Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

6 menit baca
Eka Nurmawati
Ditulis oleh Eka Nurmawati diterbitkan
Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : [email protected])

Hari pertama sekolah adalah gerbang emosional bagi setiap anak. Di sinilah memori kolektif tentang dunia pendidikan mulai dibentuk. Menyadari krusialnya fase transisi ini, pemerintah mengambil langkah visioner melalui peluncuran Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah. Kebijakan ini diperkuat secara masif dengan peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (Gernas RANA) oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Malang awal tahun ini.

Dalam sambutannya, Menteri menegaskan bahwa sekolah harus bertransformasi menjadi rumah kedua yang bebas dari rasa cemas, di mana potensi setiap anak dapat tumbuh tanpa bayang-bayang intimidasi. Komitmen ini menegaskan bahwa orientasi pendidikan nasional kini berfokus pada ekosistem yang humanis dan inklusif.

Secara yuridis, langkah progresif ini merupakan manifestasi nyata dari amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Negara memiliki kewajiban mutlak untuk memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Selaras dengan hal tersebut, pakar hukum pendidikan Prof. Dr. Johannes Gunawan (2019) menyatakan bahwa hak atas pendidikan yang aman bukan sekadar pemenuhan fasilitas belajar, melainkan bagian dari hak asasi manusia yang harus dijamin tata kelolanya oleh birokrasi pendidikan.

Urgensi regulasi ini semakin diperkuat oleh data empiris dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2022) yang menunjukkan bahwa ruang sekolah masih rentan terhadap gesekan sosial jika tidak dikelola dengan sistem proteksi yang matang. Dalam skala global, laporan UNESCO (2019) juga menegaskan bahwa lingkungan sekolah yang abai terhadap aspek keamanan psikologis dapat menurunkan capaian akademik secara global. Oleh karena itu, hadirnya Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 dan Gernas RANA menjadi jawaban taktis sekaligus jaminan hukum bahwa masa orientasi siswa baru harus menjadi ruang komitmen kasih sayang, bukan ajang perpeloncoan.

Dinding Psikologis yang Menumbuhkan Jiwa Anak

Mengapa anak-anak begitu membutuhkan sekolah yang ramah sejak hari pertama mereka melangkah di MPLS? Jawaban ilmiahnya dapat dibedah melalui hirarki kebutuhan Abraham Maslow (1943). Dalam teorinya, Maslow menegaskan bahwa kebutuhan akan rasa aman (safety needs) berada di level mendasar sebelum manusia bisa mencapai tahap aktualisasi diri dan optimalisasi kognitif. Ketika anak merasa cemas atau terancam di sekolah, energi mental mereka akan habis untuk bertahan hidup secara psikologis, sehingga menyisakan sedikit ruang untuk menyerap ilmu pengetahuan.

Dari perspektif sosiokultural, Lev Vygotsky (1978) lewat konsep Zone of Proximal Development (ZPD) menjelaskan bahwa perkembangan intelektual anak terjadi secara optimal melalui interaksi sosial yang kolaboratif dan suportif. Sekolah yang ramah menyediakan lingkungan sosial yang hangat, memungkinkan transfer pengetahuan dari guru ke siswa berjalan tanpa distorsi emosional. Kehadiran ruang aman ini juga didukung oleh Teori Ekologi Perkembangan Urie Bronfenbrenner (1979), khususnya pada tatanan mikrosistem. Hubungan langsung antara anak dengan guru dan teman sebaya di sekolah yang positif akan membentuk cetak biru karakter yang sehat bagi anak dalam jangka panjang.

Filosofi ini sejatinya telah lama diletakkan oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara (1952), yang mengonseptualisasikan sekolah sebagai "Taman Siswa". Sebuah taman adalah tempat yang menyenangkan, penuh keindahan, dan menumbuhkan. MPLS Ramah adalah implementasi modern dari konsep taman tersebut, di mana anak-anak tidak masuk ke dalam ruang kelas dengan ketakutan, melainkan dengan rasa ingin tahu yang benderang.

Akselerasi Prestasi dalam Dekapan Rasa Aman

Penciptaan sekolah ramah anak memberikan dampak domino yang luar biasa terhadap efektivitas proses belajar mengajar. Riset masif dari John Hattie (2009) dalam bukunya Visible Learning membuktikan bahwa iklim kelas dan hubungan emosional yang positif antara guru dan murid memiliki effect size yang sangat tinggi terhadap peningkatan prestasi akademik siswa. Ketika relasi di sekolah dibangun atas dasar saling menghargai, motivasi intrinsik siswa akan melonjak secara natural.

Dampak positif ini juga divalidasi oleh laporan kolaboratif World Health Organization (WHO) dan UNESCO (2021) mengenai standar global sekolah promotor kesehatan dan kesejahteraan. Data menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan prinsip perlindungan anak mengalami penurunan angka absensi siswa dan peningkatan partisipasi kelas yang signifikan. Senada dengan hal itu, Laporan UNESCO Chair on Global Health and Education (2019) menekankan bahwa kesejahteraan mental siswa (well-being) adalah motor penggerak utama dari keberhasilan kurikulum.

Kembali pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, proses ngerti (memahami), ngrasakke (merasakan), dan nglakoni (melakukan) hanya bisa terjadi secara utuh jika ruang batin anak berada dalam kondisi merdeka. Melalui skema Gernas RANA, dampak yang dihasilkan bukan sekadar angka indeks prestasi yang naik di atas kertas, melainkan lahirnya ekosistem kelas yang hidup, di mana guru dapat mengajar dengan penuh dedikasi dan siswa dapat mengeksplorasi bakat mereka dengan optimal tanpa adanya tekanan psikologis.

Manajemen Pendidikan sebagai Fondasi Ruang Aman

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mewujudkan MPLS Ramah dan sekolah yang aman memerlukan strategi manajemen pendidikan yang sistematis dan terukur. Edward Sallis (2002) dalam teori Total Quality Management (TQM) in Education menyebutkan bahwa mutu pendidikan hanya bisa dicapai jika ada komitmen total dari seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan, termasuk dalam aspek pelayanan psikologis siswa. Manajemen sekolah harus menempatkan perlindungan anak sebagai standar mutu utama operasional sekolah.

Dalam merumuskan regulasi tingkat satuan pendidikan, metodologi pendekatan komprehensif seperti yang digagas Sugiyono (2018) sangat penting untuk memetakan potensi risiko kekerasan di sekolah. Kepala sekolah harus memimpin manajemen berbasis data guna menciptakan sistem deteksi dini terhadap tindakan perundungan. Langkah tata kelola ini selaras dengan pandangan Prof. H.A.R. Tilaar (2012) yang menyatakan bahwa manajemen pendidikan nasional harus berlandaskan pada pengembangan pedagogi yang humanis, di mana struktur birokrasi sekolah berfungsi sebagai pelindung dan fasilitator pertumbuhan moral anak.

Aplikasi nyata dari strategi manajemen ini diperkuat oleh studi empiris dari Center for Subsidized Violence and Bullying Studies (2021) serta riset dari Harvard Graduate School of Education (2020). Kedua lembaga tersebut merekomendasikan pembuatan aturan main yang jelas di tingkat sekolah (school code of conduct) yang disusun bersama melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Dengan manajemen kepemimpinan sekolah yang partisipatif, MPLS Ramah tidak lagi menjadi program musiman setahun sekali, melainkan bertransformasi menjadi kultur sekolah yang melekat sepanjang tahun ajaran.

Tantangan terbesar dari setiap kebijakan progresif adalah bagaimana membumikannya ke tengah masyarakat. Strategi mensosialisasikan MPLS Ramah dan Gernas RANA memerlukan kepemimpinan yang transformasional. Gary Yukl (2013) dalam teori kepemimpinannya menekankan pentingnya komunikasi visi yang menginspirasi dan membangun koalisi yang kuat di semua level organisasi. Kepala dinas pendidikan dan kepala sekolah harus menjadi agen perubahan utama yang mengomunikasikan Gernas RANA bukan sebagai beban administratif, melainkan sebagai gerakan moral bersama.

Untuk memperluas jangkauan sosialisasi, pemanfaatan riset manajemen komunikasi publik yang adaptif ala Sugiyono (2018) dapat digunakan melalui media digital dan kampanye kreatif guna menyasar generasi muda dan orang tua. Langkah ini diperkuat oleh konsep kemitraan sekolah dan keluarga dari Joyce Epstein (2018). Epstein menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak sangat bergantung pada keterlibatan enam tipe kemitraan, di antaranya komunikasi dua arah yang efektif dan kolaborasi dengan komunitas. Orang tua harus diedukasi dan dilibatkan langsung sejak hari pertama MPLS, sehingga ada keselarasan ruang aman antara di rumah dan di sekolah.

Studi global dari UNESCO (2019) serta kelanjutan riset dari Harvard Graduate School of Education (2020) mengonfirmasi bahwa kampanye perlindungan anak yang sukses selalu melibatkan ekosistem yang lebih luas, termasuk tokoh masyarakat, media massal, dan sektor swasta. Gernas RANA harus diletakkan sebagai sebuah gerakan kebudayaan baru, di mana seluruh komponen bangsa merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keselamatan fisik dan mental anak-anak Indonesia.

Penerapan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang dibalut ke dalam Gernas RANA adalah bukti nyata hadirnya negara yang utuh dan penuh kasih di ruang kelas. Melalui tata kelola manajemen yang transparan dan sosialisasi yang inklusif, kita tidak hanya sedang menyambut siswa baru di gerbang sekolah, melainkan sedang menanam benih keadilan sosial dan martabat kemanusiaan sejak hari pertama. Fondasi kokoh inilah yang akan mengantarkan putra-putri terbaik bangsa melangkah dengan kepala tegak, siap menyongsong fajar Indonesia Emas 2045 yang berdaulat, cerdas, dan bermartabat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Eka Nurmawati
Tentang Eka Nurmawati
Seorang pembelajar yang suka dunia literasi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)