembangan budaya skateboard dari masa ke masa. (Foto: Kin Sanubary)
Buku karya Reka Nugara, Street Spydrs Empat Dekade Berseluncur, yang merekam perjalanan, dinamika, serta jejak Street Spydrs dalam perkembangan budaya skateboard dari masa ke masa. (Foto: Kin Sanubary)

Empat dekade perjalanan Street Spydrs kembali dikenang melalui buku, diskusi, dan pameran yang mempertemukan para pelaku sejarah, sahabat, keluarga, serta generasi lintas zaman dalam satu ruang penuh nostalgia.

Jejak panjang perkembangan skateboard di Bandung kembali dirayakan melalui Street Spydrs, nama yang telah menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan skateboard dan subkultur anak muda di kota ini.

Komunitas yang dikenal sebagai salah satu pionir skateboard Indonesia tersebut kini hadir kembali melalui sebuah agenda yang memadukan peluncuran buku, diskusi, dan pameran. Bukan sekadar perayaan sebuah komunitas, kegiatan ini menjadi ruang untuk membuka kembali memori tentang perjalanan, persahabatan, kreativitas, dan semangat sebuah generasi yang tumbuh bersama skateboard.

Suasana hangat dan penuh kenangan terasa di Dendy Darman Studio, Jalan Kebon Bibit Tengah No. 11-B, Tamansari, Bandung, Sabtu sore, 26 September 2026. Para sahabat, senior, pelaku sejarah Street Spydrs, keluarga, serta para pencinta skateboard, sepatu roda, breakdance dan budaya anak muda era 1980–1990-an berkumpul.

Pertemuan tersebut bukan semata-mata untuk membicarakan sebuah buku. Lebih dari itu, menjadi kesempatan untuk kembali menghadirkan ingatan tentang Street Spydrs beserta berbagai kisah, pengalaman, persahabatan, dan kenangan yang menyertainya selama puluhan tahun.

Street Spydrs: Empat Dekade Berseluncur (1983–2023)

Acara bedah buku Street Spydrs: Empat Dekade Berseluncur, yang mengulas perjalanan komunitas dan budaya skateboard Street Spydrs selama empat dekade. (Foto: Kin Sanubary)
Acara bedah buku Street Spydrs: Empat Dekade Berseluncur, yang mengulas perjalanan komunitas dan budaya skateboard Street Spydrs selama empat dekade. (Foto: Kin Sanubary)

Salah satu bagian utama dari kegiatan tersebut adalah peluncuran buku Street Spydrs: Empat Dekade Berseluncur (1983–2023), karya Reka Nugraha.

Buku ini menjadi bagian penting dalam upaya mendokumentasikan perjalanan panjang Street Spydrs sekaligus merekam sebuah fragmen sejarah perkembangan skateboard di Bandung.

  • Penulis: Reka Nugraha
  • Advisory Board: Nala Rinaldo
  • Editor: Budi Warsito
  • Desain Sampul dan Tata Letak Isi: Fian Afandi
  • Pracetak dan Produksi: Golosor Club

Merekam Sebuah Perjalanan

Memori perjalanan Street Spydrs dari masa ke masa yang terangkum dalam berbagai dokumentasi dan arsip, menjadi bagian penting dari rekam jejak komunitas skateboard tersebut. (Foto: Kin Sanubary)
Memori perjalanan Street Spydrs dari masa ke masa yang terangkum dalam berbagai dokumentasi dan arsip, menjadi bagian penting dari rekam jejak komunitas skateboard tersebut. (Foto: Kin Sanubary)

Agenda ini tidak hanya menjadi momentum peluncuran buku, tetapi juga ruang untuk melihat kembali perjalanan Street Spydrs dan dinamika budaya skateboard yang tumbuh di Bandung.

Mendokumentasikan perjalanan sebuah komunitas menjadi penting karena di dalamnya tersimpan lebih dari sekadar catatan tentang olahraga atau aktivitas berseluncur. Ada cerita tentang generasi muda, ruang kota, pertemanan, kreativitas, keberanian berekspresi, serta perubahan zaman yang berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada sesi Book Talk, hadir sejumlah nama yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan dan perkembangan skena tersebut, yakni Reka Nugraha, Rudy Farid Sagir, dan Krishnamurti Suparka. Diskusi dipandu oleh Kiting sebagai moderator.

Percakapan yang berlangsung membuka beragam perspektif mengenai Street Spydrs. Skateboard tidak hanya dibicarakan sebagai aktivitas fisik atau olahraga, tetapi juga sebagai bagian dari kebudayaan anak muda yang tumbuh dari ruang-ruang kota dan kemudian membentuk komunitas dengan karakter serta identitasnya sendiri.

Dari Jalanan Menjadi Sejarah

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan skateboard dan budaya anak muda Bandung, Street Spydrs bukan sekadar nama sebuah komunitas.

Ia merupakan bagian dari ingatan kolektif tentang bagaimana skateboard tumbuh dan menemukan ruangnya di jalanan, taman, ruang publik, serta lingkungan pergaulan anak muda. Dari sana, lahir pertemanan, kreativitas, gaya hidup, dan sebuah kultur yang terus berkembang mengikuti zaman.

Empat dekade tentu bukan perjalanan yang singkat. Di dalamnya terdapat pergantian generasi, perubahan ruang kota, perubahan gaya, sekaligus perubahan cara anak muda berinteraksi dan mengekspresikan diri.

Karena itu, kehadiran buku dan pameran Street Spydrs memiliki arti lebih dari sekadar nostalgia. Dokumentasi semacam ini menjadi cara untuk menjaga potongan-potongan sejarah yang mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah arus utama, tetapi memiliki arti penting bagi perjalanan kebudayaan anak muda Indonesia.

Baca Juga: Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner

Menjaga Ingatan, Merawat Jejak

Selain peluncuran buku dan diskusi, pengunjung juga dapat menyaksikan pameran Street Spydrs yang menghadirkan berbagai jejak visual dan cerita perjalanan komunitas tersebut dari masa ke masa.

Foto, dokumentasi, memorabilia, serta berbagai artefak yang berkaitan dengan perjalanan Street Spydrs menjadi jendela untuk melihat kembali sebuah masa ketika skateboard tumbuh sebagai bagian dari denyut kehidupan anak muda Bandung.

Melalui buku, percakapan, dan pameran, Street Spydrs kembali membuka lembaran perjalanan panjangnya. Sebuah perjalanan yang tidak hanya berbicara tentang papan dan roda, tetapi juga tentang persahabatan, ruang kota, keberanian mencoba sesuatu yang berbeda, serta semangat sebuah generasi dalam menemukan identitasnya.

Pada akhirnya, merayakan Street Spydrs adalah merayakan ingatan tentang perjalanan skateboard Bandung.

Sebab sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam gedung, jalan, atau arsip resmi. Ia juga hidup dalam foto-foto lama, cerita para pelaku, tempat-tempat yang pernah menjadi ruang berkumpul, dan kenangan orang-orang yang pernah menjalaninya.

Street Spydrs adalah salah satu bagian dari cerita itu, jejak empat dekade yang terus bergerak, dari jalanan Bandung menuju catatan sejarah budaya anak muda Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 29 Sep 2026, 19:45

Street Spydrs: Merayakan Jejak Panjang Skateboard Bandung lewat Buku dan Pameran

Empat dekade perjalanan Street Spydrs kembali dikenang melalui buku, diskusi, dan pameran yang mempertemukan para pelaku sejarah, sahabat, keluarga, serta generasi lintas zaman dalam satu ruang penuh

Buku karya Reka Nugara, Street Spydrs Empat Dekade Berseluncur, yang merekam perjalanan, dinamika, serta jejak Street Spydrs dalam perkembangan budaya skateboard dari masa ke masa. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 18:18

Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner

Semarang bukan sekadar titik geografis di pesisir utara Jawa; ia adalah sebuah bejana peleburan budaya yang tercermin secara nyata dalam setiap sajian kulinernya.

Seorang penjual minuman keliling di Semarang sekitar tahun 1926 - 1932. (Sumber: collectienederland.nl)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:36

Apa Dampak Lingkungan Data Center untuk AI yang Kita Pakai Setiap Hari?

Chat AI terasa gratis, padahal ada biaya tersembunyi di data center berupa listrik dan jutaan liter air. Cari tahu siapa yang menanggungnya di sini

Ilustrasi data center modern yang beroperasi 24 jam dan membutuhkan listrik serta air dalam jumlah besar untuk pendinginan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:01

Eksistensi KWK Bandung dan Potensi Ruang Kreatif di Stasiun Whoosh

Keberadaan delapan KWK menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bandung dalam mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan daya tarik destinasi

Stand KWK Cibaduyut  di festiwal bertempat di Kiara Artha Park, Bandung (Foto: bandung.go.id)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 15:50

Kopi Torrefacto, Pilihan Menikmati Kopi ala Spanyol di Singapura, Malaysia dan Indonesia

Nikmati keunikan Kopi Torrefacto, racikan khas Spanyol dengan sentuhan karamel manis yang kini populer di Singapura, Malaysia, hingga Indonesia.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Beranda 29 Sep 2026, 15:27

Musim Hujan Segera Tiba, Drainase Kota Bandung Akan Menghadapi Ujian Sesungguhnya

Sanggupkah menelan limpahan air hujan atau wargi Kota Bandung seperti biasa akan mendorong kendaraannya yang mati mesin di tengah genangan?

Sejumlah pekerja melakukan perbaikan drainase di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 14:17

Menelusuri Kelezatan Hidangan Nonya: Simfoni Cita Rasa Peranakan Cina Melayu

Kuliner Nonya merupakan salah satu warisan budaya paling dinamis dan elegan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 10:30

Matur Suksma Mas Guruh...

Guruh Sukarno Putra atau Guruh SP adalah salah satu seniman bercita rasa Indonesia lewat karya-karyanya yang selalu diwarnai unsur-unsur etnis nusantara yang ikonik

Guruh Soekarnoputra, anak bungsu Soekarno, meninggal dunia di usia 73 tahun. Dikenal sebagai seniman dan politisi, ia meninggalkan warisan musik yang abadi. (Sumber: Instagram)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 08:44

Yang Masuk Kelas Bukan Cuma Anak, Melainkan Rumahnya

Membongkar fenomena anak yang masuk ke gerbang sekolah dengan seribu satu masalah dan beban, serta meng-highlight cara merespon pada masalah-masalah tersebut dan menawarkan solusi yang realistis.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:28

Pentingnya Perlindungan Hak-Hak Sosial bagi Anak Didik

Seyogianya anak didik tidak hanya menjadi objek pertanyaan. Anak didik bukan sekadar penerima pelajaran. Mereka harus tumbuh sebagai manusia. Dan hak-hak sosial anak didik harus dilindungi.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:06

Kopi Tiam dari Semenanjung Malaya ke Nusantara hingga ke Kota Bandung

Jelajahi kisah kopitiam, kedai kopi legendaris yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya ke Nusantara, hingga kini menjadi tempat nongkrong favorit dan bagian dari gaya hidup kuliner Kota Bandung.

Menu sarapan pagi di Warung Kopi Purnama: roti kukus sarikaya, telur rebus setengah matang dan kopi hitam (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:53

Pos Indonesia dan Perjuangan Menjemput Masa Depan

Setiap tanggal 27 September, insan pos dan telekomunikasi Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel.

PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:14

Bagaimana jika Kencan Pertama Kita Diawali dengan Rencana Menggulingkan Rezim

Bergumul dengan romantisme di tengah negara yang carut-marut rasanya ada yang kurang. Ada mereka yang perlu kita pinjam suaranya demi kesejahteraan bersama.

Memikirkan romantisme di tengah negara yang carut-marut  rasanya seperti kita menghilangkan empati. Kecuali jika kencan pertama kita diisi dengan rencana menggulingkan rezim (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 17:30

81 Tahun KAI: Asa KRL 2027 dan Lantai Gerbong yang Sesak

Di tengah perayaan Hari Kereta Api Nasional dan HUT ke-81, realitas yang saya dan ribuan pelaju lain hadapi setiap hari di jam kerja justru jauh dari kata nyaman.

Calon penumpang memasuki gerbong Kereta Kahuripan jurusan Kiaracondong-Blitar di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (31/5/2019). (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 15:15

Studio 512 Bandung: Apresiasi D'Renced untuk Rekaman

Suara-suara menjadi gelombang, menjadi getaran yang mengirimkan isyarat kepada otak sampai berteriak.

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)