KDM Minta Maaf Gara-gara 80.000 Warga Jabar Masih Gelap-gelapan

7 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, saat upacara hari kemerdekaan di Gedung Sate.  (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, saat upacara hari kemerdekaan di Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat saat memimpin upacara peringatan HUT RI ke-81 tingkat provinsi di Halaman Gedung Sate/Pesanggrahan Pancarasa, Senin (17/8/2026) kemarin.

  • Target pemerintah Jawa Barat untuk menuntaskan akses listrik bagi 80.000 warga yang masih tanpa listrik pada 2027 patut dilihat lebih dari sekadar proyek penyambungan jaringan.

GUBERNUR Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat saat memimpin upacara peringatan HUT RI ke-81 tingkat provinsi di Halaman Gedung Sate/Pesanggrahan Pancarasa, Senin (17/8/2026) kemarin.

KDM mengakui, setelah 81 tahun kemerdekaan, pemerintah belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan dasar seluruh warga Jawa Barat, seraya mencontohkan, misalnya, masih adanya sekitar 80.000 warga yang hidup tanpa akses listrik, sehingga gelap menjadi bagian dari keseharian mereka saat malam tiba. Pemerintah provinsi, kata KDM, menargetkan seluruh wilayah yang tanpa akses listrik akan teraliri listrik pada 2027. 

Apa yang disampaikan KDM terkait realita masih adanya warga Jawa Barat yang tanpa listrik menunjukkan masih adanya  ketimpangan yang selama ini tersembunyi di balik narasi pertumbuhan dan kemajuan. Di provinsi dengan kontribusi ekonomi besar bagi nasional, ketiadaan listrik menjadi paradoks yang sulit diabaikan.

Fondasi kehidupan sosial

Di era modern kiwari, listrik bukan lagi sekadar fasilitas tambahan. Ia adalah fondasi kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan psikologis masyarakat. Tanpa listrik, akses terhadap pendidikan digital, layanan kesehatan, hingga peluang ekonomi menjadi sangat terbatas. Artinya, 80.000 warga yang tanpa akses listrik itu hidup dalam kondisi yang secara sistematis menempatkan mereka di posisi tertinggal.

Data lapangan menunjukkan bahwa mayoritas warga tanpa listrik tinggal di wilayah perdesaan terpencil, terutama di daerah perbukitan, pesisir selatan, dan kawasan hutan. Mereka bukan sekadar “belum terjangkau”, tetapi sering kali memang berada di wilayah yang secara geografis sulit dijangkau infrastruktur.

Namun, menjelaskan persoalan ini hanya dari faktor geografis adalah penyederhanaan persoalan. Banyak kajian pembangunan menunjukkan bahwa keterisolasian geografis sering kali diperparah oleh keterisolasian kebijakan. Artinya, bukan hanya karena lokasi mereka sulit, tetapi juga karena prioritas pembangunan tidak berpihak pada wilayah tersebut.

Dalam perspektif ekonomi pembangunan, fenomena tersebut dikenal sebagai spatial inequality alias ketimpangan spasial. Wilayah yang dekat dengan pusat pertumbuhan akan terus berkembang, sementara wilayah pinggiran tertinggal karena minim investasi. Jawa Barat, dengan konsentrasi industri di utara dan Bandung Raya, adalah contoh klasik terkait fenomena ini.

Ketimpangan spasial dapat menciptakan lingkaran setan. Tanpa listrik, produktivitas rendah. Karena produktivitas rendah, pendapatan rendah. Karena pendapatan rendah, investasi tidak masuk. Dan tanpa investasi, infrastruktur --termasuk listrik -- tidak berkembang. Siklus ini terus berulang.

Tidak kekurangan pasokan

Dari sisi kebijakan energi, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pasokan listrik. Jawa Barat bahkan memiliki kapasitas pembangkit listrik yang besar, dari tenaga air hingga panas bumi. Namun, persoalannya bukan pada produksi, melainkan distribusi dan aksesibilitas.

Distribusi listrik ke wilayah terpencil memiliki biaya marjinal yang jauh lebih tinggi. Artinya, semakin jauh dan semakin sulit wilayahnya, semakin mahal biaya untuk menyambungkan listrik. Ini sering membuat proyek elektrifikasi di daerah terpencil dianggap tidak ekonomis.

Dari sanalah muncul dilema klasik antara efisiensi dan keadilan. Dari sudut pandang bisnis, proyek listrik harus menguntungkan. Tetapi, dari sudut pandang negara, listrik adalah hak dasar yang harus dijamin. Ketika logika pasar lebih dominan, kelompok rentan akan tertinggal.

Selain faktor ekonomi dan geografis, ada juga faktor administratif. Banyak warga di daerah terpencil tidak memiliki dokumen kependudukan yang lengkap. Tanpa identitas resmi, mereka kesulitan mengakses program bantuan, termasuk subsidi listrik.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa ketertinggalan bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur sosial. Ketika seseorang tidak tercatat dalam sistem, maka ia pada dasarnya “tidak terlihat” oleh negara.

Tetapi, persoalan administrasi ini tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa warga yang belum memiliki dokumen kependudukan adalah pihak yang harus menyesuaikan diri. Justru di situlah negara diuji, apakah sistem administrasi mampu menjangkau warga yang hidup paling jauh dari pusat pelayanan.

Sebab, pembangunan tidak semestinya hanya mengukur siapa yang sudah masuk ke dalam sistem, tetapi juga siapa yang masih berada di luar sistem dan mengapa mereka bisa berada di sana.

Karena itu, target pemerintah Jawa Barat untuk menuntaskan akses listrik bagi 80.000 warga yang masih tanpa listrik pada 2027 patut dilihat lebih dari sekadar proyek penyambungan jaringan. Target tersebut merupakan ujian apakah negara mampu memecahkan persoalan yang selama puluhan tahun berada di pinggir radar pembangunan.

Listrik memang bisa dipasang dalam hitungan hari. Tetapi, menghapus ketertinggalan yang terbentuk selama puluhan tahun tentu membutuhkan waktu jauh lebih panjang.

Di sebuah rumah yang baru mendapat listrik, misalnya, yang berubah bukan hanya terang lampu pada malam hari. Anak-anak memiliki waktu belajar lebih panjang. Telepon seluler bisa diisi ulang. Informasi dan layanan digital menjadi lebih mudah diakses. Warung kecil dapat menyimpan barang tertentu lebih lama. Pelaku usaha mempunyai kesempatan menggunakan peralatan sederhana yang sebelumnya tidak mungkin dioperasikan.

Dengan kata lain, satu sambungan listrik dapat menjadi pintu masuk bagi banyak perubahan ekonomi dan sosial.

Namun, pemerintah juga perlu berhati-hati. Jangan sampai keberhasilan elektrifikasi hanya dihitung dari berapa tiang berdiri atau berapa sambungan baru terpasang. Ukuran yang lebih penting adalah apakah listrik tersebut benar-benar meningkatkan kualitas hidup warga.

Apakah setelah listrik masuk, pendapatan keluarga meningkat? Apakah anak-anak lebih mudah belajar? Apakah usaha kecil tumbuh? Apakah layanan kesehatan menjadi lebih baik? Apakah masyarakat memperoleh akses internet dan informasi? 

Karena itu, target eletrifikasi tahun 2027 seharusnya menjadi awal dari agenda yang lebih besar, yakni memastikan desa-desa yang selama ini tertinggal tidak kembali ditinggalkan setelah jaringan listrik tersambung.

Pasalnya, ada risiko yang sering luput pula dari perhatian. Ketika listrik sudah tersedia, toh jalan tetap buruk, jaringan internet lemah, sekolah terbatas, layanan kesehatan jauh, dan akses pasar sulit. Maka, manfaat listrik tidak akan maksimal. Warga memang tidak lagi hidup dalam kegelapan, tetapi belum tentu keluar dari lingkaran kemiskinan.

Oleh sebab itulah, elektrifikasi harus ditempatkan dalam strategi pembangunan wilayah. Listrik harus berjalan bersama jalan, telekomunikasi, pendidikan, kesehatan, air bersih dan akses ekonomi.

Jawa Barat sebenarnya memiliki modal besar untuk itu. Provinsi ini bukan wilayah miskin sumber daya. Industri manufaktur, pertanian, pariwisata, perdagangan, ekonomi kreatif hingga ekonomi digital berkembang di berbagai daerah. Persoalannya adalah bagaimana manfaat pertumbuhan tersebut menyebar lebih merata secara geografis.

Terlalu mudah dilihat

Selama ini, ukuran keberhasilan pembangunan sering terlalu mudah dilihat dari pusat-pusat pertumbuhan. Kawasan industri tumbuh, investasi masuk, jalan tol dibangun, pusat perdagangan berkembang. Semua itu penting. Tetapi, pembangunan juga harus dilihat dari tempat yang tidak muncul dalam grafik investasi.

Rumah yang masih gelap pada malam hari adalah salah satu cara paling sederhana untuk melihat sisi lain dari angka pertumbuhan tersebut.

Karena itu, pernyataan permintaan maaf KDM sebenarnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ungkapan politik dalam sebuah upacara kemerdekaan negara. Ia merupakan pengakuan bahwa pembangunan belum selesai. Bahwa di balik gebyar kemajuan Jawa Barat, masih ada warga yang belum menikmati standar kehidupan yang seharusnya sudah dianggap sebagai kebutuhan dasar.

Dan mungkin justru di situlah arti kemerdekaan yang paling konkret. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Ia juga tentang kemampuan setiap warga untuk menikmati kesempatan hidup yang layak, di mana pun mereka tinggal.

Bagi warga yang setiap malam masih menggunakan lampu seadanya, kemerdekaan tentu memiliki makna yang berbeda dengan mereka yang tinggal di kawasan perkotaan dengan listrik, internet dan berbagai layanan publik yang tersedia sepanjang waktu.

Karena itu, ketika pemerintah mengatakan seluruh wilayah di Jawa Barat yang masih tanpa akses listrik ditargetkan teraliri pada listrik pada 2027, yang sesungguhnya sedang dikejar bukan sekadar angka elektrifikasi, melainkan adalah sebuah janji, yakni bahwa tempat tinggal seseorang tidak boleh menentukan seberapa jauh ia berhak menikmati hasil pembangunan.

Jika janji itu benar-benar terpenuhi, maka cahaya yang menyala di rumah-rumah terpencil Jawa Barat bukan hanya menerangi ruang keluarga. Ia juga menjadi tanda bahwa negara akhirnya datang ke tempat yang selama ini terlalu lama berada dalam gulita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)