Membangun Ingatan Adanya Jejak Stasiun Majalaya, Antara Hilang dan Dikenang

8 menit baca
FAJAR RAMADHAN
Ditulis oleh FAJAR RAMADHAN diterbitkan
Terminal Majalaya yang di duga menjadi jejak dari peninggalan keberadaan stasiun Majalaya. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)
Terminal Majalaya yang di duga menjadi jejak dari peninggalan keberadaan stasiun Majalaya. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)

Majalaya hari ini mungkin lebih dikenal sebagai kawasan industri khususnya tekstil yang masih bertahan dibeberapa lokasi. Beberapa pabrik memang masih beroperasi dan menjadi penopang ekonomi warga, namun dibalik kesibukan itu ada lapisan sejarah yang perlahan memudar dari ingatan. Pada masa Hindia Belanda kawasan Majalaja bukan sekedar industri biasa, kota itu sempat dijuluki sebagai “kota dolar” sebuah sebutan yang mencerminkan betapa besarnya kontribusi industri tekstil daerah ini terhadap pemsukan pemerintah pada saat itu.

Produksi kain dari Majalaya tidak hanya beredar di tingkat lokal, tetapi juga menembuas pasar yang lebih luas menjadikannya salah satu pusat ekonomi penting di masa Hindia Belanda. Proses distribusi hasil-hasil dari produksi tekstil itu, tidak luput dengan keberadaan jejak Stasiun Madjalaja yang pada saat itu digunakan sebagai sarana pengangkutan penumpang dan beberapa hasil bumi menuju pusat daerah Bandung.

Potret pabrik texstil di Majalaya, di mana pada masa Hindia Belanda texstil dari Majalaya menjadi bahan penting. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)
Potret pabrik texstil di Majalaya, di mana pada masa Hindia Belanda texstil dari Majalaya menjadi bahan penting. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)

Salah satu bukti peran Majalaya dalam perkembangan ekonomi masa kolonial adalah keberadaaan jalur trem yang menghubungkannya dengan berbagai kota di sekitarnya. jalur ini berperan penting dalam mendukung distribusi hasil produksi tekstil Majalaya ke berbagai daerah, sehingga memperlancar aktivitas perdagangan dan pergerakan ekonomi.

Namun, seiring perkembangan transportasi modern, jalur trem tersebut perlahan menghilang. Banyak kebagian jalur yang telah tertutup oleh pembangunan sehingga jejak fisiknya hampir tidak lagi terlihat. Padahal, jalur trem ini merupakan bagian penting dari sejarah Majalaya dan menjadi saksi perkembangan kawasan ttersebut sebagai pusat industri pada masanya. kini keberadaanya hanya dapat ditelusuri melalui arsip, tulisan, dan ingatan yang masih tersisa.

Masuk perencanaan jalur trem strategis untuk kepentingan ekonomi

Dari catatan koran kolonial Algemeen Handelsblad edisi Indisch Nieuws tanggal 28 Januari 1893, seorang pengusaha bernama C.G Kan mengajukan konsesi pembangunan jalur trem menguhubungkan Bandoeng sampai Tjitjalengka, lewat Tjiparaj dan Madjalaja.

Dari sini keliatan kalau Madjalaja dulu bukan daerah pinggiran yang sekedar lewat, tapi justru masuk dalam jaringan transportasi yang cukup strategis di wilayah Preanger. Pada saat itu posisinya punya nilai penting terutama buat mendukung aktivitas ekonomi yang berkembang pesat, termasuk industri tekstil. Menariknya rencana ini bukan sekedar anganangan atau wacana kosong, pengajuan konsesi itu menunjukan bahwa pembangunan jalur trem ke arah Madjalaja memang sudah masuk dalam perencaan jaringan transportasi yang cukup strategis di wilayah Preanger. Jadi jejak keberadaan jalur trem di kawasan ini punya dasar historisnya bukan sekedar cerita belaka.

Dalam laporan teknis bahkan disebutkan kalau daerah ini sedang berkembang pesat. Tercatat potongan kalimat “de voorgenomen railverbinding in eene wezenlijke behoefte zal voorzien” yang menegaskan bahwa jalur trem tersebut dirancang bukan sebagai proyek percobaan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi yang mulai berkembang. Tidak hanya itu aktivitas pasar di kawasan ini menjadi indikator penting. Dalam catatan yang sama tertulis “vooral de pasars te Madjalaja en Tjiparai zijn zeer druk bezocht”, artinya menunjukan bahwa pasar-pasar di Madjalaja dan Tjiparaj saat itu sangat ramai pengunjung yang menggambarkan betapa sibuknya aktivitas jual beli di sana.

Jalur trem bukan hanya sebagai alat transportasi tapi juga penunjang aktivitas perdagangan untuk bisa berjalan lebih cefat dan efisien, inilah yang kemudian dilihat oleh pemerintah kolonial bahwa Madjalaja dan sekitarnya layak menjadi bagian dari jaringan transportasi modern.

Memasuki tahap realisasi pembangunan jalur trem

Sebelum jalur trem hadir dan menghubungkan Madjalaja, Tjiparaj, dan wilayah sekitarnya, urusan distribusi masih bergantung pada cara-cara yang tergolong tradisional. Pedati dan kereta kuda menjadi sarana untuk mendistribusikan hasil bumi maupun barang dagangan, tapi dengan kondisi seperti ini pergerakan distribusi cenderung terbatas baik dari segi kecepatan, kapasitas, maupun jangkauan, waktu tempuh yang lama menjadi kendala sehingga aktivitas tidak bisa berkembang secara optimal. Perubahan mulai terasa ketika jalur trem mulai diperkenalkan. Proses distribusi menjadi jauh lebih cefat dan teratur, pengiriman barang yang sebelumnya membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tujuan, sekarang bisa dikirim dengan lebih efisien. bukan hanya soal kecepatan tapi juga soal skala volume distribusi jadi meningkat karena aksesnya lebih mudah.

Dampaknya mulai teresa terutama dalam konteks ekonomi kolonial saat itu, infrastruktur transportasi seperti trem menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkembang karena didukung oleh jaringan distribusi yang lebih memadai.

Melihat laporan dari surat kabar kolonial De Preanger Bode tanggal 23 Mei 1919 tramlijn Tjiteureup-Madjalaja, pembangunan jalur trem mulai direalisasikan sebagai bagian dari rencana strategis, dalam laporan tersebut menegaskan “de voorgenomen railverbinding in eene wezenlijke behoefte zal voorzien”, yang kurang lebih berarti jalur kereta ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, jadi memang dari awal sudah dianggap penting. Secara teknis jalur ini dirancang sepanjang 17,4 kilometer dan berfungsi sebagai jalur pengumpan (feeder line) untuk jaringan lebih besar Bandoeng-Bandjaran-Kopo, titik sambungan Tjiteureup dipilih karena alasan teknis dan ekonomis juga untuk menghindari pembangunan jembatan tambahan di atas sungan Tji Taroem. Biaya pembangunan diperkirakan sekitar f 732.000, dengan potensi pendapatan tahunan sekitar f 80.000. Dari jumlah tersebut keuntungan bersih diproyeksikan sebesar f 36.000, dengan tingkat keuntungan sekitar 4,7%.

Menariknya dalam laporan yang sama, Madjalaja juga disebut sebagai salah satu pusat ekonomi di kawasan itu, terlihat dari kalimat “de economische centra Tjiparaj en Madjalaja worden langs korten weg aangesloten”, yang menunjukkan kalau kedua wilayah ini diposisikan sebagai titik penting dalam jaringan distribusi. Dengan kata lain keberadaan jalur trem bertujuan menghubungkan pusat-pusat ekonomi agar aktivitas perdagangan berlangsung lebih lancar dan efisien.

Pembangunan jalur trem ke arah Madjalaja pada akhirnya mulai terlihat di lapangan, hal ini tercatat dalam laporan surat kabar kolonial Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 21 Oktober 1919 Nieuwe spoorlijnen, ada gambaran yang cukup detail mengenai situasi pembangunan pada masa itu. Disebutkan dalam laporan “links van den weg in de richting van Madjalaja… staan de roodkoppige piketten… voor den aanleg van den zijtak Dajeuh Kolot–Madjalaja”, yang menunjukan bahwa jalur cabang menuju Madjalaja sudah mulai ditandai semacam patok-patok penunjuk rute yang akan dibangun, penandaan ini menjadi indikasi bahwa rute pembangunan telah ditentukan dan proyek sudah memasuki tahap persiapan yang serius.

Artinya pembangunan jallur trem ini bukan lagi sekedar rencana di atas kertas, proyek tersebut telah bergera ke tahap implementasi di lapangan. Bahkan skala pembangunan yan tergolong cukup besar. Dalam laporan yang sama digambarkan suasana pembangunan dengan kalimat “een heirleger van koelies, toekangs en opzichters ziet men nijver bezig”. melibatkan banyak tenaga kerja yang dikerahkan mulai dari kuli, tukang, sampai pengawas, semuanya dikerahkan untuk bekerja di lokasi. Proyek ini dibawah pengelolaan perusahaan pemerintah yaitu S.S. dan Waterkracht.

Peresmian jalur trem Madjalaja

Dilansir dari Delpher pada Rabu 03 Juni 2026, jalur kereta dan trem Bandung, "SPOORWEGKAARTJE DER NIEUWE LIJNEN TEN ZUIDEN VAN BANDOENG". (Sumber: https://www.delpher.nl/nl/tijdschriften/objectsearch/pagejump?identifier=MMKB34:178448050:mpeg21&query=SPOORWEGKAARTJE+DER+NIEUWE+LIJNEN+TEN+ZUIDEN+VAN+BANDOENG&coll=dts&resultsjump=1&rowid=1 | Foto: -)
Dilansir dari Delpher pada Rabu 03 Juni 2026, jalur kereta dan trem Bandung, "SPOORWEGKAARTJE DER NIEUWE LIJNEN TEN ZUIDEN VAN BANDOENG". (Sumber: https://www.delpher.nl/nl/tijdschriften/objectsearch/pagejump?identifier=MMKB34:178448050:mpeg21&query=SPOORWEGKAARTJE+DER+NIEUWE+LIJNEN+TEN+ZUIDEN+VAN+BANDOENG&coll=dts&resultsjump=1&rowid=1 | Foto: -)

Memasuki awal abad ke-20 Madjalaja mulai dilirik lebih serius oleh pemerintah Hindia Belanda, wilayah yang secara geografis cukup jauh dari pusat kota tapi mulai dipandang memiliki potensi besar terutama dari sisi ekonomi. Posisi ini kemudian membuat Madjalaja dimasukkan ke dalam rencana pembangunan jalur trem yang menghubungkannya dengan pusat kota dan daerah lain di sekitarnya.

Tujuan utama pembangunan ini cukup jelas untuk mempermudah mobilisasi manusia sekaligus memperlancar distribusi barang, terutama hasil industri dan perdagangan yang terus berkembang. Dengan adanya jalur trem diharapkan distribusi menjadi lebih cepat, biaya bisa ditekan, dan aktivitas ekonomi pun makin terdorong.

Meski menghadapi berbagai tantangan teknis yang sempat memperlambat pengerjaan, pembangunan jalur trem di Madjalaja tetap berjalan hingga akhirnya dapat direalisasikan dan dioprasikan secara bertahap. Kehadirannya menandai masuknya Madjalaja ke dalam jaringan transportasi modern yang mendukung pergerakan ekonomi di wilayah Priangan.

Peresmian jalur trem menuju Madjalaja menjadi puncak dari proses panjang yang dimulai sejak akhir abad ke-19, mulai dari perencanaan, survei, hingga pembangunan. Peristiwa ini tercatat dalam surat kabar tanggal 4 Maret 1922 berjudul De opening der lijn naar Madjalaja yang memuat ungkapan "Toch eindelijk! de lan-ge-lijn naar Madjalaja Klaar!" yang berarti jalur menuju Madjalaja akhirnya selesai dibangun. Meski sempat menghadapi kendala pendanaan dan hambatan teknis selama pembangunan, jalur tersebut berhasil diselesaikan dan terhubung dengan jaringan transportasi yang lebih luas.

Seiring waktu, peran Madjalaja dalam jaringan transportasi kolonial terus berkembang. Meskipun jalur trem telah tersedia, pemanfaatannya pada awalnya belum optimal. hal ini tercatat dalam surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsh Indië tanggal 7 Februari 1925 berjudul Een belangrijke verkeers verbetering, yang menyebutkan bahwa penggunaan jalur tersebut belum sesuai harapan karena konektivitasnya belum terintegrasi secara efektif dengan jalur utama.

Sebelumnya jalur ke arah selatan melalui Karees, Dajeuhkolot, hingga Tjiwidej memang telah beroperasi, tetapi dinilai kurang efisien. Salah satu penyebabnya adalah lokasi Karees yang relatif jauh dari pusat Kota Bandung, sehingga penumpang masih harus berganti kendaraan untuk mencapai pusat kegiatan ekonomi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan pengembangan jaringan melalui pembangunan jalur penghubung ke Tjikoedapateuh. Dalam laporan yang sama disebutkan "de verbindingslijn … met Tjikoedapateuh gereed is”, bahwa jalur penghubung tersebut telah selesai dibangun.

Dalam laporan yang sama disebutkan “de tramlijnen rijden dan allen van het hoofdstation Bandoeng via Tjikoedapateuh”. Dengan selesainya jalur penghubung antara Madjalaja, Tjiwidei, dan Tjikoedapateuh jalur trem sudah langsung terhubung dengan pusat kota Bandung lewat satu sistem transportasi yang lebih efisien.

Jejak keberadaan stasiun Madjalaja ini sebenarnya bukan sekedar cerita lama tapi jadi bagian dari rencana besar yang disusun sejak akhir abad ke-19. Lalu mulai dirancang dan benarbenar diwujudkan pada awal abad ke-20. Pembangunan ini bukan cuma soal bikin infrastruktur transportasi tapi ada alasan ekonomi dibaliknya, pemerintah kolonial melihat Madjalaja sebagai wilayah yang berpotensi terutama karena adanya industri tekstil yang terus berkembang.

Makanya jalur trem yang dibangun bukan cuma buat mempermudah orang berpergian tapi juga untuk mendukung pergerakan hasil produksi, barang-barang dari pabrik bisa lebih cefat didistribusikan, tenaga kerja lebih mudah berpindah, dan aktivitas perdagangan jadi makin lancar. Mungkin bangunan sejarah bisa hilang dan berubah tetapi cerita dibalik nya tidak akan hilang. (*)

SUMBER

  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=madjalaja+aanleg&page=2&coll=ddd&identif ier=MMKB04:000123643:mpeg21:a0005&resultsidentifier=MMKB04:000123643:mpeg21:a 0005&rowid=4 Algeemen Handelsblad 28-01-1893 indisch nieuws
  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=madjalaja+aanleg&page=2&coll=ddd&identif ier=MMKB08:000132738:mpeg21:a0002&resultsidentifier=MMKB08:000132738:mpeg21:a 0002&rowid=2 De Preanger Bode 23-05-1919 tramlijn Tjiteureup-Madjalaja
  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=madjalaja+aanleg&coll=ddd&identifier=ddd: 010180335:mpeg21:a0013&resultsidentifier=ddd:010180335:mpeg21:a0013&rowid=7 HET NIEUWS VAN DEN DAG VOOR NEDERLANDSCH-INDIE 21-10-1919 Nieuwe spoorlijnen
  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=madjalaja+opening&coll=ddd&identifier=M MKB08:000132796:mpeg21:a0005&resultsidentifier=MMKB08:000132796:mpeg21:a0005 &rowid=1 de preanger-bode 04-03-1922 DE OPENING DER LIJN NAAR MADJALAJA
  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=karees+tjikoedapateuh+tram&coll=ddd&ident ifier=ddd:010220233:mpeg21:a0169&resultsidentifier=ddd:010220233:mpeg21:a0169&rowi d=1 HET NIEUWS VAN DEN DAG VOOR NEDERLANDSCH-INDIE 07-02-1925 Een belangrijke verkeers-verbetering.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

FAJAR RAMADHAN
Tentang FAJAR RAMADHAN
Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)