Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

7 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Bagi Soeharto, tempe dan tahu bukan sekadar lauk pengisi perut. Kedua sumber protein nabati ini juga dapat dimaknai sebagai simbol keprihatinan.

  • Masakan Jawa yang disantap Soeharto dapat ditelusuri bukan hanya dari cita rasanya, tetapi juga dari nuansa filosofi kejawen yang menyertainya.

  • Sebagai penutup hidangan, Soeharto menggemari jajanan pasar yang sederhana dengan cita rasa khas tradisional.

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk. Meski telah mencapai puncak kekuasaan sebagai pemimpin negara, sosok yang menyebut dirinya sebagai “anak desa” ini tetap menyukai hidangan tradisional yang bersahaja. Cita rasa masakan kampung menjadi bagian dari kesehariannya sekaligus pengikat kenangan dengan tanah kelahiran.

Di balik kebiasaan tersebut, Siti Hartinah atau Ibu Tien memiliki peran penting. Sejak suaminya menjabat sebagai Panglima Kostrad hingga menjadi presiden, ia terbiasa menyiapkan sendiri atau mengawasi langsung penyajian menu kegemaran sang suami. Hidangan desa yang tersaji di meja makan tidak hanya mencerminkan perhatian seorang istri, tetapi juga membantu menjaga kedekatan Pak Harto dengan latar kehidupan yang membentuk dirinya.

Kesetiaan pada menu sederhana itu dapat dimaknai sebagai cerminan sikap hidup yang tetap membumi. Di tengah kemegahan istana, masakan sehari-hari yang akrab dengan kehidupan masyarakat menjadi pengingat akan asal-usulnya. Dalam pemaknaan ini, kesederhanaan di meja makan membawa pesan bahwa jabatan merupakan amanah dan tidak semestinya menjauhkan seseorang dari akar kehidupannya.

Meja makan di kediaman Cendana pun menjadi ruang tempat kebiasaan keluarga dan nilai-nilai kejawen hadir melalui kesederhanaan hidangan. Cita rasa yang akrab itu menghubungkan Pak Harto dengan masa kecil serta pengalaman sulit selama perjuangan kemerdekaan. Setiap suapan nasi, dalam gambaran tersebut, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan, melainkan juga ungkapan syukur atas kehidupan setelah berakhirnya masa penjajahan.

Akar Kebersahajaan: Filosofi Tempe, Tahu, dan Memori Desa Kemusuk

Bagi Pak Harto, tempe dan tahu bukan sekadar lauk pengisi perut. Kedua sumber protein nabati ini juga dapat dimaknai sebagai simbol keprihatinan, yakni nilai dalam budaya Jawa yang menekankan kesederhanaan dan pengendalian diri. Kedekatannya dengan hidangan tersebut berakar pada kehidupan masa kecil di Desa Kemusuk, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Pengalaman hidup yang serba terbatas turut membentuk seleranya yang tetap bersahaja hingga akhir hayat.

Salah satu olahan kegemarannya adalah tempe dan tahu goreng garit. Permukaannya dikerat agar bumbu lebih mudah meresap, kemudian digoreng hingga garing. Dengan bahan dan bumbu yang sederhana, hidangan ini menghadirkan cita rasa yang akrab dengan keseharian masyarakat desa. Secara metaforis, guratan garit dapat dibaca sebagai jejak pengalaman dan perjuangan hidup, meskipun pemaknaan tersebut merupakan tafsir atas hidangan itu.

Selain digoreng garit, tahu dan tempe juga disajikan sebagai bacem. Keduanya direbus bersama air kelapa, gula merah, dan bumbu hingga meresap, lalu digoreng sebentar sebelum dihidangkan. Sebagai bagian dari menu harian yang disiapkan Ibu Tien, bacem menghadirkan kehangatan masakan rumah. Ketelitian dalam pengolahannya sekaligus mencerminkan perhatian kepada keluarga dan upaya merawat tradisi melalui makanan.

Keripik tempe yang tipis, renyah, dan gurih turut melengkapi hidangan utama Pak Harto. Teksturnya memberi variasi pada sajian sekaligus memperlihatkan bahwa kenikmatan tidak selalu bergantung pada bahan yang mahal. Dari goreng garit hingga bacem dan keripik, olahan kedelai ini menjadi benang merah yang menghubungkan selera makan Pak Harto dengan kesederhanaan, kehangatan keluarga, dan kenangan akan kehidupan desa.

Simbolisme dalam Sajian: Makna Telur dan Sayur Asam

Masakan Jawa yang disantap Pak Harto dapat ditelusuri bukan hanya dari cita rasanya, tetapi juga dari nuansa filosofi kejawen yang menyertainya. Dalam pemaknaan ini, makanan menjadi sarana untuk merenungkan perjalanan hidup serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesamanya.

Telur, misalnya, dimaknai sebagai lambang awal kehidupan makhluk Tuhan. Pada hidangan telur pindang, rebusan daun jambu biji dan kulit bawang merah menghasilkan warna kecokelatan yang khas, yang dapat ditafsirkan sebagai simbol kematangan jiwa. Sementara itu, telur dadar ala Kemusuk memadukan telur dengan bumbu yang ditumbuk kasar. Perpaduan tersebut dapat dibaca sebagai gambaran persatuan dan kerukunan, ketika unsur-unsur yang berbeda menyatu sebagaimana keberagaman etnis dan budaya hidup berdampingan dalam harmoni.

Makna serupa juga dapat ditemukan dalam sayur asam. Perpaduan rasanya mencerminkan kehidupan yang diwarnai suka dan duka, kelapangan dan kesempitan. Dalam kerangka filosofi tersebut, hidangan ini menjadi pengingat untuk senantiasa bersyukur, bertawakal, dan mengingat Tuhan di tengah perubahan keadaan.

Pembacaan filosofis atas hidangan-hidangan ini membuka ruang untuk melihat sisi keseharian Pak Harto di luar atribut politiknya. Melalui makanan, kedekatannya dengan tradisi dan kearifan lokal dapat dipahami sebagai bagian dari ikatan dengan tanah kelahirannya. Dari sini, penelusuran berlanjut pada hidangan nasi yang menyimpan kisah perjalanan beliau di medan juang.

Napak Tilas Kuliner: Nostalgia Masa Perjuangan dan Wisata Lidah

Bagi Pak Harto, makanan menjadi salah satu cara mengenang masa lalu. Beliau gemar mencari kembali hidangan yang pernah disantap saat bergerilya di pelosok Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Menikmati sajian-sajian tersebut seolah membawanya kembali pada suasana dan pengalaman masa perjuangan.

Salah satu hidangan yang lekat dengan kenangan itu adalah nasi liwet Solo ala Ibu Tien. Nasi gurih yang dimasak dengan santan encer ini disajikan bersama suwiran opor ayam, sambal bajak, potongan telur pindang, sedikit areh, serta sayur labu siam berikut kuahnya. Kelengkapan lauk dan perpaduan rasanya menghadirkan kehangatan masakan rumah.

Kenangan lain hadir melalui gudangan, yakni sajian sayur-sayuran dengan urap kelapa yang mengingatkan beliau pada “zaman susah” selama penjajahan Belanda dan Jepang. Hidangan ini dilengkapi tempe atau tahu garit, ikan asin, telur godog, serta kerupuk gurih aneka warna. Keseluruhan sajian tersebut menjadi bagian dari ingatan tentang kehidupan yang sederhana pada masa itu.

Di samping hidangan sehari-hari, lontong Cap Go Meh dan nasi kuning turut melengkapi ragam sajian yang beliau nikmati. Keduanya lekat dengan suasana perayaan dan tradisi. Kehadirannya dapat dimaknai sebagai cerminan perjumpaan budaya sekaligus ungkapan syukur atas keberkahan hidup.

Kegemaran Pak Harto pada masakan tradisional juga mencakup ayam goreng Kalasan dan ayam panggang Klaten. Kedua hidangan dari kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tetap beliau cari karena pengolahan tradisional dan cita rasa bumbunya yang meresap. Meski telah melanglang buana, seleranya tetap dekat dengan cita rasa rumah. Kedekatan inilah yang menjadi benang merah untuk menelusuri ragam lauk-pauk kegemarannya, termasuk sajian dengan pengolahan lebih rumit yang tetap berakar pada tradisi.

Ragam Lauk Pauk dan Sayuran: Dari Gulai hingga Olahan Ikan

Kekayaan rempah dalam hidangan favorit Pak Harto memperlihatkan kedekatan seleranya dengan hasil bumi Nusantara. Meski sebagian sajian memiliki cita rasa bumbu yang kuat, pengolahannya tetap mengikuti tradisi masakan Jawa yang menjaga kesegaran bahan serta keseimbangan rasa manis dan gurih.

Di antara olahan daging dan unggas, beliau menyukai dendeng manis, empal gepuk, gulai bebek, serta tongseng kambing muda. Sajian-sajian ini menawarkan perpaduan rasa dan aroma rempah, dengan bumbu yang meresap hingga ke serat daging. Sentuhan manis dan gurih menjadi pengikat cita rasa yang akrab dengan selera beliau.

Selain daging dan unggas, ikan juga mendapat tempat dalam menu kegemarannya, mulai dari pepes ikan mas dan ikan mujair goreng hingga gulai ikan. Kesukaannya pada ikan air tawar dapat dikaitkan dengan lingkungan masa kecilnya di kawasan Kemusuk dan Godean, daerah pedalaman yang jauh dari laut tetapi dekat dengan sumber perairan darat.

Ragam lauk tersebut dilengkapi sayuran tradisional, seperti sayur lodeh, sayur bobor, dan buntil daun singkong. Penggunaan santan encer memberi sentuhan gurih tanpa menutupi rasa alami sayuran. Pada sayur lodeh, kluwih turut memperkaya isi hidangan sekaligus menghadirkan makna simbolis. Dalam pemaknaan budaya Jawa, namanya kerap dihubungkan dengan kata luwih, yang berarti lebih, sebagai harapan akan kecukupan dan keberkahan bagi keluarga maupun masyarakat.

Sambal pun menjadi pelengkap yang tidak terpisahkan dari rangkaian hidangan tersebut. Sambal terasi dan sambal bajak memberi sentuhan pedas yang membangkitkan selera, sementara sambal goreng labu siam menambah variasi sajian di meja makan. Setelah menikmati hidangan utama yang kaya rempah, beliau biasanya menutup waktu makan dengan kudapan manis bertekstur lembut.

Kudapan dan Pencuci Mulut: Tradisi dalam Kelembutan

Sebagai penutup hidangan, Pak Harto menggemari jajanan pasar yang sederhana dengan cita rasa khas tradisional. Kehadiran kudapan ini turut melengkapi suasana kekeluargaan yang hangat di Cendana, terutama saat dinikmati bersama dalam waktu santai.

Di antara kegemarannya adalah kue lupis dan klepon, dua jajanan berbahan dasar ketan yang memadukan manisnya gula merah dengan gurihnya parutan kelapa segar. Pada lupis, gula merah cair disiramkan di atas sajian, sedangkan pada klepon, manisnya hadir sebagai isian yang lumer saat disantap. Bubur sumsum dan serabi juga menjadi pilihan, menghadirkan tekstur lembut dan rasa yang akrab sebagai penutup makan.

Ragam kudapan tersebut dilengkapi minuman tradisional. Untuk menghangatkan tubuh, beliau menyukai wedang jahe dan sekoteng. Sementara itu, es cendol atau es cincau dengan sirup gula merah menjadi pilihan untuk menyegarkan suasana. Dari jajanan hingga minuman, selera beliau tetap dekat dengan sajian sederhana yang lekat dengan keseharian masyarakat.

Secara keseluruhan, kegemaran kuliner Pak Harto menunjukkan bahwa makanan adalah manifestasi dari identitas diri, penghormatan pada tradisi Jawa, dan pengingat abadi akan sejarah perjuangan bangsa. Setiap hidangan yang tersaji di meja makan beliau, dari yang paling sederhana hingga yang kaya rempah, adalah untaian doa dan syukur atas perjalanan hidup yang panjang.

Kita dapat memaknai "kebersahajaan" ini sebagai sebuah catatan sejarah kuliner kepresidenan yang penting. Menu-menu tradisional ini sejatinya adalah "kompas moral" yang menjaga sang pemimpin tetap membumi, mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun posisi yang diraih, akar tradisi dan nilai-nilai kesederhanaan adalah pondasi yang menjaga harkat dan martabat seorang manusia. (*)

Referensi:

  • Tim Dapur Anggrek. 2008. Lauk-Pauk Komplit Kegemaran Pak Harto. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
  • Tim Dapur Anggrek. 2008. Sayur & Kudapan Lezat Kegemaran Pak Harto. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)