Refreshing, Healing, dan Rungsing

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Menikmati Akhir Pekan di Tepi Healing (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Menikmati Akhir Pekan di Tepi Healing (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Saat ngobrol santai, seorang kawan nyeletuk soal maraknya rojali (rombongan jajan lihat-lihat) dan rohana (rombongan hanya nanya-nanya)

Nya, sesekali refreshing, hiling biar hidup gak rungsing. Setuju, Mang?” ujarnya.

Kujawab singkat: “Nya!”

Obrolan sore itu ditutup dengan satu kalimat dari kawanku,
“Untuk menjadi waras dan bahagia itu nggak datang dari orang lain. Kita yang harus ciptakan sendiri.”

Suasana Mall Paris Van Java (PVJ), Jalan Sukajadi, Kota Bandung, pada hari Kamis, 12 Agustus 2021. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Suasana Mall Paris Van Java (PVJ), Jalan Sukajadi, Kota Bandung, pada hari Kamis, 12 Agustus 2021. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hikayat Rojali dan Rohana

Dalam liputan Kompas bertajuk “Fenomena Rojali dan Rohana, Potret Pelemahan Daya Beli atau Strategi Atur Ekonomi?”, istilah rojali dan rohana digambarkan sebagai sindiran sosial yang menggelitik sekaligus mengandung makna ekonomi yang dalam dan unik.

Rojali akronim dari rombongan jarang beli. Rohana adalah singkatan dari rombongan hanya nanya.  Keduanya merujuk pada fenomena masyarakat yang datang beramai-ramai ke pusat perbelanjaan tanpa niat, kemampuan untuk benar-benar berbelanja. Pasalnya, mereka sekadar melihat-lihat, menanyakan harga, dan membandingkannya dengan harga di lokapasar daring.

Parahnya, fenomena ini tampak jelas di akhir pekan ketika mal-mal dipadati pengunjung. Namun, tidak semua pengunjung melakukan transaksi pembelian.

Sebagian besar justru menikmati suasana sejuk dan bersih di dalam mal, sambil membeli kopi, camilan ringan, menjadikan aktivitas ini sebagai ajang hiburan murah meriah, berkumpul bersama keluarga, teman, sekaligus “cuci mata” melihat-lihat etalase produk.

Meskipun bukan hal baru, kebiasaan rojali dan rohana semakin masif dalam dua pekan terakhir, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Menurunnya daya beli masyarakat menjadi salah satu indikatornya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal pertama 2025 hanya mencapai 4,87 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu (4,91 persen), dan jauh di bawah rata-rata sebelum pandemi yang mencapai 5,4 persen. 

Padahal, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 52 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Kondisi ini diperparah oleh kelompok kelas menengah atas yang masih menahan konsumsi.

Kelompok ini biasanya menopang sekitar 70 persen konsumsi rumah tangga di Indonesia. Alih-alih membelanjakan uangnya, mereka kini cenderung menyimpannya dalam berbagai instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menyatakan fenomena rojali merupakan sinyal penting bagi para pengambil kebijakan.

Mereka tidak hanya perlu fokus menurunkan angka kemiskinan, tetapi harus menjaga ketahanan konsumsi dan stabilitas ekonomi rumah tangga, khususnya pada kelas menengah bawah.

Perilaku rojali mencerminkan kebutuhan akan eksistensi sosial (social presence). Di tengah keterbatasan daya beli, konsumen tetap ingin tampil dan terkoneksi secara sosial.

Pusat perbelanjaan, kafe menjelma menjadi ruang publik sekaligus panggung sosial untuk menunjukkan keberadaan dan menjaga harga diri di mata publik. (Kompas edisi 28 Juli 2025).

Perjuangan seorang bapak yang rela melakukan apapun demi keluarganya bisa hidup enak tanpa ia sadari istri dan anaknya menderita. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Perjuangan seorang bapak yang rela melakukan apapun demi keluarganya bisa hidup enak tanpa ia sadari istri dan anaknya menderita. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Merawat Rumah Tangga

Ingatlah, rumah tangga adalah pilar utama kebahagiaan dalam kehidupan manusia.

Rumah tangga merupakan fondasi dasar kehidupan manusia. Bukan sekadar ikatan legal (tempat tinggal), tetapi menjadi ruang suci tempat cinta tumbuh, tanggung jawab dibagi, dan kebahagiaan sejati dirajut setiap hari. 

Saat berumah tangga, manusia belajar mengenali dirinya sekaligus menyelami makna hidup melalui kebersamaan yang intim dan penuh makna.

Muhammad Kosim, dalam tulisannya “Pilar Keluarga Bahagia”, menjelaskan keluarga yang bahagia dunia dan akhirat dapat diraih dengan membangun fondasi utama yang kuat sebagai landasan agama yang kokoh dan tiga pilar utama humanis, hirarkis, dan harmonis.

Setiap orang tentu mendambakan kebahagiaan dalam keluarga, bukan hanya untuk kehidupan dunia, tapi harus langgeng hingga akhirat. Untuk meraih kebahagiaan itu diperlukan pondasi yang benar-benar kuat.

1. Pilar Humanis

Keluarga harus dibangun dengan memenuhi kebutuhan manusia secara utuh, baik jasmani maupun rohani. Dalam kehidupan berumah tangga, perhatian tidak boleh hanya terfokus pada hal-hal fisik dan material, melainkan pada kesehatan jiwa dan spiritualitas anggota keluarga.

2. Pilar Hirarkis

Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah SWT. Namun, dalam konteks kehidupan berumah tangga, dibutuhkan struktur kepemimpinan demi keteraturan. Inilah pentingnya hirarki, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan…” (QS an-Nisa’ [4]: 34).

Istri dianjurkan untuk patuh kepada suaminya selama perintah itu tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, suami harus adil dan tidak berlaku zalim kepada istrinya. Hirarki dalam keluarga bukanlah bentuk tirani, tetapi mekanisme untuk menjaga keluarga tetap berada di jalan yang lurus dan terhindar dari siksa api neraka (QS at-Tahrim [66]: 6).

3. Pilar Harmonis

Keluarga bahagia adalah keluarga yang harmonis, antara suami, istri, dan anak-anaknya. Inilah makna keluarga sakinah, sebagaimana disebut dalam QS ar-Rum [30]: 21:
“…dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang…”

Rasa cinta dan kasih sayang yang ditanamkan karena Allah akan menjaga keharmonisan rumah tangga. Al-Qur’an memerintahkan agar suami memperlakukan istri dengan baik:
“…dan bergaullah dengan mereka secara makruf.” (QS an-Nisa’ [4]: 19)

Rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal bersama, tetapi menjadi medan perjuangan membangun kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang lahir dari cinta, terarah oleh agama, dan tumbuh dari keharmonisan. (Republika, 19 Februari 2022).

Menikmati Akhir Pekan di Tepi Healing (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Menikmati Akhir Pekan di Tepi Healing (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Merayakan Kebahagiaan 

Dalam tulisan berjudul "Konsep Kebahagiaan Komaruddin Hidayat dan Relevansinya dengan Tasawuf" oleh M. Hendi Bayu Pratama dkk., dijelaskan Guru Besar UIN Jakarta kebahagiaan berkaitan erat dengan martabat dan struktur kejiwaan setiap individu.

Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bersifat tunggal, melainkan terdiri dari jenjang dan tingkatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan eksistensial manusia.

Setidaknya terdapat tiga pilar utama yang dapat memengaruhi kebahagiaan seseorang:

1. Memiliki keluarga yang baik (having a good family),

2. Memiliki pekerjaan yang layak dan bermakna (having a good job), dan

3. Memiliki teman-teman serta komunitas yang sehat (having good friends and community).

Selain pilar-pilar itu, kebahagiaan memiliki dimensi dan tahapan yang membentuk tangga-tangga menuju puncak kebahagiaan. Setiap manusia dapat menapaki hierarki kebahagiaan ini sesuai dengan kesadaran dan kualitas jiwanya.

Secara garis besar, mantan Rektor UIII membagi jenjang eksistensi manusia ke dalam lima tingkatan; Jasadi (fisik), Nabati (tumbuh-tumbuhan), Hewani (insting, binatang), Insani (intelektual, kemanusiaan) dan Ruhani (spiritual, ketuhanan).

Pada tingkat nabati dan hewani, manusia cenderung mencari kebahagiaan yang bersifat fisik dan instingtif, misalnya berupa kenikmatan ragawi, kesenangan sesaat, atau pemenuhan kebutuhan dasar.

Namun seiring peningkatan kualitas jiwa, manusia dapat naik ke level insani, yang ditandai dengan kebahagiaan intelektual (intellectual happiness), kebahagiaan moral (moral happiness), dan kebahagiaan sosial (social happiness). Ini adalah kebahagiaan yang lebih abstrak dan berakar pada akal budi serta tanggung jawab sosial.

Puncaknya adalah kebahagiaan spiritual (spiritual happiness), yaitu saat seseorang mampu mengendalikan nafsu, pikiran, dan perbuatan melalui jiwa rabbani.

Pada tingkatan ini, manusia merasakan kedekatan dengan Tuhan dan dipenuhi oleh kasih sayang-Nya. Inilah bentuk kebahagiaan tertinggi yang tidak bergantung pada kondisi luar, melainkan bersumber dari kedalaman batin. (Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS), Vol. 02 No. 04, Juli–September 2024: 716–726).

Sekedar contoh kebahagiaan orang tua tidak terletak pada seberapa banyak harta, kekayaan yang dapat mereka wariskan, melainkan pada sejauh mana mereka berhasil mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang berilmu dan berintegritas. Inilah bentuk kebahagiaan yang lebih mendalam dan bermakna.

Di sinilah muncul dimensi kebahagiaan yang disebut moral happiness, kebahagiaan yang dirasakan ketika seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Moral happiness sangat erat kaitannya dengan social happiness, karena kebahagiaan moral akan lebih terasa apabila seseorang mampu membangun relasi sosial yang sehat, hangat, dan saling menguatkan.

Moral happiness bukan hanya tentang kebaikan pribadi, tetapi erat keberhasilan seseorang dalam menebar kebaikan di tengah kehidupan sosialnya. Itulah kebahagiaan yang tumbuh dari nilai-nilai kebaikan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. (Komaruddin Hidayat, 2013: 102).

"Kebahagiaan sejati itu bukan soal banyaknya harta atau tingginya jabatan, tapi tentang hati yang tenang, relasi yang hangat, dan perasaan cukup serta syukur atas apa yang dimiliki."

Menikmati Akhir Pekan di Tepi Healing (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Menikmati Akhir Pekan di Tepi Healing (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Menjaga Kewarasan 

Di tengah derasnya arus tren media sosial, masyarakat kian gemar membagikan aktivitas kehidupan sehari-hari, mulai dari momen liburan, saat menghadapi masalah, putus cinta, tugas yang menumpuk, hingga perasaan lelah yang tak terungkapkan.

Dalam situasi seperti itu, kata healing sering digunakan sebagai ungkapan untuk menggambarkan kebutuhan akan waktu rehat (rekreasi) sejenak dari rutinitas yang melelahkan.

Namun, pada kenyataannya, healing bukanlah sekadar aktivitas liburan biasa, melainkan mengandung makna pemulihan, baik secara fisik, emosional, maupun mental.

Di tengah budaya digital yang kerap menyodorkan kebahagiaan instan, penting untuk mengingat bahwa pemulihan sejati tidak hanya didapat dari perjalanan ke tempat indah, justru hadir dari relasi yang sehat dan dukungan emosional yang kuat, terutama dari diri sendiri, keluarga.

Dengan demikian, bila ingin masyarakat yang tangguh, bangunlah rumah tangga yang kokoh. Jika ingin kehidupan yang bermakna, mulailah dari keluarga yang hangat. Pasalnya dari sanalah, akar kebahagiaan manusia tumbuh subur dan menguat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)