81 Tahun KAI: Asa KRL 2027 dan Lantai Gerbong yang Sesak

4 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Calon penumpang memasuki gerbong Kereta Kahuripan jurusan Kiaracondong-Blitar di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (31/5/2019). (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Calon penumpang memasuki gerbong Kereta Kahuripan jurusan Kiaracondong-Blitar di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (31/5/2019). (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menyeka kabut di langit Bandung Raya, saya sudah berdiri di peron stasiun. Sebagai penglaju abadi yang menggantungkan hidup pada Commuter Line Bandung Raya, rel kereta adalah urat nadi yang mengantarkan saya menjemput rezeki.

Namun, di tengah perayaan Hari Kereta Api Nasional dan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang mengusung tema besar "Semakin Melayani", realitas yang saya dan ribuan pelaju lain hadapi setiap hari di jam kerja justru jauh dari kata nyaman.

Realitas di Lantai Gerbong Bentuk Perjuangan Kaum Penglaju

Ketika kereta datang, perjuangan hidup yang sesungguhnya dimulai. Gerbong-gerbong besi itu seketika berubah menjadi lautan manusia yang penuh sesak. Jangankan berharap mendapatkan tempat duduk, untuk sekadar menegakkan badan dengan layak saja butuh perjuangan ekstra.

Di waktu-waktu krusial berangkat dan pulang kerja, saya harus rela menahan lelah berdiri dalam waktu yang cukup lama, berhimpitan, bahkan sesekali terpaksa duduk di lantai gerbong yang dingin bersama penglaju lainnya.

Lantai kereta telah menjadi saksi bisu betapa tingginya ketergantungan masyarakat pada moda transportasi ini, sekaligus cerminan bahwa kapasitas yang ada saat ini sudah melampaui batas kenyamanan manusiawi.

Padahal, jika melihat jangkauannya, layanan commuter di wilayah Bandung Raya kini sudah mengalami kemajuan pesat. Jalurnya tidak lagi sekadar menghubungkan Padalarang hingga Cicalengka, melainkan telah meluas sebagai sistem aglomerasi yang menyentuh Purwakarta di ujung barat laut hingga merambah ke Garut di sisi tenggara.

Konektivitas ini sebenarnya adalah sebuah berkah besar. Salah satu bukti nyatanya adalah peran strategis Stasiun Cimekar yang kini menjadi gerbang utama menuju Masjid Raya Al Jabbar dan Stadion GBLA, sekaligus menjadi simpul penyokong kawasan pertumbuhan Bandung Timur menuju Stasiun Whoosh Tegalluar Summarecon.

Kondisi di dalam gerbong kereta komuter Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Kondisi di dalam gerbong kereta komuter Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Namun, sebagai pengguna harian yang sering melintasi rute ini, saya juga melihat langsung bahwa modernisasi stasiun seperti Cimekar masih menyisakan kendala operasional yang nyata. Mulai dari aksesibilitas jalan sekitar stasiun yang kerap macet karena kurangnya fasilitas parkir memadai, kerawanan genangan air di area emplasemen saat hujan lebat khas kawasan Gedebage, hingga tantangan keamanan dan ketertiban tiket saat ada pertandingan sepak bola.

Harapan 2027: Menanti Era Kereta Rel Listrik

Kabar baiknya, Kementerian Perhubungan dan PT KAI telah resmi menargetkan proyek elektrifikasi jalur komuter sepanjang 42 kilometer rute Padalarang–Cicalengka ini rampung paling lambat pada tahun 2027.

Artinya, sistem Kereta Rel Listrik (KRL) massal seperti di Jakarta dan sekitarnya akan benar-benar diterapkan di Bandung Raya dalam waktu dekat. Bahkan, KAI berencana mempercepat transisi energi ramah lingkungan dengan mengujicobakan teknologi Battery Electric Multiple Unit (BEMU) di lintas ini, dengan target kedatangan rangkaian kereta baterai pertama pada kuartal II-2027.

Bagi kami yang setiap hari berdiri menahan guncangan gerbong, kehadiran KRL Bandung Raya ini menjanjikan pemangkasan waktu tempuh. Namun, percepatan proyek ini dan pembenahan fasilitas stasiun penyangga adalah kebutuhan darurat yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Kami butuh penambahan kapasitas, pemangkasan headway antarkereta, dan kepastian operasional segera agar tidak perlu terus-menerus terjebak dalam desak-desakan yang menguras stamina.

Teka-Teki Jalur Soreang: Mengurai Benang Kusut Kemacetan

Di sisi lain, saat saya memandang keluar jendela kereta yang bergerak lambat menembus kemacetan jalan raya Bandung, sebuah teka-teki besar kerap mengusik pikiran: Mengapa jalur kereta api ke arah Soreang hingga kini tetap mati dan belum juga diaktivasi?

Sebagai pelaju, saya tahu betul bahwa koridor Bandung menuju Soreang via Kopo dan Banjaran adalah salah satu jalur neraka dengan tingkat kemacetan lalu lintas paling parah di kawasan metropolitan ini. Menghidupkan kembali jalur selatan yang legendaris ini adalah solusi mutlak untuk memotong rantai kemacetan.

Memang, menghidupkan kembali jalur mati tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hambatan nyata seperti okupasi lahan di sepanjang bekas rel yang kini telah padat menjadi permukiman warga dan pertokoan membutuhkan biaya sosial serta ganti rugi yang luar biasa besar. Belum lagi tantangan rekayasa teknis pada jalur yang terputus infrastruktur modern. Kehadiran Jalan Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) pun terbukti belum cukup kuat membendung ledakan volume kendaraan roda dua di jalur arteri.

Seorang pelajar di gerbong KA komuter Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Seorang pelajar di gerbong KA komuter Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Mewujudkan Pelayanan yang Memanusiakan

Melalui refleksi 81 tahun usia KAI ini, saya berharap suara kami, para penglaju yang duduk di lantai gerbong, bisa didengar dengan jernih. Komitmen "Semakin Melayani" baru akan benar-benar terwujud secara nyata dan paripurna apabila KAI bersama pemerintah daerah berani mengambil langkah agresif.

Tidak hanya mengejar target operasional KRL rute barat-timur pada 2027 mendatang, tetapi juga berani mengurai benang kusut jalur selatan menuju Soreang serta menuntaskan fasilitas penunjang di stasiun penting seperti Cimekar. Kami tidak ingin selamanya merayakan hari jadi kereta api dari atas lantai gerbong yang penuh sesak, melainkan dari atas moda transportasi massal yang memanusiakan para penggunanya. (SRI)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sri Maryati
Tentang Sri Maryati
Pemerhati sosial, penikmat destinasi wisata

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:28

Pentingnya Perlindungan Hak-Hak Sosial bagi Anak Didik

Seyogianya anak didik tidak hanya menjadi objek pertanyaan. Anak didik bukan sekadar penerima pelajaran. Mereka harus tumbuh sebagai manusia. Dan hak-hak sosial anak didik harus dilindungi.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:06

Kopi Tiam dari Semenanjung Malaya ke Nusantara hingga ke Kota Bandung

Jelajahi kisah kopitiam, kedai kopi legendaris yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya ke Nusantara, hingga kini menjadi tempat nongkrong favorit dan bagian dari gaya hidup kuliner Kota Bandung.

Menu sarapan pagi di Warung Kopi Purnama: roti kukus sarikaya, telur rebus setengah matang dan kopi hitam (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:53

Pos Indonesia dan Perjuangan Menjemput Masa Depan

Setiap tanggal 27 September, insan pos dan telekomunikasi Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel.

PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:14

Bagaimana jika Kencan Pertama Kita Diawali dengan Rencana Menggulingkan Rezim

Bergumul dengan romantisme di tengah negara yang carut-marut rasanya ada yang kurang. Ada mereka yang perlu kita pinjam suaranya demi kesejahteraan bersama.

Memikirkan romantisme di tengah negara yang carut-marut  rasanya seperti kita menghilangkan empati. Kecuali jika kencan pertama kita diisi dengan rencana menggulingkan rezim (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 17:30

81 Tahun KAI: Asa KRL 2027 dan Lantai Gerbong yang Sesak

Di tengah perayaan Hari Kereta Api Nasional dan HUT ke-81, realitas yang saya dan ribuan pelaju lain hadapi setiap hari di jam kerja justru jauh dari kata nyaman.

Calon penumpang memasuki gerbong Kereta Kahuripan jurusan Kiaracondong-Blitar di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (31/5/2019). (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 15:15

Studio 512 Bandung: Apresiasi D'Renced untuk Rekaman

Suara-suara menjadi gelombang, menjadi getaran yang mengirimkan isyarat kepada otak sampai berteriak.

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)