Ngabuburit di Tengah Pembatasan: Cerita Pengunjung dan Pedagang di Alun-Alun Bandung

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Warga memanfaatkan Majid Agung Bandung untuk ngebuburit. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Warga memanfaatkan Majid Agung Bandung untuk ngebuburit. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Langit sore berwarna abu samar menggantung di atas kawasan Alun-Alun Bandung. Hamparan rumput sintetis yang biasanya dipenuhi keluarga dan anak-anak tampak lengang. Area taman di tengah alun-alun ditutup sementara, membuat ruang terbuka yang biasanya ramai itu berubah sunyi. Meski demikian, suasana ngabuburit masih terasa di sekeliling kawasan.

Dari arah masjid yang berdiri tepat di sisi alun-alun, suara qasidah terdengar mengalun. Sekelompok tim pengajian menabuh rebana, mengiringi lantunan salawat yang menggema di pelataran. Di bagian depan masjid, sebuah spanduk panjang bertuliskan “Safari Ramadan” terbentang menutup sebagian area dalam. Jemaah telah duduk berjajar, menunggu tausiyah dimulai sambil sesekali berbincang pelan.

Di sekitar halaman Masjid Raya Bandung, pengunjung masih terlihat duduk di selasar, berjalan santai, atau sekadar menunggu waktu berbuka puasa. Beberapa orang memilih berteduh di bawah deretan lengkungan bangunan masjid yang ikonik, sementara yang lain menyusuri trotoar di sekitar alun-alun dengan langkah perlahan.

Bagi banyak warga, kawasan ini telah lama menjadi ruang berkumpul menjelang azan magrib selama Ramadan. Tradisi ngabuburit di alun-alun bukan sekadar menunggu waktu berbuka, melainkan juga kesempatan menikmati suasana kota, bertemu teman, atau sekadar merasakan ritme sore yang berbeda.

Namun Ramadan tahun ini terasa sedikit berubah. Penutupan taman membuat ruang publik utama di alun-alun tidak bisa digunakan seperti biasanya. Meski kawasan tetap ramai oleh aktivitas warga, ruang yang dapat dinikmati pengunjung menjadi lebih terbatas.

Ruang Publik yang Menyempit

Taris (32), pengunjung asal Pacitan yang baru sekitar satu bulan tinggal di Bandung, datang ke alun-alun untuk menghabiskan waktu sambil menunggu berbuka puasa. Ia mengaku cukup terkejut ketika mengetahui bahwa taman di tengah alun-alun tidak dapat diakses.

“Seru sih, lebih ramai daripada biasanya di Pacitan. Di sana kan kota kecil, jadi biasanya saya ngabuburit di rumah saja,” ujarnya sambil duduk di bangku batu di sekitar area masjid.

Taris datang bersama anak perempuannya dengan harapan bisa menghabiskan waktu di area taman, seperti yang pernah ia lihat di foto dan media sosial.

“Sayang banget. Tadinya ke sini mau main ke situ, foto-foto. Tapi karena ditutup, jadi lebih sedikit yang bisa dilakuin,” katanya sambil menunjuk ke arah taman yang kini dibatasi.

Menurutnya, penutupan taman tidak sepenuhnya mengganggu aktivitas menunggu berbuka. Namun ruang gerak pengunjung menjadi lebih sempit dibandingkan biasanya.

“Nggak terlalu mengganggu sih, cuma jadi lebih sedikit aja ruang yang bisa dieksplor,” tambahnya.

Pedagang yang Kehilangan Pundi Rupiah

Perubahan suasana di alun-alun juga dirasakan oleh para pedagang kecil yang biasa menggantungkan penghasilan dari keramaian pengunjung.

Nur (57) dan Titin (63), dua pedagang yang sudah lama berjualan di sekitar alun-alun, mengatakan jumlah pembeli menurun sejak taman ditutup.

“Dampaknya jadi sepi. Paling dapat uang dari takjil dua puluh sampai tiga puluh ribu saja, dari jam lima sampai malam,” kata Nur.

Sejak Taman Alun-alun ditutup, Nur mengatakan dagangannya menjadi sepi pembeli. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sejak Taman Alun-alun ditutup, Nur mengatakan dagangannya menjadi sepi pembeli. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Menurut mereka, taman biasanya menjadi magnet bagi keluarga yang datang bersama anak-anak untuk bermain sambil menunggu waktu berbuka.

“Kalau ada taman, anak-anak main. Orang tuanya biasanya beli minum atau jajan. Sekarang tamannya ditutup, jadi pengunjung juga berkurang,” ujar Titin.

Padahal pada Ramadan sebelumnya, pendapatan mereka bisa jauh lebih besar.

“Dulu bisa dapat dua ratus ribu, kadang sampai lima ratus kalau lagi ramai,” kata Nur sambil mengerutkan kening.

Lebih Lengang, Lebih Nyaman?

Di sisi lain, sebagian pengunjung justru merasakan suasana yang berbeda ini sebagai sesuatu yang lebih nyaman.

Adha Widya Ningsih (17) dan Lia (30) memilih menunggu teman di sekitar masjid sebelum berencana pergi ke pusat perbelanjaan di sekitar alun-alun.

“Lebih nyaman sih sebenarnya, karena nggak terlalu banyak orang. Dulu padat banget,” ujar Adha sambil menatap sekeliling halaman masjid.

Namun Lia tetap merasa penutupan taman cukup disayangkan, terutama bagi anak-anak yang biasanya bermain di sana saat sore Ramadan.

“Sayang juga sih, soalnya dulu banyak anak kecil yang main di situ,” katanya.

Meski demikian, mereka menilai kawasan alun-alun tetap hidup karena keberadaan masjid yang menjadi tujuan utama banyak orang menjelang berbuka.

“Kayaknya orang tetap datang karena ada masjidnya juga. Bisa salat sambil nunggu buka puasa,” ujar Adha.

Menjelang azan magrib, jumlah orang yang datang perlahan meningkat. Beberapa duduk berkelompok di halaman masjid, membuka makanan yang baru saja dibeli dari penjual keliling. Ada pula yang masih berbincang santai, menikmati sisa-sisa cahaya sore Ramadan.

Di tengah ruang publik yang terasa lebih sempit, aktivitas menunggu azan tetap berlangsung seperti biasa. Orang-orang masih berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati jeda waktu menjelang berbuka di jantung kota Bandung itu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)