Pos Indonesia dan Perjuangan Menjemput Masa Depan

5 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)
PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)

Setiap tanggal 27 September, insan pos dan telekomunikasi Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel. Di balik peringatan itu tersimpan sebuah peristiwa penting dalam sejarah awal Republik.

Pada 27 September 1945, Angkatan Muda Pos, Telegraf dan Telepon (AMPTT) mengambil alih Jawatan PTT dari kekuasaan Jepang. Beberapa minggu setelah Proklamasi, para pemuda menyadari bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya dikumandangkan. Institusi strategis juga harus berada di tangan Republik.

Ketika perundingan tidak menghasilkan penyerahan kekuasaan, mereka mengambil keputusan untuk merebutnya.

Delapan puluh satu tahun kemudian, tantangannya tentu berbeda. Tidak ada penjajah yang harus diusir dan tidak ada gedung yang harus direbut. Perjuangan insan Pos kini berhadapan dengan perubahan teknologi, pergeseran perilaku konsumen, persaingan logistik, disrupsi digital, tekanan bisnis, dan tuntutan tata kelola.

Pertanyaannya kemudian: apa yang harus diperjuangkan Pos Indonesia hari ini?

Jawabannya bukan sekadar mempertahankan keberadaan perusahaan, melainkan memastikan Pos Indonesia tetap relevan dan mampu menjalankan peran strategisnya bagi bangsa.

Lebih dari Perusahaan Kurir

PT Pos Indonesia memiliki sesuatu yang tidak mudah dibangun oleh perusahaan baru: jaringan nasional yang terbentang hingga berbagai pelosok, pengalaman panjang, infrastruktur, sumber daya manusia, kepercayaan masyarakat, dan keterhubungan dengan jaringan pos dunia.

Karena itu, Pos tidak seharusnya dilihat hanya sebagai perusahaan pengiriman surat dan paket.

Pos hadir ketika kiriman harus menjangkau daerah terpencil. Pos dapat menjadi penghubung bagi pelaku usaha kecil yang ingin memperluas pasar. Jaringannya juga dapat digunakan untuk mendukung distribusi dan berbagai pelayanan publik.

Nilai Pos, dengan demikian, tidak seluruhnya dapat dibaca dari angka transaksi atau laba rugi.

Universal Postal Union (UPU) dalam strategi 2026–2029 menempatkan jaringan pos sebagai bagian penting dari infrastruktur era digital, perdagangan elektronik, inklusi sosial-ekonomi, dan konektivitas global.

Perubahan itu menunjukkan bahwa jaringan pos di berbagai negara sedang mencari peran baru. Bukan lagi sekadar mengantar surat, tetapi menjadi infrastruktur yang menghubungkan masyarakat dengan layanan digital, ekonomi, keuangan, perdagangan, dan pelayanan publik.

Indonesia semestinya membaca perubahan tersebut sebagai peluang.

Sebagai badan usaha, Pos memang harus sehat, efisien, profesional, dan kompetitif. Namun sebagai perusahaan yang memiliki jaringan nasional dan fungsi pelayanan publik, ada nilai lain yang juga perlu dihitung.

Berapa banyak wilayah yang tetap terhubung? Berapa banyak masyarakat yang dapat dilayani? Berapa banyak usaha kecil yang memperoleh akses pasar? Seberapa besar jaringan Pos dapat mendukung distribusi, inklusi keuangan, perdagangan digital, dan pelayanan publik?

Para tokoh yang pernah memimpin PT Pos Indonesia dari masa ke masa. (Foto: Agus Wahyudi)
Para tokoh yang pernah memimpin PT Pos Indonesia dari masa ke masa. (Foto: Agus Wahyudi)

Di sinilah negara perlu memiliki kebijakan yang jelas.

Jika Pos mendapat penugasan untuk melayani wilayah atau masyarakat yang secara komersial tidak menarik tetapi secara sosial diperlukan, penugasan tersebut harus memiliki skema pembiayaan yang transparan dan terukur.

Negara tidak bisa hanya meminta Pos menjalankan fungsi publik, lalu pada saat yang sama menuntut seluruh biaya tersebut ditanggung sebagai beban korporasi.

Sebaliknya, kehadiran negara juga tidak boleh menjadi alasan bagi Pos untuk mengabaikan disiplin bisnis.

Pos tetap harus berbenah. Restrukturisasi harus dilakukan bila diperlukan. Organisasi perlu dibuat lebih sederhana dan efisien. Teknologi harus dimanfaatkan secara serius. Kompetensi sumber daya manusia diperkuat. Tata kelola diperbaiki.

Pos harus sehat sebagai perusahaan agar mampu menjalankan fungsi publiknya. Negara perlu hadir agar fungsi publik tersebut tidak justru melemahkan kesehatan perusahaan.

Transformasi Pos tidak cukup dengan membuat aplikasi baru, memasang mesin sortir otomatis, memperkuat sistem pelacakan, menggunakan drone, atau mengganti armada.

Semua itu penting. Tetapi teknologi hanyalah alat.

Yang jauh lebih penting adalah mengubah cara pandang terhadap jaringan Pos.

Dari perusahaan pengiriman menjadi platform logistik nasional.

Bayangkan kantor pos di daerah bukan sekadar tempat mengirim paket, tetapi menjadi simpul pelayanan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Agen menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal. Data mengatur pergerakan barang. Pusat sortir bekerja semakin otomatis. Jaringan transportasi menghubungkan antardaerah dan antarpulau. Sementara jaringan internasional membantu produk Indonesia menjangkau pasar dunia.

Itulah masa depan yang seharusnya dibangun.

Tantangannya bukan semata-mata apakah teknologinya tersedia. Teknologi berkembang sangat cepat.

Yang lebih menentukan adalah strategi, kepemimpinan, regulasi, pembiayaan, tata kelola, dan kualitas sumber daya manusia.

Dengan kata lain, transformasi Pos pada akhirnya adalah persoalan keberanian mengubah cara berpikir.

Peristiwa 27 September 1945 memberikan pelajaran bahwa kemerdekaan harus diwujudkan melalui kemampuan menguasai dan mengelola institusi strategis bangsa.

Penulis dan pegiat literasi saat berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Jalan Cilaki, kawasan belakang Gedung Sate, Bandung. (Foto: Agus Wahyudi)
Penulis dan pegiat literasi saat berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Jalan Cilaki, kawasan belakang Gedung Sate, Bandung. (Foto: Agus Wahyudi)

Hari ini, perjuangannya tidak lagi merebut PTT dari kekuasaan asing.

Perjuangannya adalah memastikan Pos Indonesia tidak kehilangan masa depannya sendiri.

Tanggung jawab itu tidak bisa dibebankan hanya kepada direksi dan karyawan Pos. Pemerintah, regulator, pemegang saham, dunia usaha, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki peran.

Pemerintah perlu menentukan secara jelas untuk apa jaringan Pos dipertahankan, fungsi publik apa yang harus dijalankan, bagaimana pembiayaannya, dan bagaimana keberhasilannya diukur.

Sebab, jaringan nasional yang dibangun selama puluhan tahun adalah aset strategis. Kehilangannya bukan sekadar persoalan berkurangnya kantor atau layanan, tetapi juga hilangnya sebuah infrastruktur yang dapat digunakan untuk menghubungkan masyarakat dan menggerakkan ekonomi.

Menyelamatkan dan mentransformasi Pos bukanlah nostalgia terhadap masa lalu.

Ini adalah investasi untuk masa depan.

Indonesia membutuhkan jaringan yang mampu menjangkau yang jauh, menghubungkan yang terpencil, membuka akses ekonomi, mendukung perdagangan digital, memperkuat distribusi, dan tetap terhubung dengan dunia.

Pada 1945, para pemuda merebut PTT agar menjadi bagian dari Republik yang baru lahir.

Baca Juga: Masih Ada Asa untuk Pos Indonesia

Hari ini, generasi penerusnya menghadapi tugas yang berbeda: merebut kembali relevansi, daya saing, dan masa depan Pos Indonesia.

Itulah makna Hari Bhakti Postel yang sesungguhnya.

Bukan hanya mengenang keberanian masa lalu, tetapi memastikan keberanian itu tetap hidup dalam menghadapi tantangan zaman.

Dari merebut PTT untuk Republik, menuju menjemput masa depan Pos Indonesia.

Selamat Hari Bhakti Postel. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:28

Pentingnya Perlindungan Hak-Hak Sosial bagi Anak Didik

Seyogianya anak didik tidak hanya menjadi objek pertanyaan. Anak didik bukan sekadar penerima pelajaran. Mereka harus tumbuh sebagai manusia. Dan hak-hak sosial anak didik harus dilindungi.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:06

Kopi Tiam dari Semenanjung Malaya ke Nusantara hingga ke Kota Bandung

Jelajahi kisah kopitiam, kedai kopi legendaris yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya ke Nusantara, hingga kini menjadi tempat nongkrong favorit dan bagian dari gaya hidup kuliner Kota Bandung.

Menu sarapan pagi di Warung Kopi Purnama: roti kukus sarikaya, telur rebus setengah matang dan kopi hitam (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:53

Pos Indonesia dan Perjuangan Menjemput Masa Depan

Setiap tanggal 27 September, insan pos dan telekomunikasi Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel.

PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:14

Bagaimana jika Kencan Pertama Kita Diawali dengan Rencana Menggulingkan Rezim

Bergumul dengan romantisme di tengah negara yang carut-marut rasanya ada yang kurang. Ada mereka yang perlu kita pinjam suaranya demi kesejahteraan bersama.

Memikirkan romantisme di tengah negara yang carut-marut  rasanya seperti kita menghilangkan empati. Kecuali jika kencan pertama kita diisi dengan rencana menggulingkan rezim (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 17:30

81 Tahun KAI: Asa KRL 2027 dan Lantai Gerbong yang Sesak

Di tengah perayaan Hari Kereta Api Nasional dan HUT ke-81, realitas yang saya dan ribuan pelaju lain hadapi setiap hari di jam kerja justru jauh dari kata nyaman.

Calon penumpang memasuki gerbong Kereta Kahuripan jurusan Kiaracondong-Blitar di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (31/5/2019). (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 15:15

Studio 512 Bandung: Apresiasi D'Renced untuk Rekaman

Suara-suara menjadi gelombang, menjadi getaran yang mengirimkan isyarat kepada otak sampai berteriak.

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)