Menganalisis kata kunci, saya melihat pada website resmi SkyTeam digunakan kata-kata yang bersifat formal dan strategis seperti “integrated airline alliance”, “digital innovation”, “customer experience”, dan “sustainability”. Kata-kata tersebut digunakan untuk memberikan informasi yang lebih mendalam mengenai visi dan arah perkembangan organisasi. Sementara itu, pada Instagram, kata kunci yang digunakan lebih ringkas dan menarik perhatian seperti “25 years”, “connected travel”, “celebrating together”, dan “future of travel” yang bertujuan meningkatkan keterlibatan audiens media sosial.
Selain itu, website resmi SkyTeam menyajikan informasi secara lengkap dan detail tanpa penggunaan hashtag karena fokus utamanya adalah memberikan informasi yang kredibel kepada publik dan media. Sebaliknya, Instagram menggunakan elemen visual yang lebih dominan serta hashtag untuk memperluas jangkauan publikasi dan meningkatkan interaksi dengan pengikutnya.

Ahmad Hirzi Syafiq Azura
Pada aspek penulisan, dari hasil analisis saya publikasi pada website resmi dan media sosial sama-sama menggunakan teknik penulisan piramida terbalik. Informasi utama mengenai perayaan 25 tahun SkyTeam dan rencana pengembangan layanan langsung disampaikan pada bagian awal publikasi. Setelah itu, informasi pendukung seperti pencapaian organisasi, pengembangan lounge bermerek, serta inovasi layanan dijelaskan lebih rinci pada bagian berikutnya.
Meskipun publikasi SkyTeam pada website dan Instagram sama-sama menggunakan teknik piramida terbalik, keduanya memiliki perbedaan dalam penyampaian informasi. Website resmi menyampaikan informasi secara lebih rinci dengan menampilkan data, kutipan pimpinan organisasi, serta penjelasan mengenai strategi masa depan perusahaan. Sementara itu, Instagram menyajikan informasi yang lebih singkat dan mudah dipahami.
Dari sisi konsistensi gaya komunikasi, website SkyTeam menggunakan bahasa yang formal, profesional, dan informatif sehingga mencerminkan citra organisasi global. Sementara pada Instagram, gaya komunikasi yang digunakan lebih sederhana dan komunikatif tanpa menghilangkan pesan utama organisasi. Meskipun terdapat perbedaan gaya bahasa, kedua platform tetap menonjolkan tema yang sama, yaitu inovasi, pengalaman pelanggan, konektivitas global, dan perkembangan masa depan perjalanan udara.
Selain itu, baik website maupun Instagram sama-sama menampilkan identitas SkyTeam sebagai aliansi maskapai penerbangan yang berorientasi pada pelanggan dan terus berinovasi. Kesamaan tema, pilihan pesan, dan fokus komunikasi menunjukkan adanya konsistensi dalam strategi komunikasi organisasi di berbagai platform digital.
Jika dilihat dari sudut pandang penulisan, website dan Instagram SkyTeam berhasil menyampaikan pesan yang sama dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing media. Konsistensi pesan SkyTeam mengenai inovasi, konektivitas global, dan pengalaman pelanggan menunjukkan adanya strategi komunikasi yang terencana. Konsistensi tersebut sejalan dengan pendapat Grunig (2009) yang menyatakan bahwa public relations yang unggul dibangun melalui manajemen strategis dan komunikasi yang mampu menciptakan hubungan positif antara organisasi dan publiknya.

Berdasarkan hasil analisis, publikasi perayaan 25 tahun SkyTeam pada website resmi dan Instagram menunjukkan konsistensi pesan yang kuat dalam menyampaikan identitas serta visi organisasi kepada publik. Kedua platform sama-sama menekankan tema inovasi, konektivitas global, pengalaman pelanggan, dan pengembangan layanan masa depan. Meskipun terdapat perbedaan dalam pemilihan kata, gaya bahasa, dan teknik penyajian informasi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing media, substansi pesan yang disampaikan tetap sama.
Website resmi berfungsi sebagai media penyampaian informasi yang lebih mendalam, formal, dan kredibel, sementara Instagram digunakan untuk meningkatkan keterlibatan audiens melalui penyampaian pesan yang lebih ringkas dan visual. Kesamaan tema, fokus komunikasi, dan strategi penyampaian pesan menunjukkan bahwa SkyTeam menerapkan komunikasi yang terencana dan terintegrasi di berbagai platform digital. (*)
Daftar Pustaka
Grunig, J. E. (2009). Paradigms of Global Public Relations in an Age of Digitalisation. PRism, 6(2), 1–19.