AYOBANDUNG.ID - Memasuki musim hujan yang segera datang, saluran drainase di Kota Bandung akan menghadapi ujian sesungguhnya. Saluran yang sudah dikeruk, diperbaiki, dibongkar, dan dibangun ulang dalam dua tahun terakhir akan “diuji” alam. Sanggupkah menelan limpahan air hujan atau seperti biasa akan terjadi banjir cileuncang di sejumlah titik rawan.
Penyakit lama
Masalah sistem drainese bukanlah barang baru. Laporan akhir Penyusunan Konsep Pengembangan Drainase Kota Bandung tahun 2021 sudah memetakannya. Perlu diketahui, Kota Bandung dialiri sekitar 24 sungai yang bermuara ke selatan, ke arah Kabupaten Bandung.
Penyebab teknis genangan yang dicatat dalam laporan itu antara lain pengecilan dimensi saluran akibat sedimentasi dan bangunan liar, gorong-gorong yang dimensinya sudah tidak efektif, kerusakan badan saluran, penumpukan sampah, serta tersumbatnya lubang penghantar air dari badan jalan. Laporan tersebut juga menyebut belum adanya pemeliharaan periodik dan kurangnya koordinasi antarinstansi.
Titik-titik rawan yang menjadi langganan tergenang di antaranya Jalan Terusan Pasirkoja, Jalan Pagarsih, Jalan Cingised, dan Jalan Ir. H. Djuanda.
Baca Juga: Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Kejar Tayang
Di awal 2025, Pemkot mencatat telah melakukan rehabilitasi drainase sepanjang 14.657 meter. Sedangkan pembangunan drainase baru masih tertinggal. Data per Oktober 2025 menunjukkan baru 1.606 meter yang terbangun dari target 3.928 meter atau baru mencakup sekitar 41 persen.
Panjang drainase yang beroperasi optimal disebut telah mencapai 282.349 meter. Jalan Pacuan Kuda, Arcamanik Endah, Sukapura, Terusan Jakarta, Golf Raya, Panghegar, Cingised, Leuwipanjang, Ir. H. Djuanda, dan Siliwangi masuk dalam daftar prioritas.
Anggota Komisi III DPRD Kota, Andri Rusmana, pada 4 Januari 2026 mendesak agar perbaikan jalan lingkungan dan drainase jadi prioritas.
"Infrastruktur dasar ini adalah kebutuhan paling dekat dengan warga, bukan sekadar proyek mercusuar," ujarnya. Ia menyebut titik rawan banjir dan genangan sebagai pekerjaan rumah yang tidak boleh lagi tertunda. Ia juga meminta pengawasan kualitas pekerjaan agar tidak cepat rusak. Soal anggaran, menurutnya belum bisa disebut tinggi, tetapi juga tidak bisa dikatakan sepenuhnya memadai.
Sementara di lapangan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan dinas terkait mengejar target.
"Cuaca hujan terus terjadi, tapi belum hujan besar. Mumpung belum terjadi hujan besar, pembersihan drainase kita lakukan setiap hari. Titiknya banyak, ratusan, dan dikerjakan bersamaan. Ini benar-benar menguras tenaga," ungkapnya pada 28 Januari 2026.
Farhan juga mengakui menemui sejumlah keterbatasan dan masalah yang tak bisa diselesaikan begitu saja.
"Alhamdulillah, drainase di permukiman sudah banyak kita perbaiki satu per satu. Tapi memang ada beberapa drainase yang sudah terkunci, terutama yang terhubung langsung ke sungai-sungai bermasalah seperti Cikapundung, Cidurian, dan lainnya," ujarnya.
Menurutnya, penanganan sungai berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan butuh waktu panjang. "Maka untuk mempercepat, kita tangani dulu drainase-drainase di titik pemukiman," jelasnya.
Pemkot juga membongkar sejumlah bangunan yang menutup saluran.
April silam Pemkot melaporkan dari 68 titik genangan yang menjadi indikator pengukuran, 61 titik telah tertangani. Tujuh titik lainnya masih dalam proses, terutama di kawasan dengan sistem drainase yang lebih kompleks dan aktivitas warga yang padat. Intervensinya mencakup kolam retensi, rumah pompa, normalisasi sungai sepanjang 14,33 kilometer, serta pembangunan dan rehabilitasi drainase perkotaan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Rizki Kusrulyadi, menegaskan fokus pada infrastruktur yang sudah ada.
"Fokus kami saat ini adalah pemeliharaan dan penanganan titik-titik prioritas yang langsung dirasakan masyarakat. Karena itu kami memastikan kondisi jalan, trotoar, dan sistem drainase tetap berfungsi dengan baik melalui perbaikan yang dilakukan secara bertahap," ujarnya.
Rizki mengaitkan drainase yang buruk dengan kerusakan jalan. Menurut dia ada sekitar 71 kilometer dari total 984 kilometer jalan Bandung yang rusak ringan hingga berat akibat air.
"Air yang melimpas ke badan jalan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan. Karena itu, penanganan drainase menjadi bagian penting dari penataan infrastruktur," katanya.
Ia menargetkan seluruh jalan di Kota Bandung dapat terpelihara dengan baik secara bertahap, didukung trotoar yang nyaman dan sistem drainase yang optimal.

Sementara itu dalam doorstop terbaru, Farhan menyampaikan bahwa pekerjaan belum selesai. Fokus tahun depan adalah penataan jalan, trotoar, dan drainase di pusat ekonomi seperti di kawasan Sayap Sudirman dan Sayap Peta.
"Kemudian yang terakhir, tahun 2028, kita akan fokus kepada masalah penanganan banjir secara tuntas," katanya, 25 September 2026.
Kebutuhan anggarannya Rp800 miliar.
"Kalau dari APBD murni sudah pasti tidak mungkin. Kita sedang memikirkan mencari berbagai macam pembiayaan," bebernya.
Baca Juga: Banjir Cibaduyut Bandung: Kegagalan Pemkot Bandung dalam Pengelolaan Drainase
Ujian Segera Tiba
Sejak pertengahan September ini, walaupun tidak setiap hari, sebagian kota Bandung sudah diguyur hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri memprediksi awal musim hujan akan tiba pada November di sebagian Jawa. Meski tidak disebutkan secara persis apakah Kota Bandung juga akan mengalami awal yang sama, namun musim hujan sudah di depan mata.
Pada saat itulah, sistem dan saluran drainase di Kota Bandung akan “diuji” alam. Bisa jadi ukuran lulusnya bukan lagi sekadar ada atau tidaknya genangan atau banjir, tetapi seberapa cepat air surut. Atau malah masih banjir.