Ada satu hal yang barangkali luput dari banyak orang tua: ketika anak memasuki gerbang sekolah setiap pagi, yang datang ke ruang kelas bukan hanya seorang anak dengan seragam, tas, dan buku pelajaran. Ia juga membawa apa yang terjadi di rumah semalam.
Ia membawa sarapan yang mungkin tidak sempat dimakan. Membawa tidur yang terpotong karena gawai. Membawa kecemasan setelah mendengar orang tua bertengkar. Membawa ketakutan terhadap kesalahan. Bahkan, dalam kasus tertentu, membawa beban menjadi “orang dewasa kecil” di rumah.
Guru sering kali melihat akibatnya lebih dahulu daripada orang tua melihat sumbernya.
Anak yang tampak malas, misalnya, mungkin sebenarnya lapar. Rasa lapar dapat muncul dalam wujud mudah marah, mengantuk, sakit kepala, energi rendah, atau ketidakmampuan berkonsentrasi. Ini bukan sekadar anekdot. UNICEF menegaskan bahwa anak yang datang ke sekolah dengan perut kosong dapat kesulitan berkonsentrasi dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Dalam laporan UNICEF Indonesia terbaru, pengalaman di Kupang juga menunjukkan hubungan yang sangat konkret antara sarapan, energi, konsentrasi, dan keterlibatan anak dalam pembelajaran.
Karena itu, pertanyaan kepada anak semestinya tidak berhenti pada, “Sudah makan?” Pertanyaan yang lebih bermakna adalah: “Makan apa pagi tadi?” Sebab tubuh yang kekurangan energi tidak bisa begitu saja diperintah untuk berkonsentrasi.
Hal serupa berlaku untuk tidur. Orang tua mungkin merasa anak sudah “tidur pukul sembilan” karena pintu kamar ditutup pada jam tersebut. Padahal, apakah telepon seluler, gim, video, dan percakapan daring juga sudah “tidur”?
American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar perangkat digital tidak berada di kamar tidur anak pada malam hari dan penggunaannya dihentikan setidaknya satu jam sebelum tidur. Bukti ilmiah menunjukkan penggunaan media digital menjelang tidur berkaitan dengan waktu tidur yang lebih larut, durasi tidur yang lebih pendek, kualitas tidur yang lebih buruk, dan rasa lelah pada siang hari.
Maka, bisa jadi guru sebenarnya sedang bertemu “tagihan” dari malam sebelumnya: anak mengantuk, mudah tersinggung, lamban memproses informasi, dan sulit mengingat pelajaran.
Tetapi yang lebih serius adalah apa yang terjadi ketika rumah kehilangan rasa aman.
Anak mendengar pertengkaran orang tua lebih banyak daripada yang dibayangkan orang dewasa. Ia mungkin tidak menjadi sasaran pertengkaran, tetapi tetap menjadi saksi. Ia dapat datang ke sekolah dengan kecemasan, mudah panik, agresif, atau justru terlalu sibuk mendamaikan orang lain.
Dalam ilmu perkembangan anak, dikenal istilah toxic stress—stres yang kuat atau berkepanjangan tanpa dukungan orang dewasa yang memadai. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa kondisi semacam ini dapat mengganggu perkembangan sistem otak dan tubuh yang berkaitan dengan perhatian, belajar, pengambilan keputusan, dan kesehatan jangka panjang. Namun, hubungan yang aman dan responsif dengan orang dewasa dapat menjadi penyangga penting bagi anak.
Di sinilah kita perlu membedakan kasih sayang dari pemanjaan.

Mencintai anak bukan berarti menghapus semua ketidaknyamanan dari hidupnya. Anak perlu belajar menunggu, menerima “tidak”, menyelesaikan tugas yang tidak menyenangkan, kehilangan permainan, meminta maaf, dan menerima koreksi. Ini merupakan kemampuan untuk “kecewa tetapi tetap berperilaku baik” dan “dikoreksi tetapi tetap merasa dicintai.”
Ini sejalan dengan prinsip positive parenting: pengasuhan yang hangat sekaligus memiliki batas yang jelas. UNICEF menekankan bahwa disiplin yang baik bukanlah membiarkan anak melakukan apa saja, melainkan membimbing perilaku dengan kasih sayang, aturan yang jelas, dan konsekuensi yang tidak melibatkan kekerasan.
Sebaliknya, penghinaan dan ketakutan juga meninggalkan bekas. Anak yang terus-menerus mendengar “kamu bodoh”, “kamu tidak berguna”, atau “mengapa tidak seperti kakakmu?” dapat belajar bahwa kesalahan bukan bagian dari proses belajar, melainkan bukti bahwa dirinya buruk. Akibatnya, sebagian anak menjadi perfeksionis dan cemas; sebagian lainnya berhenti mencoba karena kegagalan terasa terlalu berbahaya.
WHO juga menegaskan bahwa hukuman fisik berkaitan dengan meningkatnya masalah perilaku, gangguan perkembangan kognitif dan sosial-emosional, serta hasil pendidikan yang lebih buruk.
Ada pula tanda yang jauh lebih serius: perubahan perilaku yang berkaitan dengan kemungkinan kekerasan atau paparan seksual yang tidak semestinya. Satu tanda tidak pernah cukup untuk menyimpulkan terjadinya kekerasan seksual. Namun, mengabaikannya juga bukan pilihan. Anak mungkin belum memiliki bahasa untuk menjelaskan pengalaman yang dialaminya. Karena itu, orang dewasa harus mampu memperhatikan tanpa tergesa-gesa menuduh, mendengarkan tanpa menginterogasi, dan mengikuti prosedur perlindungan anak yang benar. UNICEF Indonesia sendiri menekankan pentingnya lingkungan yang aman di rumah, sekolah, komunitas, dan ruang digital.
Dan akhirnya, ada anak-anak yang datang ke sekolah sambil membawa terlalu banyak kehidupan.
Mereka bangun pagi untuk menjaga adik, menyiapkan makanan, membantu usaha keluarga, merawat anggota keluarga yang sakit, atau menjadi penenang bagi orang tua yang sedang bermasalah. Mereka tampak “dewasa”, padahal kedewasaan dan beban bukanlah hal yang sama.
Karena itu, ketika prestasi seorang anak tiba-tiba merosot, pertanyaan pertama tidak selalu harus, “Mengapa kamu malas?”
Mungkin pertanyaan yang lebih manusiawi adalah: “Apa yang berubah dalam hidupmu?”
Sekolah memang tempat anak belajar matematika, bahasa, sains, dan berbagai pengetahuan. Tetapi sekolah juga sering menjadi tempat pertama di mana beban kehidupan seorang anak menjadi terlihat.
Maka, hubungan orang tua dan guru seharusnya bukan hubungan dua kubu yang saling menyalahkan. Guru bukan musuh keluarga. Orang tua bukan penghalang sekolah. Keduanya adalah dua lingkungan utama yang dapat membantu seorang anak tumbuh dengan aman.
Sebab pada akhirnya, sebelum anak belajar menjadi murid yang baik, ia membutuhkan rumah yang cukup aman untuk menjadi anak.
Dan apa yang terjadi di rumah, cepat atau lambat, akan menemukan jalannya ke ruang kelas. (*)