Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)

Demokrasi sering dipahami sebagai kemenangan suara terbanyak. Dalam praktik politik modern, ukuran keberhasilan demokrasi kerap direduksi menjadi tingginya angka partisipasi pemilih, pergantian kekuasaan yang damai, atau maraknya ruang kebebasan berpendapat. Namun, pertanyaan yang jauh lebih mendasar justru jarang diajukan: benarkah demokrasi kita sedang berada dalam kondisi sehat?

Demokrasi sejatinya bukan sekadar prosedur elektoral. Demokrasi adalah ekosistem yang dibangun di atas supremasi hukum, akuntabilitas kekuasaan, kebebasan sipil, serta kemampuan negara menghasilkan kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan jangka panjang. Ketika salah satu unsur tersebut melemah, demokrasi mungkin masih tampak hidup secara formal, tetapi kehilangan daya hidup secara substantif.

Ilmuwan politik Robert A. Dahl menjelaskan bahwa demokrasi yang matang ditandai oleh partisipasi efektif warga negara, persamaan hak politik, akses terhadap informasi yang beragam, serta kontrol masyarakat terhadap agenda kebijakan. Artinya, demokrasi tidak berhenti di bilik suara, melainkan berlanjut pada kualitas pemerintahan setelah pemilu selesai.

Dalam konteks Indonesia, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menyelenggarakan pemilu, melainkan bagaimana memastikan hasil demokrasi melahirkan kebijakan yang rasional, berkeadilan, dan berorientasi masa depan. Tidak sedikit kebijakan yang lahir lebih sebagai respons terhadap tekanan opini publik daripada hasil kajian ilmiah yang komprehensif. Fenomena ini dikenal sebagai policy populism, ketika popularitas lebih diprioritaskan daripada efektivitas.

Ekonom Dani Rodrik mengingatkan bahwa populisme tumbuh ketika institusi gagal menjawab keresahan masyarakat. Namun populisme tidak selalu menghasilkan solusi. Kebijakan yang terlalu mengejar kepuasan sesaat sering kali mengorbankan stabilitas fiskal, keberlanjutan lingkungan, bahkan kualitas demokrasi itu sendiri. Sebuah negara dapat memperoleh tepuk tangan hari ini, tetapi mewariskan persoalan yang jauh lebih berat kepada generasi berikutnya.

Di sinilah filsafat kebijakan memperoleh relevansinya. Aristoteles sejak berabad-abad lalu menegaskan bahwa tujuan politik adalah mencapai the common good, kebaikan bersama. Kebijakan publik semestinya tidak disusun demi kepentingan kelompok tertentu atau demi mempertahankan elektabilitas penguasa, melainkan demi terciptanya kehidupan yang adil bagi seluruh warga negara. Kebijakan yang baik sering kali tidak populer pada awalnya, tetapi memberikan manfaat besar dalam jangka panjang. Sebaliknya, kebijakan yang terlalu populis dapat menjadi jalan pintas menuju kemunduran institusi.

Pemikiran serupa juga muncul dalam filsafat John Rawls melalui konsep justice as fairness. Menurut Rawls, negara harus memastikan bahwa setiap kebijakan memberikan perlindungan kepada kelompok yang paling rentan, bukan sekadar memenuhi kehendak mayoritas. Demokrasi yang sehat bukanlah pemerintahan mayoritas yang bebas melakukan apa saja, melainkan pemerintahan yang dibatasi oleh prinsip keadilan.

Kondisi tersebut mengingatkan kita pada kritik tajam George Orwell dalam novel Nineteen Eighty-Four. Orwell menggambarkan bagaimana bahasa dapat dimanipulasi untuk membentuk realitas politik. Dalam masyarakat totaliter, istilah-istilah yang tampaknya mulia justru digunakan untuk menutupi praktik kekuasaan yang represif. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh siapa yang menguasai narasi.

Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels/bima)
Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels/bima)

Meskipun Indonesia hidup dalam sistem demokrasi, peringatan Orwell tetap relevan. Manipulasi informasi, propaganda digital, disinformasi, dan polarisasi politik menunjukkan bahwa ancaman terhadap demokrasi tidak selalu datang melalui kudeta atau kekerasan. Ancaman itu dapat hadir melalui pengaburan fakta, penguasaan ruang informasi, serta melemahnya budaya berpikir kritis.

Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa kebohongan politik yang diulang terus-menerus dapat mengikis kemampuan masyarakat membedakan fakta dan opini. Ketika masyarakat kehilangan pijakan terhadap kebenaran, demokrasi berubah menjadi arena pertarungan persepsi semata. Dalam situasi demikian, kualitas kebijakan tidak lagi dinilai berdasarkan bukti ilmiah, tetapi berdasarkan seberapa efektif narasi dibangun.

Ekonom sekaligus peraih Nobel, Amartya Sen, menambahkan bahwa demokrasi memiliki fungsi sebagai mekanisme koreksi sosial. Kebebasan berbicara memungkinkan kesalahan pemerintah diperbaiki sebelum berkembang menjadi krisis. Namun fungsi tersebut hanya berjalan apabila ruang kritik tetap terbuka dan lembaga-lembaga negara mampu menjaga independensinya.

Karena itu, kesehatan demokrasi tidak dapat diukur hanya melalui keberhasilan penyelenggaraan pemilu. Demokrasi harus dinilai dari kualitas lembaga peradilan, kebebasan pers, integritas birokrasi, kapasitas parlemen menjalankan fungsi pengawasan, serta keberanian masyarakat sipil mengawal kebijakan negara. Demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang selalu riuh oleh perdebatan, tetapi demokrasi yang mampu mengubah perbedaan menjadi kebijakan yang rasional.

Indonesia memiliki modal sosial yang besar berupa keberagaman budaya, semangat gotong royong, dan tradisi musyawarah. Nilai-nilai tersebut sebenarnya merupakan fondasi demokrasi deliberatif, yakni demokrasi yang mengedepankan dialog dan pertimbangan rasional sebelum mengambil keputusan. Sayangnya, ruang deliberasi sering kali kalah oleh politik yang mengutamakan sensasi, pencitraan, dan persaingan elektoral jangka pendek.

Kebijakan publik seharusnya tidak dibangun berdasarkan survei popularitas semata, melainkan melalui riset akademik, evaluasi empiris, dan partisipasi publik yang bermakna. Negara memerlukan pemimpin yang tidak hanya pandai memenangkan pemilu, tetapi juga berani mengambil keputusan yang benar meskipun tidak selalu disukai. Sejarah menunjukkan bahwa banyak kebijakan besar lahir dari keberanian berpikir jauh melampaui siklus politik lima tahunan.

Pada akhirnya, demokrasi bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan martabat manusia. Demokrasi yang sehat tidak hanya menghasilkan pemimpin, tetapi juga melahirkan kebijakan yang berpijak pada ilmu pengetahuan, etika, dan kepentingan generasi mendatang.

Mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi “apakah demokrasi kita masih berjalan?”, melainkan “apakah demokrasi kita masih mampu melahirkan kebenaran, menjaga akal sehat, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada masa depan?” Sebab ketika demokrasi kehilangan ketiga hal tersebut, yang tersisa hanyalah prosedur tanpa substansi—sebuah kondisi yang, jauh sebelum kita mengalaminya, telah diperingatkan Orwell melalui karya sastranya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)