Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

7 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Pada 29 Agustus 2026, sejumlah seniman dan budayawan di Bandung berhimpun dalam Aliansi Bandung Ngagoak.

  • Di tengah ketidakadilan, kesenjangan, kerusakan lingkungan, korupsi, krisis kebudayaan, dan menyempitnya ruang kebebasan, para seniman menyatakan sikap.

  • Aliansi Bandung Ngagoak, karena itu, akan memiliki arti selama ia tidak menjadikan dirinya sebagai pusat dari gerakan. Yang harus menjadi pusat adalah persoalan kemanusiaan itu sendiri.

Apa yang dapat dilakukan seniman ketika sebuah bangsa perlahan terbiasa menyaksikan ketidakadilan?

Pertanyaan itu barangkali sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah mudah. Sebab seniman, seperti manusia lainnya, hidup di dalam situasi yang sama dengan masyarakat. Ia menghirup udara yang sama, menyaksikan harga-harga yang meningkat, melihat ruang hidup yang menyempit, menyaksikan ketimpangan, kerusakan lingkungan, korupsi, kekerasan, serta berbagai bentuk kesewenang-wenangan yang perlahan dapat dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Di titik itulah persoalan menjadi serius.

Bahaya terbesar dari ketidakadilan bukan hanya ketika ia terjadi. Bahaya yang lebih besar adalah ketika masyarakat mulai kehilangan kepekaan terhadapnya. Ketika kezaliman tidak lagi mengusik nurani, ketika kesewenang-wenangan dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan, dan ketika masyarakat memilih untuk diam karena merasa tidak ada lagi yang dapat dilakukan.

Karena itulah, pada 29 Agustus 2026, sejumlah seniman dan budayawan di Bandung berhimpun dalam Aliansi Bandung Ngagoak. Mereka datang dari pembacaan yang sama terhadap kondisi sosial-kultural Indonesia yang dianggap sedang menghadapi berbagai persoalan ketidakadilan. Mereka membawa sebuah seruan sederhana, tetapi keras maknanya: “Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman.”

Yang menarik, respons tersebut tidak diwujudkan semata-mata dalam bentuk pernyataan. Mereka menggelar sebuah aksi estetika di Kebun Seni, ruang yang selama ini menjadi salah satu tempat ekspresi para seniman di Bandung. Berbagai genre kesenian dihadirkan sebagai medium untuk menyampaikan kegelisahan terhadap kehidupan yang sedang berlangsung.

Di sinilah kesenian menemukan kembali salah satu fungsi terdalamnya.

Kesenian tidak pernah benar-benar lahir dari ruang yang hampa. Ia tumbuh dari perjumpaan seniman dengan kehidupan. Ia merekam kecemasan, kegembiraan, luka, harapan, kemarahan, dan segala sesuatu yang dialami manusia. Karena itu, ketika kehidupan dipenuhi oleh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, sangat wajar apabila karya seni kemudian melahirkan protes, pembangkangan, bahkan pemberontakan. Dalam pengertian inilah kesenian menjadi saksi zaman.

Namun aksi tersebut tidak berhenti sebagai peristiwa kesenian. Dari sana lahir pula sebuah rumusan sikap yang diberi nama Manifesto Seniman Bandung.

Manifesto ini berangkat dari keyakinan bahwa kesenian lahir dan tumbuh dari kehidupan, bernapas bersama rakyat, serta membaca gerak zaman. Kesenian dipandang sebagai kompas nurani yang menjaga martabat manusia agar tidak luluh oleh perubahan zaman. Di tengah ketidakadilan, kesenjangan, kerusakan lingkungan, korupsi, krisis kebudayaan, dan menyempitnya ruang kebebasan, para seniman menyatakan sikap.

Adapun sikap tersebut dirumuskan dalam tujuh pokok Manifesto Seniman Bandung:

Pertama, Kesenian adalah Daulat Kebebasan. Segala bentuk pembungkaman, intimidasi, dan pembatasan terhadap daya cipta harus ditolak. Kebebasan berkesenian bukan sekadar kebebasan untuk tampil, tetapi juga kebebasan untuk mengatakan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan bagi mereka yang sedang berkuasa.

Kedua, Kesenian berakar pada Kemanusiaan. Kesenian memilih untuk berdiri dan bersuara bersama mereka yang terpinggirkan dan kehilangan hak atas kehidupan yang layak. Keberpihakan ini bukan sekadar pilihan politik, melainkan konsekuensi dari nurani kemanusiaan.

Ketiga, menjaga jarak kritis dari kekuasaan. Seniman tidak harus menjadi musuh kekuasaan. Tetapi kesenian tidak boleh berubah menjadi gincu panggung, stempel legitimasi, propaganda, atau sekadar ornamen pemanis kekuasaan.

Keempat, menolak komersialisasi yang menelanjangi martabat seni. Seni bukan hanya komoditas pasar, proyek, angka capaian, atau pemoles wajah pembangunan. Ketika seluruh nilai seni hanya diukur melalui keuntungan dan transaksi, sesuatu yang paling mendasar dari kesenian dapat hilang: nurani.

Kelima, kebudayaan adalah sumur ingatan. Seniman memiliki tanggung jawab untuk merawat ingatan kolektif, kebinekaan, tradisi, dan akar kebudayaan agar masyarakat tidak kehilangan kesadaran atas sejarah dan dirinya sendiri.

Keenam, kesenian menunggal dengan nadi warga. Seni tidak boleh menjadi milik sangkar emas segelintir elite. Ia harus menjadi ruang bersama yang mengasah imajinasi, kepekaan, dan kesadaran kritis masyarakat.

Ketujuh, bersuara sebagai kesaksian. Ketika ketidakadilan terjadi dan kebudayaan dirusak, seniman tidak boleh memalingkan wajah. Karya seni harus mampu berdiri sebagai mata, telinga, dan kesaksian atas zamannya.

Namun sebuah manifesto, pada akhirnya, tidak boleh berhenti sebagai rangkaian kalimat yang dibacakan dalam sebuah pertemuan. Manifesto harus menjadi sikap yang diuji oleh waktu. Bahkan lebih dari itu, ia harus menjadi cermin bagi mereka yang menyatakannya.

Justru di sinilah tantangan sesungguhnya bagi sebuah gerakan seperti Aliansi Bandung Ngagoak.

Sangat mudah berbicara tentang kezaliman di luar diri kita. Jauh lebih sulit menjaga agar kezaliman-kezaliman kecil tidak tumbuh di dalam gerakan itu sendiri. Sangat mudah mengkritik kepentingan pribadi, tetapi jauh lebih sulit memastikan bahwa sebuah gerakan tidak perlahan berubah menjadi kendaraan ambisi personal, popularitas, perebutan pengaruh, proyek, ataupun kepentingan kelompok.

Sebuah gerakan dapat kehilangan marwahnya bukan hanya karena ditekan dari luar. Ia juga dapat runtuh karena pengkhianatan dari dalam.

Karena itu, ketujuh pokok manifesto tersebut sesungguhnya bukan hanya ditujukan kepada pemerintah, kekuasaan, atau siapa pun yang berada di luar lingkaran gerakan. Manifesto itu juga harus dibaca oleh para seniman sendiri.

Ketika berbicara tentang kebebasan, jangan sampai di dalam gerakan justru tumbuh pembungkaman.

Ketika berbicara tentang kemanusiaan, jangan sampai kepentingan pribadi lebih besar daripada kepentingan masyarakat.

Ketika berbicara tentang menjaga jarak kritis dari kekuasaan, jangan sampai gerakan perlahan menjadi jalan untuk mencari kedekatan dengan kekuasaan.

Ketika menolak komersialisasi seni, jangan sampai penderitaan masyarakat sendiri berubah menjadi komoditas untuk kepentingan orang-orang yang berbicara atas nama mereka.

Dan ketika menyatakan bahwa kesenian harus menunggal dengan nadi warga, maka gerakan itu harus benar-benar membuka diri untuk mendengarkan warga.

Barangkali peristiwa yang terjadi dalam aksi estetika tersebut memberikan contoh yang sangat penting. Kehadiran utusan dari para pedagang Pasar Ciroyom yang datang untuk menyampaikan aspirasi terkait persoalan yang sedang mereka hadapi dengan pihak pengelola menjadi sebuah penanda bahwa ruang kesenian dapat memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar panggung bagi seniman.

Ketika masyarakat mulai datang membawa persoalannya, sesungguhnya sedang tumbuh sebuah kepercayaan.

Kepercayaan inilah yang harus dijaga.

Seniman tentu tidak harus mengambil alih seluruh persoalan masyarakat. Seniman bukan pula penyelamat rakyat. Namun kesenian dapat menjadi ruang perjumpaan, ruang mendengar, ruang mengartikulasikan kegelisahan, dan ruang agar suara mereka yang sering tidak memiliki panggung tidak segera hilang begitu saja.

Dalam konteks inilah, kehadiran pedagang Pasar Ciroyom menjadi simbol yang penting. Ia mengingatkan bahwa kesenian yang benar-benar hidup tidak hanya berbicara kepada dirinya sendiri. Ia mampu membuka ruang bagi kehidupan untuk masuk ke dalamnya.

Aliansi Bandung Ngagoak, karena itu, akan memiliki arti selama ia tidak menjadikan dirinya sebagai pusat dari gerakan. Yang harus menjadi pusat adalah persoalan kemanusiaan itu sendiri.

Gerakan ini tidak boleh menjadi milik satu tokoh, satu kelompok, satu kepentingan, atau satu ambisi. Ia harus tetap menjadi ruang bersama. Sebab pada saat sebuah gerakan mulai lebih sibuk menjaga kepentingan orang-orang di dalamnya daripada mendengar suara orang-orang di luarnya, pada saat itulah ia perlahan kehilangan alasan mengapa ia dilahirkan.

Di dalam press release aksi estetika tersebut, para seniman juga menyebut tiga landasan dalam berkesenian: bebas, jujur, dan indah. Kebebasan berkaitan dengan keberanian menyuarakan hasil interaksi dengan kehidupan. Kejujuran berhubungan dengan niat yang digerakkan oleh nurani dan intuisi. Sementara keindahan ditempatkan dalam prinsip tanpa kekerasan, penghargaan terhadap keragaman, serta ketulusan.Tiga kata itu sesungguhnya dapat menjadi pengingat yang sederhana, tetapi sangat penting.

Bebas, agar seniman tidak kehilangan keberanian.

Jujur, agar gerakan tidak kehilangan nurani.

Indah, agar perjuangan tidak kehilangan kemanusiaannya.

Manifesto Seniman Bandung juga menegaskan bahwa tugas seniman adalah membuka kesadaran, bukan memupuk kebencian. Sikap kritis terhadap kesewenang-wenangan tidak harus menjadikan manusia kehilangan kemanusiaannya. Justru di tengah situasi yang penuh kemarahan dan polarisasi, kesenian harus mampu menjaga keberanian untuk melawan tanpa kehilangan kemampuan untuk melihat manusia sebagai manusia.

Barangkali itulah tantangan paling besar dari gerakan ini ke depan.

Bukan hanya bagaimana terus bersuara ketika kezaliman terjadi.

Tetapi bagaimana menjaga agar suara itu tidak dibajak oleh kepentingan.

Bukan hanya bagaimana mengkritik kekuasaan.

Tetapi bagaimana menjaga agar tidak ada kekuasaan-kekuasaan kecil yang tumbuh di dalam gerakan.

Bukan hanya bagaimana berbicara tentang rakyat.

Tetapi bagaimana benar-benar mendengarkan rakyat.

Sebab pada akhirnya, sebuah gerakan akan diukur bukan hanya dari seberapa keras ia meneriakkan perlawanan, melainkan dari seberapa setia ia menjaga alasan awal mengapa perlawanan itu dimulai.

Dari Bandung, seruan itu kini telah disampaikan:

Rawat kebudayaan.Jaga kebebasan.Bela kemanusiaan.Jangan biarkan seni kehilangan taring dan keberpihakannya.

Dan mungkin satu hal lagi yang harus terus diingat oleh siapa pun yang memilih berjalan di dalam gerakan ini:

Jangan biarkan perjuangan kehilangan marwahnya.

Sebab ketika kezaliman telah menjadi kelaziman, kesenian memang harus memilih untuk tidak diam. Tetapi ketika seniman telah memilih untuk bersuara, ia juga harus memastikan bahwa suara itu tetap lahir dari nurani—bukan dari kepentingan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)