Derajat Manusia Sama dan Setara

5 menit baca
Juli Prasetya
Ditulis oleh Juli Prasetya diterbitkan
Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Perempuan sudah lama dianggap sebagai beban dalam kehidupan rumah tangga jika dilihat dari kacamata budaya patriarki.

  • Kita harus benar-benar mendekosntruksi lagi tentang pandangan-pandangan yang menganggap bahwa lelaki lebih tinggi derajatnya dibanding perempuan.

Perempuan sudah lama dianggap sebagai beban dalam kehidupan rumah tangga jika dilihat dari kacamata budaya patriarki. Budaya patriarki ini menganggap bahwa perempuan hanya wajib mengurusi tiga urusan utama, yakni dapur, sumur, dan kasur. Yang bermakna, bahwa perempuan hanya boleh dan wajib mengurusi tiga hal tersebut, lain itu tidak; yakni urusan dapur dimaknai bahwa kinerja perempuan hanya boleh dan wajib merampungkan dan mengatasi urusan dapur seperti memasak makanan untuk para anggota keluarga.

Dan seorang perempuan yang tak bisa memasak dianggap sebagai sebuah aib,  sebuah kesalahan dan anomali, bahkan disebut juga sebagai suatu ketakbecusan sebagai seorang perempuan. Padahal memasak bagaimana pun bentuknya adalah sebuah keahlian basic atau dasar yang mestinya harus dikuasai oleh setiap orang tanpa memandang gender, entah itu lelaki ataupun perempuan. Karena merupakan hal yang basic dalam menjalani kehidupan pribadi maupun sosial, maka memasak adalah hal yang memang sudah menjadi suatu keniscayaaan dan harus dikuasai oleh setiap orang, dan sekali lagi tanpa memandang gender.

Kemudian yang kedua bahwa perempuan dipandang harus berkutat mengurusi urusan sumur, seperti cuci mencuci, entah itu mencuci pakaian ataupun mencuci piring. Padahal seperti yang sudah kita jelaskan di awal, bahwa hal seperti cuci mencuci ini juga adalah urusan yang seharusnya bisa dilakukan oleh semua orang normal, yang memiliki tangan dan kakinya sendiri. Cuci mencuci ini bukan menjadi hal wajib yang harus dilakukan seorang perempuan atau istri misalnya, padahal hal ini juga menjadi semacam hal yang basic pula dalam kehidupan berumah tangga.

Dan mungkin ini akan menjadi dimaklumi ketika memang fungsi kepala keluarga berjalan dengan baik, dan melihat rumah tangga sebagai hubungan kerja sama antara suami dan istri, dan di sini mungkin pembagian kerja menjadi penting, dan tentu saja harus adil.  Entah suami atau istri harus memiliki andil yang setara dalam melakukan kerja-kerja basic macam ini, dan tentu saja bisa saling membantu dan melengkapi antara satu dengan yang lain.

Dan yang ketiga urusan kasur atau saya menangkapnya sebagai analogi urusan ranjang. Maka entah lelaki ataupun perempuan memang harus memiliki andil masing-masing dalam proses reproduksi yang alami ini. Bahwa seorang perempuan tidak hanya wajib melayani suaminya, tapi sang suami pun sudah sepantasnya juga melayani istrinya dalam urusan ranjang ini, jadi saling memuaskan. Jadi kedua pasangan ini harus saling proaktif dalam melakukan kegiatan “bercocok tanam” dan anak yang akan dilahirkan nanti dibesarkan dan diurus secara bersama-sama sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing pasangan.

Di era kiwari seperti sekarang, mungkin analogi bahwa perempuan hanya boleh mengurusi dapur, sumur dan kasur harus benar-benar didekonstruksi. Kodrat perempuan yang dianggap harus hanya bisa masak, macak, dan manak harus benar-benar diubah sama sekali.

 Bahwa manusia di era modern seperti sekarang sudah seharusnya meninggalkan pandangan-pandangan patriarki yang mendiskreditkan satu golongan yang hanya dipandang sebagai objek semata dan sangat  mungkin dianggap tidak memiliki kemampuan dan perasaan, golongan ini dianggap sebagai sebuah benda, bukan dipandang sebagai manusia. Dan tentu saja golongan ini seringkali dirugikan, siapa lagi kalau bukan perempuan.

Maka kita harus sudah mengubah pandangan ini secara bertahap bahwa lelaki dan perempuan itu setara. Entah itu dalam mengambil keputusan, karir, atau dalam bidang lain. Lelaki dan perempuan harus menjadi setara, entah itu dalam mencari ilmu maupun penghidupan.

Ilustrasi perempuan sehat. (Sumber: Pexels/Phil Nguyen)
Ilustrasi perempuan sehat. (Sumber: Pexels/Phil Nguyen)

Misalkan dalam mencari nafkah atau biaya hidup, lelaki dan perempuan bisa bekerja sama dalam mewujudkan perekonimian keluarga yang stabil. Bisa saja seorang istri memiliki usaha, dan sang suami mempromosikan usahanya. Ataupun sebaliknya, jadi dalam mencari penghidupan dan urusan ekonomi di sini berlaku secara fleksibel, saling membantu dan saling menopang dalam urusan keberlangsungan rumah tangga. Ketika suami tidak bisa mencari nafkah lagi misalnya, maka di sini peran istri sangat dibutuhkan untuk menjadi penopang keluarga, dan kita perlahan-lahan harus bisa memaklumi itu.

Tapi sayangnya di masyarakat kita peran perempuan yang dominan dalam mencari penghidupan ekonomi itu sangat tidak disukai, dan terkesan disepelekan. Peran perempuan yang bekerja dianggap sebagai sebuah kekurangan. Sebagai suatu hal yang menyalahi kodrat, dan kadangkala dianggap sebagai anomaly, suatu keanehan. Bahwa mereka memandang bahwa keluarga yang sehat dan sejahtera adalah keluarga yang berfungsi sesuai dengan tugasnya.

Dan Tugas lelaki dianggap sebagai pencari nafkah yang paten, tanpa bisa diganggu gugat dan digantikan oleh peran perempuan. Padahal bukankah suami istri yang dapat bekerja sama dalam mencari penghidupan dan ekonomi secara gotong royong sangat indah dan menakjubkan.

Coba kita bayangkan sebuah masyarakat yang ketika seorang lelaki tak bisa bekerja dan tidak bisa menafkahi keluarganya dianggap sebagai lelaki yang tak berguna, dan ketika si istri membantu untuk mengeluarkan suami dan keluarganya dari jeratan kemiskinan dan ketakberdayaan, malah si istri dianggap menyalahi kodrat di dalam masyarakat. Bukankah ini merupakan pandangan masyarakat yang sakit? Yang tidak adil semenjak dalam pikiran, kalau kata Pramoedya.

Kita harus benar-benar mendekosntruksi lagi tentang pandangan-pandangan yang menganggap bahwa lelaki lebih tinggi derajatnya dibanding perempuan. kita pelan-pelan harus mulai menganggap bahwa peran lelaki dan perempuan dalam keluarga itu harus setara. Seharusnya mendapatkan suatu hubungan yang setara merupakan dambaan bagi semua orang, bagi setiap keluarga. Karena dengan demikian mereka sadar akan pentingnya kesetaraan dalam menjalani kehidupan berumah tangga, kehidupan dalam menjalani peran suami istri. Bukankah manusia entah itu lelaki dan perempuan dipandang sama di mata Tuhan, hanya ketaqwaannya saja yang membedakan. Lalu mengapa dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan peran lelaki dan perempuan tidak bisa setara?

Bahwa peran mencari penghidupan tidak hanya boleh dilakukan oleh suami yang dianggap sebagai kepala keluarga, tapi juga bisa dan boleh dilakukan oleh seorang istri yang membantu penghidupan keluarganya. Karena dalam kehidupan rumah tangga bukankah indah jika bisa saling membantu antara suami dan istri, tidak hanya dalam urusan ranjang saja, tapi juga urusan sumur dan dapur.

Wah, betapa indahnya hubungan setara ini, untuk segala urusan bisa dilakukan bersama, bukan hanya urusan ranjang saja yang dilakukan bersama, tetapi mencuci baju, mencuci piring, memasak dan mengurus anak juga adalah urusan bersama. Karena rumah tangga ini bukankah bukan hanya milik si suami atau milik si istri seorang. Tapi milik suami dan istri, milik mereka berdua, milik bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Juli Prasetya
Tentang Juli Prasetya
Penulis asal Banyumas. Kumcernya Rudi Gaber yang Ingin Memberi Makan Istrinya dengan Puisi (2025). Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Agu 2026, 12:14

Musuh Tersembunyi: Mikroplastik dalam Makanan Dapur

Penjelasan pendek tentang mikroplastik dan bagaimana mikroplastik memengaruhi hidup kita

Ilustrasi sayuran berbungkus plastik. (Sumber: Pexels | Foto: Deon Black)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 10:15

7 Gunung Tertinggi di Bandung: Antara Legenda dan Jalur Pendakian

Tujuh gunung tertinggi di Bandung bukan sekadar destinasi pendakian. Di balik jalur, ketinggian, dan panorama alamnya, tersimpan legenda, sejarah, serta cerita masyarakat.

Foto Pemandangan Gunung Puntang diambil dari Gunung Batu Lemabang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 09:27

Derajat Manusia Sama dan Setara

Perempuan sudah lama dianggap sebagai beban dalam kehidupan rumah tangga jika dilihat dari kacamata budaya patriarki.

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Agu 2026, 13:59

Media Lokal Dorong Ekosistem Berkelanjutan, Google Buka Ruang Kolaborasi

Media lokal dan Google membahas tantangan era AI, strategi keberlanjutan bisnis, pertumbuhan audiens, serta peluang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem berita di Indonesia.

Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono mengingatkan bahwa media dan jurnalis yang menolak beradaptasi dengan AI dan menganggapnya sebagai musuh akan tertinggal serta terancam gulung tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 14 Agu 2026, 20:59

Peringati HUT Kemerdekaan, PLN Nusantara Power UP Cirata Kumpulkan 59 Kg Sampah Anorganik

PLN Nusantara Power UP Cirata rayakan HUT RI ke-81 lewat Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperingati HUT ke-81 RI melalui Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 20:29

Kemudahan Transaksi Nontunai Menjadi Ancaman Munculnya Bias Hyperbolic Discounting

Kemudahan transaksi nontunai tanpa disadari menghilangkan rasa sakit saat mengeluarkan uang.

Transaksi Nontunai. (Sumber: Foto oleh cottonbro studio dari Pexels)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 18:01

Lomba Agustusan Bukan Soal Menang-Kalah, tapi tentang Kebersamaan dan Kebahagiaan

Dari balap karung hingga lomba daster, Agustusan selalu menjadi ajang kebersamaan warga. Namun, kemeriahan perayaan kemerdekaan tak lepas dari persoalan klasik soal penggalangan dana.

 Perlombaan Agustusan sangat beragam, bahkan dari tahun terus bertambah dan semakin lucu (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 15:05

Saat Game Masuk Kelas: Benarkah Game Edukasi Bisa Bikin Belajar Lebih Efektif?

Benarkah game edukasi mampu mengubah kelas yang membosankan menjadi pembelajaran interaktif? Simak manfaat, tantangan, dan solusi penerapannya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pembelajaran interaktif anak-anak usia dini menggunakan Papan Interaktif Digital melalui platfrom Game Edukasi Paudpedia. (Sumber: Dokumentasi kemdikbud.go.id  | Foto: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 14:46

Aktif Berorganisasi, Benarkah Membantu Mahasiswa Siap Hadapi Dunia Kerja?

Banyak lulusan kesulitan bersaing di dunia kerja. Organisasi mahasiswa ternyata menjadi tempat lahirnya employability skills yang dicari perusahaan. Mengapa bisa demikian?

Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 11:38

81 Tahun Merdeka, Jejak Belanda Masih Terasa Lewat Perkedel hingga Semur

Indonesia telah 81 tahun merdeka, tetapi jejak Belanda masih terasa di meja makan. Perkedel, semur, kroket hingga lapis legit menjadi bukti warisan kuliner kolonial yang beradaptasi.

Jejak kuliner Belanda masih dapat ditemukan dalam berbagai makanan yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. (Sumber: magnific.com | Foto: stockking)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 08:34

KDM Punya 35 Juta Pemilih di Jabar, Cukupkah untuk Menuju 2029? 

Kalau memang suratan tangan menetapkan KDM maju ke pentas politik nasional di tahun 2029 dan berhasil, tentu itu akan menjadi sejarah politik nan penting.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 13 Agu 2026, 19:19

Semangat Integritas Digitalisasi Wisata Kota Bandung, Dari Transportasi Publik hingga Perlindungan Transaksi

Kota Bandung, yang secara konsisten menjadi salah satu magnet utama pariwisata nasional, kini berada di tengah transformasi penting menuju ekosistem smart tourism.

Kota Bandung, yang secara konsisten menjadi salah satu magnet utama pariwisata nasional, kini berada di tengah transformasi penting menuju ekosistem smart tourism. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 19:09

Cibeulah, Rekahan Tanah Akibat Gempa Bumi yang Menyimpan Cerita

Cibeulah berarti tanah belah dalam bahasa Sunda dan Banten. Toponim ini menyimpan jejak gempa bumi, rekahan tanah, serta pengetahuan leluhur tentang ancaman bencana dan pentingnya mitigasi.

Rumah warga yang terdampak gempabumi dengan kekuatan (M) 6,7 pada tanggal 14 Januari 2022, di Kabupaten Pandeglang, Banten. (Sumber: BNPB)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:45

Touring Tidak Selalu tentang Healing, tetapi Juga Ruang Sosial dan Psikologis

Touring bukan sekadar hobi berkendara atau perjalanan untuk healing. Di balik perjalanan dan biaya yang dikeluarkan, touring menjadi ruang untuk menjaga kesehatan sosial dan psikologis.

Touring bukanlah sekadar hobi berkendara yang menguras materi, melainkan ruang sosial dan psikologis. (Sumber: magnific.com | Foto: bublikhaus)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:21

Melawan Greenwashing untuk Mendorong Sikap Kritis terhadap Klaim Ramah Lingkungan

Greenwashing mengancam kepercayaan konsumen dan investor serta mengganggu alokasi modal. Transparansi, audit ESG, dan sikap kritis pasar menjadi kunci membangun bisnis berkelanjutan di masa depan.

Fenomena greenwashing didefinisikan sebagai persilangan antara kinerja lingkungan yang buruk dengan komunikasi positif yang menyesatkan. (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:43

Mengenang Majalah Hai, Ikon Remaja di Era 80–90an

Mengenang Majalah Hai, teman generasi 1980-an dan 1990-an yang tak hanya menghadirkan musik, komik, dan cerita, tetapi juga memperluas wawasan serta membentuk selera dan imajinasi anak muda Indonesia.

Majalah Remaja Hai era 1980–1990-an Majalah Hai era 1980–1990-an, bacaan populer yang lekat dengan kehidupan remaja dan menjadi bagian dari kenangan sebuah generasi.
Beranda 13 Agu 2026, 10:32

Pohon di Kota Bandung Ditebang Ilegal, Tapi Anggaran Beli Lahan RTH 2026 Malah Tak Ada

Puluhan pohon di Kota Bandung ditebang liar, giliran anggaran beli lahan RTH 2026 malah nihil. Kini janji ruang hijau kota terancam cuma angan-angan di atas kertas.

Sisa pohon yang ditebang di Jalan LLRE Martadinata (Jalan Riau), Kota Bandung, Selasa 4 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:03

Pohon, Bisnis, dan Kehidupan

Saat pohon tumbang, yang jatuh bukan hanya batang, dahan, daun, justru yang ikut runtuh sederetan cerita, petuah, pamali, ingatan, hingga khazanah lokal.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 19:54

Mengapa Bahasa Merek Berubah Saat Pindah ke Instagram?

Membahas bagaimana satu merek menyesuaikan gaya bahasa di website dan Instagram saat menyampaikan pesan Ramadhan, tanpa kehilangan pesan utama kepada publik.

Ilustrasi masakan. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 17:20

Aku, ‘Preman Pensiun’, dan Terminal Cicaheum

Mengajak pembaca menyusuri kenangan personal di Terminal Cicaheum, dari masa kecil hingga era Preman Pensiun.

Suasana Terminal Cicaheum pada pagi hari, Kota Bandung, Rabu 24 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)