Musim Hujan Segera Tiba, Drainase Kota Bandung Akan Menghadapi Ujian Sesungguhnya

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Rachmadi Rasyad
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Rachmadi Rasyad diterbitkan
Sejumlah pekerja melakukan perbaikan drainase di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah pekerja melakukan perbaikan drainase di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Memasuki musim hujan yang segera datang, saluran drainase di Kota Bandung akan menghadapi ujian sesungguhnya. Saluran yang sudah dikeruk, diperbaiki, dibongkar, dan dibangun ulang dalam dua tahun terakhir akan “diuji” alam. Sanggupkah menelan limpahan air hujan atau seperti biasa akan terjadi banjir cileuncang di sejumlah titik rawan.

Penyakit lama

Masalah sistem drainese bukanlah barang baru. Laporan akhir Penyusunan Konsep Pengembangan Drainase Kota Bandung tahun 2021 sudah memetakannya. Perlu diketahui, Kota Bandung dialiri sekitar 24 sungai yang bermuara ke selatan, ke arah Kabupaten Bandung.

Penyebab teknis genangan yang dicatat dalam laporan itu antara lain pengecilan dimensi saluran akibat sedimentasi dan bangunan liar, gorong-gorong yang dimensinya sudah tidak efektif, kerusakan badan saluran, penumpukan sampah, serta tersumbatnya lubang penghantar air dari badan jalan. Laporan tersebut juga menyebut belum adanya pemeliharaan periodik dan kurangnya koordinasi antarinstansi.

Titik-titik rawan yang menjadi langganan tergenang di antaranya Jalan Terusan Pasirkoja, Jalan Pagarsih, Jalan Cingised, dan Jalan Ir. H. Djuanda.

Baca Juga: Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Kawasan Cibaduyut yang menjadi langganan banjir saat musim hujan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Kawasan Cibaduyut yang menjadi langganan banjir saat musim hujan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Kejar Tayang

Di awal 2025, Pemkot mencatat telah melakukan rehabilitasi drainase sepanjang 14.657 meter. Sedangkan pembangunan drainase baru masih tertinggal. Data per Oktober 2025 menunjukkan baru 1.606 meter yang terbangun dari target 3.928 meter atau baru mencakup sekitar 41 persen.

Panjang drainase yang beroperasi optimal disebut telah mencapai 282.349 meter. Jalan Pacuan Kuda, Arcamanik Endah, Sukapura, Terusan Jakarta, Golf Raya, Panghegar, Cingised, Leuwipanjang, Ir. H. Djuanda, dan Siliwangi masuk dalam daftar prioritas.

Anggota Komisi III DPRD Kota, Andri Rusmana, pada 4 Januari 2026 mendesak agar perbaikan jalan lingkungan dan drainase jadi prioritas.

"Infrastruktur dasar ini adalah kebutuhan paling dekat dengan warga, bukan sekadar proyek mercusuar," ujarnya. Ia menyebut titik rawan banjir dan genangan sebagai pekerjaan rumah yang tidak boleh lagi tertunda. Ia juga meminta pengawasan kualitas pekerjaan agar tidak cepat rusak. Soal anggaran, menurutnya belum bisa disebut tinggi, tetapi juga tidak bisa dikatakan sepenuhnya memadai.

Sementara di lapangan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan dinas terkait mengejar target.

"Cuaca hujan terus terjadi, tapi belum hujan besar. Mumpung belum terjadi hujan besar, pembersihan drainase kita lakukan setiap hari. Titiknya banyak, ratusan, dan dikerjakan bersamaan. Ini benar-benar menguras tenaga," ungkapnya pada 28 Januari 2026.

Farhan juga mengakui menemui sejumlah keterbatasan dan masalah yang tak bisa diselesaikan begitu saja.

"Alhamdulillah, drainase di permukiman sudah banyak kita perbaiki satu per satu. Tapi memang ada beberapa drainase yang sudah terkunci, terutama yang terhubung langsung ke sungai-sungai bermasalah seperti Cikapundung, Cidurian, dan lainnya," ujarnya.

Menurutnya, penanganan sungai berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan butuh waktu panjang. "Maka untuk mempercepat, kita tangani dulu drainase-drainase di titik pemukiman," jelasnya.

Pemkot juga membongkar sejumlah bangunan yang menutup saluran.

April silam Pemkot melaporkan dari 68 titik genangan yang menjadi indikator pengukuran, 61 titik telah tertangani. Tujuh titik lainnya masih dalam proses, terutama di kawasan dengan sistem drainase yang lebih kompleks dan aktivitas warga yang padat. Intervensinya mencakup kolam retensi, rumah pompa, normalisasi sungai sepanjang 14,33 kilometer, serta pembangunan dan rehabilitasi drainase perkotaan.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Rizki Kusrulyadi, menegaskan fokus pada infrastruktur yang sudah ada.

"Fokus kami saat ini adalah pemeliharaan dan penanganan titik-titik prioritas yang langsung dirasakan masyarakat. Karena itu kami memastikan kondisi jalan, trotoar, dan sistem drainase tetap berfungsi dengan baik melalui perbaikan yang dilakukan secara bertahap," ujarnya.

Rizki mengaitkan drainase yang buruk dengan kerusakan jalan. Menurut dia ada sekitar 71 kilometer dari total 984 kilometer jalan Bandung yang rusak ringan hingga berat akibat air.

"Air yang melimpas ke badan jalan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan. Karena itu, penanganan drainase menjadi bagian penting dari penataan infrastruktur," katanya.

Ia menargetkan seluruh jalan di Kota Bandung dapat terpelihara dengan baik secara bertahap, didukung trotoar yang nyaman dan sistem drainase yang optimal.

Pekerja membongkar saluran drainase lama yang sudah dipenuhi pasir dan batuan di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pekerja membongkar saluran drainase lama yang sudah dipenuhi pasir dan batuan di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Sementara itu dalam doorstop terbaru, Farhan menyampaikan bahwa pekerjaan belum selesai. Fokus tahun depan adalah penataan jalan, trotoar, dan drainase di pusat ekonomi seperti di kawasan Sayap Sudirman dan Sayap Peta.

"Kemudian yang terakhir, tahun 2028, kita akan fokus kepada masalah penanganan banjir secara tuntas," katanya, 25 September 2026.

Kebutuhan anggarannya Rp800 miliar.

"Kalau dari APBD murni sudah pasti tidak mungkin. Kita sedang memikirkan mencari berbagai macam pembiayaan," bebernya.

Baca Juga: Banjir Cibaduyut Bandung: Kegagalan Pemkot Bandung dalam Pengelolaan Drainase

Ujian Segera Tiba

Sejak pertengahan September ini, walaupun tidak setiap hari, sebagian kota Bandung sudah diguyur hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri memprediksi awal musim hujan akan tiba pada November di sebagian Jawa. Meski tidak disebutkan secara persis apakah Kota Bandung juga akan mengalami awal yang sama, namun musim hujan sudah di depan mata.

Pada saat itulah, sistem dan saluran drainase di Kota Bandung akan “diuji” alam.  Bisa jadi ukuran lulusnya bukan lagi sekadar ada atau tidaknya genangan atau banjir, tetapi seberapa cepat air surut. Atau malah masih banjir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)