Sadarkah kalian bahwa hampir semua tempat jualan saat ini sudah memiliki QRIS atau bahkan sudah tidak menerima uang tunai dan hanya menerima pembayaran lewat digital. Fenomena ini membuktikan bahwa sekarang sistem pembayaran uang tunai telah tergantikan dengan adanya uang digital.
Perkembangan teknologi di era modern ini telah memberikan berbagai macam platform keuangan digital canggih yang memberikan kemudahan kepada manusia, seperti QRIS dan E-wallet. Data dari QRIS menyebutkan bahwa hingga tahun 2025 jumlah badan usaha yang menerima QRIS mencapai lebih dari 50 juta badan usaha di seluruh indonesia yang didominasi oleh pelaku UMKM.
Hadirnya platform keuangan digital ini telah membuat seseorang dengan mudah melakukan transaksi jual beli hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini menyebabkan masyarakat memiliki ketergantungan terhadap uang digital karena mereka bisa bertransaksi kapan saja tanpa perlu membawa uang tunai.
Namun, tanpa disadari efek penggunaan transaksi nontunai membuat seseorang tidak lagi merasakan sakit ketika mengeluarkan uang atau pain of paying. Ketika rasa sakit saat mengeluarkan uang menghilang, cara berpikir mereka saat mengambil keputusan keuangan kedepannya akan berpotensi menjadi bias hyperbolic discounting. Jika seseorang memiliki cara berpikir tersebut, maka mereka akan memanjakan keinginan sesaat tanpa memikirkan dampak kedepannya. Pola pikir ini akan mendorong mereka untuk melakukan pembelian konsumtif secara terus menerus.
Dr. Andesna Nanda seorang pakar manajemen strategis mengungkapkan dalam artikelnya bahwa ketidakmampuan mengontrol diri membeli sesuatu hanya untuk kepuasan sesaat akan menyebabkan sabotase diri yang berdampak terhadap rusaknya kestabilan keuangan pribadi. Sistem pembayaran nontunai memang telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan transaksi. Hilangnya rasa sakit saat mengeluarkan uang akibat penggunaan transaksi nontunai ini memicu munculnya bias hyperbolic discounting pada diri seseorang. Maka penting untuk mengetahui ciri-ciri munculnya hyperbolic discounting supaya dapat segera melakukan pencegahan dan menghasilkan pengelolaan keuangan pribadi yang baik.
Pengaruh Transaksi Nontunai Pada Kondisi Keuangan Pribadi
Pergantian sistem pembayaran dari tunai menjadi nontunai saat ini telah menjadi kebiasaan masyarakat untuk melakukan transaksi. Dengan adanya uang digital, kemudahan yang diberikan dapat membuat keberadaan uang tunai menjadi sedikit. Kini seseorang tidak perlu untuk membawa dompet fisik atau menyiapkan uang tunai saat ingin berbelanja. Hanya dengan menggunakan ponsel, seseorang dapat melakukan transaksi dimana saja dan kapan pun. Bahkan sudah ada beberapa tempat yang memang tidak lagi menerima pembayaran dengan uang tunai, sehingga semakin banyak masyarakat yang melakukan transaksi nontunai.
Pada tahun 2019 Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) meresmikan QRIS sebagai salah satu cara untuk melakukan transaksi. Bank Indonesia menyebutkan bahwa tujuan dari adanya QRIS ini adalah untuk mempermudah proses transaksi supaya praktis, aman, kekinian, andal, dan inklusif. Hadirnya platform keuangan digital merupakan alat bantu supaya masyarakat dapat melakukan transaksi dengan efisien.
Namun, ketika diberikan kemudahan saat melakukan transaksi seseorang cenderung lebih mudah tergoda oleh keinginan sesaat. Ketika seseorang melakukan transaksi nontunai rasa sakit ketika mengeluarkan uang akan lebih kecil dibandingkan melakukan transaksi dengan uang tunai. Kenapa fenomena tersebut bisa terjadi?

Pada tahun 2025, Deni Saiful seorang widyaiswara BMKG yang mengeksplorasi fenomena psikologi konsumen menyebutkan dalam artikelnya bahwa ketika membayar dengan uang tunai secara psikologis otak akan mengaktifkan rasa sakit karena semakin jelas seseorang melihat uang keluar maka semakin besar juga rasa sakitnya. Hilangnya rasa sakit ketika mengeluarkan uang berpotensi memiliki dampak perilaku seseorang menjadi konsumtif. Mereka lupa bahwa uang yang mereka gunakan untuk melakukan transaksi nontunai secara konsumtif merupakan uang milik pribadi. Jika perilaku konsumtif seseorang dibiarkan terus menerus maka cara berpikir mereka akan menjadi bias hyperbolic discounting.
Dengan demikian, kebiasaan melakukan transaksi nontunai tanpa adanya kontrol dari diri sendiri dapat menjadi awal dari rusaknya kondisi keuangan pribadi.
Bahayanya Memiliki Bias Hyperbolic Discounting
Bayangkan ketika seseorang melakukan transaksi terus menerus tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Stabilitas keuangan dan prioritas kebutuhan orang tersebut akan rusak dan menimbulkan masalah keuangan baru. Itulah yang terjadi ketika seseorang memiliki bias hyperbolic discounting. Pendiri sebuah lembaga konsultan behavioral science global (The Decision Lab) menjelaskan bahwa hyperbolic discounting adalah kecenderungan psikologis dimana manusia lebih memilih hadiah kecil secara instan hari ini dibandingkan hadiah yang jauh lebih besar di masa depan.
Dengan adanya teknologi pembayaran nontunai ini, bias hyperbolic discounting semakin menjadi ancaman karena cara mendapatkan kepuasan secara instan semakin gampang. contohnya saat ini banyak inovasi barang-barang baru yang sebenarnya memiliki fungsi yang sama dengan barang yang sudah kita miliki, tetapi dengan desain yang lebih menarik. Ketika melihat barang tersebut di media sosial atau tempat belanja, otak kita secara emosional langsung tergoda untuk membeli barang tersebut demi kepuasan instan apalagi jika ada promo.
Tanpa perlu menyiapkan uang tunai, kemudahan transaksi nontunai bisa langsung memenuhi keinginan tersebut dalam hitungan detik. Jika aktivitas tersebut terus berulang maka tanpa disadari uang yang sebenarnya untuk kebutuhan kedepannya bisa habis karena lebih memilih kepuasan instan.
Pemahaman Behavioral Finance Sebagai Solusi
Bagaimana kita dapat mencegah memiliki cara berpikir bias hyperbolic discounting di era transaksi nontunai?
Dengan memahami apa saja yang merupakan behavioral finance, seseorang dapat mencegah bias tersebut. Behavioral finance mengakui bahwa manusia tidak selalu bertindak secara rasional tetapi manusia rentan terhadap emosi mereka. Memahami behavioral finance dapat membantu meningkatkan kesadaran diri seseorang untuk mengenali kapan emosi mereka akan mengambil alih ketika sedang melakukan transaksi. Ketika seseorang memahami bahwa emosi dan kondisi psikologis dapat memengaruhi keputusan saat melakukan transaksi, mereka tidak akan mudah tergoda oleh berbagai macam hal hanya untuk kepuasan sesaat.
Strategi yang bisa dilakukan ketika kita sudah memahami behavioral finance, yaitu kita perlu untuk berpikir dua kali atau lebih sebelum melakukan transaksi. Kita perlu berpikir apakah yang dibeli memang dibutuhkan atau hanya untuk memenuhi kepuasan sesaat saja. Lalu menurut artikel dari PPM School of Management yang merupakan salah satu perguruan tinggi manajemen di Indonesia untuk mengurangi bias kita dapat melakukan review keputusan keuangan secara berkala. Lakukan pencatatan uang masuk dan keluar sehingga kita bisa melihat kembali keputusan-keputusan yang telah dibuat dan melakukan evaluasi untuk kedepannya.
Dengan kita melakukan strategi ini bukan berarti kita menjadi pelit kepada diri sendiri, tetapi kita harus memikirkan terlebih dahulu apa dampak jangka panjangnya sehingga kita dapat mengambil keputusan secara rasional.
Perkembangan teknologi pembayaran nontunai memang memberikan kemudahan dan efisiensi dalam melakukan transaksi sehari-hari. Namun, kemudahan yang diberikan oleh pembayaran nontunai ini menyebabkan hilangnya rasa sakit saat mengeluarkan uang atau pain of paying pada diri seseorang. Jika rasa sakit saat mengeluarkan uang menghilang, hal ini dapat menjadi ancaman munculnya pola pikir bias hyperbolic discounting. Pola pikir ini perlu dicegah dengan memahami behavioral finance yaitu memahami bahwa keputusan keuangan pribadi saat melakukan transaksi dipengaruhi oleh faktor psikologis dan emosi.
Kita harus memahami bahwa kemudahan yang diberikan oleh teknologi hanyalah alat bantu bagi kita untuk melakukan transaksi, tetapi kontrol atas cara kita mengambil keputusan keuangan, melakukan transaksi dan menjaga stabilitas keuangan pribadi di masa depan ada pada diri kita sendiri. (*)