Banyak pihak yang menggunakan momentum lebaran untuk bertukar pikiran dan berdiskusi dengan kerabat dan teman tentang pekerjaan dan profesi masing-masing. Salah satu isu yang dibahas di antara kaum pemuda saat lebaran adalah ganti profesi. Apalagi pada saat ini kian banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi sebagian besar tidak langsung cocok dengan pekerjaan atau profesi pertamanya. Mereka terus mencari lapangan kerja yang lebih nyaman dan cocok dengan semangat zaman.
Acara lebaran yang mempertemukan kerabat dan handai tolan tentunya banyak memberi informasi terkait profesi dan lapangan kerja. Bahkan mereka yang masih tinggal di desa banyak yang terpikat untuk ganti profesi. Meskipun dengan profesi yang baru belum tentu secara ekonomi dan kesejahteraan bisa lebih baik. Ingat pepatah “rumput tetangga lebih hijau”.
Namun demikian ganti profesi sebaiknya terlebih dahulu dipikir secara matang dan berdasarkan kemampuan diri dan faktor psikologi,
Ganti profesi setelah lebaran adalah momen yang tepat karena biasanya banyak perusahaan membuka lowongan. Langkah utamanya adalah memperbarui CV, melakukan riset perusahaan, memanfaatkan jaringan profesional, dan melatih kemampuan wawancara.
Masalah career switch pada era disrupsi sekarang ini merupakan keniscayaan. Apalagi semakin banyak ragam profesi yang terkubur oleh perkembangan teknologi. Langkah banting setir dalam berkarir itu ternyata sangat mengasyikkan, ibarat sedang menjalani malam pertama dengan pasangan kita sesaat setelah menikah.
Saya sendiri beberapa saat setelah lulus kuliah, justru ingin sekali ganti profesi. Namun apa daya, status saya sebagai mahasiswa ikatan dinas tugas belajar. Sehingga baru bebas banting setir setelah masa ikatan dinas saya selesai, sesuai dengan perjanjian ikatan dinas.
Sebagai orang yang berlatar belakang pendidikan teknik, saya banyak melihat kawan sejawat dan adik angkatan yang justru sukses berganti profesi. Meninggalkan profesinya yang sejati yakni dunia teknik. Salah satu yang tidak luput dari perhatian saya adalah adik angkatan saya, yakni Vino G Bastian, aktor film ternama dan sedang memuncaki jagat industri kreatif nasional. Vino adalah lulusan Teknik Kimia dari perguruan tinggi yang didirikan oleh Presiden Indonesia ke-3 BJ.Habibie. Dia menempuh pendidikan dengan lancar dan lulus dengan baik. Lalu banting setir menekuni profesi artis film.
Banting setir profesi saat ini justru difasilitasi dan diakselerasi oleh Kementerian Pendidikan sejak era Menteri Nadiem Anwar Makarim. Kementerian menerapkan filosofi skolastik dan menumbuhkan talenta mahasiswa. Filosofinya itu sangat relevan dengan semangat zaman kini. Paham skolastik/skolatisme yg menjunjung tinggi sistem logika dalam dunia pendidikan sejak era Aristoteles kini menjadi relevan kembali.
Tidak perlu heran jika Prodi Teknik Kimia menghasilkan SDM hebat semacam Vino Bastian. Program Kampus Merdeka Menteri Nadiem telah mereformasi ( sebagian pakar bilang merevolusi ) prodi prodi di PT, sistem rekrutmen masuk PT telah diubah, menekankan aspek skolastik.

Luaran Prodi PT menghasilkan sosok-sosok yang sangat beragam, begitupun seseorang bisa masuk jalur antar prodi dengan mudah. Bidang profesi yang dicetak dari PT semakin terbarukan sesuai dgn zeitgeist alias semangat zaman. Program diatas membuka lebar dan mempermudah seseorang untuk melakukan banting setir karir atau profesi.
Untuk hal diatas sistem akreditasi PT yang berbasis Prodi diberlakukan sistem Lembaga Akreditasi Mandiri ( LAM) yang memberi keleluasaan bagi konsorsium ilmu dan teknologi untuk berlari mengejar kemajuan.
Undang-Undang No.12 tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi menegaskan terbentuknya LAM sebagai penjaminan mutu PT dan prodi. Implikasi berlakunya LAM menyebabkan hilangnya peran BAN PT ( Badan Akreditasi Nasional PT) yang selama ini sangat " berkuasa" dalam menentukan Akreditasi Program Studi (prodi) untuk selanjutnya akreditasi prodi akan ditata lebih efektif dengan platform digital yang sesuai dengan era Kampus 4.0 yang menekankan automasi, artificial intelligence, dan big data.
Menurut hemat hemat saya sistem LAM itu justru lebih murah dan efektif dibanding sebelumnya. Karena otomatisasi akreditasi tidak memerlukan biaya besar. Karena yang bekerja adalah mesin, yang memantau data dari berbagai sumber. Mesin atau tepatnya disebut platform akreditasi itu mesti dibangun oleh pemerintah , meskipun membutuhkan dana yang besar.
Saat ini ada fenomena yang menyedihkan terkait sempitnya lapangan kerja layak yang tidak mampu lagi menyerap jumlah penduduk angkatan kerja.Banyak lapangan kerja namun tidak layak dan tidak menjanjikan masa depan jika ditekuni. Sempitnya lapangan kerja yang layak menyebabkan sebagian besar lulusan sekolah dan perguruan tinggi mesti banting setir profesinya.
Baca Juga: Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an
Mestinya negara segera mengatasi akar persoalan tersebut, yang sebenarnya menyangkut pendalaman dan penguasaan ragam profesi yang sesuai dengan kemajuan zaman. Untuk itulah betapa mendesaknya program yang masif dan membumi guna mendalami berbagai ragam profesi sejak dini.Ragam profesi yang sesuai dengan era disrupsi.
Sejak duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi seharusnya seseorang sudah diberikan bekal pendalaman ragam profesi secara intens. Dalam persaingan global yang sangat sengit sekarang ini, sekolah dituntut untuk mengenalkan sikap profesionalisme dan ragam profesi yang relevan dengan perkembangan zaman sejak awal.
Pemahaman terhadap ragam profesi idealnya mulai diberikan kepada para siswa sejak dini. Para siswa tidak sekedar ditanya tentang cita-citanya, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan muatan terhadap cita-cita tersebut. Pola dan sikap profesionalisme merupakan pupuk untuk menumbuhkan cita-cita seseorang. Untuk menumbuhkan sikap profesionalisme dan ragam profesi diperlukan sistem nilai yang bermuara kepada pranata dan persepsi masyarakat tentang budaya profesionalisme. (*)
