Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Selasa 31 Mar 2026, 17:02 WIB
Luapan saluran drainase menyebabkan arus banjir deras menggenangi badan jalan di Cianjur. (Sumber: Dok. Satlantas Polres Cianjur)

Luapan saluran drainase menyebabkan arus banjir deras menggenangi badan jalan di Cianjur. (Sumber: Dok. Satlantas Polres Cianjur)

Kasus pemotor yang terperosok dan hanyut ke dalam drainase di berbagai daerah seperti Cianjur (2026), Bogor (2022), dan Bandung (2020) menunjukkan pola yang berulang. Dalam banyak kejadian, genangan air menutupi badan jalan dan menghilangkan batas visual antara permukaan jalan dan saluran di sekitarnya.

Dalam situasi tersebut, fungsi dasar jalan sebagai ruang yang aman bagi pergerakan justru terganggu. Bagi pemotor—yang merupakan kelompok pengguna jalan rentan—kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan dengan konsekuensi yang bisa fatal.

Data nasional menunjukkan bahwa sepeda motor merupakan moda dengan tingkat kecelakaan tertinggi di Indonesia. IRSMS Korlantas Polri mendata jumlah kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sebesar 76,42 persen dari jumlah total kecelakaan yang terjadi pada tahun 2024.

Curah hujan sering kali dianggap sebagai penyebab utama. Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa peningkatan risiko kecelakaan saat hujan terjadi karena kombinasi antara faktor cuaca dan kondisi infrastruktur.

Penurunan visibilitas, genangan air, serta hilangnya batas tepi jalan membuat pengendara—terutama pemotor—lebih sulit mempertahankan kendali dan orientasi. Dalam kondisi seperti ini, elemen infrastruktur yang tidak terlihat menjadi sumber risiko yang signifikan.

Ketika Solusi Berubah Menjadi Sumber Bahaya

Secara prinsip, drainase jalan dirancang sebagai solusi untuk mengurangi genangan dan menjaga fungsi jalan tetap optimal saat hujan. Dalam Pedoman Desain Drainase Jalan No. 15/P/BM/2021 dari Direktorat Jenderal Bina Marga, sistem drainase merupakan bagian penting dalam menjaga kinerja jalan sekaligus mendukung keselamatan pengguna.

Namun dalam praktiknya, fungsi ini tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Pada beberapa kasus, drainase justru berubah menjadi sumber bahaya—terutama ketika saluran dibiarkan terbuka, tidak memiliki penutup, atau tidak dilengkapi pengaman tepi.

Ketika genangan air menutup permukaan jalan, batas antara badan jalan dan saluran drainase menjadi tidak terlihat. Dalam kondisi ini, pemotor tidak hanya menghadapi risiko tergelincir, tetapi juga risiko terperosok ke dalam saluran yang seharusnya menjadi solusi pengendalian air.

Paradoks ini menunjukkan bahwa infrastruktur tidak cukup hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga harus aman secara operasional.

Pendekatan keselamatan jalan global yang didukung oleh World Health Organization melalui konsep Safe System menekankan bahwa sistem transportasi harus dirancang untuk tetap aman bahkan ketika pengguna melakukan kesalahan.

Lokasi penemuan korban drainase di Cianjur. Ditemukan dekat Bendungan Cirata. (Sumber: Humas Polres Cianjur)
Lokasi penemuan korban drainase di Cianjur. Ditemukan dekat Bendungan Cirata. (Sumber: Humas Polres Cianjur)

Dalam pendekatan ini, kesalahan manusia dianggap tidak terhindarkan. Karena itu, infrastruktur harus mampu meminimalkan dampaknya. Namun, drainase terbuka di tepi jalan justru menciptakan kondisi yang berlawanan.

Alih-alih mengurangi risiko, desain seperti ini membentuk lingkungan jalan yang tidak toleran terhadap kesalahan kecil. Ketika pemotor sedikit keluar jalur akibat genangan, konsekuensinya bisa langsung fatal.

Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai regulasi dan pedoman teknis. Selain standar dari Direktorat Jenderal Bina Marga, prinsip penyediaan fasilitas perlengkapan jalan untuk mendukung keselamatan pengguna jalan juga ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Namun demikian, berbagai kasus menunjukkan bahwa implementasi di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan integrasi antara fungsi teknis dan keselamatan. Drainase masih sering diposisikan sebagai elemen hidrologi semata, bukan sebagai bagian dari sistem keselamatan jalan.

Mengapa Risiko Ini Terus Berulang?

Berulangnya kasus serupa di berbagai kota menunjukkan adanya pola risiko yang dapat diprediksi. Kombinasi antara drainase terbuka, genangan yang menurunkan visibilitas, serta minimnya pengaman tepi jalan menciptakan kondisi yang secara sistemik meningkatkan kemungkinan kecelakaan.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar kejadian acak, melainkan risiko struktural yang terus berulang karena belum ditangani secara komprehensif.

Untuk mengurangi risiko ini, diperlukan perubahan pendekatan yang lebih mendasar.

Penggunaan penutup drainase di area lalu lintas perlu menjadi standar minimum. Pengaman tepi jalan seperti kerb atau barrier harus diterapkan secara konsisten. Selain itu, inspeksi dan pemeliharaan rutin perlu diperkuat untuk memastikan tidak ada elemen infrastruktur yang berada dalam kondisi berbahaya.

Lebih jauh lagi, dalam kondisi cuaca ekstrem, diperlukan manajemen lalu lintas serta penyampaian informasi yang lebih baik kepada pengguna jalan.

Baca Juga: Kisah Beberapa Perkampungan Kota Bandung (Bagian 1)

Kasus pemotor yang hanyut ke dalam saluran drainase jalan menunjukkan bahwa risiko ini sebenarnya dapat diprediksi. Dalam kerangka keselamatan jalan modern, tanggung jawab tidak hanya berada pada pengguna, tetapi juga pada perancang dan pengelola infrastruktur.

Drainase jalan seharusnya menjadi solusi saat banjir, bukan jebakan yang mengancam nyawa. Ketika infrastruktur justru menciptakan bahaya, yang perlu dipertanyakan bukan hanya cuaca ekstrem, tetapi juga cara kita merancang dan mengelola jalan.

Namun yang paling penting adalah perubahan cara pandang: drainase jalan bukan sekadar saluran air, melainkan bagian dari sistem keselamatan transportasi. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Dosen dan Peneliti Bidang Teknik Sipil (Transportasi), Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Mar 2026, 18:28

Memupuk Kerukunan, Menjaga Keharmonisan

Memupuk kerukunan dan menjaga keharmonisan menjadi keharusan dalam kerangka penguatan tiga pilar utama.

Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 17:02

Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Drainase jalan seharusnya menjadi solusi saat banjir. Namun dalam beberapa kasus, justru berubah menjadi sumber bahaya tersembunyi bagi pemotor.

Luapan saluran drainase menyebabkan arus banjir deras menggenangi badan jalan di Cianjur. (Sumber: Dok. Satlantas Polres Cianjur)
Beranda 31 Mar 2026, 16:35

Merangkai Kepercayaan Diri Remaja Difabel, Langkah Kecil Menuju Mandiri

Di Percik Insani, remaja difabel belajar membangun kepercayaan diri melalui aktivitas sederhana misalnya memasak hingga bermusik sebagai langkah kecil menuju kemandirian.

Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 31 Mar 2026, 16:03

Chuan Jianguo, Olokan Sarkastik Warganet China untuk Kamerad Trump

Warganet China menciptakan julukan Chuan Jianguo sebagai bentuk humor politik yang mengkritik dampak kebijakan Donald Trump.

Gambar Chuan Jianguo, Kamerad Donald Trump di Weibo. (Sumber: Weibo)
Sejarah 31 Mar 2026, 14:07

Sejarah Cirebon Dijuluki Kota Udang

Julukan Kota Udang di Cirebon berakar dari sejarah panjang udang rebon sebagai komoditas utama yang membentuk identitas pesisir sejak dulu.

Ilustrasi julukan Cirebon sebagai Kota Udang. (Sumber: Shutterstock)
Beranda 31 Mar 2026, 12:44

Harimau Huru dan Hara, Dua Nyawa yang Melayang di Tengah Ketidakpastian Bandung Zoo

Kematian dua anak harimau di Bandung Zoo mengungkap rapuhnya pengelolaan di tengah konflik berkepanjangan. Di baliknya, muncul pertanyaan besar tentang keselamatan satwa dan masa depan konservasi.

Huru dan Hara mati akibat terinfeksi virus feline panleukopenia. Hara lebih dulu mati pada 24 Maret 2026, disusul Huru pada 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 11:26

Melanjutkan Lebaranomics, Membuka Pintu Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Lebaranomics telah memompa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 di angka 5,4–5,5 persen

Ilustrasi kegiatan masyarakat pesisir (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arditya Pramono)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 10:01

Mars Renced Bergema di Lapas Majalengka

D'Renced adalah band yang secara terbuka melalui karyanya akan terus membawa ide, kritik dan gagasan yang berkelanjutan

 (Foto: TIM Media Lapas Kelas II B Majengka)
Beranda 31 Mar 2026, 09:18

Tergusur Kemajuan Teknologi, Loper Koran di Ambang Kepunahan

Penurunan pembeli yang drastis membuat mereka bertahan di batas, menjalani hari sambil menunggu nasib profesi ini yang perlahan mendekati kepunahan.

Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 31 Mar 2026, 09:16

Victory Water Park Soreang, Gabungan Wisata Air dengan Kebun Binatang

Objek wisata Bandung dengan kolam ombak, arus, hingga mini zoo di Victory Water Park Soreang. Cocok untuk liburan keluarga dengan tiket terjangkau.

Objek wisata Bandung Victory Water Park Soreang. (Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 31 Mar 2026, 08:49

Macet Jadi Rutinitas, Forum Warga Desak Transformasi Transportasi Umum Kota Bandung

Kemacetan yang kian menjadi rutinitas mendorong warga Bandung bersuara. Melalui forum diskusi, mereka mendesak transformasi transportasi umum yang lebih terintegrasi, manusiawi, dan benar-benar berdam

Kemacetan mengular di kawasan Dago, Kota Bandung, menjadi potret keseharian yang kian akrab bagi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 08:35

Tradisi ‘Ngadem’ dan Cara Kita Menjemput Langkah Baru di Tanah Kelahiran

Kembali berkativitas setelah menjalankan beberapa ritual di hari Lebaran.

Pantai Pangandaran. (Sumber: Pexels | Foto: laylia)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 19:45

Ganti Profesi Usai Lebaran, Mencari yang Lebih Cocok dengan Semangat Zaman

Banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang tidak langsung cocok dengan pekerjaan atau profesi pertamanya.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Bandung 30 Mar 2026, 17:03

The Hallway Space: Menyulap Pasar Tradisional Jadi Ruang Bisnis Kreatif Anak Bandung

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem.

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 16:24

Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an

Pada hari Lebaran banyak orang-orang yang terlibat dalam permainan lotre atau judi padahal kbaru saja menjalani shaum Ramadan

Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)
Linimasa 30 Mar 2026, 15:12

Jejak Serangan Berdarah Israel terhadap Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon

Sejarah mencatat berbagai serangan terhadap UNIFIL di Lebanon, dari tragedi Qana 1996 hingga insiden terbaru yang menewaskan prajurit Indonesia.

Latihan bersama Kontingen Garuda dengan Lebanese Armed Forces. (Sumber: tniad.mil.id)
Beranda 30 Mar 2026, 14:43

Jejak Perjalanan Motor Pemudik dari Kiaracondong ke Kampung Halaman

Mudik tak selalu identik dengan lelah di jalan. Lewat program Motis, ratusan sepeda motor diangkut dengan kereta dari Kiaracondong, menghadirkan perjalanan pulang yang lebih aman, ringan, dan manusiaw

Rapi berjejer, sepeda motor pemudik yang sudah “dibungkus” siap diberangkatkan menuju tujuan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 13:56

Kakarén dan Hidup Setelah Lebaran

Kakarén Lebaran bisa dibaca sebagai metafora yang menarik.

produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung pada Rabu, 27 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 12:37

Transportasi Laut Pemudik: Antara Pelayaran Rakyat Anak Tiri dan Pelayaran Pelat Merah Anak Emas

Kegiatan penyeberangan dengan pelayaran rakyat sarat dengan bahaya.

Ilustrasi kapal pelayaran rakyat. (Sumber: Pexels | Foto: Agus Triwinarso)