Menelusuri Kelezatan Hidangan Nonya: Simfoni Cita Rasa Peranakan Cina Melayu

8 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)
Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)

Kuliner Nonya merupakan salah satu warisan budaya paling dinamis dan elegan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Memahami kuliner ini bukan sekadar mengecap rasa, melainkan menelusuri jejak sejarah panjang yang mempertemukan berbagai peradaban dalam satu piring. Apresiasi terhadap kompleksitas rasa yang dihasilkan bermula dari pengakuan atas proses akulturasi yang telah berlangsung selama berabad-abad di wilayah pesisir.

Sejarah mencatat fenomena ini sebagai "Perkawinan Dua Budaya". Berawal dari kedatangan kapal-kapal dagang dari daratan Cina yang singgah dan menetap di pelabuhan strategis seperti Penang, Malaka, dan Singapura. Para pria Cina ini kemudian menjalin ikatan pernikahan dengan wanita lokal berdarah Melayu. Interaksi mendalam ini melahirkan etnis baru yang dikenal sebagai 'Peranakan'. Dalam struktur sosial mereka, pria keturunan Peranakan disebut sebagai Babah, sementara para wanitanya disebut Nonya.

Dalam konteks gastronomi, penting untuk dicatat bahwa sementara "Babah" menjadi identitas sosial, para "Nonya" adalah penjaga api tradisi di dapur. Inilah sebabnya mengapa istilah "Kuliner Nonya" atau “Hidangan Nonya” kini jauh lebih populer untuk mendeskripsikan seni memasak Peranakan yang dianggap sophisticated dan unik. Melalui tangan para Nonya, teknik memasak yang presisi berpadu dengan kekayaan rempah lokal, menciptakan sebuah identitas kuliner yang berani namun tetap harmonis.

Karakteristik dan Filosofi Rasa: Perpaduan Cina dan Melayu

Dalam peta gastronomi Asia Tenggara, masakan Nonya menempati posisi yang sangat prestisius karena kemampuannya menjembatani dua filosofi kuliner yang berbeda. Hidangan ini merupakan hasil sintesis antara bahan dasar dari daratan Cina dengan kekayaan bumbu rempah aromatik khas Melayu.

Perbedaan pengaruh kedua budaya ini tercermin jelas dalam tiap elemen bahan dan teknik memasaknya. Budaya Melayu kuat dengan karakter bumbu rempah yang "berani"—seperti penggunaan akar rimpang, rempah daun, serta gurih aromatis dari santan kental, terasi, dan ebi. Cita rasa asamnya pun didapat secara alami dari bahan lokal seperti asam gelugur dan belimbing sayur.

Sebaliknya, pengaruh Cina membawa ragam bahan dasar populer seperti mi, tahu, jamur merang, rebung, sawi asin, kulit pangsit, hingga daging bebek. Khasnya lagi, kuliner Cina memperkaya rasa melalui saus dan kondimen fermentasi—seperti kecap manis/asin, tauco, minyak wijen, saus tiram, hingga saus plum.

Perpaduan ini menghasilkan profil rasa yang "aromatik" dan "tegas". Elemen kunci yang menyatukan kedua pengaruh ini adalah santan. Dalam hidangan ikonik seperti Laksa Nonya dan Kari Kepiting, santan berfungsi sebagai "mediator" atau penyeimbang yang menyatukan ketajaman rempah segar Melayu dengan bumbu kering khas Cina.

Santan memberikan tekstur velvety (beludru) yang lembut di lidah, menyatukan seluruh komponen rasa menjadi satu kesatuan yang utuh. Keberhasilan dalam memadukan dua kutub rasa ini berakar pada rahasia yang tersimpan di balik dapur tradisional Nonya.

Rahasia Dapur Nonya: Alat, Teknik, dan Bahan Utama

Kelezatan masakan Peranakan (Nonya) tidak hanya lahir dari pemilihan bahan-bahannya, tetapi juga dari proses pembuatan yang sangat teliti dan memakan waktu. Dedikasi terhadap setiap detail inilah yang menjadi kunci utama menjaga kualitas rasa tetap konsisten sekaligus mempertahankan keautentikannya secara turun-temurun.

Ketelitian tersebut tampak nyata dari penggunaan alat-alat tradisional di dapur Nonya yang memegang peran penting dalam menghasilkan aroma hidangan yang begitu pekat. Ulekan batu, misalnya, wajib digunakan untuk menghaluskan bumbu-bumbu segar secara manual demi mengeluarkan minyak alaminya. Sementara itu, wajan (wok) lebar digunakan untuk menumis bumbu hingga matang sempurna dan berminyak.

Tak kalah penting adalah belanga—panci dari tanah liat yang menjadi alat utama untuk mengolah masakan berkuah. Penggunaan belanga memungkinkan panas terdistribusi secara merata, sehingga aroma rempah terikat sempurna dan meresap ke dalam masakan.

Selain peralatan yang khas, keautentikan rasa masakan Nonya juga ditopang oleh teknik-teknik memasak tradisional yang diwariskan antar-generasi. Salah satunya adalah teknik mengukus ala Tionghoa yang kerap memanfaatkan kukusan bambu untuk menjaga tekstur, kelembutan, serta kelembapan alami bahan makanan. Selain itu, ada pula teknik membakar di atas bara api terbuka. Metode ini diterapkan terutama pada hidangan berbahan dasar ikan atau pepes untuk menciptakan dimensi aroma smoky yang kuat dan khas.

Di samping keahlian teknis, kekayaan cita rasa masakan Nonya bersumber dari keberagaman bahan dasar yang dipadukan secara harmonis. Fondasi utamanya bertumpu pada penggunaan akar rimpang—seperti jahe, kencur, lengkuas, kunyit, dan serai—yang dipadukan dengan aneka bawang, mulai dari bawang merah, bawang putih, bawang bombai, daun bawang, kucai, hingga bawang cung.

Untuk menghadirkan kesegaran, masakan ini memanfaatkan beragam bahan pengasam alami seperti asam gelugur, asam jawa, belimbing sayur, dan jeruk limau, yang kerap diperkaya dengan pengaruh kuliner Cina berupa plum utuh yang diasinkan. Semua paduan tersebut kian sempurna berkat penyedap alami seperti terasi (belachan) dan ebi yang memberikan karakter gurih-gurih manis (umami) yang meresap mendalam.

Selebihnya, fondasi peralatan tradisional yang khas dan penggunaan bahan-bahan segar tersebut tidak hanya menciptakan cita rasa yang kaya, tetapi juga disempurnakan dengan sentuhan estetika visual yang cantik dan menggugah selera.

Estetika Visual: Seni Pewarna Alami dalam Kuliner Nonya

Bagi keluarga Peranakan, sebuah hidangan bukan sekadar urusan memanjakan lidah. Aspek visual memiliki tingkat kepentingan yang setara dengan cita rasa. Warna-warna cerah yang terpancar dari masakan mereka bukan hanya pemanis penampilan, melainkan simbol kecermatan dalam memasak sekaligus bentuk penghormatan yang tinggi terhadap kebaikan alam.

Estetika visual tersebut dihadirkan melalui penggunaan tiga pewarna alami utama yang menjadi ciri khas kuliner Peranakan. Pertama adalah warna hijau segar yang diperoleh dari perasan daun suji. Ekstrak alami ini memberikan rona hijau pekat dan menawan pada aneka hidangan, salah satunya Kuih Dadar.

Selanjutnya adalah warna biru nan elegan yang diekstrak dari Bunga Telang. Bahan ini menghasilkan nuansa biru keunguan yang unik, seperti yang tampak pada lapisan ketan dalam hidangan Pulut Sarikaya. Sementara itu, untuk memberikan rona kemerahan yang menggugah selera—terutama pada masakan berbahan dasar daging—masyarakat Peranakan mengandalkan angkak atau beras merah Tiongkok hasil fermentasi.

Penggunaan bahan-bahan pewarna alami ini tidak hanya menghasilkan tampilan yang memikat dan lebih sehat bagi tubuh, tetapi juga menyumbangkan aroma halus yang khas. Sentuhan aroma alami yang lembut ini mustahil ditiru oleh pewarna sintetis, sehingga keaslian profil rasa dan jiwa dari masakan Peranakan tetap terjaga dengan sempurna.

Ragam Menu Populer: Dari Hidangan Pembuka hingga Pencuci Mulut

Variasi menu dalam tradisi kuliner Nonya mencakup spektrum bahan yang sangat luas dan beragam. Kekayaan olahan ini mencerminkan tingginya kemampuan adaptasi para Nonya dalam mengolah serta memadukan kekayaan hasil bumi lokal dengan teknik memasak warisan leluhur.

Itek Sioh, hidangan khas Peranakan Cina Melayu, yang  dimasak menyambut perayaan tahun baru Imlek sebagai salah satu menu makan malam bersama keluarga. (Sumber: travellingfoodies.wordpress.com)
Itek Sioh, hidangan khas Peranakan Cina Melayu, yang dimasak menyambut perayaan tahun baru Imlek sebagai salah satu menu makan malam bersama keluarga. (Sumber: travellingfoodies.wordpress.com)

Keberagaman tersebut melahirkan berbagai kategorisasi menu populer yang memanjakan lidah dari hidangan pembuka hingga penutup. Pada sajian pembuka dan kudapan ringan, hadir ragam sajian segar dan renyah seperti Salad Nonya yang memadukan belimbing dan udang, Prawn Toast, Crispy Spring Roll, hingga gurihnya Bakwan Kepiting. Memasuki menu utama berbasis karbohidrat, kuliner Nonya menyuguhkan racikan kaya rasa seperti Nasi Goreng Nonya, Mi Goreng Penang, serta sajian Laksa Nonya yang sangat ikonik.

Tak kalah memikat, olahan unggas dan hasil laut juga menjadi primadona di meja makan. Untuk hidangan ayam dan bebek, masyarakat Peranakan mengenal Ayam Nonya Aromatik, Ayam Tempera, Itek Sioh, dan Itek Tim yang hangat menenangkan. Sementara itu, kekayaan hasil laut diolah menjadi hidangan sarat bumbu seperti Ikan Tauchio, Ikan Goreng Saus Nonya dengan sentuhan segar saus plum, Otah Ikan, Kari Kepiting Nonya, hingga Udang Masak Nanas yang memadukan cita rasa gurih, asam, dan manis.

Pengaruh serta adaptasi budaya juga tampak jelas pada kategori olahan daging. Salah satunya terlihat pada Satai Sapi, yang merupakan bentuk adaptasi kreatif masyarakat Peranakan dari resep asli yang umumnya menggunakan daging babi, di samping sajian menggugah selera lainnya seperti Iga Sapi Masak Tausi dan Gulai Kambing Nonya. Sebagai penutup santapan, hadir aneka dessert atau kuih-muih tradisional yang manis dan menyegarkan, mulai dari Bubor Caca, Puding Sago Gula Melaka, Ais Kacang Merah, Kuih Dadar, Tau Suan, hingga Pulut Sarikaya.

Di antara begitu banyaknya ragam sajian tersebut, terdapat dua hidangan yang sangat menonjol karena keistimewaannya. Pertama adalah Laksa Nonya, sajian mi berbasis santan kental yang dipadu dengan bumbu ebi hingga melahirkan kuah pekat kaya rasa. Kedua adalah Itek Sioh, hidangan berbahan dasar daging bebek yang kaya sejarah. Itek Sioh bukan sekadar olahan yang lezat; penggunaan asam jawa dalam bumbu marinasinya juga berfungsi sebagai pengawet alami. Hal ini memungkinkan hidangan tersebut bertahan hingga empat hari tanpa perlu disimpan di dalam lemari es—sebuah bukti nyata kearifan dapur masa lalu yang begitu cerdas dan canggih.

Menelusuri Jejak Budaya dan Merawat Warisan Rasa Kuliner Nonya

Kuliner Nonya kaya akan detail menawan yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mencerminkan kedalaman budaya serta inovasi rasa yang luar biasa. Setiap hidangannya menyimpan cerita tersendiri. Istilah 'lemak' dalam Laksa Lemak, misalnya, bukan sekadar gambaran rasa, melainkan merujuk pada penggunaan santan kental yang gurih untuk menciptakan tekstur kuah yang mantap dan pekat. Tak kalah istimewa, hidangan Itek Sioh memiliki posisi sakral sebagai menu wajib yang harus hadir pada santapan malam keluarga besar saat menyambut Tahun Baru Imlek.

Simfoni rasa dan budaya ini juga diperkaya oleh istilah serta penggunaan bahan yang unik. Dalam bahasa Melayu lokal, sayur okra kerap disapa dengan sebutan bendi—atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai lady fingers karena bentuknya yang panjang dan ramping menyerupai jemari wanita.

Dari segi inovasi rasa, kepiawaian dapur Nonya tampak nyata pada sajian Ikan Goreng Saus Nonya. Penggunaan saus plum secara spesifik menghadirkan dimensi rasa asam yang lembut, elegan, dan kompleks, sangat berbeda dengan karakter asam tajam yang dihasilkan oleh perasan jeruk. Detail-detail ini menegaskan bahwa setiap sajian Nonya adalah narasi budaya yang terus bernapas.

Pada akhirnya, masakan Nonya bukan sekadar produk kuliner biasa, melainkan bukti nyata dari keharmonisan sejarah "Perkawinan Dua Budaya" yang berhasil melahirkan identitas rasa yang begitu memikat. Di era modern saat ini, keberlanjutan cita rasa yang sophisticated ini sangat bergantung pada apresiasi kita bersama. Baik dengan mencoba meraciknya sendiri di dapur rumah maupun dengan mendukung restoran-restoran Peranakan, kita secara aktif menjaga agar warisan akulturasi ini tetap hidup dan dinamis. Kuliner Nonya adalah sebuah identitas berharga yang layak untuk terus dirayakan serta diwariskan kepada generasi mendatang. (*)

Referensi:

  • Ayuningsih, Fajar. 2006. Hidangan Nonya: Paduan Kuliner Cina Melayu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)