Ketika Anak Bangsa Memilih Paspor Lain

6 menit baca
erni driyantini
Ditulis oleh erni driyantini diterbitkan
Ilustrasi paspor asing. (Sumber: Pexels | Foto: Ethan Wilkinson)
Ilustrasi paspor asing. (Sumber: Pexels | Foto: Ethan Wilkinson)

Ada sesuatu yang berubah dalam cara masyarakat Indonesia memandang kewarganegaraan. Perubahan itu tampak jelas ketika media sosial dipenuhi ucapan selamat kepada sejumlah diaspora Indonesia yang mengumumkan telah resmi menjadi warga negara negara lain. Reaksi tersebut terasa kontras dengan apa yang mungkin terjadi satu atau dua dekade lalu. Dulu, keputusan berganti kewarganegaraan mudah dibaca sebagai bentuk pengingkaran terhadap tanah air. Kini, tidak sedikit yang justru melihatnya sebagai pilihan yang rasional, bahkan layak dirayakan karena dianggap membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik, karier yang lebih menjanjikan, mobilitas global yang lebih luas, dan kepastian masa depan yang lebih tinggi.

Fenomena itu sesungguhnya lebih penting daripada hanya riuh percakapan di media sosial. Ia memperlihatkan bergesernya cara masyarakat memaknai hubungan antara individu dan negara. Kewarganegaraan tidak lagi dipahami semata sebagai ikatan emosional yang bersifat permanen, melainkan juga sebagai instrumen yang menentukan akses terhadap kesempatan, perlindungan hukum, kualitas hidup, dan daya saing profesional. Dalam dunia yang semakin terhubung, paspor tidak hanya melambangkan identitas, tetapi juga menentukan ruang gerak seseorang di panggung global.

Perubahan cara pandang tersebut menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Di tengah ambisi mewujudkan Indonesia Emas 2045, negara justru menghadapi gejala yang tidak boleh dipandang sebelah mata yaitu sebagian talenta terbaik memilih membangun masa depannya di luar negeri. Data Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir hampir 8.000 warga negara Indonesia mengajukan pelepasan kewarganegaraan. Angka itu memang kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, tetapi menjadi signifikan karena mayoritas berasal dari kelompok usia produktif dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang tinggi. Mereka adalah dokter, peneliti, akademisi, insinyur, profesional teknologi, hingga pelaku usaha yang selama bertahun-tahun memperoleh investasi pendidikan dari negara.

Fenomena tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan menurunnya nasionalisme. Yang sedang berlangsung sesungguhnya adalah kompetisi global memperebutkan sumber daya manusia unggul. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) berulang kali mengingatkan bahwa negara-negara maju kini berlomba bukan hanya menarik investasi, melainkan juga menarik talenta terbaik dunia, terutama di sektor kesehatan, teknologi digital, kecerdasan artifisial, dan riset. Dalam lanskap ekonomi berbasis pengetahuan, manusia berkualitas telah menjadi aset strategis yang sama pentingnya dengan modal dan teknologi.

Karena itu, eksodus talenta Indonesia tidak cukup dijelaskan hanya dengan perbedaan pendapatan. Memang benar bahwa seorang dokter spesialis, ilmuwan, atau insinyur perangkat lunak dapat memperoleh penghasilan beberapa kali lipat lebih tinggi di Singapura atau negara maju lainnya dibandingkan di Indonesia. Namun, yang mereka cari sesungguhnya bukan hanya nominal gaji. Mereka mencari ekosistem yang memungkinkan kompetensi berkembang secara optimal yaitu universitas yang kuat, lembaga riset yang mapan, birokrasi yang efisien, kepastian hukum, penghargaan terhadap meritokrasi, dan ruang inovasi yang luas.

Di sisi lain, mobilitas internasional kini telah menjadi bagian dari modal profesional. Paspor tidak lagi hanya dokumen perjalanan, melainkan instrumen produktivitas. Seorang peneliti harus menghadiri konferensi internasional, ilmuwan perlu berpindah laboratorium, pengusaha harus bertemu investor, sementara profesional teknologi dituntut bergerak cepat mengikuti dinamika pasar global. Ketika proses memperoleh visa menjadi hambatan yang berulang, sebagian orang memilih jalan yang dianggap paling praktis yaitu mengganti kewarganegaraan.

Dalam konteks inilah negara perlu membaca fenomena tersebut dengan kepala dingin. Terlalu lama diskursus mengenai diaspora Indonesia terjebak pada pertanyaan apakah mereka masih setia kepada tanah air atau tidak. Padahal, dunia telah berubah. Loyalitas pada abad ke-21 tidak selalu diwujudkan melalui tempat tinggal ataupun warna paspor. Banyak diaspora justru menjadi penghubung investasi, perdagangan, diplomasi, transfer teknologi, dan kolaborasi riset yang memberikan manfaat nyata bagi negara asalnya.

Pandangan baru inilah yang melahirkan konsep brain circulation. Berbeda dengan brain drain yang menggambarkan hilangnya sumber daya manusia unggul ke luar negeri, brain circulation menempatkan diaspora sebagai jejaring global yang tetap terhubung dengan negara asal. Pengetahuan, modal, inovasi, dan pengalaman tidak lagi bergerak satu arah, melainkan terus berputar melalui kolaborasi lintas negara. Dalam ekonomi berbasis pengetahuan, negara yang mampu membangun sirkulasi talenta justru memperoleh keuntungan yang lebih besar daripada negara yang hanya berusaha menahan warganya agar tidak pergi.

Berbagai negara telah membuktikan pendekatan tersebut. India merupakan salah satu contoh yang paling sering dirujuk. Melalui skema Overseas Citizenship of India (OCI), pemerintah India membangun hubungan kelembagaan yang erat dengan jutaan diaspora tanpa harus sepenuhnya mengubah prinsip kewarganegaraan nasionalnya. Diaspora India diposisikan sebagai mitra pembangunan yang berkontribusi melalui investasi, pendirian perusahaan rintisan, kolaborasi akademik, pengembangan teknologi, hingga jejaring perdagangan internasional. Pengalaman itu menunjukkan bahwa diaspora bukanlah kehilangan, melainkan bentuk lain dari kekuatan nasional.

Indonesia mulai bergerak ke arah yang serupa melalui kebijakan Global Citizen of Indonesia (GCI). Berbeda dengan gagasan kewarganegaraan ganda yang selama ini memunculkan perdebatan hukum karena berbenturan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, GCI tidak mengubah status kewarganegaraan seseorang. Kebijakan ini memberikan kemudahan tinggal, bekerja, dan berinvestasi di Indonesia bagi mantan WNI maupun keturunan Indonesia melalui instrumen keimigrasian. Dengan demikian, negara tetap mempertahankan prinsip kewarganegaraan tunggal sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi diaspora untuk tetap berkontribusi.

Pendekatan tersebut patut diapresiasi sebagai langkah awal untuk membangun hubungan baru antara negara dan diaspora. Namun, keberhasilan GCI tidak boleh diukur dari banyaknya kartu yang diterbitkan ataupun jumlah pemohon yang terdaftar. Ukurannya jauh lebih substantif yaitu apakah kebijakan ini mampu mengubah brain drain menjadi brain circulation. Apakah ia berhasil menarik investasi, menghadirkan kolaborasi riset, mempercepat transfer teknologi, membuka peluang kerja berkualitas, dan memperkuat ekosistem inovasi nasional.

Di sinilah tantangan sesungguhnya berada. Fasilitas keimigrasian yang lebih baik tidak akan cukup apabila Indonesia belum mampu memperbaiki akar persoalan yang membuat talenta pergi. Mereka tidak akan kembali hanya karena prosedurnya dipermudah. Mereka akan kembali apabila melihat adanya kepastian hukum, birokrasi yang melayani, universitas yang kompetitif, iklim riset yang sehat, perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual, serta kesempatan profesional yang memungkinkan mereka berkembang. Dengan kata lain, GCI hanya akan efektif apabila berjalan beriringan dengan reformasi institusi.

Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya kebijakan untuk diaspora, melainkan ekosistem yang membuat Indonesia layak menjadi tempat berkarya. Hilirisasi industri, penguatan ekonomi digital, investasi pada riset dan inovasi, pengembangan pusat-pusat teknologi, hingga reformasi birokrasi harus dipandang sebagai bagian dari strategi besar mempertahankan modal manusia Indonesia. Negara tidak bisa berharap talenta terbaik kembali apabila lingkungan profesional di dalam negeri tidak berubah.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai GCI mengajak kita mendefinisikan ulang makna nasionalisme pada abad ke-21. Dalam dunia yang ditandai mobilitas tinggi, pekerjaan lintas negara, dan jejaring global, ukuran kecintaan kepada tanah air tidak lagi dapat direduksi pada tempat seseorang tinggal ataupun paspor yang ia pegang. Nasionalisme semakin ditentukan oleh kontribusi yang diberikan kepada bangsa.

Seorang ilmuwan Indonesia yang memimpin laboratorium di luar negeri tetapi membuka kolaborasi riset dengan perguruan tinggi dalam negeri tetap sedang membangun Indonesia. Seorang pengusaha diaspora yang membawa investasi dan membuka lapangan kerja di tanah air juga sedang memperkuat Indonesia. Demikian pula profesional Indonesia yang menjadi penghubung perdagangan, teknologi, dan pengetahuan antara Indonesia dengan dunia. Mereka mungkin tinggal jauh dari tanah kelahiran, tetapi kontribusinya tetap dekat dengan kepentingan nasional.

Negara yang kuat bukanlah negara yang berhasil menahan setiap anak bangsanya agar tidak pergi. Negara yang kuat adalah negara yang mampu membuat mereka, ke mana pun melangkah dan paspor apa pun yang mereka miliki, tetap memiliki alasan untuk pulang, berinvestasi, berbagi pengetahuan, dan menautkan masa depannya dengan Indonesia. Di tengah dunia yang semakin cair, di situlah makna kedaulatan menemukan bentuknya yang baru yaitu bukan hanya menjaga batas wilayah, melainkan menjaga agar ikatan kebangsaan tetap hidup melalui kontribusi yang terus mengalir bagi kemajuan Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

erni driyantini
Tentang erni driyantini
Pengamat Publik

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)