Apa Dampak Lingkungan Data Center untuk AI yang Kita Pakai Setiap Hari?

7 menit baca
Suhendi Al Wasim
Ditulis oleh Suhendi Al Wasim diterbitkan
Ilustrasi data center modern yang beroperasi 24 jam dan membutuhkan listrik serta air dalam jumlah besar untuk pendinginan. (Sumber: Freepik)
Ilustrasi data center modern yang beroperasi 24 jam dan membutuhkan listrik serta air dalam jumlah besar untuk pendinginan. (Sumber: Freepik)

Pernah kepikiran ke mana perginya pertanyaan yang kamu ketik ke AI sebelum jawabannya muncul di layar dalam hitungan detik?

Jawabannya ada di sebuah infrastruktur fisik yang bekerja 24 jam tanpa henti bernama data center.

Semakin sering kita memakai AI, streaming, dan layanan cloud, semakin besar pula kebutuhan akan gedung gedung penuh server ini.

Setiap gedung itu butuh dua hal dalam jumlah besar untuk tetap hidup, yaitu listrik dan pendinginan.

Di titik inilah muncul pertanyaan yang jarang kita pikirkan, dari mana energinya, dari mana airnya, dan apa dampaknya bagi lingkungan serta masyarakat di sekitarnya.

Artikel ini mengajak kamu menelusuri rantai itu, dari AI, data center, energi dan pendinginan, penggunaan air, AMDAL, sampai dampaknya bagi masyarakat.

Kenapa AI Membutuhkan Data Center?

Data center pada dasarnya adalah gedung berisi ribuan komputer server yang menyimpan dan mengolah data.

Setiap kali kamu membuka media sosial, menonton video, menyimpan file di cloud, atau bertanya ke chatbot AI, permintaanmu diproses di salah satu gedung ini.

Model AI generatif dilatih dan dijalankan di server khusus berbasis chip grafis (GPU) yang bekerja jauh lebih berat dibanding server biasa.

Menurut laporan Energy and AI dari International Energy Agency (IEA, 2025), konsumsi listrik data center global sekitar 415 terawatt jam (TWh) pada 2024, setara sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia, dan diproyeksikan lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, kurang lebih setara konsumsi listrik seluruh Jepang saat ini.

IEA juga mencatat satu data center berfokus AI bisa mengonsumsi listrik setara 100.000 rumah tangga, sementara kampus data center terbesar yang sedang dibangun bisa membutuhkan sampai 20 kali lipatnya.

Menurut Asosiasi Penyedia Data Center Indonesia (IDPRO, Mei 2026), kapasitas data center nasional yang beroperasi sekitar 637 megawatt (MW) dan ditargetkan mencapai 1,65 gigawatt (GW) pada akhir 2026.

Riset BRI Danareksa Sekuritas (Agustus 2026) bahkan memproyeksikan kapasitas bisa menyentuh 3,5 GW pada 2030. Proyek besar bermunculan, misalnya fasilitas 120 MW di Batam, 120 MW di Cikarang, sampai rencana kampus hingga 500 MW di kawasan Bekasi.

Kenapa Data Center Membutuhkan Air?

Server yang bekerja keras menghasilkan panas, sama seperti laptopmu yang jadi hangat saat dipakai lama, hanya saja skalanya ribuan kali lipat.

Kalau panas ini tidak dibuang, server bisa rusak. Karena itu data center wajib punya sistem pendinginan.

Salah satu metode yang umum adalah pendinginan evaporatif dengan menara pendingin (cooling tower).

Prinsipnya mirip tubuh kita yang berkeringat, air diuapkan untuk membuang panas. Metode ini hemat listrik, tetapi rakus air, dan sekitar 80 persen airnya menguap ke udara sehingga tidak kembali ke sumbernya (NASUCA, 2025, mengutip laporan lingkungan Google).

Tidak semua data center sama borosnya. Ada yang memakai pendinginan udara yang hampir tanpa air tetapi lebih boros listrik, ada sistem tertutup (closed loop) yang airnya berputar terus, dan ada liquid cooling yang mengalirkan cairan langsung ke chip.

Karena itu angka konsumsi air satu fasilitas sangat bergantung pada desain, teknologi, iklim lokasi, dan beban kerjanya. Ini alasan kenapa klaim seperti "semua data center pasti menghabiskan jutaan liter air setiap hari" tidak akurat.

Sebagai gambaran skala industri, Lawrence Berkeley National Laboratory (2024) mengestimasi data center di Amerika Serikat mengonsumsi sekitar 64 miliar liter air secara langsung untuk pendinginan sepanjang 2023, dan angka itu diproyeksikan bisa berlipat dua sampai empat kali pada 2028.

Laporan yang sama mengestimasi tambahan sekitar 800 miliar liter air terpakai secara tidak langsung lewat pembangkit listrik yang menyuplai data center. \

Di level perusahaan, laporan lingkungan Google mencatat konsumsi air data centernya naik dari sekitar 24 miliar liter (2023) menjadi sekitar 29 miliar liter (2024), dengan sekitar 95 persen dipakai untuk pendinginan.

Dari Mana Sumber Air untuk Data Center?

Air untuk data center bisa berasal dari beberapa sumber, yaitu air perpipaan dari PDAM atau pengelola kawasan, air permukaan seperti sungai dan waduk, air tanah, serta air daur ulang atau air non potable yang tidak layak minum.

Sumber air inilah yang menentukan besar kecilnya risiko. Kalau data center memakai air daur ulang atau air laut yang diolah, tekanannya ke masyarakat kecil. Namun kalau fasilitas besar mengambil air bersih dari jaringan yang sama dengan warga, atau menyedot air tanah di wilayah yang sudah kritis, risikonya nyata, mulai dari berkurangnya jatah air rumah tangga, penurunan muka air tanah, gangguan ke lahan pertanian, sampai konflik sosial saat musim kemarau.

Kasus Batam layak jadi pelajaran. Batam sedang menjadi magnet investasi data center, tetapi kota kepulauan ini mengandalkan waduk tadah hujan untuk air baku. Pemberitaan lokal (Agustus 2026) memproyeksikan satu proyek data center berkapasitas puluhan megawatt bisa membutuhkan sekitar 3 juta liter air per hari, kebutuhan proyek proyek yang terkonsentrasi di kawasan Nongsa bisa mencapai sekitar 29 juta liter per hari, dan total kebutuhan data center berpotensi menyerap sekitar 8 persen pasokan air kota. Angka angka ini masih proyeksi, tetapi cukup untuk menunjukkan kenapa lokasi dan sumber air harus dihitung serius sejak awal, bukan setelah fasilitas beroperasi.

Ini bukan berarti data center otomatis menyebabkan krisis air. Dampaknya sangat bergantung pada konteks, yaitu wilayah dengan air melimpah dan teknologi hemat air akan baik baik saja, sedangkan wilayah yang airnya sudah tertekan butuh kehati hatian ekstra.

Data Center dan AMDAL, Apa Hubungannya?

AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) adalah kajian yang wajib dilakukan sebelum sebuah usaha atau kegiatan berskala besar dibangun, untuk memetakan dampak pentingnya terhadap lingkungan dan menentukan cara mengelolanya. Dasar hukumnya UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang diperbarui lewat UU Cipta Kerja, dengan aturan teknis di PP 22/2021 dan PermenLHK 4/2021 yang memuat daftar jenis usaha wajib AMDAL atau UKL UPL.

Sederhananya, AMDAL adalah momen di mana pertanyaan pertanyaan penting harus dijawab di atas kertas sebelum beton dicor. Untuk data center, aspek yang seharusnya diperiksa antara lain sumber dan volume pengambilan air, dampak ke air tanah dan air permukaan, kualitas dan pengelolaan air limbah termasuk buangan menara pendingin, kebutuhan dan sumber energi, emisi, limbah elektronik dari server bekas, kebisingan generator dan pendingin, perubahan penggunaan lahan, dampak ke ekosistem sekitar, serta kondisi sosial masyarakat.

Proses AMDAL juga mewajibkan keterlibatan masyarakat yang terdampak. Artinya warga sekitar berhak tahu dan berhak memberi masukan, dan dokumen persetujuan lingkungan sebuah proyek pada dasarnya bisa ditelusuri publik melalui instansi lingkungan hidup daerah atau sistem informasi lingkungan pemerintah.

Apakah Data Center Bisa Lebih Ramah Lingkungan?

Bisa, dan teknologinya sudah ada. Beberapa praktik yang mulai dipakai industri antara lain memakai air daur ulang atau air non potable untuk pendinginan, sistem closed loop yang meminimalkan air yang terbuang, liquid cooling yang lebih efisien untuk server AI berdensitas tinggi, pendinginan udara di iklim yang memungkinkan, penggunaan energi terbarukan, perbaikan efisiensi energi yang otomatis menurunkan kebutuhan pendinginan, serta pemilihan lokasi yang mempertimbangkan ketersediaan air sejak awal.

Sebagai contoh, Microsoft menyatakan desain data center barunya memakai pendekatan pendinginan tanpa konsumsi air untuk beban AI, yang diklaim menghemat sekitar 125 juta liter air per fasilitas per tahun dibanding pendinginan evaporatif konvensional (laporan keberlanjutan Microsoft, 2024). Google melaporkan program penggantian air (water replenishment) untuk mengembalikan sebagian besar air tawar yang dikonsumsinya (laporan lingkungan Google, 2026).

Satu hal lagi yang sama pentingnya dengan teknologi adalah transparansi. Selama ini banyak operator tidak membuka angka konsumsi air dan energinya per fasilitas, padahal keterbukaan data justru membantu publik menilai secara adil, bukan menduga duga. (*)

Daftar sumber/referensi:

  1. IEA, Energy and AI, 2025. https://www.iea.org/reports/energy-and-ai
  2. Lawrence Berkeley National Laboratory, 2024 United States Data Center Energy Usage Report, 2024 (dirujuk via The Conversation, 2026). https://theconversation.com/data-centers-consume-massive-amounts-of-water-companies-rarely-tell-the-public-exactly-how-much-262901
  3. Google Environmental Report 2024 dan 2026. https://sustainability.google
  4. Microsoft Environmental Sustainability Report, 2023 dan 2024. https://www.microsoft.com/sustainability
  5. NASUCA, Data Centers and Water Use, Juni 2025. https://www.nasuca.org/wp-content/uploads/2025/02/2025-06-10-NASUCA-Data-Centers-Final-Schneider.pdf
  6. CNN Indonesia, Kapasitas Data Center di Indonesia Ditarget Tembus 1,65 GW Akhir 2026, Mei 2026. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260521152600-185-1360844/
  7. BRI Danareksa Sekuritas via pemberitaan pasar modal, Agustus 2026 (proyeksi 3,5 GW pada 2030).
  8. Mimbar Jurnalis, Di Balik Investasi Triliunan Data Center, Ada Ancaman Krisis Air yang Mengintai Batam, Agustus 2026. https://mimbarjurnalis.com/di-balik-investasi-triliunan-data-center-ada-ancaman-krisis-air-yang-mengintai-batam/
  9. UU 32/2009, UU Cipta Kerja, PP 22/2021, PermenLHK 4/2021 (kerangka AMDAL dan persetujuan lingkungan). https://peraturan.go.id
  10. Scientific American, AI Will Drive Doubling of Data Center Energy Demand by 2030, 2025. https://www.scientificamerican.com/article/ai-will-drive-doubling-of-data-center-energy-demand-by-2030/
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Suhendi Al Wasim
Suka Menulis Seputar SDM dan Publikasi Jurnal Ilmiah

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 29 Sep 2026, 19:45

Street Spydrs: Merayakan Jejak Panjang Skateboard Bandung lewat Buku dan Pameran

Empat dekade perjalanan Street Spydrs kembali dikenang melalui buku, diskusi, dan pameran yang mempertemukan para pelaku sejarah, sahabat, keluarga, serta generasi lintas zaman dalam satu ruang penuh

Buku karya Reka Nugara, Street Spydrs Empat Dekade Berseluncur, yang merekam perjalanan, dinamika, serta jejak Street Spydrs dalam perkembangan budaya skateboard dari masa ke masa. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 18:18

Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner

Semarang bukan sekadar titik geografis di pesisir utara Jawa; ia adalah sebuah bejana peleburan budaya yang tercermin secara nyata dalam setiap sajian kulinernya.

Seorang penjual minuman keliling di Semarang sekitar tahun 1926 - 1932. (Sumber: collectienederland.nl)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:36

Apa Dampak Lingkungan Data Center untuk AI yang Kita Pakai Setiap Hari?

Chat AI terasa gratis, padahal ada biaya tersembunyi di data center berupa listrik dan jutaan liter air. Cari tahu siapa yang menanggungnya di sini

Ilustrasi data center modern yang beroperasi 24 jam dan membutuhkan listrik serta air dalam jumlah besar untuk pendinginan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:01

Eksistensi KWK Bandung dan Potensi Ruang Kreatif di Stasiun Whoosh

Keberadaan delapan KWK menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bandung dalam mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan daya tarik destinasi

Stand KWK Cibaduyut  di festiwal bertempat di Kiara Artha Park, Bandung (Foto: bandung.go.id)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 15:50

Kopi Torrefacto, Pilihan Menikmati Kopi ala Spanyol di Singapura, Malaysia dan Indonesia

Nikmati keunikan Kopi Torrefacto, racikan khas Spanyol dengan sentuhan karamel manis yang kini populer di Singapura, Malaysia, hingga Indonesia.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Beranda 29 Sep 2026, 15:27

Musim Hujan Segera Tiba, Drainase Kota Bandung Akan Menghadapi Ujian Sesungguhnya

Sanggupkah menelan limpahan air hujan atau wargi Kota Bandung seperti biasa akan mendorong kendaraannya yang mati mesin di tengah genangan?

Sejumlah pekerja melakukan perbaikan drainase di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 14:17

Menelusuri Kelezatan Hidangan Nonya: Simfoni Cita Rasa Peranakan Cina Melayu

Kuliner Nonya merupakan salah satu warisan budaya paling dinamis dan elegan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 10:30

Matur Suksma Mas Guruh...

Guruh Sukarno Putra atau Guruh SP adalah salah satu seniman bercita rasa Indonesia lewat karya-karyanya yang selalu diwarnai unsur-unsur etnis nusantara yang ikonik

Guruh Soekarnoputra, anak bungsu Soekarno, meninggal dunia di usia 73 tahun. Dikenal sebagai seniman dan politisi, ia meninggalkan warisan musik yang abadi. (Sumber: Instagram)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 08:44

Yang Masuk Kelas Bukan Cuma Anak, Melainkan Rumahnya

Membongkar fenomena anak yang masuk ke gerbang sekolah dengan seribu satu masalah dan beban, serta meng-highlight cara merespon pada masalah-masalah tersebut dan menawarkan solusi yang realistis.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:28

Pentingnya Perlindungan Hak-Hak Sosial bagi Anak Didik

Seyogianya anak didik tidak hanya menjadi objek pertanyaan. Anak didik bukan sekadar penerima pelajaran. Mereka harus tumbuh sebagai manusia. Dan hak-hak sosial anak didik harus dilindungi.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:06

Kopi Tiam dari Semenanjung Malaya ke Nusantara hingga ke Kota Bandung

Jelajahi kisah kopitiam, kedai kopi legendaris yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya ke Nusantara, hingga kini menjadi tempat nongkrong favorit dan bagian dari gaya hidup kuliner Kota Bandung.

Menu sarapan pagi di Warung Kopi Purnama: roti kukus sarikaya, telur rebus setengah matang dan kopi hitam (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:53

Pos Indonesia dan Perjuangan Menjemput Masa Depan

Setiap tanggal 27 September, insan pos dan telekomunikasi Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel.

PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:14

Bagaimana jika Kencan Pertama Kita Diawali dengan Rencana Menggulingkan Rezim

Bergumul dengan romantisme di tengah negara yang carut-marut rasanya ada yang kurang. Ada mereka yang perlu kita pinjam suaranya demi kesejahteraan bersama.

Memikirkan romantisme di tengah negara yang carut-marut  rasanya seperti kita menghilangkan empati. Kecuali jika kencan pertama kita diisi dengan rencana menggulingkan rezim (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 17:30

81 Tahun KAI: Asa KRL 2027 dan Lantai Gerbong yang Sesak

Di tengah perayaan Hari Kereta Api Nasional dan HUT ke-81, realitas yang saya dan ribuan pelaju lain hadapi setiap hari di jam kerja justru jauh dari kata nyaman.

Calon penumpang memasuki gerbong Kereta Kahuripan jurusan Kiaracondong-Blitar di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (31/5/2019). (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 15:15

Studio 512 Bandung: Apresiasi D'Renced untuk Rekaman

Suara-suara menjadi gelombang, menjadi getaran yang mengirimkan isyarat kepada otak sampai berteriak.

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)