Filosofi di Balik Semangkuk Bubur Asyura: Harmoni Sejarah, Spiritual, dan Budaya Nusantara

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Bubur Asyura khas Banjar. (Sumber: Wikimedia Commons)
Bubur Asyura khas Banjar. (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagi umat Islam di Indonesia, bulan Muharram bukan sekadar penanda bergantinya tahun dalam kalender Hijriah. Bulan ini dipandang sebagai momentum sakral yang penuh dengan peristiwa besar sejarah kenabian. Di antara berbagai tradisi yang menghidupkan bulan mulia ini, ada satu ritual kuliner yang nyaris tidak pernah absen di berbagai pelosok Nusantara setiap tanggal 10 Muharram: memasak dan membagikan Bubur Asyura.

Dari serambi masjid di Aceh, dapur-dapur komunal di tanah Banjar, hingga pelataran keraton di Jawa, aroma gurih Bubur Asyura (atau Bubur Suro) selalu berhasil memanggil warga untuk berkumpul. Namun, di balik kelezatan rasanya yang kaya rempah, tersimpan narasi sejarah yang melintasi zaman serta filosofi mendalam tentang cara masyarakat Muslim Nusantara merawat kebersamaan.

Dermaga Sejarah: Dari Bahtera Nabi Nuh hingga Nusantara

Secara literatur dan tradisi lisan yang berkembang di kalangan umat Islam, akar sejarah Bubur Asyura merujuk pada salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah umat manusia: kisah penyelamatan Nabi Nuh As dan kaumnya dari banjir bandang. Dikisahkan dalam kitab-kitab klasik seperti I'anatul Thalibin karya Abu Bakr Syata al-Dimyati, ketika bahtera Nabi Nuh akhirnya berlabuh di Bukit Juddi pada hari ke-10 bulan Muharram, badai telah reda namun menyisakan satu persoalan kritis: krisis pangan.

Persediaan makanan di dalam kapal telah menipis setelah terapung berbulan-bulan. Dalam situasi darurat tersebut, Nabi Nuh As memerintahkan kaumnya untuk mengumpulkan apa saja sisa makanan yang mereka miliki. Ada yang membawa dua genggam biji gandum, ada yang membawa biji adas, ada yang membawa biji kacang ful,ada yang membawa biji himmash (kacang putih), sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian.

Nabi Nuh kemudian meminta agar seluruh bahan yang beraneka ragam tersebut dimasukkan ke dalam satu kuali besar dan dimasak bersama menjadi bubur. Tujuannya satu: agar makanan yang sedikit itu bisa mengembang, mencukupi, dan mengenyangkan seluruh penumpang kapal yang kelaparan. Peristiwa teologis inilah yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan dimanifestasikan dalam bentuk ritual memasak bubur bersama setiap tahunnya.

Akulturasi Lokal: Satu Kisah, Ragam Rupa Komposisi

Ketika kisah Nabi Nuh ini menyentuh bumi Nusantara, masyarakat lokal tidak menelannya mentah-mentah, melainkan merawatnya lewat kreativitas budaya setempat. Mereka mengganti biji-bijian Timur Tengah dengan kekayaan agraria lokal. Uniknya, setiap daerah di Indonesia memodifikasi Bubur Asyura dengan filosofi angka dan cita rasa yang khas.

Di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar mempertahankan tradisi memasak Bubur Asyura dengan syarat yang cukup unik, yaitu minimal harus terdiri dari 41 jenis bahan. Angka 41 ini diyakini sebagai simbol kebersamaan dan kelimpahan. Bahan-bahannya pun sangat beragam, melibatkan aneka sayuran seperti kangkung, jagung, dan pucuk labu, hingga umbi-umbian, kacang-kacangan, serta tambahan daging ayam atau ceker.

Sementara itu di tanah Jawa, hidangan ini bertransformasi menjadi Bubur Suro yang sarat akan lambang keselamatan dan keprihatinan. Berbeda dengan versi Banjar, Bubur Suro umumnya berupa bubur beras putih yang dimasak dengan santan dan garam sehingga menghasilkan rasa yang gurih. Ciri khasnya terletak pada penyajian yang wajib ditemani oleh 7 macam lauk atau tumpangsari, seperti irisan telur dadar, kacang tanah goreng, perkedel, kemangi, dan sambal goreng. Angka 7 (pitu dalam bahasa Jawa) di sini melambangkan pitulungan atau pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Masih di tanah Jawa, tepatnya di Desa Kauman, Kudus, Jawa Tengah, terdapat sebuah variasi tradisi yang sangat lekat dengan sejarah penyebaran Islam oleh Walisongo. Di kompleks Masjid Menara Kudus, masyarakat melestarikan tradisi berbagi Bubur Asyura yang merupakan warisan ajaran peninggalan Sunan Kudus.

Uniknya, bubur ini dimasak dengan menggunakan delapan bahan pokok, yaitu beras, jagung, kedelai, ketela, kacang tolo, pisang, kacang hijau, serta kacang tanah. Tradisi pembagian ribuan porsi (sekitar 1.050 porsi) Bubur Asyura ini biasanya dilaksanakan menjelang puncak bulan Syura, tepatnya pada tanggal 9 Muharam, dengan nilai filosofis yang kuat untuk mengajarkan sikap peduli dan saling berbagi kepada sesama warga.

Bergeser ke Serambi Mekah, masyarakat Aceh mengenal varian bubur ini dengan nama Ie Bu Peudah (bubur pedas). Alih-alih menggunakan sayur biasa, bubur khas Aceh ini memanfaatkan puluhan jenis daun-daun hutan dan rempah-rempah berkhasiat herbal. Racikan tradisional tersebut dipercaya sangat ampuh untuk memulihkan stamina warga setelah menjalankan puasa sunah Asyura.

Filosofi Kedalaman Makna dalam Konteks Budaya

Bubur Asyura tidak akan mampu bertahan melintasi ratusan tahun jika hanya dipandang sebagai pengisi perut semata. Hidangan tradisional ini sejatinya merupakan medium penyampai pesan moral dan spiritual yang sangat kuat bagi masyarakat.

Secara spiritual, menikmati Bubur Asyura adalah visualisasi dari teologi rasa syukur dan pengharapan atas keselamatan. Sebagaimana kaum Nabi Nuh bersyukur karena selamat dari air bah, masyarakat Muslim di Indonesia memasak bubur ini sebagai bentuk doa agar di tahun yang baru senantiasa diberikan keselamatan dari bencana, penyakit, hingga kesempitan ekonomi.

Di sisi lain, proses pembuatannya menjadi manifestasi nyata dari gotong royong dan solidaritas sosial. Memasak Bubur Asyura dalam porsi sangat besar tentu tidak bisa dilakukan sendirian. Tradisi ini secara sosiologis mampu menggerakkan warga untuk keluar dari rumah, melebur di pekarangan masjid atau fasilitas umum, lalu saling bahu-membahu.

Kaum pria biasanya bertugas mencari kayu bakar dan mengaduk kuali besar, sementara kaum wanita memotong sayur dan menyiapkan bumbu. Di era modern yang cenderung individualis, momen Asyura hadir sebagai perekat sosial (social bonding) yang sangat efektif.

Keindahan tradisi ini berlanjut setelah bubur matang, yaitu melalui ritual pembagian sebagai bentuk sedekah tanpa batas dan sekat status. Bubur Asyura dibagikan kepada siapa saja tanpa pandang bulu—baik kaya, miskin, tua, muda, bahkan kepada musafir yang kebetulan lewat. Praktis, tradisi ini menjadi pengejawantahan dari anjuran untuk memperbanyak sedekah dan menyantuni anak yatim pada hari Asyura. Semangkuk bubur hangat ini sukses menghapus sekat-sekat kelas sosial di tengah masyarakat.

Jika ditelaah lebih dalam, struktur Bubur Asyura sebenarnya adalah cerminan dari semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Puluhan bahan yang berbeda bentuk, warna, tekstur, dan rasa dimasukkan ke dalam satu kuali yang sama. Ketika dimasak dengan kesabaran, perbedaan bahan tersebut tidak saling menghancurkan, melainkan melebur menjadi satu rasa baru yang harmonis dan lezat. Hidangan ini membawa pesan tersirat bahwa keberagaman latar belakang, jika disatukan dalam satu wadah kedamaian, akan menghasilkan harmoni kehidupan yang sangat indah.

Pada akhirnya, semangkuk Bubur Asyura adalah bukti nyata bagaimana Islam di Nusantara mampu tampil dengan wajah yang ramah, kultural, dan merangkul kebudayaan lokal. Hidangan ini telah melampaui batas sekadar makanan tradisi tahunan. Ia adalah sebuah refleksi agung dari sejarah kenabian yang dibumikan lewat aksi gotong royong, dinikmati lewat ketulusan rasa syukur, dan dibagikan atas dasar cinta kasih antar sesama manusia tanpa sekat pembatas. Tradisi ini menjadi pengingat erat bahwa spiritualitas tidak selalu berjarak di dalam ruang sunyi, melainkan bisa mewujud nyata dalam riuhnya kebersamaan di sekitar kuali besar.

Selama kuali Asyura masih terus berasap di halaman-halaman masjid dan perkampungan kita, selama itu pula api kebersamaan, kepedulian sosial, dan keluhuran spiritualitas masyarakat Muslim Indonesia akan tetap menyala, menjaga harmoni bangsa melintasi generasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)