Menelusuri Kelezatan Hidangan Nonya: Simfoni Cita Rasa Peranakan Cina Melayu

8 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)
Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)

Kuliner Nonya merupakan salah satu warisan budaya paling dinamis dan elegan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Memahami kuliner ini bukan sekadar mengecap rasa, melainkan menelusuri jejak sejarah panjang yang mempertemukan berbagai peradaban dalam satu piring. Apresiasi terhadap kompleksitas rasa yang dihasilkan bermula dari pengakuan atas proses akulturasi yang telah berlangsung selama berabad-abad di wilayah pesisir.

Sejarah mencatat fenomena ini sebagai "Perkawinan Dua Budaya". Berawal dari kedatangan kapal-kapal dagang dari daratan Cina yang singgah dan menetap di pelabuhan strategis seperti Penang, Malaka, dan Singapura. Para pria Cina ini kemudian menjalin ikatan pernikahan dengan wanita lokal berdarah Melayu. Interaksi mendalam ini melahirkan etnis baru yang dikenal sebagai 'Peranakan'. Dalam struktur sosial mereka, pria keturunan Peranakan disebut sebagai Babah, sementara para wanitanya disebut Nonya.

Dalam konteks gastronomi, penting untuk dicatat bahwa sementara "Babah" menjadi identitas sosial, para "Nonya" adalah penjaga api tradisi di dapur. Inilah sebabnya mengapa istilah "Kuliner Nonya" atau “Hidangan Nonya” kini jauh lebih populer untuk mendeskripsikan seni memasak Peranakan yang dianggap sophisticated dan unik. Melalui tangan para Nonya, teknik memasak yang presisi berpadu dengan kekayaan rempah lokal, menciptakan sebuah identitas kuliner yang berani namun tetap harmonis.

Karakteristik dan Filosofi Rasa: Perpaduan Cina dan Melayu

Dalam peta gastronomi Asia Tenggara, masakan Nonya menempati posisi yang sangat prestisius karena kemampuannya menjembatani dua filosofi kuliner yang berbeda. Hidangan ini merupakan hasil sintesis antara bahan dasar dari daratan Cina dengan kekayaan bumbu rempah aromatik khas Melayu.

Perbedaan pengaruh kedua budaya ini tercermin jelas dalam tiap elemen bahan dan teknik memasaknya. Budaya Melayu kuat dengan karakter bumbu rempah yang "berani"—seperti penggunaan akar rimpang, rempah daun, serta gurih aromatis dari santan kental, terasi, dan ebi. Cita rasa asamnya pun didapat secara alami dari bahan lokal seperti asam gelugur dan belimbing sayur.

Sebaliknya, pengaruh Cina membawa ragam bahan dasar populer seperti mi, tahu, jamur merang, rebung, sawi asin, kulit pangsit, hingga daging bebek. Khasnya lagi, kuliner Cina memperkaya rasa melalui saus dan kondimen fermentasi—seperti kecap manis/asin, tauco, minyak wijen, saus tiram, hingga saus plum.

Perpaduan ini menghasilkan profil rasa yang "aromatik" dan "tegas". Elemen kunci yang menyatukan kedua pengaruh ini adalah santan. Dalam hidangan ikonik seperti Laksa Nonya dan Kari Kepiting, santan berfungsi sebagai "mediator" atau penyeimbang yang menyatukan ketajaman rempah segar Melayu dengan bumbu kering khas Cina.

Santan memberikan tekstur velvety (beludru) yang lembut di lidah, menyatukan seluruh komponen rasa menjadi satu kesatuan yang utuh. Keberhasilan dalam memadukan dua kutub rasa ini berakar pada rahasia yang tersimpan di balik dapur tradisional Nonya.

Rahasia Dapur Nonya: Alat, Teknik, dan Bahan Utama

Kelezatan masakan Peranakan (Nonya) tidak hanya lahir dari pemilihan bahan-bahannya, tetapi juga dari proses pembuatan yang sangat teliti dan memakan waktu. Dedikasi terhadap setiap detail inilah yang menjadi kunci utama menjaga kualitas rasa tetap konsisten sekaligus mempertahankan keautentikannya secara turun-temurun.

Ketelitian tersebut tampak nyata dari penggunaan alat-alat tradisional di dapur Nonya yang memegang peran penting dalam menghasilkan aroma hidangan yang begitu pekat. Ulekan batu, misalnya, wajib digunakan untuk menghaluskan bumbu-bumbu segar secara manual demi mengeluarkan minyak alaminya. Sementara itu, wajan (wok) lebar digunakan untuk menumis bumbu hingga matang sempurna dan berminyak.

Tak kalah penting adalah belanga—panci dari tanah liat yang menjadi alat utama untuk mengolah masakan berkuah. Penggunaan belanga memungkinkan panas terdistribusi secara merata, sehingga aroma rempah terikat sempurna dan meresap ke dalam masakan.

Selain peralatan yang khas, keautentikan rasa masakan Nonya juga ditopang oleh teknik-teknik memasak tradisional yang diwariskan antar-generasi. Salah satunya adalah teknik mengukus ala Tionghoa yang kerap memanfaatkan kukusan bambu untuk menjaga tekstur, kelembutan, serta kelembapan alami bahan makanan. Selain itu, ada pula teknik membakar di atas bara api terbuka. Metode ini diterapkan terutama pada hidangan berbahan dasar ikan atau pepes untuk menciptakan dimensi aroma smoky yang kuat dan khas.

Di samping keahlian teknis, kekayaan cita rasa masakan Nonya bersumber dari keberagaman bahan dasar yang dipadukan secara harmonis. Fondasi utamanya bertumpu pada penggunaan akar rimpang—seperti jahe, kencur, lengkuas, kunyit, dan serai—yang dipadukan dengan aneka bawang, mulai dari bawang merah, bawang putih, bawang bombai, daun bawang, kucai, hingga bawang cung.

Untuk menghadirkan kesegaran, masakan ini memanfaatkan beragam bahan pengasam alami seperti asam gelugur, asam jawa, belimbing sayur, dan jeruk limau, yang kerap diperkaya dengan pengaruh kuliner Cina berupa plum utuh yang diasinkan. Semua paduan tersebut kian sempurna berkat penyedap alami seperti terasi (belachan) dan ebi yang memberikan karakter gurih-gurih manis (umami) yang meresap mendalam.

Selebihnya, fondasi peralatan tradisional yang khas dan penggunaan bahan-bahan segar tersebut tidak hanya menciptakan cita rasa yang kaya, tetapi juga disempurnakan dengan sentuhan estetika visual yang cantik dan menggugah selera.

Estetika Visual: Seni Pewarna Alami dalam Kuliner Nonya

Bagi keluarga Peranakan, sebuah hidangan bukan sekadar urusan memanjakan lidah. Aspek visual memiliki tingkat kepentingan yang setara dengan cita rasa. Warna-warna cerah yang terpancar dari masakan mereka bukan hanya pemanis penampilan, melainkan simbol kecermatan dalam memasak sekaligus bentuk penghormatan yang tinggi terhadap kebaikan alam.

Estetika visual tersebut dihadirkan melalui penggunaan tiga pewarna alami utama yang menjadi ciri khas kuliner Peranakan. Pertama adalah warna hijau segar yang diperoleh dari perasan daun suji. Ekstrak alami ini memberikan rona hijau pekat dan menawan pada aneka hidangan, salah satunya Kuih Dadar.

Selanjutnya adalah warna biru nan elegan yang diekstrak dari Bunga Telang. Bahan ini menghasilkan nuansa biru keunguan yang unik, seperti yang tampak pada lapisan ketan dalam hidangan Pulut Sarikaya. Sementara itu, untuk memberikan rona kemerahan yang menggugah selera—terutama pada masakan berbahan dasar daging—masyarakat Peranakan mengandalkan angkak atau beras merah Tiongkok hasil fermentasi.

Penggunaan bahan-bahan pewarna alami ini tidak hanya menghasilkan tampilan yang memikat dan lebih sehat bagi tubuh, tetapi juga menyumbangkan aroma halus yang khas. Sentuhan aroma alami yang lembut ini mustahil ditiru oleh pewarna sintetis, sehingga keaslian profil rasa dan jiwa dari masakan Peranakan tetap terjaga dengan sempurna.

Ragam Menu Populer: Dari Hidangan Pembuka hingga Pencuci Mulut

Variasi menu dalam tradisi kuliner Nonya mencakup spektrum bahan yang sangat luas dan beragam. Kekayaan olahan ini mencerminkan tingginya kemampuan adaptasi para Nonya dalam mengolah serta memadukan kekayaan hasil bumi lokal dengan teknik memasak warisan leluhur.

Itek Sioh, hidangan khas Peranakan Cina Melayu, yang  dimasak menyambut perayaan tahun baru Imlek sebagai salah satu menu makan malam bersama keluarga. (Sumber: travellingfoodies.wordpress.com)
Itek Sioh, hidangan khas Peranakan Cina Melayu, yang dimasak menyambut perayaan tahun baru Imlek sebagai salah satu menu makan malam bersama keluarga. (Sumber: travellingfoodies.wordpress.com)

Keberagaman tersebut melahirkan berbagai kategorisasi menu populer yang memanjakan lidah dari hidangan pembuka hingga penutup. Pada sajian pembuka dan kudapan ringan, hadir ragam sajian segar dan renyah seperti Salad Nonya yang memadukan belimbing dan udang, Prawn Toast, Crispy Spring Roll, hingga gurihnya Bakwan Kepiting. Memasuki menu utama berbasis karbohidrat, kuliner Nonya menyuguhkan racikan kaya rasa seperti Nasi Goreng Nonya, Mi Goreng Penang, serta sajian Laksa Nonya yang sangat ikonik.

Tak kalah memikat, olahan unggas dan hasil laut juga menjadi primadona di meja makan. Untuk hidangan ayam dan bebek, masyarakat Peranakan mengenal Ayam Nonya Aromatik, Ayam Tempera, Itek Sioh, dan Itek Tim yang hangat menenangkan. Sementara itu, kekayaan hasil laut diolah menjadi hidangan sarat bumbu seperti Ikan Tauchio, Ikan Goreng Saus Nonya dengan sentuhan segar saus plum, Otah Ikan, Kari Kepiting Nonya, hingga Udang Masak Nanas yang memadukan cita rasa gurih, asam, dan manis.

Pengaruh serta adaptasi budaya juga tampak jelas pada kategori olahan daging. Salah satunya terlihat pada Satai Sapi, yang merupakan bentuk adaptasi kreatif masyarakat Peranakan dari resep asli yang umumnya menggunakan daging babi, di samping sajian menggugah selera lainnya seperti Iga Sapi Masak Tausi dan Gulai Kambing Nonya. Sebagai penutup santapan, hadir aneka dessert atau kuih-muih tradisional yang manis dan menyegarkan, mulai dari Bubor Caca, Puding Sago Gula Melaka, Ais Kacang Merah, Kuih Dadar, Tau Suan, hingga Pulut Sarikaya.

Di antara begitu banyaknya ragam sajian tersebut, terdapat dua hidangan yang sangat menonjol karena keistimewaannya. Pertama adalah Laksa Nonya, sajian mi berbasis santan kental yang dipadu dengan bumbu ebi hingga melahirkan kuah pekat kaya rasa. Kedua adalah Itek Sioh, hidangan berbahan dasar daging bebek yang kaya sejarah. Itek Sioh bukan sekadar olahan yang lezat; penggunaan asam jawa dalam bumbu marinasinya juga berfungsi sebagai pengawet alami. Hal ini memungkinkan hidangan tersebut bertahan hingga empat hari tanpa perlu disimpan di dalam lemari es—sebuah bukti nyata kearifan dapur masa lalu yang begitu cerdas dan canggih.

Menelusuri Jejak Budaya dan Merawat Warisan Rasa Kuliner Nonya

Kuliner Nonya kaya akan detail menawan yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mencerminkan kedalaman budaya serta inovasi rasa yang luar biasa. Setiap hidangannya menyimpan cerita tersendiri. Istilah 'lemak' dalam Laksa Lemak, misalnya, bukan sekadar gambaran rasa, melainkan merujuk pada penggunaan santan kental yang gurih untuk menciptakan tekstur kuah yang mantap dan pekat. Tak kalah istimewa, hidangan Itek Sioh memiliki posisi sakral sebagai menu wajib yang harus hadir pada santapan malam keluarga besar saat menyambut Tahun Baru Imlek.

Simfoni rasa dan budaya ini juga diperkaya oleh istilah serta penggunaan bahan yang unik. Dalam bahasa Melayu lokal, sayur okra kerap disapa dengan sebutan bendi—atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai lady fingers karena bentuknya yang panjang dan ramping menyerupai jemari wanita.

Dari segi inovasi rasa, kepiawaian dapur Nonya tampak nyata pada sajian Ikan Goreng Saus Nonya. Penggunaan saus plum secara spesifik menghadirkan dimensi rasa asam yang lembut, elegan, dan kompleks, sangat berbeda dengan karakter asam tajam yang dihasilkan oleh perasan jeruk. Detail-detail ini menegaskan bahwa setiap sajian Nonya adalah narasi budaya yang terus bernapas.

Pada akhirnya, masakan Nonya bukan sekadar produk kuliner biasa, melainkan bukti nyata dari keharmonisan sejarah "Perkawinan Dua Budaya" yang berhasil melahirkan identitas rasa yang begitu memikat. Di era modern saat ini, keberlanjutan cita rasa yang sophisticated ini sangat bergantung pada apresiasi kita bersama. Baik dengan mencoba meraciknya sendiri di dapur rumah maupun dengan mendukung restoran-restoran Peranakan, kita secara aktif menjaga agar warisan akulturasi ini tetap hidup dan dinamis. Kuliner Nonya adalah sebuah identitas berharga yang layak untuk terus dirayakan serta diwariskan kepada generasi mendatang. (*)

Referensi:

  • Ayuningsih, Fajar. 2006. Hidangan Nonya: Paduan Kuliner Cina Melayu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 29 Sep 2026, 19:45

Street Spydrs: Merayakan Jejak Panjang Skateboard Bandung lewat Buku dan Pameran

Empat dekade perjalanan Street Spydrs kembali dikenang melalui buku, diskusi, dan pameran yang mempertemukan para pelaku sejarah, sahabat, keluarga, serta generasi lintas zaman dalam satu ruang penuh

Buku karya Reka Nugara, Street Spydrs Empat Dekade Berseluncur, yang merekam perjalanan, dinamika, serta jejak Street Spydrs dalam perkembangan budaya skateboard dari masa ke masa. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 18:18

Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner

Semarang bukan sekadar titik geografis di pesisir utara Jawa; ia adalah sebuah bejana peleburan budaya yang tercermin secara nyata dalam setiap sajian kulinernya.

Seorang penjual minuman keliling di Semarang sekitar tahun 1926 - 1932. (Sumber: collectienederland.nl)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:36

Apa Dampak Lingkungan Data Center untuk AI yang Kita Pakai Setiap Hari?

Chat AI terasa gratis, padahal ada biaya tersembunyi di data center berupa listrik dan jutaan liter air. Cari tahu siapa yang menanggungnya di sini

Ilustrasi data center modern yang beroperasi 24 jam dan membutuhkan listrik serta air dalam jumlah besar untuk pendinginan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:01

Eksistensi KWK Bandung dan Potensi Ruang Kreatif di Stasiun Whoosh

Keberadaan delapan KWK menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bandung dalam mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan daya tarik destinasi

Stand KWK Cibaduyut  di festiwal bertempat di Kiara Artha Park, Bandung (Foto: bandung.go.id)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 15:50

Kopi Torrefacto, Pilihan Menikmati Kopi ala Spanyol di Singapura, Malaysia dan Indonesia

Nikmati keunikan Kopi Torrefacto, racikan khas Spanyol dengan sentuhan karamel manis yang kini populer di Singapura, Malaysia, hingga Indonesia.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Beranda 29 Sep 2026, 15:27

Musim Hujan Segera Tiba, Drainase Kota Bandung Akan Menghadapi Ujian Sesungguhnya

Sanggupkah menelan limpahan air hujan atau wargi Kota Bandung seperti biasa akan mendorong kendaraannya yang mati mesin di tengah genangan?

Sejumlah pekerja melakukan perbaikan drainase di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 14:17

Menelusuri Kelezatan Hidangan Nonya: Simfoni Cita Rasa Peranakan Cina Melayu

Kuliner Nonya merupakan salah satu warisan budaya paling dinamis dan elegan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 10:30

Matur Suksma Mas Guruh...

Guruh Sukarno Putra atau Guruh SP adalah salah satu seniman bercita rasa Indonesia lewat karya-karyanya yang selalu diwarnai unsur-unsur etnis nusantara yang ikonik

Guruh Soekarnoputra, anak bungsu Soekarno, meninggal dunia di usia 73 tahun. Dikenal sebagai seniman dan politisi, ia meninggalkan warisan musik yang abadi. (Sumber: Instagram)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 08:44

Yang Masuk Kelas Bukan Cuma Anak, Melainkan Rumahnya

Membongkar fenomena anak yang masuk ke gerbang sekolah dengan seribu satu masalah dan beban, serta meng-highlight cara merespon pada masalah-masalah tersebut dan menawarkan solusi yang realistis.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:28

Pentingnya Perlindungan Hak-Hak Sosial bagi Anak Didik

Seyogianya anak didik tidak hanya menjadi objek pertanyaan. Anak didik bukan sekadar penerima pelajaran. Mereka harus tumbuh sebagai manusia. Dan hak-hak sosial anak didik harus dilindungi.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:06

Kopi Tiam dari Semenanjung Malaya ke Nusantara hingga ke Kota Bandung

Jelajahi kisah kopitiam, kedai kopi legendaris yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya ke Nusantara, hingga kini menjadi tempat nongkrong favorit dan bagian dari gaya hidup kuliner Kota Bandung.

Menu sarapan pagi di Warung Kopi Purnama: roti kukus sarikaya, telur rebus setengah matang dan kopi hitam (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:53

Pos Indonesia dan Perjuangan Menjemput Masa Depan

Setiap tanggal 27 September, insan pos dan telekomunikasi Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel.

PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:14

Bagaimana jika Kencan Pertama Kita Diawali dengan Rencana Menggulingkan Rezim

Bergumul dengan romantisme di tengah negara yang carut-marut rasanya ada yang kurang. Ada mereka yang perlu kita pinjam suaranya demi kesejahteraan bersama.

Memikirkan romantisme di tengah negara yang carut-marut  rasanya seperti kita menghilangkan empati. Kecuali jika kencan pertama kita diisi dengan rencana menggulingkan rezim (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 17:30

81 Tahun KAI: Asa KRL 2027 dan Lantai Gerbong yang Sesak

Di tengah perayaan Hari Kereta Api Nasional dan HUT ke-81, realitas yang saya dan ribuan pelaju lain hadapi setiap hari di jam kerja justru jauh dari kata nyaman.

Calon penumpang memasuki gerbong Kereta Kahuripan jurusan Kiaracondong-Blitar di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (31/5/2019). (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 15:15

Studio 512 Bandung: Apresiasi D'Renced untuk Rekaman

Suara-suara menjadi gelombang, menjadi getaran yang mengirimkan isyarat kepada otak sampai berteriak.

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)