Eksistensi KWK Bandung dan Potensi Ruang Kreatif di Stasiun Whoosh

5 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Stand KWK Cibaduyut  di festiwal bertempat di Kiara Artha Park, Bandung (Foto: bandung.go.id)
Stand KWK Cibaduyut di festiwal bertempat di Kiara Artha Park, Bandung (Foto: bandung.go.id)

Pameran produk dari Kawasan Wisata Kreatif di Kota Bandung perlu lebih sering diselenggarakan. Kalau perlu, setiap hari ada pameran di tempat-tempat yang strategis. Salah satunya adalah di stasiun kereta cepat Whoosh yang hingga kini memiliki ruang yang luas, namun masih banyak yang kosong sejak dibangun hingga kini.

Daripada setiap hari banyak ruang di stasiun Whoosh yang kondisinya kosong melompong, lebih baik dipakai untuk pameran produk industri kreatif dan kerajinan.

Apalagi saat ini Pemkot Bandung sedang memperkuat pengembangan sektor pariwisata berbasis potensi lokal melalui Kawasan Wisata Kreatif (KWK). Sebanyak delapan KWK di Kota Bandung diperkenalkan sebagai kawasan yang mengintegrasikan potensi wisata, ekonomi kreatif, seni budaya, sejarah, hingga produk unggulan masyarakat.

Delapan kawasan tersebut meliputi KWK Cigadung, KWK Braga, KWK Rajut Binong, KWK Terpadu Gedebage, KWK Literasi Cinambo, KWK Kawasan Tekstil Cigondewah, KWK Pasirkunci, serta KWK Cibaduyut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, mengatakan, pengembangan pariwisata tidak dapat menjadi tanggung jawab satu perangkat daerah saja.

Menurutnya, kemajuan destinasi wisata membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar berbagai aspek pendukung pariwisata dapat berjalan secara optimal.

Ia mencontohkan, pengembangan kawasan wisata sangat berkaitan dengan kondisi infrastruktur, penerangan jalan, pengelolaan taman, hingga kelancaran lalu lintas.

“Pariwisata di Kota Bandung ini tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Ini harus lintas OPD,” ujar Adi saat Festival Kawasan Wisata Kreatif di Kiara Artha Park Bandung, Minggu, 27 September 2026.

Menurut Adi, perhatian terhadap infrastruktur menjadi bagian penting dalam mendukung kawasan pariwisata. Jalan menuju kawasan wisata harus terpelihara, penerangan jalan memadai, ruang publik tertata, serta persoalan kemacetan dapat diminimalkan.

Keberadaan delapan KWK menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bandung dalam mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan daya tarik destinasi, tetapi juga mengangkat karakter dan potensi masyarakat di masing-masing kawasan.

Kolase foto Festival KWK di Kiara Artha Park, Bandung, 27 September 2027 (Foto: bsndung.go.id)
Kolase foto Festival KWK di Kiara Artha Park, Bandung, 27 September 2027 (Foto: bsndung.go.id)

Ruang Kreatif di Stasiun Whoosh

KWK Cigadung, misalnya, dikembangkan sebagai kawasan wisata kreatif dengan konsep pariwisata berbasis masyarakat serta seni dan budaya. Sementara Braga memiliki karakter kuat sebagai kawasan pusat seni, sejarah, dan cagar budaya di pusat Kota Bandung.

Adapun KWK Rajut Binong dikenal sebagai sentra industri kreatif dan produk rajut lokal di Binong Jati. KWK Terpadu Gedebage mengembangkan potensi kawasan secara terpadu, sedangkan KWK Literasi Cinambo mengangkat aktivitas dan potensi literasi masyarakat.

Potensi ekonomi kreatif juga terlihat di KWK Kawasan Tekstil Cigondewah yang dikenal dengan aktivitas perdagangan dan produk tekstil. Sementara KWK Pasirkunci berada di kawasan Ujungberung di kaki Gunung Manglayang dengan panorama alam serta potensi budaya lokal, termasuk kaulinan baheula.

Sementara itu, KWK Cibaduyut menjadi salah satu kawasan yang memiliki kekuatan pada produk tekstil dan industri kreatif yang telah berkembang di tengah masyarakat.

Pengembangan KWK juga tidak dapat dipisahkan dari kekayaan budaya yang tumbuh di setiap kawasan. Sejumlah kawasan memiliki produk unggulan seperti batik sekaligus menyimpan seni tradisi dan kebudayaan khas masyarakat setempat.

Pentingnya pengembangan pariwisata dan kebudayaan dapat berjalan beriringan sehingga setiap kawasan memiliki identitas yang semakin kuat dan menjadi daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan. Selain memberikan dampak terhadap ekonomi masyarakat, sektor pariwisata juga menjadi salah satu kontributor terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung.

Pengembangan KWK diharapkan tidak hanya menjadi etalase pariwisata Kota Bandung, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan produk kreatif, seni budaya, serta aktivitas ekonomi di kawasan masing-masing.

Penting bagi pelaku KWK diberi kesempatan untuk memanfaatkan ruang-ruang publik dan pusat keramaian sebagai sarana memperkenalkan potensi kawasan kepada masyarakat. Salah satunya adalah ruang publik dan ruang-ruang komersial di kawasan Stasiun Whoosh Tegalluar.

Daripada melompong, sebaiknya ruang kosong Stasiun Whoosh digunakan untuk pasar produk kriya Bandung. Bahkan juga produk kriya Jabar dan kalau memungkinkan seluruh Tanah Air.

Stasiun kereta cepat Whoosh dari Halim hingga Tegalluar Bandung semuanya adalah bangunan yang megah, luas, dan memakai konstruksi yang modern. Namun, sungguh disayangkan, sebagian ruang dalam stasiun masih terlihat kosong.

Penulis beberapa kali berkeliling di Stasiun Tegalluar. Terlihat banyak ruangan yang masih kosong melompong. Arsitektur Stasiun Tegalluar yang megah dan unik tampak semakin sepi, padahal letaknya strategis. Bahkan dekat dengan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Masjid Raya Al Jabbar, kawasan perumahan dan bisnis Summarecon, dan objek lainnya.

Terlihat di lantai dasar Stasiun Tegalluar sederet ruang yang belum terisi. Perlu inisiatif agar Stasiun Tegalluar bisa menjadi entitas bisnis dan kebudayaan. Termasuk industri kreatif dan aktivitas startup bagi generasi milenial dan Gen Z.

Jika hanya mengandalkan lalu-lalang penumpang Whoosh, maka stasiun lama-kelamaan akan mati suri. Seolah hanya seperti “halte” Whoosh saja.

Kolase foto kondisi stasiun Whoosh Tegalluar yang berpotensi untuk pameran dan bursa industri kreatif dan pariwisata (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Kolase foto kondisi stasiun Whoosh Tegalluar yang berpotensi untuk pameran dan bursa industri kreatif dan pariwisata (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Dekranasda sebagai Penggerak

Saatnya Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat memegang peran yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan ide pemanfaatan ruang kosong di Stasiun Whoosh Tegalluar, Summarecon, dan Karawang.

Sebagai lembaga yang menaungi para perajin kriya lokal, Dekranasda tidak hanya bertindak sebagai pencari ruang, tetapi juga sebagai kurator dan pembina usaha kriya. Dekranasda Jabar sendiri pada Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB) 2026 menghadirkan produk unggulan dari 27 kabupaten/kota yang telah melalui proses kurasi.

Pentingnya peran kurator kualitas produk dengan seleksi yang ketat. Karena stasiun Whoosh adalah gerbang premium yang diproyeksikan dilewati banyak penumpang, termasuk wisatawan mancanegara dan pebisnis.

Dekranasda berperan menyeleksi produk kerajinan mana yang memiliki standar kualitas tinggi, kemasan yang menarik, serta ukuran yang mudah dibawa masuk ke dalam kereta cepat. Misalnya home decor mini, kain batik, atau aksesori premium.

Perlu mengatur jadwal pameran agar produk yang dipajang selalu berganti secara berkala. Hal ini menjaga agar area pameran di stasiun tetap terasa segar dan menarik bagi penumpang yang sering bepergian (frequent travelers).

Perlu creative space atau showcase, karena konsepnya bukan sekadar membuat toko oleh-oleh biasa. Pentingnya Dekranasda merancang area tersebut menjadi Creative Space atau galeri interaktif.

Konsep ini juga sejalan dengan pendekatan PKJB 2026 yang tidak hanya menampilkan produk, tetapi menghadirkan Pinton Kriya atau demonstrasi proses pembuatan kerajinan yang dapat disaksikan dan diikuti pengunjung.

Misalnya, live workshop dengan mengadakan demonstrasi langsung seperti membatik atau mengukir di stasiun pada akhir pekan untuk menarik perhatian penumpang yang sedang menunggu jadwal keberangkatan kereta.

Dengan demikian, ruang kosong di stasiun tidak hanya menjadi ruang yang tidak terpakai. Tetapi dapat berubah menjadi ruang kreatif, ruang promosi, ruang transaksi, sekaligus pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan kriya Bandung dan Jawa Barat kepada penumpang Whoosh. (SRI)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)