Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)
Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)

Bandung menjelang magrib tak hanya menampilkan keelokan senja yang merah jingga merona tapi juga memperlihatkan sisi lain Kota Bandung tentang kehidupan sosialnya. Waktu magrib adalah pergumulan ketika hiruk-pikuk kemacetan jalanan kota berpadu dengan keteduhan panggilan shalat juga transisi ritme kehidupan masyarakat perkotaan yang cukup mewah dan peralihan masyarakat pinggiran setelahnya.

Kepadatan lalu lintas sudah menjadi ciri khas pada sejumlah titik di Kota Bandung. Antara anak-anak sekolah yang baru pulang selepas mengikuti kegiatan organisasi, bercampur dengan para buruh pabrik yang juga berbondong-bondong pulang tepat waktu serta aktivitas warga lainnya yang membutuhkan akses jalan untuk setiap kepentingannya. Keriuhan kendaraan dan emosi melebur menjadi satu, panas dan hujan pun tak kalah memeriahkan kemacetan.

Perubahan suasana langit jingga sejenak bisa menjadi hadiah bagi kemacetan yang panjang. Pemandangan ini pun yang seringkali banyak diabadikan oleh para pengguna jalan lalu di posting di media sosial dengan berbagai macam caption menarik. Diantaranya inilah salah satu yang menjadikan Bandung kerap dijunjung keromantisannya di mata nasional.

Waktu magrib juga memandai aktivitas religi bagi mereka yang beragama islam. Sejumlah masjid di Kota Bandung hingga pelosok wilayah mengumandangkan sesuai dengan jadwal yang sudah ada. Tak hanya itu kegiatan magrib juga sering diisi oleh kegiatan keagamaan seperti kultum atau atau aktivitas mengaji anak-anak.

Namun dibalik itu ada yang sering luput dari pandangan. Diantara toko, mall besar serta bangunan tinggi juga apartemen menunjukkan gemerlapnya di tengah langit yang menghitam. Pada sudut toko-toko kecil mereka mulai merebahkan dirinya. Ada yang duduk melamun, bercengkrama dengan keluarga kecilnya, sibuk mengeluarkan barang-barang dari karung dan juga ada yang mulai mempersiapkan diri untuk tidur.

Ya, mereka adalah orang-orang yang sering dilabeli dengan kata tunawisma. Mereka yang tidak memiliki rumah dan tempat tinggal yang layak. Mereka yang sibuk mencari seporsi nasi di pagi hari dengan memungut barang-barang bekas. Lalu di malam hari mulai menduduki teras-teras pertokoan dengan cahaya remang-remang hingga gelap gulita.

Mereka yang seringkali terihat menakutkan ketika kita harus melewati ruas jalan dengan berjalan kaki. Mengingat dunia ini makin semrawut dengan kejadian aneh maka seringkali kehadirannya menjadi ancaman untuk keselamatan. Memang kita tidak bisa memukul rata tindak perilaku orang-orang tapi fenomena kekerasan yang sering muncul diberita membuat hati menjadi was-was.

Mereka juga kadang terlihat seperti keluarga yang bahagia tanpa beban. Terlebih ketika sesekali melewati di depannya mereka sedang bercengkrama dengan keluarga kecilnya. Berbagi makanan yang mungkin mereka beli atau dapatkan dari orang lain.

Mereka juga terkadang terlihat muram. Duduk melamun dengan tatapan kosong dengan wajah yang lelah. Terlebih bagi mereka yang sudah tua renta. Membayangkan kesedihan dan kesepian di usia senja karena hidup sebatang kara. Bagi mereka yang masih remaja-- ke khawatiran muncul ketika kehadirannya menjadi peluang dan kesempatan bagi mereka yang berniat jahat untuk melakukan kejahatan dan kekerasan seksual.

Mereka yang menjadi wajah lain Kota Bandung yang tak terlihat dan yang seringnya terabaikan. Mereka adalah orang-orang yang harus melalui malam panjang dengan udara dingin Kota Bandung. Mereka yang berdamai untuk tidur hanya beralaskan teras yang terbuat dari semen dan keramik. Mereka yang hidup diantara kepasrahan sekaligus mempertaruhkan nyawa karena hal-hal buruk bisa terjadi kapan saja bagi mereka yang tidak terlindungi rumah.

Mereka yang juga tidak ingin memiliki takdir seperti itu tapi apalah daya negeri kita terlalu sulit untuk mengupayakan keadilan dan kesejahteraan bersama. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Bahkan kelas menengah pun sering menjadi korban atas ekonomi yang tak kunjung stabil.

Mereka adalah wajah Kota Bandung yang tertutup oleh gemerlapnya pujian istimewa dari orang-orang tentang Kota Kembang ini. Mereka ada dan tiada tergantung bagaimana kita melihatnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)
Beranda 30 Sep 2026, 08:43

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 19:45

Street Spydrs: Merayakan Jejak Panjang Skateboard Bandung lewat Buku dan Pameran

Empat dekade perjalanan Street Spydrs kembali dikenang melalui buku, diskusi, dan pameran yang mempertemukan para pelaku sejarah, sahabat, keluarga, serta generasi lintas zaman dalam satu ruang penuh

Buku karya Reka Nugara, Street Spydrs Empat Dekade Berseluncur, yang merekam perjalanan, dinamika, serta jejak Street Spydrs dalam perkembangan budaya skateboard dari masa ke masa. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 18:18

Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner

Semarang bukan sekadar titik geografis di pesisir utara Jawa; ia adalah sebuah bejana peleburan budaya yang tercermin secara nyata dalam setiap sajian kulinernya.

Seorang penjual minuman keliling di Semarang sekitar tahun 1926 - 1932. (Sumber: collectienederland.nl)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:36

Apa Dampak Lingkungan Data Center untuk AI yang Kita Pakai Setiap Hari?

Chat AI terasa gratis, padahal ada biaya tersembunyi di data center berupa listrik dan jutaan liter air. Cari tahu siapa yang menanggungnya di sini

Ilustrasi data center modern yang beroperasi 24 jam dan membutuhkan listrik serta air dalam jumlah besar untuk pendinginan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:01

Eksistensi KWK Bandung dan Potensi Ruang Kreatif di Stasiun Whoosh

Keberadaan delapan KWK menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bandung dalam mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan daya tarik destinasi

Stand KWK Cibaduyut  di festiwal bertempat di Kiara Artha Park, Bandung (Foto: bandung.go.id)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 15:50

Kopi Torrefacto, Pilihan Menikmati Kopi ala Spanyol di Singapura, Malaysia dan Indonesia

Nikmati keunikan Kopi Torrefacto, racikan khas Spanyol dengan sentuhan karamel manis yang kini populer di Singapura, Malaysia, hingga Indonesia.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Beranda 29 Sep 2026, 15:27

Musim Hujan Segera Tiba, Drainase Kota Bandung Akan Menghadapi Ujian Sesungguhnya

Sanggupkah menelan limpahan air hujan atau wargi Kota Bandung seperti biasa akan mendorong kendaraannya yang mati mesin di tengah genangan?

Sejumlah pekerja melakukan perbaikan drainase di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 14:17

Menelusuri Kelezatan Hidangan Nonya: Simfoni Cita Rasa Peranakan Cina Melayu

Kuliner Nonya merupakan salah satu warisan budaya paling dinamis dan elegan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 10:30

Matur Suksma Mas Guruh...

Guruh Sukarno Putra atau Guruh SP adalah salah satu seniman bercita rasa Indonesia lewat karya-karyanya yang selalu diwarnai unsur-unsur etnis nusantara yang ikonik

Guruh Soekarnoputra, anak bungsu Soekarno, meninggal dunia di usia 73 tahun. Dikenal sebagai seniman dan politisi, ia meninggalkan warisan musik yang abadi. (Sumber: Instagram)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 08:44

Yang Masuk Kelas Bukan Cuma Anak, Melainkan Rumahnya

Membongkar fenomena anak yang masuk ke gerbang sekolah dengan seribu satu masalah dan beban, serta meng-highlight cara merespon pada masalah-masalah tersebut dan menawarkan solusi yang realistis.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:28

Pentingnya Perlindungan Hak-Hak Sosial bagi Anak Didik

Seyogianya anak didik tidak hanya menjadi objek pertanyaan. Anak didik bukan sekadar penerima pelajaran. Mereka harus tumbuh sebagai manusia. Dan hak-hak sosial anak didik harus dilindungi.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:06

Kopi Tiam dari Semenanjung Malaya ke Nusantara hingga ke Kota Bandung

Jelajahi kisah kopitiam, kedai kopi legendaris yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya ke Nusantara, hingga kini menjadi tempat nongkrong favorit dan bagian dari gaya hidup kuliner Kota Bandung.

Menu sarapan pagi di Warung Kopi Purnama: roti kukus sarikaya, telur rebus setengah matang dan kopi hitam (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:53

Pos Indonesia dan Perjuangan Menjemput Masa Depan

Setiap tanggal 27 September, insan pos dan telekomunikasi Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel.

PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:14

Bagaimana jika Kencan Pertama Kita Diawali dengan Rencana Menggulingkan Rezim

Bergumul dengan romantisme di tengah negara yang carut-marut rasanya ada yang kurang. Ada mereka yang perlu kita pinjam suaranya demi kesejahteraan bersama.

Memikirkan romantisme di tengah negara yang carut-marut  rasanya seperti kita menghilangkan empati. Kecuali jika kencan pertama kita diisi dengan rencana menggulingkan rezim (Sumber: pexels)