Ganti Profesi Usai Lebaran, Mencari yang Lebih Cocok dengan Semangat Zaman

4 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Banyak pihak yang menggunakan momentum lebaran untuk bertukar pikiran dan berdiskusi dengan kerabat dan teman tentang pekerjaan dan profesi masing-masing. Salah satu isu yang dibahas di antara kaum pemuda saat lebaran adalah ganti profesi. Apalagi pada saat ini kian banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi sebagian besar tidak langsung cocok dengan pekerjaan atau profesi pertamanya. Mereka terus mencari lapangan kerja yang lebih nyaman dan cocok dengan semangat zaman.

Acara lebaran yang mempertemukan kerabat dan handai tolan tentunya banyak memberi informasi terkait profesi dan lapangan kerja. Bahkan mereka yang masih tinggal di desa banyak yang terpikat untuk ganti profesi. Meskipun dengan profesi yang baru belum tentu secara ekonomi dan kesejahteraan bisa lebih baik. Ingat pepatah “rumput tetangga lebih hijau”.

Namun demikian ganti profesi sebaiknya terlebih dahulu dipikir secara matang dan berdasarkan kemampuan diri dan faktor psikologi,

Ganti profesi setelah lebaran adalah momen yang tepat karena biasanya banyak perusahaan membuka lowongan. Langkah utamanya adalah memperbarui CV, melakukan riset perusahaan, memanfaatkan jaringan profesional, dan melatih kemampuan wawancara.

Masalah career switch pada era disrupsi sekarang ini merupakan keniscayaan.  Apalagi semakin banyak ragam profesi yang terkubur oleh perkembangan teknologi. Langkah banting setir dalam berkarir itu ternyata sangat mengasyikkan, ibarat sedang menjalani malam pertama dengan pasangan kita sesaat setelah menikah.

Saya sendiri beberapa saat setelah lulus kuliah, justru ingin sekali ganti profesi. Namun apa daya, status saya sebagai mahasiswa ikatan dinas tugas belajar. Sehingga baru bebas banting setir setelah masa ikatan dinas saya selesai, sesuai dengan perjanjian ikatan dinas.

Sebagai orang yang berlatar belakang pendidikan teknik, saya banyak melihat kawan sejawat dan adik angkatan yang justru sukses berganti profesi. Meninggalkan profesinya yang sejati yakni dunia teknik. Salah satu yang tidak luput dari perhatian saya adalah adik angkatan saya, yakni Vino G Bastian, aktor film ternama dan sedang memuncaki jagat industri kreatif nasional. Vino adalah lulusan Teknik Kimia dari perguruan tinggi yang didirikan oleh Presiden Indonesia ke-3 BJ.Habibie. Dia menempuh pendidikan dengan lancar dan lulus dengan baik. Lalu banting setir menekuni profesi artis film.

Banting setir profesi saat ini justru difasilitasi dan diakselerasi oleh Kementerian Pendidikan sejak era Menteri Nadiem Anwar Makarim. Kementerian menerapkan filosofi skolastik dan menumbuhkan talenta mahasiswa. Filosofinya itu sangat relevan dengan semangat zaman kini. Paham skolastik/skolatisme yg menjunjung tinggi sistem logika dalam dunia pendidikan sejak era Aristoteles kini menjadi relevan kembali.

Tidak perlu heran jika Prodi Teknik Kimia menghasilkan SDM hebat semacam Vino Bastian. Program Kampus Merdeka Menteri Nadiem telah mereformasi ( sebagian pakar bilang merevolusi ) prodi prodi di PT, sistem rekrutmen masuk PT telah diubah, menekankan aspek skolastik.

Fenomena pemutusan hubungan kerja atau PHK semakin menjadi sorotan publik karena dampaknya yang luas terhadap kehidupan pekerja, pencari kerja, dan dinamika hubungan industrial. (Sumber: Freepik)
Fenomena pemutusan hubungan kerja atau PHK semakin menjadi sorotan publik karena dampaknya yang luas terhadap kehidupan pekerja, pencari kerja, dan dinamika hubungan industrial. (Sumber: Freepik)

Luaran Prodi PT menghasilkan sosok-sosok yang sangat beragam, begitupun seseorang bisa masuk jalur antar prodi dengan mudah. Bidang profesi yang dicetak dari PT semakin terbarukan sesuai dgn zeitgeist alias semangat zaman.  Program diatas membuka lebar dan mempermudah seseorang untuk melakukan banting setir  karir atau profesi.

Untuk hal diatas sistem akreditasi PT yang berbasis Prodi diberlakukan sistem Lembaga Akreditasi Mandiri ( LAM) yang memberi keleluasaan bagi konsorsium ilmu dan  teknologi untuk berlari mengejar kemajuan.

Undang-Undang No.12 tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi menegaskan terbentuknya LAM sebagai penjaminan mutu PT dan prodi.  Implikasi berlakunya LAM menyebabkan  hilangnya peran BAN PT ( Badan Akreditasi Nasional PT) yang selama ini sangat " berkuasa" dalam menentukan Akreditasi Program Studi (prodi) untuk selanjutnya akreditasi prodi akan ditata lebih efektif dengan platform digital yang sesuai dengan era Kampus 4.0 yang menekankan automasi, artificial intelligence, dan big data.

Menurut hemat hemat saya sistem LAM itu justru lebih murah dan efektif dibanding sebelumnya. Karena otomatisasi akreditasi tidak memerlukan biaya besar. Karena yang bekerja adalah mesin, yang memantau data dari berbagai sumber. Mesin atau tepatnya disebut platform akreditasi itu mesti dibangun oleh pemerintah , meskipun membutuhkan dana yang besar.

Saat ini ada fenomena yang menyedihkan terkait sempitnya lapangan kerja layak yang tidak mampu lagi menyerap jumlah penduduk angkatan kerja.Banyak lapangan kerja namun tidak layak dan tidak menjanjikan masa depan jika ditekuni. Sempitnya lapangan kerja yang layak menyebabkan sebagian besar lulusan sekolah dan perguruan tinggi mesti banting setir profesinya.

Baca Juga: Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an

Mestinya negara segera mengatasi akar persoalan tersebut, yang sebenarnya menyangkut pendalaman dan penguasaan ragam profesi yang sesuai dengan kemajuan zaman. Untuk itulah betapa mendesaknya program yang masif dan membumi guna mendalami berbagai ragam profesi sejak dini.Ragam profesi yang sesuai dengan era disrupsi.

Sejak duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi seharusnya seseorang sudah diberikan bekal pendalaman ragam profesi secara intens. Dalam persaingan global yang sangat sengit sekarang ini, sekolah dituntut untuk mengenalkan sikap profesionalisme dan ragam profesi yang relevan dengan perkembangan zaman sejak awal.

Pemahaman terhadap ragam profesi idealnya mulai diberikan kepada para siswa sejak dini. Para siswa tidak sekedar ditanya tentang cita-citanya, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan muatan terhadap cita-cita tersebut. Pola dan sikap profesionalisme merupakan pupuk untuk menumbuhkan cita-cita seseorang. Untuk menumbuhkan sikap profesionalisme dan ragam profesi diperlukan sistem nilai yang bermuara kepada pranata dan persepsi masyarakat tentang budaya profesionalisme. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)