Pasunda Bubat: Tragedi Nyata atau Rekayasa Kolonial

4 menit baca
SINDI GUSTINI
Ditulis oleh SINDI GUSTINI diterbitkan
Sebuah patung yang menggambarkan Dyah Pitaloka melakukan bunuh diri saat perang bubat. (Sumber: Wikipedia Commons)
Sebuah patung yang menggambarkan Dyah Pitaloka melakukan bunuh diri saat perang bubat. (Sumber: Wikipedia Commons)

*Ditulis oleh Sindi Gustini dan Lutfiah Bella Nur Maulana Putri

Peristiwa Pasunda Bubat kerap menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, terutama terkait dengan dugaan adanya campur tangan Belanda dalam penulisan peristiwa tersebut, alhasil peristiwa ini hanya dianggap sebagai mitos belaka. Adanya anggapan ini dikarenakan pada saat itu sumber-sumber tentang pasunda bubat diterjemahkan dan disebarkan oleh orang belanda, tujuannya untuk memecah belah sunda dan jawa. Menurut Carita Parahyangan dan prasasti Kebantenan(1580, dalam Nina Herlina, 2024) Prabu Wastu dikenal sebagai Rahyang Niskala Wastu-kancana. Dikisahkan bahwa ayahanda Prabu Wastu, Prabu Maharaja Lingga Buana gugur di Bubat pada tahun 1357, ketika mengantarkan putrinya, Dyah Pitaloka, yang akan dinikahkan dengan Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit.

Dalam ingatan kolektif masyarakat hal tersebut menjadi kenangan buruk yang dikisahkan secara turun temurun, tragedi ini juga menjadi awal mula sebuah sentimen negatif orang sunda terhadap orang jawa. Bahkan karena adanya tragedi ini, ada larangan orang sunda pantang menikahi orang jawa karena dianggap membawa nasib sial. hal tersebutlah yang akhirnya menimbulkan dua pertanyaan bagi penulis, tentang bagaimana pasunda bubat terjadi dan apa sebenarnya peran kolonial dalam penulisan ulang peristiwa tersebut.

Peristiwa Pasunda Bubat bermula dari lamaran yang ditawarkan Kerajaan Majapahit kepada Kerajaan Galuh untuk meminang Dyah Pitaloka, putri dari Kerajaan Galuh. Melalui Patih Madhu, Hayam Wuruk mengirimkan lamarannya kepada Kerajaan Galuh, lamaran itu disambut dengan baik oleh Lingga Buana dan rakyat Kerajaan Galuh. Pada hari pernikahan, rombongan Kerajaan Galuh datang ke wilayah Majapahit untuk mengantarkan pengantin wanita, Mereka berkemah di daerah Bubat yang merupakan wilayah Majapahit.

Peta Majapahit (Sumber: britishmuseum.org | Foto: JWB Wardenaar)
Peta Majapahit (Sumber: britishmuseum.org | Foto: JWB Wardenaar)

Melihat keadaan yang sepi tanpa sambutan, Lingga Buana mengutus seorang Patih pergi ke Trowulan, untuk meminta Hayam Wuruk agar menyambut rombongan kerajaan Galuh. Namun, utusan itu ditolak oleh Gajah Mada, karena ia menginginkan Putri Dyah Pitaloka diserahkan sebagai upeti bukan sebagai permaisuri. Lalu patih menyampaikan hal tersebut pada Lingga Buana, mendengar hal itu Lingga Buana serta rombongannya tidak terima dan memilih berjuang demi harga diri mereka. Maka terjadilah peristiwa Pasunda Bubat tersebut, antara pasukan Gajah Mada dan rombongan kerajaan Sunda.

Dalam pertarungan tersebut pasukan gajah Mada berhasil mengalahkan rombongan Kerajaan Galuh. Melihat Ayah dan rombonganya telah gugur Putri Dyah Pitaloka melakukan bela pati sebagai bentuk mempertahankan kehormatan diri dan Kerajaan nya.

Dampak dari peristiwa Pasunda Bubat tersebut mengakibatkan Sunda menutup diri dari daerah luar untuk membangun kembali struktur tatanan kerajaan, karena wafatnya raja mereka serta penerus tahta masih sangat muda. Sementara dari pihak Majapahit masih fokus dalam perluasan wilayah ke arah timur Nusantara dan tidak melakukan invasi ke arah barat agar tidak menyinggung perasaan Galuh. Namun Galuh kembali mendapatkan luka pada masa kekuasaan Prabu Dewa Niskala pada tahun 1450-1457. Dewa Niskala yang merupakan cucu dari Lingga Buana melanggar larangan dengan menikahi wanita Jawa, dan berakhir mangkat dari tahtanya. Hal tersebut yang membuat masyarakat Sunda menganggap bahwa pernikahan Sunda dan Jawa selalu bernasib sial ataupun berakhir dengan pengkhianatan.

Kisah peristiwa pasunda bubat dapat diketahui fakta sejarahnya melalui sumber-sumber yang diterjemahkan oleh Belanda. Sumber-sumber yang diterjemahkan adalah Carita Parahiyangan yang diteliti oleh K.F Hole pada tahun 1881, Pararaton oleh J.L.A Brandes pada 1897, terakhir kidung sunda dan kidung sundayana oleh C.C Berg pada tahun 1927-1928. Penelitian dan penerjemahan tersebut digunakan untuk memecah belah sunda dan jawa, Edi Sedyawati pernah menyampaikan (dalam Heri Purwanto,2023) bahwa Belanda menjadikan kidung sunda sebagai bahan ajar untuk Algemeene Middlebare School (AMS), hal ini menjadi suatu kecurigaan yang mungkin berkaitan dengan peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, sebagai usaha Belanda untuk memecah belah kedua daerah tersebut. Akibatnya menimbulkan sentimen negatif satu sama lain antara sunda dan jawa, sehingga memunculkan kembali tabu larangan orang sunda dan jawa dilarang menikah.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa Pasunda Bubat bukanlah cerita fiktif, karena sumber tidak hanya dari salah satu pihak. Hal Ini bisa dibuktikan dengan kedua sumber, baik buatan jawa; Pararaton, Kidung Sunda, dan Kidung Sundayana. Serta sumber Sunda yaitu Carita parahyangan, sumber-sumber ini ditemukan di tempat yang berbeda dan pada kurun waktu yang berbeda pula. Selanjutnya, bisa disimpulkan pula peristiwa Pasunda Bubat ini bukan lah bentuk rekayasa Belanda, melainkan sebagai alat adu domba yang ditanamkan oleh Belanda untuk memecah belah persatuan di Nusantara. Dari sini bisa kita pelajari bahwa sejarah bukan hanya cerita masa lalu, tetapi bisa menjadi sebuah senjata yang memecah belah sebuah bangsa. (*)

Daftar Pustaka

  • Avirista Midaada. (2023, October 18). Kisah Raja Dewa Niskala Langgar Aturan setelah Perang Bubat. SINDOnews Daerah; SINDOnews.com. https://daerah.sindonews.com/read/1229541/29/kisah-raja-dewa-niskala-langgar-aturan-setelah-perang-bubat-1697670653
  • Cr, O. S., & Mulyono, U. (2018). Pararaton: Kitab para raja; menguak jejak genealogi sejarah Wangsa Jawa dari Tarumanegara hingga Majapahit. Nusa Media.
  • Fery Taufiq El-Jaquene. (2020). HITAM PUTIH PAJAJARAN Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran. Araska Publisher.
  • Heri Purwanto. (2023). Pararaton. Javanica.
  • Herlina, N. (2024). REKONSTRUKSI SEJARAH KERAJAAN SUNDA. KABUYUTAN, 3(3), 167–171. https://doi.org/10.61296/kabuyutan.v3i3.276
  • Herlina, N. (2025). KERAJAAN KUNINGAN. KABUYUTAN, 4(1), 43–49. https://doi.org/10.61296/kabuyutan.v4i1.312
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

SINDI GUSTINI
Tentang SINDI GUSTINI
Mahasiswa Unpad penikmat sejarah populer. Suka mengulik asal-usul hal menarik di dunia dan merangkumnya menjadi artikel seru untuk pembaca

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)