Berkunjung ke suatu kota tidak lengkap jika tidak mencari kuliner atau cafe yang ramai dibicarakan banyak orang. Cianjur sering dikatakan sebagai kota santri karena ditandai dengan banyaknya pondok pesantren. Selain itu juga CIianjur dikenal sebagai kota tauco karena wilayah tersebut masuk ke dalam pusat industri dan penghasil bumbu masak fermentasi kacang yang sangat legendaris.
Di Cianjur terdapat salah satu tempat kuliner bernama Dapoer Pagi yang berlokasi di Jalan Otista II No.36, Pamoyanan, Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur. Untuk sampai ke tempat ini bisa menggunakan kendaraan pribadi, angkot khas Cianjur atau juga ojek online.
Pertama kali melihat bangunan Dapoer Pagi saya justru teringat dengan Bubur Dibawah Pohon Rindang (DPR). Secara konsep penataan makananan, celemek yang digunakan hingga konsep ruangan indoor dengan meja kayu dan outdoor dengan taman yang dinaungi oleh pohon yang rimbun.
Adapun perbedaannya terletak pada menu yang lebih beragam, selain bubur mandarin dengan toping ayam, udang dan saikoro. Dapoer pagi juga menyediakan bubur manis, dimsum, lontong, roti hingga berbagai macam minuman dengan nama yang unik. Selain itu juga ada beberapa sop iga dan beberapa gorengan yang menarik mata.
Saya beserta teman-teman memesan bubur mandarin saikoro, ayam, thai tea, teh krampul dan rocol. Tiga makanan dan tiga minum dijumlah menjadi Rp.121.000. Sambil menunggu pengunjung bisa memilih tempat duduk di depan yang berdekatan dengan jalan raya, semi indoor dan outdoor yang berada paling belakang bangunan ini. Kami memilih ruangan outdoor paling belakang karena lebih sejuk dan teduh untuk cuaca yang cukup panas bagi kami yang berasal dari Kota Bandung.
Sambil menunggu kami berbincang berbagai pengalaman dan cerita ringan di kalangan anak muda. Tak berselang lama pesanan kami mulai datang dan tidak lupa kami dokumentasikan dalam ponsel. Tampilannya cukup mirip dengan bubur DPR yang pernah saya coba di Kota Bandung. Namun ternyata rasanya cukup berbeda, Bubur mandarin yang dimiliki Dapoer pagi kaya akan rempah dan khas dengan potongan tipis dari jahe, cocok bagi yang sedang dalam kondisi tidak fit. Bubur ini isinya daging ayam atau saikoro, potongan cakue, taburan pangsit, bawang daun, bawang goreng dan sedikit seledri. Sementara Bubur DPR yang ada di Bandung rasanya sangat didominasi dengan micin karena rasanya sangat gurih.
Baca Juga: Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner
Bagi saya rasanya cukup unik tapi bagi mereka yang tidak suka dengan dominasi rempah-rempah, saya sarankan pesan bubur biasa saja bukan varian mandarin. Satu porsi yang dimakan cukup untuk memenuhi perut yang keroncongan di pagi hari. Ditutup dengan es teh krampul yaitu campuran teh lemon dan jeruk yang manis asam segar. Sementara teman saya memilih thai tea yang manis dan rocol yaitu roti cocol yang dimasukan ke dalam minuman rasa coklat.
Kami masih melanjutkan berbincang dan tak disangka salah satu pelayan di sana menawarkan untuk memberi ulasan di google riview dan kami mendapatkan es krim vanilla sebagai hadiahnya. Dapoer Pagi ini juga bersebelahan dengan Lorong Temu sebuah cafe yang juga sedang viral di Cianjur. Selain tempat untuk nongkrong, Lorong Temu juga menyediakan tempat foto box dan kami mencobanya dengan harga Rp.35.000.
Meski rasanya sedikit berbeda dengan Bubur yang kami coba di Bandung tapi suasananya sangat mengobati kerinduan kami kepada Bandung. Juga hal ini menjadi memori indah tentang kuliner Cianjur yang singkat tapi membekas. (*)