Bagi umat Islam di Indonesia, bulan Muharram bukan sekadar penanda bergantinya tahun dalam kalender Hijriah. Bulan ini dipandang sebagai momentum sakral yang penuh dengan peristiwa besar sejarah kenabian. Di antara berbagai tradisi yang menghidupkan bulan mulia ini, ada satu ritual kuliner yang nyaris tidak pernah absen di berbagai pelosok Nusantara setiap tanggal 10 Muharram: memasak dan membagikan Bubur Asyura.
Dari serambi masjid di Aceh, dapur-dapur komunal di tanah Banjar, hingga pelataran keraton di Jawa, aroma gurih Bubur Asyura (atau Bubur Suro) selalu berhasil memanggil warga untuk berkumpul. Namun, di balik kelezatan rasanya yang kaya rempah, tersimpan narasi sejarah yang melintasi zaman serta filosofi mendalam tentang cara masyarakat Muslim Nusantara merawat kebersamaan.
Dermaga Sejarah: Dari Bahtera Nabi Nuh hingga Nusantara
Secara literatur dan tradisi lisan yang berkembang di kalangan umat Islam, akar sejarah Bubur Asyura merujuk pada salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah umat manusia: kisah penyelamatan Nabi Nuh As dan kaumnya dari banjir bandang. Dikisahkan dalam kitab-kitab klasik seperti I'anatul Thalibin karya Abu Bakr Syata al-Dimyati, ketika bahtera Nabi Nuh akhirnya berlabuh di Bukit Juddi pada hari ke-10 bulan Muharram, badai telah reda namun menyisakan satu persoalan kritis: krisis pangan.
Persediaan makanan di dalam kapal telah menipis setelah terapung berbulan-bulan. Dalam situasi darurat tersebut, Nabi Nuh As memerintahkan kaumnya untuk mengumpulkan apa saja sisa makanan yang mereka miliki. Ada yang membawa dua genggam biji gandum, ada yang membawa biji adas, ada yang membawa biji kacang ful,ada yang membawa biji himmash (kacang putih), sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian.
Nabi Nuh kemudian meminta agar seluruh bahan yang beraneka ragam tersebut dimasukkan ke dalam satu kuali besar dan dimasak bersama menjadi bubur. Tujuannya satu: agar makanan yang sedikit itu bisa mengembang, mencukupi, dan mengenyangkan seluruh penumpang kapal yang kelaparan. Peristiwa teologis inilah yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan dimanifestasikan dalam bentuk ritual memasak bubur bersama setiap tahunnya.
Akulturasi Lokal: Satu Kisah, Ragam Rupa Komposisi
Ketika kisah Nabi Nuh ini menyentuh bumi Nusantara, masyarakat lokal tidak menelannya mentah-mentah, melainkan merawatnya lewat kreativitas budaya setempat. Mereka mengganti biji-bijian Timur Tengah dengan kekayaan agraria lokal. Uniknya, setiap daerah di Indonesia memodifikasi Bubur Asyura dengan filosofi angka dan cita rasa yang khas.
Di Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar mempertahankan tradisi memasak Bubur Asyura dengan syarat yang cukup unik, yaitu minimal harus terdiri dari 41 jenis bahan. Angka 41 ini diyakini sebagai simbol kebersamaan dan kelimpahan. Bahan-bahannya pun sangat beragam, melibatkan aneka sayuran seperti kangkung, jagung, dan pucuk labu, hingga umbi-umbian, kacang-kacangan, serta tambahan daging ayam atau ceker.
Sementara itu di tanah Jawa, hidangan ini bertransformasi menjadi Bubur Suro yang sarat akan lambang keselamatan dan keprihatinan. Berbeda dengan versi Banjar, Bubur Suro umumnya berupa bubur beras putih yang dimasak dengan santan dan garam sehingga menghasilkan rasa yang gurih. Ciri khasnya terletak pada penyajian yang wajib ditemani oleh 7 macam lauk atau tumpangsari, seperti irisan telur dadar, kacang tanah goreng, perkedel, kemangi, dan sambal goreng. Angka 7 (pitu dalam bahasa Jawa) di sini melambangkan pitulungan atau pertolongan dari Yang Maha Kuasa.
Masih di tanah Jawa, tepatnya di Desa Kauman, Kudus, Jawa Tengah, terdapat sebuah variasi tradisi yang sangat lekat dengan sejarah penyebaran Islam oleh Walisongo. Di kompleks Masjid Menara Kudus, masyarakat melestarikan tradisi berbagi Bubur Asyura yang merupakan warisan ajaran peninggalan Sunan Kudus.
Uniknya, bubur ini dimasak dengan menggunakan delapan bahan pokok, yaitu beras, jagung, kedelai, ketela, kacang tolo, pisang, kacang hijau, serta kacang tanah. Tradisi pembagian ribuan porsi (sekitar 1.050 porsi) Bubur Asyura ini biasanya dilaksanakan menjelang puncak bulan Syura, tepatnya pada tanggal 9 Muharam, dengan nilai filosofis yang kuat untuk mengajarkan sikap peduli dan saling berbagi kepada sesama warga.
Bergeser ke Serambi Mekah, masyarakat Aceh mengenal varian bubur ini dengan nama Ie Bu Peudah (bubur pedas). Alih-alih menggunakan sayur biasa, bubur khas Aceh ini memanfaatkan puluhan jenis daun-daun hutan dan rempah-rempah berkhasiat herbal. Racikan tradisional tersebut dipercaya sangat ampuh untuk memulihkan stamina warga setelah menjalankan puasa sunah Asyura.
Filosofi Kedalaman Makna dalam Konteks Budaya
Bubur Asyura tidak akan mampu bertahan melintasi ratusan tahun jika hanya dipandang sebagai pengisi perut semata. Hidangan tradisional ini sejatinya merupakan medium penyampai pesan moral dan spiritual yang sangat kuat bagi masyarakat.
Secara spiritual, menikmati Bubur Asyura adalah visualisasi dari teologi rasa syukur dan pengharapan atas keselamatan. Sebagaimana kaum Nabi Nuh bersyukur karena selamat dari air bah, masyarakat Muslim di Indonesia memasak bubur ini sebagai bentuk doa agar di tahun yang baru senantiasa diberikan keselamatan dari bencana, penyakit, hingga kesempitan ekonomi.
Di sisi lain, proses pembuatannya menjadi manifestasi nyata dari gotong royong dan solidaritas sosial. Memasak Bubur Asyura dalam porsi sangat besar tentu tidak bisa dilakukan sendirian. Tradisi ini secara sosiologis mampu menggerakkan warga untuk keluar dari rumah, melebur di pekarangan masjid atau fasilitas umum, lalu saling bahu-membahu.
Kaum pria biasanya bertugas mencari kayu bakar dan mengaduk kuali besar, sementara kaum wanita memotong sayur dan menyiapkan bumbu. Di era modern yang cenderung individualis, momen Asyura hadir sebagai perekat sosial (social bonding) yang sangat efektif.
Keindahan tradisi ini berlanjut setelah bubur matang, yaitu melalui ritual pembagian sebagai bentuk sedekah tanpa batas dan sekat status. Bubur Asyura dibagikan kepada siapa saja tanpa pandang bulu—baik kaya, miskin, tua, muda, bahkan kepada musafir yang kebetulan lewat. Praktis, tradisi ini menjadi pengejawantahan dari anjuran untuk memperbanyak sedekah dan menyantuni anak yatim pada hari Asyura. Semangkuk bubur hangat ini sukses menghapus sekat-sekat kelas sosial di tengah masyarakat.

Jika ditelaah lebih dalam, struktur Bubur Asyura sebenarnya adalah cerminan dari semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Puluhan bahan yang berbeda bentuk, warna, tekstur, dan rasa dimasukkan ke dalam satu kuali yang sama. Ketika dimasak dengan kesabaran, perbedaan bahan tersebut tidak saling menghancurkan, melainkan melebur menjadi satu rasa baru yang harmonis dan lezat. Hidangan ini membawa pesan tersirat bahwa keberagaman latar belakang, jika disatukan dalam satu wadah kedamaian, akan menghasilkan harmoni kehidupan yang sangat indah.
Pada akhirnya, semangkuk Bubur Asyura adalah bukti nyata bagaimana Islam di Nusantara mampu tampil dengan wajah yang ramah, kultural, dan merangkul kebudayaan lokal. Hidangan ini telah melampaui batas sekadar makanan tradisi tahunan. Ia adalah sebuah refleksi agung dari sejarah kenabian yang dibumikan lewat aksi gotong royong, dinikmati lewat ketulusan rasa syukur, dan dibagikan atas dasar cinta kasih antar sesama manusia tanpa sekat pembatas. Tradisi ini menjadi pengingat erat bahwa spiritualitas tidak selalu berjarak di dalam ruang sunyi, melainkan bisa mewujud nyata dalam riuhnya kebersamaan di sekitar kuali besar.
Selama kuali Asyura masih terus berasap di halaman-halaman masjid dan perkampungan kita, selama itu pula api kebersamaan, kepedulian sosial, dan keluhuran spiritualitas masyarakat Muslim Indonesia akan tetap menyala, menjaga harmoni bangsa melintasi generasi. (*)