Yang Masuk Kelas Bukan Cuma Anak, Melainkan Rumahnya

4 menit baca
Otong SetiawanDjuharie
Ditulis oleh Otong SetiawanDjuharie diterbitkan
Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada satu hal yang barangkali luput dari banyak orang tua: ketika anak memasuki gerbang sekolah setiap pagi, yang datang ke ruang kelas bukan hanya seorang anak dengan seragam, tas, dan buku pelajaran. Ia juga membawa apa yang terjadi di rumah semalam.

Ia membawa sarapan yang mungkin tidak sempat dimakan. Membawa tidur yang terpotong karena gawai. Membawa kecemasan setelah mendengar orang tua bertengkar. Membawa ketakutan terhadap kesalahan. Bahkan, dalam kasus tertentu, membawa beban menjadi “orang dewasa kecil” di rumah.

Guru sering kali melihat akibatnya lebih dahulu daripada orang tua melihat sumbernya.

Anak yang tampak malas, misalnya, mungkin sebenarnya lapar. Rasa lapar dapat muncul dalam wujud mudah marah, mengantuk, sakit kepala, energi rendah, atau ketidakmampuan berkonsentrasi. Ini bukan sekadar anekdot. UNICEF menegaskan bahwa anak yang datang ke sekolah dengan perut kosong dapat kesulitan berkonsentrasi dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Dalam laporan UNICEF Indonesia terbaru, pengalaman di Kupang juga menunjukkan hubungan yang sangat konkret antara sarapan, energi, konsentrasi, dan keterlibatan anak dalam pembelajaran.

Karena itu, pertanyaan kepada anak semestinya tidak berhenti pada, “Sudah makan?” Pertanyaan yang lebih bermakna adalah: “Makan apa pagi tadi?” Sebab tubuh yang kekurangan energi tidak bisa begitu saja diperintah untuk berkonsentrasi.

Hal serupa berlaku untuk tidur. Orang tua mungkin merasa anak sudah “tidur pukul sembilan” karena pintu kamar ditutup pada jam tersebut. Padahal, apakah telepon seluler, gim, video, dan percakapan daring juga sudah “tidur”?

American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar perangkat digital tidak berada di kamar tidur anak pada malam hari dan penggunaannya dihentikan setidaknya satu jam sebelum tidur. Bukti ilmiah menunjukkan penggunaan media digital menjelang tidur berkaitan dengan waktu tidur yang lebih larut, durasi tidur yang lebih pendek, kualitas tidur yang lebih buruk, dan rasa lelah pada siang hari.

Maka, bisa jadi guru sebenarnya sedang bertemu “tagihan” dari malam sebelumnya: anak mengantuk, mudah tersinggung, lamban memproses informasi, dan sulit mengingat pelajaran.

Tetapi yang lebih serius adalah apa yang terjadi ketika rumah kehilangan rasa aman.

Anak mendengar pertengkaran orang tua lebih banyak daripada yang dibayangkan orang dewasa. Ia mungkin tidak menjadi sasaran pertengkaran, tetapi tetap menjadi saksi. Ia dapat datang ke sekolah dengan kecemasan, mudah panik, agresif, atau justru terlalu sibuk mendamaikan orang lain.

Dalam ilmu perkembangan anak, dikenal istilah toxic stress—stres yang kuat atau berkepanjangan tanpa dukungan orang dewasa yang memadai. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa kondisi semacam ini dapat mengganggu perkembangan sistem otak dan tubuh yang berkaitan dengan perhatian, belajar, pengambilan keputusan, dan kesehatan jangka panjang. Namun, hubungan yang aman dan responsif dengan orang dewasa dapat menjadi penyangga penting bagi anak.

Di sinilah kita perlu membedakan kasih sayang dari pemanjaan.

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mencintai anak bukan berarti menghapus semua ketidaknyamanan dari hidupnya. Anak perlu belajar menunggu, menerima “tidak”, menyelesaikan tugas yang tidak menyenangkan, kehilangan permainan, meminta maaf, dan menerima koreksi. Ini merupakan kemampuan untuk “kecewa tetapi tetap berperilaku baik” dan “dikoreksi tetapi tetap merasa dicintai.”

Ini sejalan dengan prinsip positive parenting: pengasuhan yang hangat sekaligus memiliki batas yang jelas. UNICEF menekankan bahwa disiplin yang baik bukanlah membiarkan anak melakukan apa saja, melainkan membimbing perilaku dengan kasih sayang, aturan yang jelas, dan konsekuensi yang tidak melibatkan kekerasan.

Sebaliknya, penghinaan dan ketakutan juga meninggalkan bekas. Anak yang terus-menerus mendengar “kamu bodoh”, “kamu tidak berguna”, atau “mengapa tidak seperti kakakmu?” dapat belajar bahwa kesalahan bukan bagian dari proses belajar, melainkan bukti bahwa dirinya buruk. Akibatnya, sebagian anak menjadi perfeksionis dan cemas; sebagian lainnya berhenti mencoba karena kegagalan terasa terlalu berbahaya.

WHO juga menegaskan bahwa hukuman fisik berkaitan dengan meningkatnya masalah perilaku, gangguan perkembangan kognitif dan sosial-emosional, serta hasil pendidikan yang lebih buruk.

Ada pula tanda yang jauh lebih serius: perubahan perilaku yang berkaitan dengan kemungkinan kekerasan atau paparan seksual yang tidak semestinya. Satu tanda tidak pernah cukup untuk menyimpulkan terjadinya kekerasan seksual. Namun, mengabaikannya juga bukan pilihan. Anak mungkin belum memiliki bahasa untuk menjelaskan pengalaman yang dialaminya. Karena itu, orang dewasa harus mampu memperhatikan tanpa tergesa-gesa menuduh, mendengarkan tanpa menginterogasi, dan mengikuti prosedur perlindungan anak yang benar. UNICEF Indonesia sendiri menekankan pentingnya lingkungan yang aman di rumah, sekolah, komunitas, dan ruang digital.

Dan akhirnya, ada anak-anak yang datang ke sekolah sambil membawa terlalu banyak kehidupan.

Mereka bangun pagi untuk menjaga adik, menyiapkan makanan, membantu usaha keluarga, merawat anggota keluarga yang sakit, atau menjadi penenang bagi orang tua yang sedang bermasalah. Mereka tampak “dewasa”, padahal kedewasaan dan beban bukanlah hal yang sama.

Karena itu, ketika prestasi seorang anak tiba-tiba merosot, pertanyaan pertama tidak selalu harus, “Mengapa kamu malas?”

Mungkin pertanyaan yang lebih manusiawi adalah: “Apa yang berubah dalam hidupmu?”

Sekolah memang tempat anak belajar matematika, bahasa, sains, dan berbagai pengetahuan. Tetapi sekolah juga sering menjadi tempat pertama di mana beban kehidupan seorang anak menjadi terlihat.

Maka, hubungan orang tua dan guru seharusnya bukan hubungan dua kubu yang saling menyalahkan. Guru bukan musuh keluarga. Orang tua bukan penghalang sekolah. Keduanya adalah dua lingkungan utama yang dapat membantu seorang anak tumbuh dengan aman.

Sebab pada akhirnya, sebelum anak belajar menjadi murid yang baik, ia membutuhkan rumah yang cukup aman untuk menjadi anak.

Dan apa yang terjadi di rumah, cepat atau lambat, akan menemukan jalannya ke ruang kelas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)