Ngabuburit di Tengah Pembatasan: Cerita Pengunjung dan Pedagang di Alun-Alun Bandung

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Jumat 06 Mar 2026, 07:09 WIB
Warga memanfaatkan Majid Agung Bandung untuk ngebuburit. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Warga memanfaatkan Majid Agung Bandung untuk ngebuburit. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Langit sore berwarna abu samar menggantung di atas kawasan Alun-Alun Bandung. Hamparan rumput sintetis yang biasanya dipenuhi keluarga dan anak-anak tampak lengang. Area taman di tengah alun-alun ditutup sementara, membuat ruang terbuka yang biasanya ramai itu berubah sunyi. Meski demikian, suasana ngabuburit masih terasa di sekeliling kawasan.

Dari arah masjid yang berdiri tepat di sisi alun-alun, suara qasidah terdengar mengalun. Sekelompok tim pengajian menabuh rebana, mengiringi lantunan salawat yang menggema di pelataran. Di bagian depan masjid, sebuah spanduk panjang bertuliskan “Safari Ramadan” terbentang menutup sebagian area dalam. Jemaah telah duduk berjajar, menunggu tausiyah dimulai sambil sesekali berbincang pelan.

Di sekitar halaman Masjid Raya Bandung, pengunjung masih terlihat duduk di selasar, berjalan santai, atau sekadar menunggu waktu berbuka puasa. Beberapa orang memilih berteduh di bawah deretan lengkungan bangunan masjid yang ikonik, sementara yang lain menyusuri trotoar di sekitar alun-alun dengan langkah perlahan.

Bagi banyak warga, kawasan ini telah lama menjadi ruang berkumpul menjelang azan magrib selama Ramadan. Tradisi ngabuburit di alun-alun bukan sekadar menunggu waktu berbuka, melainkan juga kesempatan menikmati suasana kota, bertemu teman, atau sekadar merasakan ritme sore yang berbeda.

Namun Ramadan tahun ini terasa sedikit berubah. Penutupan taman membuat ruang publik utama di alun-alun tidak bisa digunakan seperti biasanya. Meski kawasan tetap ramai oleh aktivitas warga, ruang yang dapat dinikmati pengunjung menjadi lebih terbatas.

Ruang Publik yang Menyempit

Taris (32), pengunjung asal Pacitan yang baru sekitar satu bulan tinggal di Bandung, datang ke alun-alun untuk menghabiskan waktu sambil menunggu berbuka puasa. Ia mengaku cukup terkejut ketika mengetahui bahwa taman di tengah alun-alun tidak dapat diakses.

“Seru sih, lebih ramai daripada biasanya di Pacitan. Di sana kan kota kecil, jadi biasanya saya ngabuburit di rumah saja,” ujarnya sambil duduk di bangku batu di sekitar area masjid.

Taris datang bersama anak perempuannya dengan harapan bisa menghabiskan waktu di area taman, seperti yang pernah ia lihat di foto dan media sosial.

“Sayang banget. Tadinya ke sini mau main ke situ, foto-foto. Tapi karena ditutup, jadi lebih sedikit yang bisa dilakuin,” katanya sambil menunjuk ke arah taman yang kini dibatasi.

Menurutnya, penutupan taman tidak sepenuhnya mengganggu aktivitas menunggu berbuka. Namun ruang gerak pengunjung menjadi lebih sempit dibandingkan biasanya.

“Nggak terlalu mengganggu sih, cuma jadi lebih sedikit aja ruang yang bisa dieksplor,” tambahnya.

Pedagang yang Kehilangan Pundi Rupiah

Perubahan suasana di alun-alun juga dirasakan oleh para pedagang kecil yang biasa menggantungkan penghasilan dari keramaian pengunjung.

Nur (57) dan Titin (63), dua pedagang yang sudah lama berjualan di sekitar alun-alun, mengatakan jumlah pembeli menurun sejak taman ditutup.

“Dampaknya jadi sepi. Paling dapat uang dari takjil dua puluh sampai tiga puluh ribu saja, dari jam lima sampai malam,” kata Nur.

Sejak Taman Alun-alun ditutup, Nur mengatakan dagangannya menjadi sepi pembeli. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sejak Taman Alun-alun ditutup, Nur mengatakan dagangannya menjadi sepi pembeli. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Menurut mereka, taman biasanya menjadi magnet bagi keluarga yang datang bersama anak-anak untuk bermain sambil menunggu waktu berbuka.

“Kalau ada taman, anak-anak main. Orang tuanya biasanya beli minum atau jajan. Sekarang tamannya ditutup, jadi pengunjung juga berkurang,” ujar Titin.

Padahal pada Ramadan sebelumnya, pendapatan mereka bisa jauh lebih besar.

“Dulu bisa dapat dua ratus ribu, kadang sampai lima ratus kalau lagi ramai,” kata Nur sambil mengerutkan kening.

Lebih Lengang, Lebih Nyaman?

Di sisi lain, sebagian pengunjung justru merasakan suasana yang berbeda ini sebagai sesuatu yang lebih nyaman.

Adha Widya Ningsih (17) dan Lia (30) memilih menunggu teman di sekitar masjid sebelum berencana pergi ke pusat perbelanjaan di sekitar alun-alun.

“Lebih nyaman sih sebenarnya, karena nggak terlalu banyak orang. Dulu padat banget,” ujar Adha sambil menatap sekeliling halaman masjid.

Namun Lia tetap merasa penutupan taman cukup disayangkan, terutama bagi anak-anak yang biasanya bermain di sana saat sore Ramadan.

“Sayang juga sih, soalnya dulu banyak anak kecil yang main di situ,” katanya.

Meski demikian, mereka menilai kawasan alun-alun tetap hidup karena keberadaan masjid yang menjadi tujuan utama banyak orang menjelang berbuka.

“Kayaknya orang tetap datang karena ada masjidnya juga. Bisa salat sambil nunggu buka puasa,” ujar Adha.

Menjelang azan magrib, jumlah orang yang datang perlahan meningkat. Beberapa duduk berkelompok di halaman masjid, membuka makanan yang baru saja dibeli dari penjual keliling. Ada pula yang masih berbincang santai, menikmati sisa-sisa cahaya sore Ramadan.

Di tengah ruang publik yang terasa lebih sempit, aktivitas menunggu azan tetap berlangsung seperti biasa. Orang-orang masih berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati jeda waktu menjelang berbuka di jantung kota Bandung itu.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 28 Apr 2026, 20:52

Memperkuat "Imunitas" Finansial Warga Jabar, Mengapa Kampus Harus Jadi Garda Depan Melawan Pinjol?

Tanpa "imunitas" atau literasi keuangan yang kuat, kemudahan akses digital justru menjadi pintu masuk menuju jeratan utang yang menghancurkan ekonomi keluarga.

Edukasi keuangan harus masuk ke jantung pendidikan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan bertanggung jawab. (Sumber: OJK Jawa Barat)
Wisata & Kuliner 28 Apr 2026, 20:40

Panduan Wisata Tanjung Duriat Sumedang, Panorama 360 Derajat Waduk Jatigede

Tanjung Duriat Sumedang menawarkan panorama 360 derajat Waduk Jatigede dengan pemandangan bukit dan air luas dari satu titik.

Wahana Hammock Net di Tanjung Duriat Sumedang. (Sumber: Tanjung Duriat)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 18:04

Sering Salah Pakai Tanda Titik? Kenali Aturannya Biar Bagus Tulisanmu

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya.

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Linimasa 28 Apr 2026, 16:56

Jejak Perkebunan Kina di Bandung, Tinggal Puing Tak Terurus

Dulu kuasai 90 persen pasar dunia, pabrik kina Kertasari kini jadi puing akibat gempa, penyerobotan lahan, dan kebijakan

Pabrik Kina pertama di Kabupaten Bandung sudah hampir tak berwujud. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ikon 28 Apr 2026, 16:06

Hikayat Tanjakan Emen, Jalur Horor di Subang yang telan Banyak Korban

Sejarah Tanjakan Emen dari kisah sopir oplet 1956 hingga menjadi jalur rawan kecelakaan akibat geometri jalan berbahaya.

Tanjakan Emen, Subang. (Sumber: Google Earth)
Bandung 28 Apr 2026, 15:21

Transformasi Seserahan, dari Sekadar Tradisi Menjadi Simbol Gaya Hidup dan Personal Branding

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin.

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 15:01

Naik Angkot dari Soreang ke Kopo Tak Seindah dalam Lagu

Bagi mereka yang setiap hari melintasi Kopo, kemacetan parah bukan hal baru.

Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 11:32

Komunitas HaikuKu Indonesia, Merawat Puisi dalam Sunyi

Berawal dari ruang maya bernama Facebook, ribuan orang berkumpul karena satu kesamaan yaitu kecintaan pada puisi.

Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 28 Apr 2026, 09:25

Tujuh Tahun Menunggu, Penghuni Rumah Deret Tamansari Menagih Janji Penghidupan

Setelah 7 tahun menanti, penghuni Rumah Deret Tamansari kini menagih janji hunian layak dan ruang usaha yang belum terpenuhi di tengah sempitnya ruang hidup dan trauma penggusuran.

Wawan (duduk) di lorong rumah deret Tamansari, ia berusaha bertahan dengan pekerjaan serabutan di tengah perubahan hidup pascarelokasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 08:56

Kisah Kaum Urban: Hikayat Urang Pasar (Bagian 3) 'Vereeniging Himpoenan Soedara'

Data dan keterangan ini diperoleh dari wawancara lisan bersama keluarga Pasar Baru Bandung.

Buku "100 Tahun Bank Baudara". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Wisata & Kuliner 27 Apr 2026, 16:22

Wisata Curug Cipanas Lembang dan Daya Tariknya, dari Kolam Hangat hingga Camping

Curug Cipanas Lembang menawarkan air terjun hangat alami dengan kolam berundak, cocok untuk relaksasi di udara sejuk pegunungan.

Curug Cipanas Nagrak, Lembang. (Sumber: Ayonetizen | Foto: Muhamad Faisal Ramadhan)
Bandung 27 Apr 2026, 16:21

Strategi Batik Kina Menembus Pasar Global, Inovasi Motif Heritage Tanpa Merusak Ekosistem

Batik Kina bukan sekadar bisnis UMKM biasa, melainkan sebuah gerakan inovasi yang mengawinkan kelestarian lingkungan dengan kemajuan teknologi tekstil.

Rakha Wahyu, pendiri dan pencipta Batik Kina melihat bahwa pohon Kina bukan sekadar komoditas, melainkan identitas yang harus dipatenkan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 27 Apr 2026, 15:38

Menghidupkan Heritage Commodity, Cara Rakha Wahyu Menyelamatkan Sejarah Pohon Kina Lewat Sehelai Kain Batik

Jawa Barat, khususnya Bandung, pernah menjadi pusat Kina dunia sejak 1845, namun seiring waktu, kejayaan itu luntur dan pohonnya kian langka.

Rakha Wahyu, pendiri dan pencipta Batik Kina melihat bahwa pohon Kina bukan sekadar komoditas, melainkan identitas yang harus dipatenkan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Komunitas 27 Apr 2026, 15:27

Lari Malam di Kiara Artha Park Kian Ramai, DuduluRun Ajak Anak Muda Hidup Sehat

Komunitas DuduluRun meramaikan Kiara Artha Park dengan lari malam. Bukan sekadar olahraga, aktivitas ini jadi cara anak muda menjaga kesehatan fisik, mental, dan konsistensi hidup.

Bahrul Husaeni mendirikan DuduluRun sebagai wadah untuk memantau progres kesehatan dan perkembangan setiap pelari secara bertahap. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Apr 2026, 13:22

Gedung Sate Rapi di Depan, Kacau di Belakang?

Selama pembangunan berfokus pada yang tampak di depan, Bandung belum benar-benar berubah.

Spanduk dari Massa Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat dipasang di pagar Gedung Sate, Senin 21 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ikon 27 Apr 2026, 12:08

Sejarah Waduk Jatigede Sumedang, Proyek Warisan Kolonial yang Tenggelamkan 28 Desa

Dirancang sejak kolonial, Waduk Jatigede baru terwujud pada 2015, membawa manfaat besar sekaligus memicu relokasi warga dan hilangnya warisan budaya

Waduk Jatigede, Sumedang. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 27 Apr 2026, 11:31

Wisata Rasa di Bumi Pasundan: Strategi Mengangkat Kuliner Lokal ke Panggung Gastronomi Dunia

Buku Wisata Rasa di Bumi Pasundan (2025), sebuah karya kolaboratif dari Kementerian Pariwisata.

buku pola perjalanan gastronomi "Wisata Rasa di Bumi Pasundan". (Sumber: kemenpar.go.id)
Ayo Netizen 27 Apr 2026, 09:40

Bandung Milestone Merawat Ingatan Asia Afrika dari Jantung Kota

Delapan dekade setelah gaung Konferensi Asia Afrika menggema dari jantung Bandung.

Walikota Muhammad Farhan mengamati koleksi buku yang dipamerkan dalam Bandung Milestone, yang menampilkan jejak sejarah dan semangat Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 27 Apr 2026, 08:49

Ambisi Transisi Energi Belum Menyentuh Akar Masalah, Warga Sekitar PLTU Tetap Menanggung Beban Lingkungan

Warga sekitar PLTU masih menanggung dampak lingkungan dan sosial, sementara kebijakan transisi energi dinilai belum menyentuh perlindungan dan keadilan di tingkat tapak.

Suasana diskusi “Transisi Energi Berkeadilan: Peluang, Tantangan, dan Strategi Implementasi Multi Pihak” di Kota Bandung, Minggu (26/4), yang mempertemukan warga, pemerintah, dan pakar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 27 Apr 2026, 08:00

Tumbuhkan Cinta Membaca, Bangun Keberanian Menulis

Mari kita tumbuhkan cinta pada kebiasaan membaca, bangun keberanian untuk tradisi menulis, dan keyakinan setiap anak punya cerita untuk dibagikan, direnungkan bersama.

Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)