Kemudahan Transaksi Nontunai Menjadi Ancaman Munculnya Bias Hyperbolic Discounting

6 menit baca
Dita Fawnia Khansa
Ditulis oleh Dita Fawnia Khansa diterbitkan
Transaksi Nontunai. (Sumber: Foto oleh cottonbro studio dari Pexels)
Transaksi Nontunai. (Sumber: Foto oleh cottonbro studio dari Pexels)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Transaksi nontunai menghilangkan pain of paying sehingga seseorang cenderung lebih mudah berbelanja tanpa merasakan beban psikologis saat uang keluar.

  • Kemudahan pembayaran digital dapat memicu hyperbolic discounting, yaitu kecenderungan memilih kepuasan sesaat dibandingkan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi keuangan di masa depan.

  • Pemahaman behavioral finance dapat membantu mencegah perilaku konsumtif, antara lain dengan berpikir ulang sebelum membeli serta rutin mencatat dan mengevaluasi keputusan keuangan.

Sadarkah kalian bahwa hampir semua tempat jualan saat ini sudah memiliki QRIS atau bahkan sudah tidak menerima uang tunai dan hanya menerima pembayaran lewat digital. Fenomena ini membuktikan bahwa sekarang sistem pembayaran uang tunai telah tergantikan dengan adanya uang digital.

Perkembangan teknologi di era modern ini telah memberikan berbagai macam platform keuangan digital canggih yang memberikan kemudahan kepada manusia, seperti QRIS dan E-wallet. Data dari QRIS menyebutkan bahwa hingga tahun 2025 jumlah badan usaha yang menerima QRIS mencapai lebih dari 50 juta badan usaha di seluruh indonesia yang didominasi oleh pelaku UMKM.

Hadirnya platform keuangan digital ini telah membuat seseorang dengan mudah melakukan transaksi jual beli hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini menyebabkan masyarakat memiliki ketergantungan terhadap uang digital karena mereka bisa bertransaksi kapan saja tanpa perlu membawa uang tunai. 

Namun, tanpa disadari efek penggunaan transaksi nontunai membuat seseorang tidak lagi merasakan sakit ketika mengeluarkan uang atau pain of paying. Ketika rasa sakit saat mengeluarkan uang menghilang, cara berpikir mereka saat mengambil keputusan keuangan kedepannya akan berpotensi menjadi bias hyperbolic discounting. Jika seseorang memiliki cara berpikir tersebut, maka mereka akan memanjakan keinginan sesaat tanpa memikirkan dampak kedepannya. Pola pikir ini akan mendorong mereka untuk melakukan pembelian konsumtif secara terus menerus.

Dr. Andesna Nanda seorang pakar manajemen strategis mengungkapkan dalam artikelnya bahwa ketidakmampuan mengontrol diri membeli sesuatu hanya untuk kepuasan sesaat akan menyebabkan sabotase diri yang berdampak terhadap rusaknya kestabilan keuangan pribadi. Sistem pembayaran nontunai memang telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan transaksi. Hilangnya rasa sakit saat mengeluarkan uang akibat penggunaan transaksi nontunai ini memicu munculnya bias hyperbolic discounting pada diri seseorang. Maka penting untuk mengetahui ciri-ciri munculnya hyperbolic discounting supaya dapat segera melakukan pencegahan dan menghasilkan pengelolaan keuangan pribadi yang baik.

Pengaruh Transaksi Nontunai Pada Kondisi Keuangan Pribadi

Pergantian sistem pembayaran dari tunai menjadi nontunai saat ini telah menjadi kebiasaan masyarakat untuk melakukan transaksi. Dengan adanya uang digital, kemudahan yang diberikan dapat membuat keberadaan uang tunai menjadi sedikit. Kini seseorang tidak perlu untuk membawa dompet fisik atau menyiapkan uang tunai saat ingin berbelanja. Hanya dengan menggunakan ponsel, seseorang dapat melakukan transaksi dimana saja dan kapan pun. Bahkan sudah ada beberapa tempat yang memang tidak lagi menerima pembayaran dengan uang tunai, sehingga semakin banyak masyarakat yang melakukan transaksi nontunai.

Pada tahun 2019 Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) meresmikan QRIS sebagai salah satu cara untuk melakukan transaksi. Bank Indonesia menyebutkan bahwa tujuan dari adanya QRIS ini adalah untuk mempermudah proses transaksi supaya praktis, aman, kekinian, andal, dan inklusif. Hadirnya platform keuangan digital merupakan alat bantu supaya masyarakat dapat melakukan transaksi dengan efisien.

Namun, ketika diberikan kemudahan saat melakukan transaksi seseorang cenderung lebih mudah tergoda oleh keinginan sesaat. Ketika seseorang melakukan transaksi nontunai rasa sakit ketika mengeluarkan uang akan lebih kecil dibandingkan melakukan transaksi dengan uang tunai. Kenapa fenomena tersebut bisa terjadi?

Fenomena cashless di FKB bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal inklusi. Banyak pelaku UMKM yang sebelumnya mengandalkan transaksi tunai kini mulai terbiasa dengan sistem digital.
Fenomena cashless di FKB bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal inklusi. Banyak pelaku UMKM yang sebelumnya mengandalkan transaksi tunai kini mulai terbiasa dengan sistem digital.

Pada tahun 2025, Deni Saiful seorang widyaiswara BMKG yang mengeksplorasi fenomena psikologi konsumen menyebutkan dalam artikelnya bahwa ketika membayar dengan uang tunai secara psikologis otak akan mengaktifkan rasa sakit karena semakin jelas seseorang melihat uang keluar maka semakin besar juga rasa sakitnya. Hilangnya rasa sakit ketika mengeluarkan uang berpotensi memiliki dampak perilaku seseorang menjadi konsumtif. Mereka lupa bahwa uang yang mereka gunakan untuk melakukan transaksi nontunai secara konsumtif merupakan uang milik pribadi. Jika perilaku konsumtif seseorang dibiarkan terus menerus maka cara berpikir mereka akan menjadi bias hyperbolic discounting.

Dengan demikian, kebiasaan melakukan transaksi nontunai tanpa adanya kontrol dari diri sendiri dapat menjadi awal dari rusaknya kondisi keuangan pribadi.

Bahayanya Memiliki Bias Hyperbolic Discounting

Bayangkan ketika seseorang melakukan transaksi terus menerus tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Stabilitas keuangan dan prioritas kebutuhan orang tersebut akan rusak dan menimbulkan masalah keuangan baru. Itulah yang terjadi ketika seseorang memiliki bias hyperbolic discounting. Pendiri sebuah lembaga konsultan behavioral science global (The Decision Lab) menjelaskan bahwa hyperbolic discounting adalah kecenderungan psikologis dimana manusia lebih memilih hadiah kecil secara instan hari ini dibandingkan hadiah yang jauh lebih besar di masa depan. 

Dengan adanya teknologi pembayaran nontunai ini, bias hyperbolic discounting semakin menjadi ancaman karena cara mendapatkan kepuasan secara instan semakin gampang. contohnya saat ini banyak inovasi barang-barang baru yang sebenarnya memiliki fungsi yang sama dengan barang yang sudah kita miliki, tetapi dengan desain yang lebih menarik. Ketika melihat barang tersebut di media sosial atau tempat belanja, otak kita secara emosional langsung tergoda untuk membeli barang tersebut demi kepuasan instan apalagi jika ada promo.

Tanpa perlu menyiapkan uang tunai, kemudahan transaksi nontunai bisa langsung memenuhi keinginan tersebut dalam hitungan detik. Jika aktivitas tersebut terus berulang maka tanpa disadari uang yang sebenarnya untuk kebutuhan kedepannya bisa habis karena lebih memilih kepuasan instan.

Pemahaman Behavioral Finance Sebagai Solusi

Bagaimana kita dapat mencegah memiliki cara berpikir bias hyperbolic discounting di era transaksi nontunai?

Dengan memahami apa saja yang merupakan behavioral finance, seseorang dapat mencegah bias tersebut. Behavioral finance mengakui bahwa manusia tidak selalu bertindak secara rasional tetapi manusia rentan terhadap emosi mereka. Memahami behavioral finance dapat membantu meningkatkan kesadaran diri seseorang untuk mengenali kapan emosi mereka akan mengambil alih ketika sedang melakukan transaksi. Ketika seseorang memahami bahwa emosi dan kondisi psikologis dapat memengaruhi keputusan saat melakukan transaksi, mereka tidak akan mudah tergoda oleh berbagai macam hal hanya untuk kepuasan sesaat. 

Strategi yang bisa dilakukan ketika kita sudah memahami behavioral finance, yaitu kita perlu untuk berpikir dua kali atau lebih sebelum melakukan transaksi. Kita perlu berpikir apakah yang dibeli memang dibutuhkan atau hanya untuk memenuhi kepuasan sesaat saja. Lalu menurut artikel dari PPM School of Management yang merupakan salah satu perguruan tinggi manajemen di Indonesia untuk mengurangi bias kita dapat melakukan review keputusan keuangan secara berkala. Lakukan pencatatan uang masuk dan keluar sehingga kita bisa melihat kembali keputusan-keputusan yang telah dibuat dan melakukan evaluasi untuk kedepannya.

Dengan kita melakukan strategi ini bukan berarti kita menjadi pelit kepada diri sendiri, tetapi kita harus memikirkan terlebih dahulu apa dampak jangka panjangnya sehingga kita dapat mengambil keputusan secara rasional. 

Perkembangan teknologi pembayaran nontunai memang memberikan kemudahan dan efisiensi dalam melakukan transaksi sehari-hari. Namun, kemudahan yang diberikan oleh pembayaran nontunai ini menyebabkan hilangnya rasa sakit saat mengeluarkan uang atau pain of paying pada diri seseorang. Jika rasa sakit saat mengeluarkan uang menghilang, hal ini dapat menjadi ancaman munculnya pola pikir bias hyperbolic discounting. Pola pikir ini perlu dicegah dengan memahami behavioral finance yaitu memahami bahwa keputusan keuangan pribadi saat melakukan transaksi dipengaruhi oleh faktor psikologis dan emosi.

Kita harus memahami bahwa kemudahan yang diberikan oleh teknologi hanyalah alat bantu bagi kita untuk melakukan transaksi, tetapi kontrol atas cara kita mengambil keputusan keuangan, melakukan transaksi dan menjaga stabilitas keuangan pribadi di masa depan ada pada diri kita sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dita Fawnia Khansa
Mahasiswa Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)