Surat Terbuka untuk Pusat Studi Sunda Universitas Padjadjaran (Unpad)

3 menit baca
Anton Solihin
Ditulis oleh Anton Solihin diterbitkan
Acara Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Acara Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bandung, 29 Juni 2026
Yang Terhormat Pusat Studi Sunda Universitas Padjadjaran
Dengan Hormat,

Nama saya Anton Solihin, seorang warga negara Republik Indonesia, tinggal di Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Saya berkesempatan mengenyam pendidikan di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Angkatan 1987. Sebagai publik, dalam beberapa bulan terakhir, saya mengikuti pelbagai macam berita terkait perkembangan situasi di kota Bandung dan Jawa Barat di tahun pertama kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi. Satu hal menjadi perhatian utama saya melalui surat terbuka ini terkait perayaan dan penetapan Hari Lahir Tatar Sunda yang diselenggarakan dengan meriah itu.

Mengapa saya menulis surat terbuka ini kepada Pusat Studi Sunda Universitas Padjadjaran, perkenankan saya menjelaskannya. Belum lama ini, saya menulis dua artikel di media terverifikasi dan bereputasi, AyoBandung.id terkait hal tersebut dengan tajuk HARI LAHIR TATAR SUNDA 18 MEI 669 SULIT UNTUK DISIMPULKAN KARENA OMONG KOSONG! yang diterbitkan 15 Mei 2026 dan MUSLIHAT DALAM NASKAH AKADEMIK HARI LAHIR TATAR SUNDA yang diterbitkan 24 Mei 2026.

Dalam dua artikel tersebut telah dengan jelas dan terang terjadinya kesalahan fatal yang dilakukan para akademisi dari Universitas Padjadjaran, terkait Hari Jadi Tatar Sunda dalam sebuah Naskah Akademik (NA) yang menurut kepercayaan saya telah membohongi publik – masyarakat Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)

Hal ini menjadi penting dan urgensi untuk diungkap dan dipermasalahkan karena kekeliruan Naskah Akademik ini telah menjadi kebijakan publik yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Jawa Barat No.13 tahun 2026 yang akan membuatnya dirayakan setiap tahun dalam pelbagai atraksi kesenian hingga parade dengan menggunakan anggaran publik yang diambil dari pajak publik. Semua ini awalnya bersumber daripada proyek penulisan Naskah Akademik oleh para akademisi dari Unpad (sebagaimana tercantum pada NA, para akademisi itu berasal dari Jurusan Sejarah dan Sastra Sunda (FIB), Antropologi Fisip dan Fakultas Hukum) yang menurut kepercayaan saya memiliki kesalahan fatal terkait sumber data, metodologi dan referensi dalam menetapkan Hari Lahir Tatar Sunda tersebut yang telah saya uraikan dengan gamblang dan lugas dalam dua artikel tersebut, dan menjadi viral.

Keriuhan publik Sunda khususnya di ruang publik media sosial akibat kedua tulisan saya tersebut sepatutnya menjadi cermin evaluasi sistemik terhadap naskah akademik tersebut dengan meluncurkan naskah akademik tandingan berdasarkan hal-hal yang telah saya ungkap dalam kedua artikel tersebut. Hal ini juga termasuk tanggapan ilmiah dari orang, institusi, lembaga atau pihak yang menyebut dirinya sesepuh, birokrat, pakar, budayawan, akademisi dengan klaim terkait dengan identitas kesundaan atau warga biasa yang mendapuk dirinya “orang sunda”.

Baru dua minggu yang lalu, saya mengetahui bahwa Universitas Padjajaran memiliki Pusat Studi Sunda dengan nama besar. Maka, bukan tanpa alasan pabila saya termasuk publik mengharapkan tanggapan akademik berdasarkan narasi ilmiah dengan sikap politis dan kultural dari Pusat Studi Sunda ini terkait persoalan publik “sunda” menyangkut Hari lahir Tatar Sunda. Alasan tersebut yang mendasari saya menulis surat terbuka ini.

Pusat Studi Sunda yang terhormat,

Pusat Studi Sunda sepatutnya memiliki reputasi dan marwah akademik yang dianggap kredibel secara institusi dan pengetahuan untuk menjelaskan kepada publik terkait hari lahir tatar sunda ini sekaligus merespon kedua artikel saya. Namun hal itu tidak terjadi sampai surat terbuka ini ditulis, karena apa yang sering saya ‘nguping’ adalah ‘harewos’ dan kasak kusuk di belakang, hal yang memalukan dengan melihat ini semua berada dalam lingkup akademik yang mulia. Apakah ini sebuah cerminan kualitas akademik dan institusi terkait bidang ‘kesundaan”.

Pertanggungjawaban publik terhadap sebuah naskah akademik harus diuji publik, ditanggapi, diperdebatkan secara ilmiah dan diverifikasi dengan update data yang berkelanjutan melalui riset etik, rasionalitas ilmiah serta moral akademik yang jelas dan terukur, apalagi naskah akademik ini telah menjadi sebuah kebijakan publik.

Dengan segala hormat, saya memohon kepada Pusat Studi Sunda Unpad untuk menunjukkan kebesaran hati dan kebijaksanaannya untuk mengungkap kebenaran sejarah Hari Lahir Tatar Sunda ini dengan landasan ilmiah dan moral akademik sesuai dengan kapasitas yang diklaimnya sebagai sebuah institusi pusat studi. Tanggapan Pusat Studi Sunda atas Hari Lahir Tatar Sunda dan dua artikel saya akan sangat dinanti oleh publik, khususnya kita semua, publik, orang  Sunda, warga Jawa Barat.

Hormat saya,
Anton Solihin, Pengelola Perpustakaan Batu Api, Jatinangor.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anton Solihin
Tentang Anton Solihin
Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Jun 2026, 20:24

Surat Terbuka untuk Pusat Studi Sunda Universitas Padjadjaran (Unpad)

Saya memohon kepada Pusat Studi Sunda Unpad untuk mengungkap kebenaran sejarah Hari Lahir Tatar Sunda.

Acara Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 30 Jun 2026, 19:34

5 Tempat Wisata Gratis di Bandung yang Wajib Dikunjungi

Temukan rekomendasi wisata gratis di Bandung mulai dari Babakan Siliwangi Forest Walk, Teras Cikapundung, Gasibu, hingga Alun-Alun Bandung.

Hutan Babakan Siliwangi, salah satu tempat wisata gratis di Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 18:46

Ketika Absensi Tidak Lagi Menjamin Disiplin Kerja

Mengubah paradigma disiplin kerja dari budaya absensi menuju budaya kinerja yang berorientasi pada hasil, dan akuntabilitas untuk menjawab tantangan dunia kerja modern serta transformasi birokrasi

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 18:15

Regulasi Harga Baju untuk Melindungi Pedagang Lokal

Kemajuan teknologi mempermudah perdagangan digital dan akses belanja.

Ilustrasi membeli baju secara online. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 17:10

Menimbang Ekonomi Gig, Bisa Menjadi Penopang Keluarga?

Dimasa mendatang pasar kerja fleksibel atau biasa disebut gig akan semakin meluas

Ilustrasi gig workers. (Sumber: Pexels | Foto: ROMAN ODINTSOV)
Ayo Biz 30 Jun 2026, 16:02

Mencari Bumbu Rujak Ambu di Gang Tamansari, Menemukan Rasa yang Sudah Sampai ke Jepang

Dari gang sempit di Tamansari, jejak rasa Bumbu Rujak Ambu sudah sampai ke Jeddah, Jepang, Australia, hingga Hong Kong.

Bumbu Rujak Ambu dalam beragam varian produk dan kemasan, (25/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 15:40

Komedi Stambul, Tawa Cosmopolitan yang Menyulut Jiwa Bangsa dari Panggung Batavia

Inilah kisah perlawanan elegan masyarakat bawah Batavia yang berhasil meruntuhkan sekat sosial lewat kekuatan tawa.

Suasana keriuhan pementasan pesta rakyat Komedi Stamboul Batavia (Sumber: senibudaya betawi.com)
Wisata & Kuliner 30 Jun 2026, 15:29

Menjelajah Pasar Lilin Kota Bandung, Pasar Tradisional yang Masih Bertahan Sejak Dulu

Pasar Lilin Bandung tetap bertahan sejak puluhan tahun lalu, menawarkan barang murah, vintage, dan suasana pasar malam penuh nostalgia.

Suasana di Pasar Lilin Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 14:48

Sarjana Penggerak, Semoga Tidak Menjadi 'Tumbal' atas Nama Pembangunan

Porsi latihan sarjana penggerak mestinya mengedepankan intelektualitas dan  profesionalisme. 

Ilustrasi sarjana penggerak di desa. (Sumber: Meta AI)
Wisata & Kuliner 30 Jun 2026, 13:27

Perkedel Bondon Bandung, Wisata Kuliner Legendaris Dekat Stasiun Hall

Perkedel Bondon Bandung telah melegenda sejak 1980. Cari tahu sejarah, harga terbaru, lokasi, jam buka, hingga alasan perkedelnya selalu antre panjang.

Perkedel Bondon Bandung. (Sumber: Instagram @info.enak)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 12:43

Membangun Ingatan Adanya Jejak Stasiun Majalaya, Antara Hilang dan Dikenang

Jejak keberadaan Stasiun Madjalaja sebenarnya bukan sekadar cerita lama, tapi jadi bagian dari rencana besar yang disusun sejak akhir abad ke-19.

Terminal Majalaya yang di duga menjadi jejak dari peninggalan keberadaan stasiun Majalaya. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 11:28

Rektoverso Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung

Catatan empat tahun lebih menjalani carut-marut pelestarian cagar budaya di Kota Bandung dan upaya menanggulanginya.

Apakah Bekas Barak yang Hampir Rubuh di dalam Kompleks Militer Yon Arhanud 3/Kelelawar ini layak disebut Cagar Budaya? (Sumber: Survei Lapangan 29 Juni 2026 | Foto: Garbi Cipta Perdana)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 10:17

Bagaimana MPLS Menjadi Orientasi Pendidikan Berkelanjutan?

Bagaimana MPLS menjadi orientasi pendidikan berkelanjutan?

ilustrasi kegiatan MPLS tahun 2026. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 09:20

Gagasan dan Kritik, Menuju Bandung Masa Depan

Apakah mimpi besar bangsa bisa terwujud dari gagasan dan kritik?

Sisi luar rumah deret Tamansari yang menghadap ke Selatan dengan latar belakang Jalan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Pasuptai). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 30 Jun 2026, 08:41

Masuknya Genre Musik Emo dan Mekap Bergaya Emo ke Indonesia

Sejarah masuknya genre musik emo dan mekap bergaya emo ke Indonesia sekitar awal tahun 2000.

Stiker band emo masa kini oleh anak-anak muda ditempel di pintu Duff Music Studio Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Hasya Ripela Melodia)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 18:06

Antara Nostalgia dan Ekspektasi dalam Perilisan Live Action Film Animasi Klasik

Strategi komunikasi digital Lilo & Stitch memakai website sebagai media informatif dan Instagram sebagai platform emosional untuk membangun nostalgia dan meningkatkan antusiasme audiens.

Lilo & Stitch. (Sumber: Pexels | Foto: Vinícius Vieira ft)
Wisata & Kuliner 29 Jun 2026, 17:26

Panduan Wisata Pantai Yogyakarta, Jelajah Pantai Selatan dari Bantul hingga Gunungkidul

Rekomendasi pantai di Jogja untuk snorkeling, berenang, camping, dan menikmati sunset, termasuk Pantai Nglambor, Wediombo, dan Pok Tunggal.

Pantai Indrayanti atau Pantai Pulang Syawal di Jpgja. (Sumber: Pemkab Gunungkidul)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 17:02

Ketika Anak Bangsa Memilih Paspor Lain

Di era mobilitas global, tantangan Indonesia bukan sekadar mencegah talenta terbaik pergi, melainkan memastikan mereka tetap berkontribusi bagi bangsa.

Ilustrasi paspor asing. (Sumber: Pexels | Foto: Ethan Wilkinson)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 16:12

Kekaguman Publik terhadap Grafik GTA VI pada Trailer 2 Rockstar Games

Membahas bagaimana Rockstar Games berhasil membangun kekaguman publik terhadap kualitas grafik pada Trailer 2 Grand Theft Auto VI.

Grand Theft Auto VI. (Rockstar Games)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 15:39

Pasunda Bubat: Tragedi Nyata atau Rekayasa Kolonial

Peristiwa Pasunda Bubat (1357) sebagai tragedi nyata akibat ambisi Gajah Mada yang kemudian dimanfaatkan Belanda sebagai alat adu domba untuk memecah belah persatuan Sunda dan Jawa di Nusantara.

Sebuah patung yang menggambarkan Dyah Pitaloka melakukan bunuh diri saat perang bubat. (Sumber: Wikipedia Commons)